Lari menuju 5K

Sekarang saya mencoba kebiasaan baru. Berjalan pagi. Tidak jauh dan tidak lama memang, namun saya putuskan untuk menambah jarak jalan pagi saya.

Permasalahan utama untuk berjalan kaki di Jakarta dan sekitarnya adalah tidak adanya trotoar. Berjalan di jalan raya bercampur dengan kendaraan bermotor, ini sangat tidak nyaman bagi pejalan kaki. Dulu-dulu saya memutuskan untuk bersepeda. Sayangnya, bersepeda ini sangat sedikit membakar kalori. Keringetannya tak banyak. Jadi belakangan saya putuskan untuk jalan kaki saja. Walau saya masih bersepeda untuk jarak kurang dari 10 km.

Hari Minggu lalu, saya bersepeda lalu lanjut lari. Saya masih belum mencapai lari dengan jarak 5 km. Saya masih stabil di angka 3 km. Masih ada 2 km lagi. Baru 60% nih berarti dari target.

Semoga saya bisa konsisten dan menembus 5 km.

Iklan

Menjual Kacang vs Menjual Barang Mahal

Apple baru saja merilis seri baru iPhone 8, iPhone 8 Plus dan iPhone X. Dan dunia tentu saja viral membicarakan ini.

Bagaimana caranya membuat orang mau mengeluarkan uang begitu banyak untuk membeli ponsel? Orang pemasaran ini memang paling tahu caranya memasarkan barang.

Yang ingin saya diskusikan dalam tulisan ini adalah membutuhkan kemampuan tersendiri untuk membuat orang mau mengeluarkan uang. Saat kita jualan gorengan/kacang tentu berbeda saat kita jualan rumah/tanah.

Menemukan pembeli gorengan/kacang tentu takkan sesulit menemukan pembeli/pengontrak rumah/tanah. Orang tak perlu pikir panjang saat membeli gorengan. Nah kalau beli/ngontrak rumah, orang pasti pikir panjang. Di mana lokasinya, bagaimana kondisi rumahnya, berapa harganya, bagaimana mekanisme pembiayaannya, dst.

Di sisi penjual, menemukan calon potensi pembeli juga berbeda. Klo tukang gorengan/kacang, tinggal cari posisi jualan yang ada keramaian dan bisa parkir motor/mobil. Nah klo jual/ngontrak rumah bagaimana? Kita perlu tahu segmen pasar mana yang dibidik. Daya beli calon pembeli/pengontrak, dst.

Nah, menjual consumer product seperti ponsel beda lagi ini ilmunya. Seperti Apple yang seolah mampu menyihir penggunanya.

Menuju 10 Ribu Langkah Setiap Hari

Sepuluh ribu ini seolah menjadi angka ajaib. Ada yang bilang, agar tetap sehat, salah satunya adalah dengan melangkah minimal sepuluh ribu setiap harinya. Saya masih jauh dari angka ini. Tadi pagi jadinya saya mencoba jalan pagi dengan rute baru yang lebih jauh.

Tidak cuma sepuluh ribu langkah, ada lagi sepuluh ribu jam. Sepuluh ribu jam untuk menjadikan diri kita sebagai pakar dalam satu bidang.

Sepuluh ribu, sepuluh ribu, dan sepuluh ribu. Sepuluh ribu tulisan? Jika dalam satu hari satu tulisan, berarti baru akan jadi pakar dalam waktu 3 tahun lebih. Itu pun dengan catatan setiap hari menulis. Lha klo menulisnya belentang-belentong begini, kapan mau jadi pakar.

Klo programmer, sepuluh ribu commit kali ya 😀

Memainkan Spotify di Perangkat Lain

Saya mengunduh aplikasi Spotify untuk Ubuntu. Jadi, saya bisa memilih lagu via laptop. Lalu, yang ajaib dari Spofity adalah saya bisa mengontrol Spotify yang ada di iPad ataupun di iPhone saya, melalui aplikasi Spotifiy di laptop saya.

Ini tentu sangat memudahkan saya. Misal, karena speaker pada laptop saya tak terlalu keras, jadi saya bisa membuat suara musik datang dari Spotify di iPad dengan saya memilih lagu via laptop.

Asyik kan.

Mendengarkan Spotify di Pesawat

Alkisah, saya akan terbang menggunakan pesawat low-cost airfare. Saya berasumsi tidak akan ada in-flight entertainment. Jadi saya putuskan untuk mengunduh lagu-lagu favorit saya via akun Spotify saya. Sebelum berangkat, saya unduh satu-persatu.

Saat pesawat sudah di atas awan, saya nyalakan ponsel. Dan… ternyata saya tetap tak bisa mendengarkan lagu via akun Spotify saya karena Spotify mengharuskan ponsel tersambung ke Internet (walaupun lagu sudah diunduh).

Ealah, gagal lah. Buat apa saya mengunduh lagu-lagu ini kalau begitu.

Pertama Kali ke Pantai

Setelah 30 tahun dalam hidupnya, Ivan akhirnya melihat pantai.

Awalnya, saya begitu berdecak heran dengan pernyataan di atas. Namun setelah saya duduk dan berpikir, tidak ada yang aneh dengan pernyataan di atas.

Dunia bukan cuma selebar daun kelor. Bukan cuma seputar kota tempat Anda tinggal, ataupun kota tetangga, ataupun kota-kota lain di pulau Anda tinggal. Dunia itu luas.

Bagaimana jika saya balik:

Setelah 50 tahun dalam hidupnya, Budi akhirnya melihat salju.

Adakah yang aneh? Tidak aneh kan. Dalam kesempatan kali ini, saya ingin mengucapkan selamat untuk Ivan (bukan nama sebenarnya) teman saya yang pergi ke pantai untuk melihat kali pertama dalam 30 tahun hidupnya.

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali merasakan salju di tempat salju turun secara alami. Di pemukiman bukan daerah wisata 🙂