Buku adalah Jendela

“Fisikmu boleh dipingit, tapi tidak dengan pikiranmu. Ini aku berikan kunci”, ujar kakak Kartini.

Alkisah, akhir pekan kemarin saya menonton film Kartini bersama istri. Ini adalah salah satu kutipan bebas saya dalam film ini.

Saat memasuki usia menstruasi, Kartini memulai hidupnya dalam pingitan. Hingga nanti seseorang akan melamarnya. Kartini tidak boleh keluar rumah.

Namun kakaknya, memberikan kunci. Yang ternyata kunci ini merupakan kunci lemari buku. Buku di zaman dulu tentu merupakan barang mewah. Eh, sekarang pun masih juga ya. Dan kemampuan baca-tulis di tahun sebelum 1900-an tentu merupakan keahlian yang tak umum.

Kartini terlahir dari keluarga pejabat daerah. Kartini mampu membaca aksara Belanda, termasuk bisa berbahasa Belanda. Di masa muda-nya Kartini sudah membaca buku-buku Multatuli, Max Havelar dan Karl Marx. Wow, saya saja belum pernah membaca buku-buku tersebut.

Jika Kartini terpenjara dalam pingitan dan buku menjadi jendela-nya untuk merasakan kebebasan, bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Terjebak di kota yang padat, kemacetan di mana-mana, apa yang bisa menjadi jendela?

Pergi ke Belanda kah? Kartini ingin pergi, melarikan ke Belanda, namun tak kesampaian. Kalau saya ingin lari ke … Country side of Victoria. Hehehe… becanda.

Yang ingin saya tekankan dalam tulisan saya kali ini adalah, kita perlu selalu mencari “jendela” untuk melihat dunia luar dan lari dari pingitan yang mengurung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s