Urusan Bertetangga

Saat di down under dulu rasanya saya tak terlalu bertetangga juga. Eh, tapi saya masih suka menyapa tetangga-tetangga saya lho.

Ada Kevin. Ia tinggal di rumah bagian paling belakang. Istrinya yang saya tahu dari Malaysia. Kevin besar di Australia. Kevin memiliki seorang putri kecil dan cantik. Saya suka menegurnya. Kevin bekerja di Woolies. Yang baru belakangan saya tahu Woolies itu berarti Woolworths. Semacam supermarket lah, singkat cerita.

Lalu, ada lagi tetangga depan rumah. Thomas dan Rita. Mereka begitu ramah. Bahkan kami dipinjamkan TV setelah mereka mengetahui kami tak memiliki TV.

Dan kini, kembali ke Indonesia…

Saya mendapat kepercayaan menjadi bendahara. Mengurus uang keluar masuk. Membuat pencatatan dan membuat laporan. Belum lagi menagih kredit macet. Termasuk harus hadir di rapat-rapat. Hadeuh…

Yang saya tak suka di sini adalah agenda rapat yang bertele-tele. Bukan berarti saya tidak mau basa-basi, tapi rapat yang ada kadang terlaluuuu bertele-tele-tele-tele. Gak jelas juntrungannya.

Namun biar bagaimana, biarlah ini saya anggap dinamika. Karena biar bagaimana setiap orang akan terjun ke lingkungannya.

Saya jadi teringat pesan salah seorang dosen saya: bahwa ia lebih menghargai mahasiswa yang belajar keras dan berkontribusi di lingkungannya walau hanya mendapat nilai B, dibanding mahasiswa yang hanya belajar tanpa berkontribusi ke lingkungannya dan mendapat nilai A.

Selamat malam. Saatnya menyingsingkan lengan baju untuk one long-uninterrupted-time!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s