Mengurangi Sampah

Sampah. Hal ini menjadi masalah besar di perkotaan. Tapi saya pikir tidak dengan di pedesaan.

Saat menghabiskan waktu dua hari di satu desa di daerah Cianjur, saya sampai pada kesimpulan bahwa orang kota memproduksi sampah lebih banyak daripada masyarakat di desa. Khususnya sampah kemasan makanan.

Orang kota minum dari gelas plastik sekali pakai. Orang desa memasak air lalu meletakkannya di dalam teko. Orang kota membeli makanan dengan bungkus stryorofoam. Orang desa bertukar makanan menggunakan piring.

Saya masih jauh dari usaha mengurangi sampah. Hanya kalau sedang rajin saja. Misal beli bubur atau ketoprak untuk dibawa pulang, saya sudah menyiapkan kotak makanan. Ada teman saya di instagram yang begitu rajin mengurangi sampah. Sampai ke hal-hal paling kecil.

Dengan mengurangi sampah, sebenarnya kita bisa mengurangi permasalahan sampah itu sendiri. Buang sampah sembarangan: lha wong gak ada sampahnya. Sampah yang belum dipisah: lha wong sama, gak ada sampah juga.

Oh ya, teman di instagram saya ini sampai menggunakan sapu tangan (napkin)! Klo saya sih masih suka pakai tissue untuk melap usai makan.

Iklan

Bertemu Teman Lama

Hari ini saya bertemu dengan beberapa teman lama. Rasanya melegakan saat bisa bertemu teman lama dan tidak hiruk-pikuk-sibuk memeriksa notifikasi di HP.

Kami menonton The Arrow karena Zaidan sudah mulai bosan. Tak ada teman sebaya juga. Lalu saya jadi kali pertama menonton Black Mirror. Film yang menyindir kehidupan manusia modern yang mendewakan rating hingga melupakan ketulusan.

Menembus Kemacetan Mampang

Hari Minggu lalu, kami pergi ke city. Entah mengapa, sekarang saat pergi ke pusat kota kami suka menyebutnya pergi ke city.

Dan ternyata…. membutuhkan waktu 1 jam 10 menit hanya untuk melewati Mampang. Fufufu… Padahal ini di hari Minggu pagi. Bukan di hari kerja.

Tak terbayang jika harus melewati jalan ini setiap hari di hari kerja.

Kolam Renang Citos Tutup di 1 Januari

Pagi ini, dengan semangat 45, saya mengeluarkan sepeda dari halaman belakang rumah. Sejak malamnya, saya sudah berniat naik sepeda ke Citos untuk berenang.

Saya bersepeda santai saja. Tidak terlalu ngebut. Saat berangkat, jalanannya relatif turun. Jadi tak terlalu pegal mengayuhnya. Waktu tempuh dari rumah ke Citos kurang dari 30 menit. Wow! Dengan jarak hampir 10 kilometer ini termasuk cepat. Coba di hari kerja. Waktu tempuh bisa jadi 2 kalinya.

Lalu saya parkir sepeda saya di tempat parkir sepeda Citos. Citos merupakan salah satu pusat perbelanjaan kesukaan saya karena memiliki parkir sepeda 🙂 Ada satpam yang menghampiri dan meminta nomor telepon saya. Untuk apa ya?

Lantas saya berjalan kaki. Di sekitar kolam tak banyak mobil parkir. Saya tiba pukul 6:30 Dan ternyata, di depan pintu ditempel pengumuman bahwa kolam renang tutup di tanggal 1 Januari untuk kemudian baru kembali buka tanggal 2 Januari.

Sebenarnya sebelum berangkat, saya sudah mbatin bahwa bisa jadi kolam renang akan tutup. Bisa saja saya mencari telepon dan menelepon sebelum berangkat. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat saja dengan sepeda, toh kalau tutup saya tetap berolahraga bersepeda. Bolak-balik, bisa 20 kilometer.

Saat berenang saya berencana berlatih swimming turns.

Buku dan 2017

Saya bukan termasuk orang yang terlalu muluk-muluk dengan pergantian tahun. Mulai dari resolusi dan perubahan. Ya kalau mau berubah, lakukan saja sekarang. Tak perlu menunggu pergantian tahun.

Tapi bagi sebagian orang, menunggu pergantian tahun bisa menjadi momentum yang membantu untuk membuat perubahan. Ya, oke lah kalau cara itu berjalan.

Ngomong-ngomong resolusi retina display sampai saat ini belum juga tercapai 😀

Rasanya saya jarang membaca buku di tahun 2017 ini. Ada novel Eka Kurniawan yang saya baca namun tak kunjung saya selesaikan. Lalu buku apa lagi ya?

Saya ingin bisa lebih banyak membaca buku.

Menonton TV Membosankan?

Saya bukan generasi milenial-milenial amat. Saya besar dengan TV di ruang keluarga. Dan hingga sekarang di rumah orang tua juga belum terpasang koneksi Internet.

Namun, sudah lama di rumah sekarang tidak ada TV. Saat berkunjung ke rumah orang tua, saya mendadak merasa menonton TV menjadi sesuatu yang membosankan.

Bagaimana dengan kamu?