Kembali Bekerja

Setelah seminggu libur, sekarang saatnya kembali bekerja. Sudah lupa nih, cara mengetik. Hehehe… jari-jari agak sedikit kaku.

Ditemani hujan gerimis-deras, mari singsingkan lengan baju.

Iklan

Jalan Kaki Setiap Hari

Menuju 10,000 langkah.

Sudah beberapa bulan ini saya berusaha jalan kaki setiap hari. Awalnya, satuan di ponsel saya menunjukkan langkah (steps), namun belakangan entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi jarak (km). Rata-rata langkah saya adalah 3.x km per hari. Masih jauh dari 5 km per hari.

Pagi ini saya tidak jalan kaki. Lalu muncul perasaan menyesal. Mengapa tadi pagi tidak jalan kaki?

Cuaca di Jakarta sungguh nyaman bila dibandingkan dengan di Melbourne dulu. Di Jakarta kita hanya perlu “mengalahkan” matahari agar ia belum terlalu panas, sehingga nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan. Kalau di Melbourne, untuk keluar rumah, wah repot sekali. Harus pakai baju berlapis-lapis, sepatu boot, jaket anti angin dan anti air, dst.

Tapi enaknya di Melbourne adalah adanya trotoar. Sebagai nasib kaum pinggiran Jakarta yang pemerintah daerahnya tak memprioritaskan trotoar, ya mau tak mau, harus mencari waktu yang tepat juga kapan kendaraan bermotor tak banyak melintas.

Atau taktik lainnya adalah mencari rute kampung. Rute-rute yang bukan jalan utama.

Jalan kaki setiap hari ini terlihat sebagai aktivitas yang mudah tapi praktiknya yang sulit adalah untuk bisa konsisten: setiap hari. Untuk menuju 10,000 langkah setiap hari.

Begitu Mudahnya Mencari Lagu di Zaman Sekarang

Dulu, saya masih ingat masa-masa berburu kaset favorit. Mulai dari toko kaset dekat rumah: ada di Kalimalang atau di Hero Pondok Bambu. Lalu klo mau agak jauh ke daerah Blok M Plaza, yaitu Aquarius Mahakam. Lalu kalau mau lebih jauh lagi ke daerah Pondok Indah.

Klo dapat apa yang dicari, oh sungguh senangnya.

Lalu, saat zaman berganti, mulai mengkoleksi CD. Harga CD lebih mahal, tapi CD menghadirkan suara yang lebih jernih dan bisa diskip per track dengan mudah.

Kini, dengan Spotify, saya bisa mendengarkan lagu musikal Film Sherina dengan begitu mudahnya. Wah, saya suka sekali dengan aransemen piano dalam lagu ini.

Tak akan kau bisa
Memahaminya
Dan kenakalannya
Sebelum mengenalnya

Dan kau akan mengerti…

Bekerja dengan Kondisi Ideal

Siang tadi saya eksperimen memutar monitor 23″ inchi saya menjadi vertikal.

Beberapa hari ini saya menggunakan tmux untuk membagi-bagi terminal saya. tmux ini asyik sekali. Kita bisa memecah terminal menjadi vertikal atau horizontal. Mau dibagi terus hingga inception juga bisa.

Kembali ke layar vertikal, untuk membaca kode menjadi lebih nyaman. Jarak baca jadi lebih jauh. Tak perlu repot scroll atas-bawah dan huruf tak perlu terlalu kecil.

Sayangnya saya masih merasa monitor 23″ saya ini masih terlalu kecil. Saya tak mau membaca dengan huruf terlalu kecil. Saat ini saya masih set besar huruf 12. Sesekali 10 atau 11, dan saya tak mau lebih kecil dari 10.

Kalau membayangkan kerja kondisi ideal adalah sebagai berikut:

* monitor 34″
* keyboard mekanik
* meja besar
* kursi bos
* speaker bose
* internet lancar
* ada tanaman di meja

Hehehe…

Take It Easy

Sometimes, I feel I am pushing my self too hard. Have I? And if I keep doing those things, sometimes I do like it. But on the other hand if I don’t do something, I’ll blame my self.

Take it easy.

Latihan, Latihan dan Latihan

Hal ini lagi-lagi hal yang sulit. Latihan, latihan dan latihan. Konsisten, konsisten, dan konsisten. Apa-apa kalau mau bagus harus latihan terus menerus. Latihan terus. Mulai dari olahraga, bekerja, berbicara, presentasi, dst.

Termasuk pola hidup yang baik kali ya. Terbiasa tidur lebih awal dan bangun pagi. Nah ini juga perlu dilatih.

Berlatih-berlatih-berlatih.

Kemarin Minggu, saya kembali berlatih lari. Awalnya saya mau lari 3 km saja. Eh tapi dalam hati, coba terusin saja deh. Sampai 4 km, lalu saya bilang ke dalam hati saya, “Ayo 1 km lagi 5 km”. Jadilah kemarin bisa sampai 5 km.

Saya larinya pelan-pelan saja sih. Toh saya lari di dalam taman. Jadi saya tak mau mencelakakan pengunjung taman lainnya dan tetap menjaga kenyamanan bagi semuanya.

Klo lari pelan, nafasnya masih lumayan bisa diatur.

Kolam Renang Bebas Hambatan

OK, sekarang hari Rabu. Awalan yang cukup berat untuk sebuah hari Rabu. Karena kemarin hari Selasa libur, jadi tancap gas baru dilakukan hari ini.

Dan banyak hal-hal yang di luar rencana (atau tak terencana) terjadi. Semalam istri saya mengatakan ada yang mengetuk rumah tengah malam. Sebelumnya saya bertemu dengan satpam komplek dan petugas kebersihan. Tentu saya tak tahu apa-apa.

Ternyata Ibu salah seorang satpam ada yang meninggal dunia. Dan, kita mau-tidak-mau harus siap dengan hal-hal yang terjadi di luar rencana.

Jadilah pagi ini saya sibuk sebentar di luar rutinitas kerjaan. Namun, mengingat salah satu serial film terbaik yang baru saja saya tonton, kita semua harus selalu siap dengan apapun yang terjadi. Money Heist, saat ini menjadi benar-benar film favorit saya. Resistancia!

Eh, namun mengapa saya jadi cerita ini semua. Yang saya ingin ceritakan kali ini sebenarnya adalah kolam renang bebas hambatan.

Hari Senin kemarin saya berenang di kolam Hotel Horizon Bandung. Setelah hampir 10 tahun di Bandung, saya baru tahu kalau ada kolam renang sebesar itu di Hotel Horizon. Saya benar-benar bisa berenang sebebas-bebasnya. Tak perlu takut nabrak, tak perlu takut kena orang, dst.

Di samping saya seorang atlet muda sedang latihan. Memang beda ya, atlet muda vs atlet paruh baya :)) Sekarang saya sedang mencari-cari kolam renang sebesar olympic pool dan berlokasi di Jakarta Selatan. Apa saatnya mencoba kolam renang di Ragunan?