Dinamika Bertetangga

Hidup di Pulau Jawa, pulau dengan kepadatan tertinggi (citation needed) plus budaya timur yang begitu akrab, membawa dinamika tersendiri. Setelah terbiasa selama 2 tahun dengan nilai-nilai barat yang cenderung individualis (dalam arti tak se-sosial budaya timur) membuat saya sedikit-banyak kaget juga.

Misal, dulu saya bisa emosi saat orang asing tiba-tiba membuka percakapan seperti ini: “Anaknya baru satu? Saatnya punya adik ini”, dst.

Belum lagi, sekolah anak di sini bisa menjadi status sosial. Ah, seolah di sini kok jadi tampak begitu rumit.

Pulang ke rumah, ternyata kondisi tetangga juga banyak berubah. Ada yang belakangan saya tahu sudah berpisah. Eh malam ini saya jadi tahu ada lagi yang berpisah. Termasuk orang-orang yang tidak mau membayar iuran rumah tangga: ya orangnya masih sama, itu-itu lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s