Antara Waktu dan Uang

Waktu dan uang ini ibarat air dan minyak. Keduanya tak bisa bersatu.

Saat mahasiswa dulu, uang tak banyak, namun waktu lowong tentu banyak. Bisa melakukan banyak kegiatan ini itu. Saat mulai bekerja, uang jadi bertambah. Namun hal ini ditukar dengan waktu.

Saat saya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga begitu banyak, di dalam hati saya bersyukur sekali. Saat saya bisa menemani anak saya, bermain air di water park. Saat ia terdiam karena ban yang kami naiki tak masuk ke dalam perosotan. Saat ia panik. Akan saya ingat betul-betul saat-saat ini.

Saat saya membacakan buku mengenai Singapura di malam-malam sebelum ia tidur, sebelum ia benar-benar menginjakkan kaki ke negeri ini. Bagaimana ia menghafal patung Merlion, gedung Marina Bay Sand, tempat duduk prioritas, Little India dan China Town.

Semoga ia bisa melihat dunia yang penuh warna ini selalu lebih baik dari saya sekarang.

Membangun Jalan dan Gaji yang Lebih Besar

Sekilas saya mendengar sambutan Jusuf Kalla dalam acara IIMS: “Jika tidak macet, ini yang justru kita harus heran. Ekonomi kita sedang tumbuh, sehingga jumlah mobil terus bertambah”.

Saat mendengar jembatan Semanggi akan ditambah, hanya satu permintaan saya: semoga nasib pejalan kaki tidak dilupakan. Menambah jalan ibarat panacea. Membuat segala sesuatu menjadi lebih cepat? Benarkan lebih cepat? Tapi apa kita perlu lebih cepat?

Saat di Melbourne dulu, saya rajin menyimak berita lokal. Saya ingin tahu apa yang ramai didiskusikan di masyarakat. Salah satunya adalah perdebatan membangun jalan East-West link versus membangun jalur kereta api.

Premier Victoria yang baru terpilih. Ia datang dari partai yang berbeda, sehingga rencana East-West link terkubur.

Jika kita memiliki mobil dan berharap segalanya akan lebih lancar jika jalan dilebarkan, ini tak sepenuhnya tepat. Mengapa kita tidak berpikir, bagaimana klo kita membuat infrastruktur yang justru mengurangi kendaraan pribadi di jalan raya? Misal dengan membangun trotoar yang rapi dan layak, membangun jalur sepeda, menyediakan angkutan umum yang nyaman dan bisa diandalkan.

Apakah berharap jalan lebih lancar saat dilebarkan ini akan sama dengan berharap gaji yang lebih besar akan menyelesaikan semua permasalahan? Saya coba sambung-sambung saja.

Karena, tak selalu gaji yang lebih besar menyelesaikan masalah. Bisa jadi saat gaji lebih besar, pengeluaran juga ikut lebih besar. Karena sudah punya mobil, jadi ada pengeluaran untuk perawatan mobil dst. Lalu, gaya hidup juga naik. Makan, pakaian, dst.

Lalu apa yang sebenarnya yang dicari di dunia yang sesungguhnya fana ini? Senyum anak dan orang tua terkadang lebih berarti daripada angka-angka uang di tabungan.

Bekerja dengan Selimut

Saat musim dingin lalu, saya masih teringat saat-saat udara begitu dingin. Hingga yang paling nyaman adalah bekerja dengan selimut, alih-alih duduk di meja. Brr… dinginnya.

Kini, cuaca lebih bersahabat. Pagi-pagi bisa mendengar kicauan burung dengan jendela terbuka. Siang dan sore, angin berhembus sepoi-sepoi.

Berbagi di Kuliah Umum

Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan berbagi dengan adik-adik mahasiswa Fasilkom UI. Senang rasanya kembali ke kampus, dan kali ini saya bisa naik sepeda ke kampus. Walau agak repot, karena saya berkeringat, dan harus ganti kostum, lalu berkeringat lagi. Hehehe…

Tapi aktivitas fisik itu menyenangkan kok. Membuat badan terasa lebih segar. Alih-alih duduk manis naik ojek, saya putuskan untuk berepot-repot naik sepeda.

