Tidak Makan Nasi dan Gula

Pada akhir pekan lalu, saya berbincang-bincang dengan teman baru. Badannya kurus. Tidak terlalu kurus sih. Tinggi, tapi tidak terlalu tinggi juga sih. Kurang lebih lah tingginya dengan saya. Hanya saja, berat badannya yang pasti lebih ringan dari 68 kg.

Entah mulai dari mana kami jadi berbicara mengenai makanan. Yang saya lihat ia tidak makan nasi. Lalu saya pastikan lagi, apakah ia masih makan bihun. Ternyata ia juga tidak makan bihun. Jadi ia tidak makan nasi dan dan tidak makan bihun.

Lantas darimana karbohidrat ia dapatkan? Kalau saya tidak salah tangkap, ia masih makan kentang. Itupun dalam jumlah yang terbatas. Lalu bercerita lah ia soal fat (lemak), insulin (gula), citosis (nah saya perlu googling soal ini), dan gula.

Ia tidak pernah minum teh dan kopi dengan gula. Bahkan dalam makan buah-buah-an ia pun hati-hati karena buah mengandung fructose (salah satu varian gula: coba buka lagi buku kimia). Ia menyalahkan piramida terbalik soal makanan. Di mana dalam piramida itu digambarkan bahwa karbohidrat berada di tingkat paling bawah dan paling harus banyak dikonsumsi.

Sebagai penutup, saya ingin memastikan, apakah ia merasa lebih sehat dengan pola makan seperti itu? Ia pun menjawab iya. Wah, saya sehari kalau tidak makan nasi putih rasanya belum makan. Jadi kembali teringat susahnya mencari tempat makan yang menjual nasi saat di Melbourne.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s