Nostalgia Jakarta

Alkisah kemarin saya ke city. Eh istilah city itu kami gunakan saat dulu di down under. Lantas saya berpikir mengapa tak saya gunakan di sini? Toh kami sama-sama tinggal di pinggiran kota.

Saya berangkat dari rumah pukul 3 sore lewat. Awalnya, saya mau coba naik gojek ke Ragunan. Eh, ternyata gerimis. Jadinya, saya jalan kaki keluar rumah dengan tas di payung. Saya naik angkot. Perlu 2 kali naik angkot dari rumah saya untuk sampai ke Ragunan. Barangkali hanya satu dari lima orang yang masih mau dan tertarik naik angkot di zaman tergesa-gesa dan gojek ini.

Tiba di Departemen Pertanian pukul 16.20 Saya naik bis Transjakarta baru berwarna biru menggantikan bis abu-abu buatan Korea. Saya perlu ke Citywalk Sudirman karena ada janji pukul 17.30 Saya kira cukuplah satu jam dari Ragunan ke Citywalk Sudirman.

Ealah, ternyata rute Transjakarta sekarang bervariasi sekali, dan sayangnya variasi ini tak ada yang sesuai kebutuhan saya. Saya perlu turun di halte dan berganti dengan beberapa bis di belakangnya.

Saya akhirnya turun di Dukuh Atas dan jalan kaki menuju lokasi. Kini saya sudah semakin terbiasa jalan kaki dan saya berusaha untuk mempertahankan kebiasaan ini di sini. Memang sulit: tidak ada trotoar dan cuaca yang begitu lembab membuat begitu mudah berkeringat.

Namun semua demi 10 ribu langkah setiap hari!

Usai agenda di Citywalk Sudirman, saya pesan gojek untuk membawa saya ke Pondok Indah. Nah kalau ini saya tinggal merem mata: menembus kemacetan Jakarta di jam pulang kantor denga motor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s