Bertemu Teman

Ramadan telah usai. Lebaran tiba. Saatnya menjalin silaturahmi bersama keluarga yang telah lama tak berjumpa.

Selain saudara, saatnya bertemu teman-teman. Saya mau menceritakan pengalaman saya bertemu teman-teman lama saya kali ini.

Pertama saya bertemu dengan MAN. Kami janjian untuk ketemu. Kebetulan saat itu saya sedang ke city untuk menghadiri acara bulanan ISACA Indonesia. Spontan, saya kontak MAN apakah bisa bertemu usai buka puasa. Akhirnya kami bersepakat untuk bertemu di jalur Ratangga. Persisnya di Blok M.

Kedua, saya mencoba mengatur lagi pertemuan dengan Ranan dan Iefan. Pertemuan kami atur di minggu saat KPU mengumumkan hasil Pemilu 2019. Akhirnya pertemuan ditunda (dan belakangan akhirnya tidak jadi) karena ada keributan di Jakarta.

Ketiga, saat naik Ratangga menuju Blok M untuk bertemu MAN, saya bertemu dengan temannya-teman. Alias 2nd degree friend. Agung menyapa dengan, “Temannya Meilia kan?”. Awalnya saya agak bingung, namun akhirnya saya jawab, “Ya”. Yang saya tahu Agung ini fans JKT48.

Keempat adalah yang paling ajaib. Saya bertemu dengan dua orang teman saya saat menemani istri saya yang datang di acara buka bareng dengan teman kuliahnya dulu. Saat membuka pintu, tiba-tiba Yoga berdiri dan menegur saya. Saya memang sudah mengenali muka Yoga saat melihatnya dari balik bilik. Kami pun mengambil foto untuk selanjutnya diposting di grup.

Lantas saya mengantar istri saya ke teman-temannya. Ealah saya melihat Florian. Teman yang sudah 19 tahun tak bertemu. Kok bisa ketemunya di sini.

Bertemu dengan teman selalu menyenangkan. Bertemu dengan teman tanpa rencana, bagi saya tetap sesuatu yang menakjubkan. Coba pikirkan probabilitas 2 orang berada di lokasi x, y, z yang sama dan juga di t yang sama.

Jangan sampai saya lanjutkan lagi saat bertemu dengan teman saat saya mau berangkat ke down under zaman dulu dan juga saat mau meninggalkan down under. Saya bertemu dengan Sahala dan Doni.

Iklan

Janjian di Jalur Ratangga

Semenjak Ratangga hadir di Jakarta, saya jadi suka membuat janji di jalur Ratangga. Halah, baru sekali doang deing. Jarang-jarang juga ke city. Nanti usai bulan Ramadan, saya berencana naik sepeda ke stasiun Ratangga terdekat deh dari rumah.

Asyiknya Ratangga adalah waktu yang pasti dan cepat. Jadi janjian di jalur Ratangga memudahkan untuk bertemu.

Sampai jumpa di jalur Ratangga terdekat!

Jakarta yang Dinamis dan Melbourne yang … berangin?

Kembali ke Jakarta, hidup jadi lebih dinamis. Yang statis adalah macet. Satu hal yang berusaha saya hindari sehingga saya masih memilih pekerjaan sekarang ini.

Semasa di Melbourne, berita ya itu-itu saja. Politik paling perseteruan partai buruh vs nasionalis/liberal. Berita transportasi tak jauh dari masalah keterlambatan kereta api.

Di Jakarta, berita lebih seru-seru. Mulai dari video viral soal orang yang marah-marah karena diberi sumbangan seribu rupiah oleh mbak-mbak Indomaret.

Satu hal yang pasti saya rindukan adalah kehangatan perpustakaan kota Melbourne: city library, library at the dock, dan yang teranyar di utara kota Melbourne…

Ke Cohive Nissi Bintaro

Hari ini saya pergi ke daerah Bintaro. Widih, jarang-jarang nih ke daerah Bintaro. Daerah Bintaro sepertinya cukup mengasyikkan. Banyak tempat-tempat keren. Misal Kopi Tuku. Hihihi. Oh ya di Bintaro ada jalur sepeda dan jalur lari. Boleh juga nih daerah.

Saya berencana menghadiri workshop yang diadakan oleh komunitas Software Architect Indonesia. Sebelumnya saya sudah pernah hadir di acara komunitas ini. Saat Mas Ariya Hidayat (eh atau Arya Stark? Belum bisa move-on dari Long Night wkwkwkw) menjadi pembicara. Momen bertemu langsung dengan Mas Ariya Hidayat seperti momen bertemu dengan legenda. Wohohoho….

Materi malam ini adalah mengenai CI/CD (Continuous Integration/Continuous Delivery). Saya sangat ingin mengotomasi hal-hal yang membosankan. Jadi begitu commit, langsung jalankan otomasi, dan voila. Kerjaan kita bisa beres lalu bisa main sepeda.

Sampai jumpa nanti malam!

Semakin Jarang Menulis

Blog itu hanya tren sesaat. Dan ternyata ramalan pakar telematika ini benar. Sekarang yang lebih populer adalah vlog.

Saya sendiri betul semakin jarang menulis, padahal menulis itu penting sebagai bentuk refleksi dan mencatat apa-apa saja yang ada di dalam otak kita. Ada pepatah yang bilang: ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Saya sendiri sekarang lebih konsisten di instagram. Saya suka mengambil foto dan kemudian menuliskan caption sesuai dengan keinginan saya memaknai foto saya tersebut.

Selain menulis, sebenarnya kita bisa juga merefleksikan diri dengan bermain alat musik atau bahkan menggambar. Nah, saya masih banyak belajar akan kedua hal ini.

Piring yang Terpisah

Sedikit catatan kecil dari perjalanan singkat ke Singapura.

Baru kali pertama saya mengunjungi Singapura bukan bersama keluarga. Berarti biasanya pergi ke Singapura ya untuk berlibur. Ke tempat-tempat wisata. Kali ini tidak.

Sebelum menunggu pesawat pulang, saya sempatkan untuk sarapan di airport. Saya menuju foodcourt di Terminal 4. Wah, ternyata banyak pilihan. Pdahal tadinya saya sudah mau mencoba makan McD.

Peralatan makan kotor harap diletakkan di tempat pengembalian oleh masing-masing pengunjung. Peralatan makan halal dan non halal dipisahkan.

Wah sangat perhatian sekali dalam hati saya. Saat berbagai macam budaya bisa hidup berdampingan saling menghormati satu sama lain.

Transit 6 Jam

Saat ini saya sedang transit di airport Hongkong. Dalam perjalanan berangkat, saya tak berencana meninggalkan airport dan mengintip kota Hongkong. Saat pulang, muncul rencana saya untuk mengintip gemerlap kota Hongkong di malam hari.

Saya sudah survei beberapa metode transportasi yang bisa saya pilih untuk mengantar saya ke kota Hongkong. Pilihan yang paling tak berisiko (tak macet) adalah dengan kereta. Biaya-nya kurang lebih USD$10 untuk sekali jalan.

Setelah melihat gerbang antrean imigrasi keluar bandara, saya putuskan untuk tidak jadi keluar. Enam jam rasanya masih terlalu mepet untuk mengintip kota Hongkong keluar dari bandara.

Jika saya punya waktu 12 jam, saya bisa keluar bandara. Semoga suatu hari nanti ada kesempatan menelusuri Victoria Harbour di kota Hongkong.

Sekarang, mendengarkan lagu ini saja dulu: