Leher Tengeng-an

Sejak kemarin sore, leher saya tengeng-an. Apa ya bahasa Indonesia-nya? Urat-leher-tertarik-jadi-tak-bisa-menengok. Anak saya malah bercanda. Ia berkata:

“Pak, bapak besok ada rapat gak? Nanti teman bapak ngomong gini loh: Hey Zaki, what’s wrong with your neck? You look like a statue.”

Haduh.

Tidak enak banget sih tengeng-an ini. Kemarin sore, istri saya jadinya yang menyetir. Saya duduk manis di belakang.

Mau bangun tidur pun sulit. Leher masih kaku. Pelan-pelan sekarang sudah mulai lebih enak sih.

Besok Selasa jadwalnya latihan lari nih, tapi bagaimana dengan kondisi tengeng-an ini? Semoga semakin enakan.

Iklan

Menulis dan Membaca (dan Menggambar)

Apakah hidup kita ini terlalu serius dan sibuk? Sehingga tak ada waktu untuk menulis, membaca dan juga menggambar. Yang kita baca dan tulis hanyalah berupa kewajiban semata. Entah itu berupa tugas.

Jangan-jangan kita tak pernah menikmati apa yang dinamakan dengan kegiatan membaca dan menulis. Hal ini kita lakukan ya karena tuntutan saja. Bisa dari pekerjaan ataupun sekolah.

Apalagi menggambar. Buat apa menghabiskan waktu untuk menggambar yang hasilnya culun. Tak ada perkembangan signifikan dari zaman SD dulu. Ihik.

Jadi, kita memang bisa membaca dan menulis. Namun rasanya kita kehilangan perasaan menikmati saat melakukan kedua aktivitas ini.

Hidup terlalu serius? Terlalu sibuk memikirkan materi yang takkan pernah terkejar kan?

Melacak Waktu

Di ponsel cerdas zaman sekarang, terdapat aplikasi yang melacak penggunaan kita. Mulai dari lama waktu layar, durasi aplikasi yang dibuka, hingga berapa notifikasi yang kita terima dalam sehari.

Kali ini saya ingin menulis mengenai penggunaan waktu dan korelasinya dengan cita-cita yang ingin kita raih.

Beberapa waktu yang lalu, Mas Ariya, rockstar asal Indonesia membuka gagasan untuk melacak waktu yang kita gunakan dalam sehari. Tidak ada alat canggih yang diperlukan, hanya catat saja aktivitas yang dilakukan setiap hari selama satu bulan ke dalam Google Calendar. Termasuk waktu untuk istirahat, makan, pergi/pulang ke tempat kerja, dan seterusnya.

Saya tak sempat ikut, namun rasanya saya dapat menangkap idenya. Mas Ariya dalam beberapa sesi presentasi suka bercerita bahwa ia suka menyaksikan pertandingan NBA. Dan ia lihat, bagaimana pemain NBA itu selalu berlatih sebelum bertanding. Hampir 99,99% shooting itu masuk jika tanpa dijaga. Nah jika dalam pertandingan kan pastinya dijaga.

Saya selalu suka cerita-cerita yang seperti ini. Cerita yang dibangun dari kerja keras. Bukan dari cerita yang menjual kesedihan atau pun keglamoran. Oleh karena itu saya belakangan tidak suka dengan film Emak Ingin Naik Haji.

Kembali ke topik, Mas Ariya cerita bagaimana pemain NBA berlatih terus menerus untuk sebuah shooting yang sempurna. Bahkan sebelum bertanding. Kobe Bryant itu datang latihan beberapa jam sebelum waktu latihan untuk berlatih sendiri. Jadi terbayang kan kerja kerasnya.

Kembali ke penggunaan waktu. Baiknya penggunaan waktu setiap hari adalah untuk sesuatu yang memang ingin kita raih. Usahakan sedapat mungkin, kurangi penggunaan waktu yang tidak prioritas.

Namun dengan tulisan ini saya tak bermaksud kita jadi hidup terburu-buru, karena hakikatnya hidup itu sendiri adalah waktu. Tak ada yang abadi…

Dunia yang Terus Bergerak

Satu hal yang saya ingat dari satu cerpen karya Desi Anwar adalah bagaimana sang tokoh menggambarkan bapaknya sebagai sosok yang statis. Tidak mengikuti perubahan di dunia yang terus bergerak. Bapaknya masih mengenakan gaya pakaian yang sama.

Dunia memang terus bergerak. Sejauh mana kita perlu mengikutinya? Apakah kita harus terus berlari di perlombaan yang sejatinya takkan pernah kita menangkan?

Teknologi pun terus berkembang. Dalam dunia perangkat lunak, dulu kita mengenal model waterfall. Zaman sekarang, siklus waterfall sudah tak bisa diikuti lagi. Siklus ini terlalu lama, sementara perubahan terlalu cepat untuk bisa diakomodasi dengan model waterfall. Lahirlah scrum, agile dll.

Jika dulu ada subversion untuk melacak perubahan kode, sekarang ada git. Git begitu populer. Belum selesai dengan git, ada lagi CI/CD: Continuous Integration/Continuous Delivery. Belum selesai dengan virtualisasi, sekarang ada serverless.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Mengikuti perubahan bagi saya penting. Dan saya rasa, mereka yang mudah lebih terbuka terhadap hal-hal yang baru.

