Keras

Kehidupan di kota itu keras. Di jalanan, semua seolah ingin cepat sampai. Sabar menjadi begitu sulit ditemui. Di kantor, omongan orang di mana-mana. Entah politik kantor itu sama licinnya dengan politik kehidupan nyata. Di rumah…

Di rumah lain cerita. Namun, “kerasnya” kehidupan di rumah tentu berbeda dengan kerasnya kehidupan di luar. Rasanya, saya sudah seringkali menulis bahwa perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu penuh waktu di rumah, itu sebenarnya lebih sulit daripada ibu yang bekerja di luar rumah.

Maka jangan heran saat kemarin saya begitu kaget saat menemui teman lama saya dan ia memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di rumah! Urusan rumah takkan pernah selesai. Berbeda dengan urusan kantor. Saat kita pulang, meninggalkan kantor, tentu urusan kantor selesai.

Hari ini saya kehilangan sedikit kesabaran saya sehingga saya terpaksa mengucapkan kalimat dengan nada tinggi. Hmmph… barangkali ini dipicu juga oleh pekerjaan yang tak kunjung selesai. Sementara hari ini begitu banyak distraksi dari pagi hari.

Saya jadi ingat,

Sebaik-baiknya adalah sabar dan memaafkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s