Distraksi dan Distraksi

Kalau dulu saya pernah membaca, janganlah memeriksa email setiap saat, rasanya hal ini semakin sulit dilakukan. Yak, betul email bisa jadi sudah semakin ditinggalkan, tapi kemudian lahir bentuk baru email.

Aplikasi messaging semacam whatsapp, telegram. Plus slack, firechat, dst. Nah, karakteristik aplikasi ini adalah pesan-pesan pendek yang mau-tak-mau harus dibaca dalam waktu singkat dan menuntut respon yang cepat.

Kalau email masih bisa dibalas besok hari, berbeda dengan pesan-pesan dalam aplikasi ini. Belum lagi, jika jumlah orang dalam grup ini begitu banyak. Maka tak heran, jika setiap ada grup baru di whatsapp/telegram, saya langsung mute selama satu tahun.

Sekarang perlu pintar-pintar menghadapi distraksi seperti ini. Kalau tidak pintar, bisa jadi yang ada kita malah semakin tumpul.

Iklan

Ke Cianjur Selatan

Alkisah akhir pekan kemarin, kami pergi ke suatu desa di pelosok Cianjur Selatan. Waduh, ternyata Indonesia itu luas dan besar sekali. Hal ini takkan bisa dijumpai di negeri Singapura yang kecil.

Membutuhkan waktu lebih dari 5 jam untuk mencapai lokasi. Lalu lintas yang padat, jalan yang kecil, dan ketidakteraturan jalan raya menjadi pemandangan di 4 jam pertama perjalanan.

Setelah mencapai pelosok, jalan tak lagi mulus, tak ada lagi jalan yang diaspal. Yang ada hanya bebatuan. Masih untung ada bebatuan, saya tak bisa bayangkan kalau tak ada bebatuan dan sedang musim hujan.

Ini masih Jawa Barat lho, masih satu pulau dengan Ibukota Jakarta. Dan membangun infrastruktur ternyata tidak pernah mudah.

Lalu saya terbayang-bayang, bagaimanakah idealnya hubungan antara desa dengan kota? Apakah orang kota selalu merasa lebih superior dengan orang desa? Apakah desa harus menjadi subordinat dari kota? Ah, saya ngelantur terlalu jauh rasanya.

Akhir kata, akhir pekan kemarin sangat menyenangkan. Senang rasanya bisa menghabiskan waktu di desa: bermain ke kali, jalan kaki dengan pohon-pohon tinggi dan rimbun, dan …. melihat air terjun Curug Ngebul!

Menulis Semakin Tidak Menarik?

Wah,…. nulis blog makin sulit. Apalagi di era instagram story dll. Jadi, benarkah yang dikatakan pakar RS dulu? Bahwa blog hanya tren sesaat?

Dengan gambar dan video, orang lebih mudah berbagi. Tak perlu repot-repot mengetik panjang lebar. Tinggal rekam, kasih kata-kata sedikit, pin lokasi, tada!

Belum lagi vlog. Tinggal ngecap (eh apa ada konsep dulu di belakangnya?). Jadi, apakah menulis akan menjadi hal yang semakin tidak menarik?

Hmm… bisa jadi. Namun biar bagaimana, kemampuan membaca dan menulis tetap lah penting. Itu menjadi pondasi dari video/gambar.

Berolahraga di Akhir Pekan

Wah, akhir pekan kemarin saya berolahraga dua hari berturut-turut. Dan hebatnya lagi, saya bangun pagi sekali di hari Sabtu dan Minggu. Saya perlu mengapresiasi diri saya sendiri dulu nih.

Di hari Sabtu, saya naik sepeda. Ban bocor. Dibawain teman ban dalam. Lalu gowes sampai kantor Kabupaten Bogor. Pulang-pergi 36 km.

Di hari Minggu saya ke HBKB Thamrin-Sudirman. Saya lari 2.4 km. Wah, ternyata panas sekali lari di dalam kota Jakarta. Lebih enak lari di Ragunan rasanya.

