Sepeda-an Menanjak di KM 0 Sentul

What am I doing here 😱 1000 meter elevation up 🚲

Alkisah, tak ada percakapan apa-apa hingga Kamis sore. “Mas, gimana pergowesannya? Sabtu ini mau ikut gowes nanjak gak?”, tanya seorang teman saya. Sebelumnya saya memang sempat bertanya-tanya soal mencari adapter pentil di Indonesia. Teman saya ini yang saya tahu suka naik sepeda. Karena saat itu baru pulang kembali ke Indonesia, saya tak tahu banyak dunia persepedaan di sini.

Jadilah Sabtu pagi kemarin saya naik sepeda nanjak setinggi 1000 meter ke KM 0 Sentul. Saya sendiri tak tahu apa yang ada dalam pikiran saya mengapa saya melakukan ini.

Pada hari Jum’at saya sepeda-an ke dekat rumah. Niatnya pemanasan sebelum sepeda-an menanjak. Awalnya saya ragu, apakah sepeda yang saya naiki mampu dan layak untuk jalanan menanjak. Maklum ini bukanlah sepeda anyar dengan rem cakram dan teknologi baru lainnya.

Sepeda ini merupakan sepeda bapak saya yang sudah dibelinya lebih dari sepuluh tahun lalu. Shifter aslinya pun sudah diganti dengan shifter biasa. Jadi kalau mau ganti gigi harus diputar tidak lagi dipencet. Rem-nya akan berbunyi keras ngek-ngek jika jalanan basah.

Enaknya sepeda ini adalah sudah quick-release. Jadi saya bisa membuka ban depan dan ban belakang dengan mudah. Saya baru belajar membuka ban belakang kemarin Minggu.

Jalur ke Kilometer 0 Sentul ini sungguh menantang. Awalnya kami berjalan bertiga beriringan. Namun saya merasa jalan ini terlalu pelan. Kalau terlalu pelan, saya malah susah menanjak. Jadilah saya jalan saja duluan.

Tanjakan ke Kilometer 0 Sentul ini seolah tak ada ujungnya. Saya set gigi belakang ke yang paling enteng. Tanjakan terus ada lagi dan lagi. Saya coba ganti gigi depan ke yang lebih enteng. Eh tak bisa. Kabelnya kurang narik sedikit. Jadilah saya gowes dengan gigi depan di tengah saja.

Selama menanjak, saya disalip beberapa orang. Mereka menyapa saya dengan “Pagi”. Ah, saya tak kuat mengambil nafas untuk menjawab salam mereka.

Pada beberapa meter, saya sempat berjalan kaki dan menuntun sepeda saya. Kalau sudah terlalu terjal, saya tak lagi kuat. Lebih baik yang elevasi-nya tak terlalu curam, saya masih kuat walau hanya berjalan dengan kecepatan sekitar 7-8 km/jam.

Perbedaan dengan di Melbourne adalah tak ada rambu jarak kilometer ke tujuan. Saya ingat saat dulu kali pertama naik sepeda ke City. Rambu jalan menunjukkan berapa kilometer lagi ke City. Jadi secara psikis saya bisa tahu seberapa jauh lagi sampai tujuan.

Kapan-kapan jadi mau lagi nanjak! Siapa mau ikut?

Satu pemikiran pada “Sepeda-an Menanjak di KM 0 Sentul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s