Gegar Budaya: Kartu Kredit

Alkisah saya ingin kembali melanjutkan melanggan Apple Music. Saat di down under dulu, saya tak memiliki kartu kredit. Semua transaksi saya lakukan dengan kartu debit. Termasuk melanggan Apple Music.

Jadilah saat saya kembali ke Indonesia, saya mencoba memasukkan nomor kartu debit saya. Eh, ternyata tak bisa. Saya coba bank lainnya, tak bisa juga. Haduh. Jadilah saya tak jadi melanggan Apple Music. Kini saya menggunakan Spotify, dan ternyata di Ubuntu ada Spotify client. Saya bisa memilih lagu yang akan saya dengarkan via Spotify di Ubuntu tanpa harus menjadi pelanggan premium. Eh ini jadinya bug bukan?

Lalu kemarin kami mampir ke salah satu mal di selatan Jakarta. Secara random kami mampir ke tempat fitness. Haduh, kaum urban zaman sekarang. Olahraga saja harus di dalam ruangan di dalam mal. Saya jadi merindukan fasilitas olahraga di Clayton.

Istri saya bertanya, apakah bisa datang per kelas saja? Dijawab: bisa, tapi per kedatangan akan dikenakan biaya Rp 250 ribu. Lalu dimulailah cerita panjang ini. Mulai dari ditunjukkan fasilitas yang ada, hingga quick checkup terhadap kondisi badan kita. Akhir kata, kami seolah “dipaksa” untuk menjadi anggota fitness selama paling tidak setahun dan membayar menggunakan kartu kredit karena sejuta promo dan diskon yang dimilikinya.

Ini pun terjadi pada fitness untuk anak-anak. Haaah zaman sekarang anak-anak pun sudah punya tempat olahraga sendiri di dalam mal? “Boleh kok pakai kartu kredit, Oma-nya. Boleh kok kalau Oma-nya yang pakai Telkomsel, nanti kami bantu redeem point-nya”, dan sejuta promo lainnya.

Hingga sekarang kami berdua masih bertahan untuk tidak memiliki kartu kredit. Kami berpendapat, kalau tidak ada duitnya, ya tidak usah maksa. Nanti yang ada malah repot setiap bulannya harus bayar cicilan barang ini berapa, barang itu berapa, dst. Lalu, kami juga tak mau disetir oleh promo. Kalau mau makan ini yang murah, ikut promo kartu kredit ini. Lha, kan kami jadi tidak bisa bebas memilih dong kalau begitu.

Dulu 2 tahun di down under saja bisa kok kami hidup tanpa kartu kredit…

Satu pemikiran pada “Gegar Budaya: Kartu Kredit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s