Ban Kempes Saat Bersepeda

Pagi ini saya keluar rumah sebelum matahari terbit. Saya berencana bersepeda bersama bike buddy saya :B Eh, ternyata teman saya mengabari baru bisa bergabung agak siang. Saya terlambat membaca pesan ini. Saya sudah telanjur keluar rumah dengan kostum dan siap menggowes saja.

Akhirnya, saya putuskan ke UI saja. Baru satu putaran, ternyata ban saya kempes. Hadoh. Saya berpikir untuk jalan kaki saja deh ke rumah, menuntun sepeda. Saya kabari teman saya.

Sambil berjalan, saya nanya tukang ojek, apakah ada tukang tambal ban. Saya dikasih tahu ada di depan kelurahan. Setibanya di depan kelurahan, sang petugas baru bersiap membuka bengkel. Namun ternyata ia tak bisa (atau tak mau?) menambal ban sepeda.

Ya sudah, saya minta pompa saja.

Tak lama kemudian, ban pun mulai perlahan kempes. Ya berarti ada yang bocor.

Untungnya teman saya datang. Ia datang membawa ban dalam. Saya pinjam obeng/alat pencongkel untuk mengambil ban dalam. Tara! Ban tak lagi kempes. Tapi entah mengapa, ban yang saya gunakan seperti benjol. Jadi, saat ban berputar, selalu terasa duk-duk-duk teratur.

Biar pun ban benjol, saya putuskan untuk tetap menggowes. Kali ini saya menggowes sejauh 35 km. Wooow…

Urusan Bertetangga

Saat di down under dulu rasanya saya tak terlalu bertetangga juga. Eh, tapi saya masih suka menyapa tetangga-tetangga saya lho.

Ada Kevin. Ia tinggal di rumah bagian paling belakang. Istrinya yang saya tahu dari Malaysia. Kevin besar di Australia. Kevin memiliki seorang putri kecil dan cantik. Saya suka menegurnya. Kevin bekerja di Woolies. Yang baru belakangan saya tahu Woolies itu berarti Woolworths. Semacam supermarket lah, singkat cerita.

Lalu, ada lagi tetangga depan rumah. Thomas dan Rita. Mereka begitu ramah. Bahkan kami dipinjamkan TV setelah mereka mengetahui kami tak memiliki TV.

Dan kini, kembali ke Indonesia…

Saya mendapat kepercayaan menjadi bendahara. Mengurus uang keluar masuk. Membuat pencatatan dan membuat laporan. Belum lagi menagih kredit macet. Termasuk harus hadir di rapat-rapat. Hadeuh…

Yang saya tak suka di sini adalah agenda rapat yang bertele-tele. Bukan berarti saya tidak mau basa-basi, tapi rapat yang ada kadang terlaluuuu bertele-tele-tele-tele. Gak jelas juntrungannya.

Namun biar bagaimana, biarlah ini saya anggap dinamika. Karena biar bagaimana setiap orang akan terjun ke lingkungannya.

Saya jadi teringat pesan salah seorang dosen saya: bahwa ia lebih menghargai mahasiswa yang belajar keras dan berkontribusi di lingkungannya walau hanya mendapat nilai B, dibanding mahasiswa yang hanya belajar tanpa berkontribusi ke lingkungannya dan mendapat nilai A.

Selamat malam. Saatnya menyingsingkan lengan baju untuk one long-uninterrupted-time!

Era Vlog

Harian Kompas minggu lalu mengupas soal vlog. Rasanya sekarang vlog mulai ramai dibicarakan. Instagram story pun populer, tapi entah bagaimana saya merasa gimana begitu klo mendokumentasikan diri sendiri dalam video.

Generasi mendatang rasanya akan lebih kreatif dari generasi saya. Lihat saja video ini.

Klo dulu, definisi pintar hanya sebatas akademik. Coba lihat video di atas. Pinta berarti bisa berimajinasi membuat sesuatu yang baru dan juga ketekunan dan kemauan yang kuat.