Obituari Om Yusuf

Kemarin siang di Semarang, Om Yusuf meninggal dunia. Hari ini Om Yusuf dimakamkan di Solo, kota kelahirannya. Semoga amal Om Yusuf diterima dan diampuni dosanya.

Di grup WA keluarga, mulai ada foto-foto suasana pemakaman Om Yusuf. Maafkan saya Om Yusuf tak bisa mengantar untuk terakhir kalinya.

Om Yusuf merupakan salah satu om yang begitu dekat dengan keluarga kami. Om Yusuf sempat tinggal bersama kami sebelum menikah. Om Yusuf lah yang mengantar/jemput kami saat dulu kami masih kecil bersekolah.

Pernah pada satu kesempatan, Om Yusuf menjemput saya menggunakan motor. Mobil di depan berhenti mendadak, spakbor motor jadi masuk ke dalam mobil dan jadi lecet. Om Yusuf gusar.

Lalu Om Yusuf menikah dengan Mbak Nuk. Om Yusuf tak tinggal bersama kami lagi. Sesekali kami mengunjungi rumah Om Yusuf.

Oh ya, Om Yusuf juga yang memperkenalkan kami kepada komputer. Mulai dari komputer IBM, layar VGA, game Frogger, Prince of Persia, hingga sound blaster Creative 16 bit.

Saat kami mengunjungi rumah Om Yusuf, di rumahnya sudah ada sound blaster Creative 64 bit. Dan Om Yusuf sudah bermain game lebih canggih yaitu Duke seingat saya.

Yang paling berkesan dan tak terlupakan bagi saya adalah hadiah untuk saya dari Om Yusuf saat saya sunat. Sebuah mainan Tamiya Big Foot. Mainan Tamiya truk berwarna merah dengan roda besar. Roda besar ini empuk dan bisa mengembang, sehingga bisa menaiki mobil yang lebih kecil. Pada saat itu memang mainan Tamiya sedang menjadi favorit.

Selamat jalan Om Yusuf, terima kasih untuk semua kenangan indahnya. Hanya kepada-Mu kami kembali…

Kecewa dengan Suatu Coworking Space

Pada hari Senin kemarin, saya mencoba bekerja di suatu Coworking Space (Ruang Kerja Bersama) di daerah Jakarta Selatan yang tak jauh dari jalur Ratangga. Saya mendapatkan info bahwa ada ruang kosong di hari Senin 2 September. Jadilah saya datang.

Pertama, cukup sulit menemukan lokasi persis coworking space ini. Setelah berjalan memutari komplek perkantoran, akhirnya saya menyerah dan bertanya ke petugas parkir yang ada di sana. Bapak ini pun akhirnya menunjukkan jalan untuk menuju coworking space ini.

Kedua, setelah tiba di lantai 4, saya bertemu seseorang yang menunggu tempat ini. Saya bilang, saya sudah konfirmasi. Orang ini menelpon orang lain, disambungkan ke saya, lalu disambungkan lagi ke dia. Pendek cerita, saya akhirnya bisa masuk dan ia bilang bahwa rapat hari ini nanti dibatalkan.

Satu-dua jam berlalu, kok tempat ini sepi-sepi saja. Eh ya sepi lah, karena lokasinya saja tersembunyi :-B Padahal kan niat saya kerja di coworking space agar bertemu orang yang keluar-masuk, bekerja layaknya saya.

Hingga pukul 2 siang, saya mulai lapar. Saya bilang ke penunggu bahwa saya akan keluar makan siang dulu, lalu nanti kembali lagi hingga pukul 5 sore, waktu tutup. Saya jalan mencari tempat makan di sekitar, lalu pilihan jatuh ke tempat makan bakso. Ternyata, warung bakso ini jadi tempat parkir persewaan scooter listrik. Wooo, tadinya saya mau coba, namun sayang waktu terbatas.

Saya jadinya bertemu teman saya di fX. Teman saya memberikan undangan untuk hadir di sidang terbuka program doktoralnya. Dan saya pun tak kembali lagi ke coworking space ini. Cukup sekali saja rasanya ke tempat ini 😛

Kehidupan Setelah Kematian

Saya baru saja membaca satu cerita pendek karya Desi Anwar yang berjudul: Kematian.

Jum’at siang kemarin, saya dikagetkan oleh berita duka cita dari warga rumah. Seorang anak tetangga yang baru berusia 15 tahun meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, mengendarai sepeda motor. Saya tak ingin membahas detail kecelakaan, karena sungguh menakutkan membayangkan itu terjadi.

Saat mendengarkan lagu Heaven karya Avicii, saya kembali teringat akan kematian. Avicii yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Jadi, seperti apakah kehidupan setelah kematian itu? Apakah hal ini bisa dibuktikan secara empiris? Ataukah ini pertanda bahwa manusia hanyalah insan kecil yang sejatinya penuh keterbatasan?

Layaknya Alif-Lam-Mim, yang artinya tak diketahui siapapun, untuk menunjukkan bahwa ada yang Maha, … di sana.