Saya berbagi mengenai aspek keamanan (security) dalam siklus pengembangan perangkat lunak (SDLC: Software Development Life Cycle). Sebenarnya saya sudah meninggalkan dunia praktisi di dunia keamanan sejak pergi ke down under kurang lebih 2 tahun yang lalu. Jadi saya perlu menyegarkan ingatan saya lagi, khususnya ke bagian yang lebih detail.

Saat saya membaca salah satu ulasan mahasiswa mengenai kelas saya, sungguh saya merasa senang/bangga/berbunga-bunga. Saya kutip singkat tulisannya (tanpa izin):

In my very very very honest opinio, it was the only guest lecture which is worth my 2.5 hours in class! Regardless the topic, I really like the way he gave the lecture. THAT’S IT!

Namun apalah kemampuan saya dibanding dengan guru/panutan saya. Saya hanya berbagi di satu kelas, selama 2-2.5 jam. Tidak sampai 15 sesi pertemuan, bukan di pukul 7 pagi. Saya tidak menilai/memeriksa tugas. Dan saya juga tak membimbing.

Dan… saya sadar masih harus terus dan banyak belajar lagi…

Aksara Jawa vs Aksara Belanda

Masih seputar film Kartini arahan sutradara Hanung Bramantyo (ejaan?). Ini merupakan kutipan kedua yang saya suka.

Kartini akhirnya dilamar. Mendadak, digambarkan dunia Kartini menjadi gelap. Kartini pun diajak berbicara dari hati-ke-hati oleh Ibu kandungnya.

“Ndhuk, apa yang ada dari aksara Belanda yang kamu pelajari”, tanya Ibu.
“Kebebasan”, jawab Kartini singkat.

“Sementara, apa yang tidak ada dari aksara Belanda dan ada di aksara Jawa?”

Lalu, setting film berubah. Digambarkan aksara jawa: ta na la. Lalu diberi apa, sehingga menjadi tri ni dan l. La dipangku menjadi l. Saya tak pernah belajar aksara Jawa jadi saya tak tahu banyak.

“Yang tidak ada di aksara Belanda itu adalah memangku, Ndhuk”.

Tak Ada Waktu Menonton Video

Karena sulitnya menemukan waktu luang untuk membaca buku, saya memiliki program untuk membaca buku sebelum tidur. Pada praktiknya…. saya lebih sering tertidur sebelum membaca buku.

Ada lagi keinginan saya yang lain yaitu menonton video. Ada 2 video yang ingin saya tonton. Pertama, video keynote dari PyCon US 2016 oleh Lars dan video dari ANU Indonesian Project.

Saat menonton video, saya berusaha membayangkan diri saya hadir dalam acara tersebut. Nah, karena waktu video-nya panjang, saya jadi susah menonton semuanya.

Ada ide?

Buku adalah Jendela

“Fisikmu boleh dipingit, tapi tidak dengan pikiranmu. Ini aku berikan kunci”, ujar kakak Kartini.

Alkisah, akhir pekan kemarin saya menonton film Kartini bersama istri. Ini adalah salah satu kutipan bebas saya dalam film ini.

Saat memasuki usia menstruasi, Kartini memulai hidupnya dalam pingitan. Hingga nanti seseorang akan melamarnya. Kartini tidak boleh keluar rumah.

Namun kakaknya, memberikan kunci. Yang ternyata kunci ini merupakan kunci lemari buku. Buku di zaman dulu tentu merupakan barang mewah. Eh, sekarang pun masih juga ya. Dan kemampuan baca-tulis di tahun sebelum 1900-an tentu merupakan keahlian yang tak umum.

Kartini terlahir dari keluarga pejabat daerah. Kartini mampu membaca aksara Belanda, termasuk bisa berbahasa Belanda. Di masa muda-nya Kartini sudah membaca buku-buku Multatuli, Max Havelar dan Karl Marx. Wow, saya saja belum pernah membaca buku-buku tersebut.

Jika Kartini terpenjara dalam pingitan dan buku menjadi jendela-nya untuk merasakan kebebasan, bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Terjebak di kota yang padat, kemacetan di mana-mana, apa yang bisa menjadi jendela?

Pergi ke Belanda kah? Kartini ingin pergi, melarikan ke Belanda, namun tak kesampaian. Kalau saya ingin lari ke … Country side of Victoria. Hehehe… becanda.

Yang ingin saya tekankan dalam tulisan saya kali ini adalah, kita perlu selalu mencari “jendela” untuk melihat dunia luar dan lari dari pingitan yang mengurung.