Mengetahui Waktu Mati

Seiring dengan berita eksekusi Bali Nine, kami jadi bercakap-cakap seputar kematian di rumah. Salah satunya adalah, mengenai waktu mati. Saya melihat waktu mati menjadi sesuatu yang positif. Ya, minimal kita tahu kapan akan mati.

Semua manusia pasti mati.

Dari jauh-jauh hari, manusia berusaha membuat dirinya abadi. Tapi sejarah sudah menunjukkan tidak ada yang bisa melawan usia. Diri akan menjadi tua. Firaun berusaha membuat makam megah, membuat cairan untuk mengawetkan badan.

Manusia akan mati.

Apakah yang akan diingat dari kematian seorang manusia? Akankah jasa-jasanya bisa dikenang oleh generasi-generasi berikutnya?

Dari pengalaman saya, komunikasi antar generasi ini tak mudah. Jika di zaman dulu, misalnya tantangannya adalah merebut kemerdekaan dari penjajah. Bagaimana tantangan di zaman sekarang?

Jika dulu tantangannya adalah memenangkan perang di Gallipoli. Bagaimana sekarang?

PS: Wah nulisnya terburu-buru. Jadi tulisannya masih berantakan.

Bersyukur Lebih Mudah Diucapkan

Bersyukur itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Perasaan kekurangan selalu lebih cepat muncul daripada mensyukuri apa yang sudah ada. Keinginan membeli yang baru selalu lebih besar daripada menggunakan apa yang ada.

Mengapa ya? Padahal setiap orang akan memiliki ujiannya sendiri.

Saat kemarin mengantar Zaidan sekolah, saya sempat berandai-andai. Andai kami memilih membeli mobil (seperti kebanyakan teman-teman yang lain) maka saya (dan Zaidan) tak perlu jalan-jalan jauh ke halte, mengenakan baju hangat tebal, membawa payung, membawa ponco, dst. Perjalanan rumah – sekolah pun paling hanya 10 menit. Jadi kami tak perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk bepergian.

Walau, sebenarnya banyak hikmah yang bisa kami petik dari keputusan tidak membeli mobil ini. Misal, kami jadi punya waktu lebih banyak menikmati perjalanan. Berjalan di trotoar yang nyaman. Melihat rerimbunan pohon jalan diselimuti udara dingin. Bertemu gadis cantik di dalam bis. Eh. Menikmati transportasi publik yang tepat waktu (sekaligus paling mahal sedunia!). Menjadi sehat karena tubuh banyak bergerak. Nah kan, banyak juga sisi positif-nya.

Argh, dasar manusia tak pernah puas…

Cuaca di Melbourne

Dan… setibanya di sekolah Zaidan, langit berwarna biru dengan awan putih di sekelilingnya.

Blue Sky

Sebagai pengguna transportasi publik: kereta/bis/tram dan sepeda, cuaca sangat berpengaruh saat kami akan bepergian. Termasuk waktu: kapan jadwal bis/kereta/tram.

Sepeda pun berpengaruh dengan cuaca. Saya perlu tahu lokasi parkir sepeda yang aman dari hujan. Semenjak menjadi pelanggan parkiteer, saya bisa memarkirkan sepeda saya di beberapa stasiun tanpa rasa cemas.

Semalam, saat akan tidur, saya melihat ramalan cuaca. Ramalan cuaca semalam menampilkan kemungkinan hujan hingga 40% pada pukul 8-10 pagi. Karena berangkat sekolah bagi saya lebih penting daripada pulang sekolah, dalam artian kalau kehujanan pulang sekolah masih lebih tidak apa-apa daripada kehujanan saat berangkat sekolah, saya putuskan pagi ini berangkat menggunakan bis.

Saya sudah membawa payung dan jas hujan Zaidan. Saya pun mengenakan jaket anti air saya. Kami pun melangkah menuju halte. Zaidan sudah menggunakan sepatu boot. Saat kami melangkah ke halte, langit mendadak berubah menjadi biru diselingi awan putih.

Setibanya di sekolah Zaidan, pun tidak ada teman-temannya yang bermain di luar. Lalu saya katakan, “Where are your friends, Zaidan?”. Saat saya meninggalkan Zaidan, langit pun masih biru. Terkadang saya jadi merindukan kehangatan Jakarta…

Resensi Shaun The Sheep The Movie

Anyone?

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Pada musim liburan sekolah kemarin, kami memutuskan untuk mengajak Zaidan menonton di bioskop. Sebelumnya, kami sudah melihat iklan bahwa Shaun The Sheep The Movie akan mulai diputar di bioskop saat mulai liburan sekolah.

Kami sepakat untuk mengajak Zaidan menonton film ini karena saat waktu menonton TV di rumah, Shaun The Sheep merupakan salah satu film favorit-nya. Saat di rumah, saat Shaun The Sheep merupakan saat ia makan buah sambil menonton.

Sayangnya, saat akan diajak nonton Shaun The Sheep The Movie, Zaidan justru rewel. Dimulai dari perjalanan di dalam kereta Metro menuju City. Ia tidak mau duduk sendiri, maunya dipangku. Lalu saat tiba di stasiun Melbourne Central, masih juga ribut. Hingga akhirnya nangis.

Pendek cerita, kami jadi menonton namun pada jadwal pemutaran berikutnya.

Film dibuka dengan sedikit flashback saat Shaun dan teman-teman masih kecil. Bitzer (saya baru tahu saat menonton!), sang anjing penjaga pun juga masih kecil. Termasuk sang penggembala saat masih muda. Lalu mereka berfoto bersama di desa, tempat mereka hidup.

Cerita dibuka dengan suasana yang rutin, terus menerus. Setiap pagi, ayam berkokok. Sang penggembala bangun. Bitzer ikut bangun. Shaun dan teman-teman menjalani ritual sebagai hewan ternak. Keluar dari kandang, bermain di luar, dihitung oleh Bitzer, termasuk dipotong bulu oleh penggembala.

Hingga suatu hari, Shaun memiliki ide untuk kabur dari peternakan dan memulai liburan. Sama dengan yang ada di film, Shaun menggambar pada papan tulis hitam, menjelaskan rencana pada teman-temannya.

Shaun dan teman-teman berencana membuat penggembala tertidur di dalam karavan. Rencana awal berhasil hingga karavan pergi meluncur hingga ke City. Bitzer mencoba mengejar tapi terkena lampu merah. Ia berhenti menunggu lampu kembali hijau, namun penggembala sudah pergi terlalu jauh ke kota.

Penggembala mengalami amnesia, lupa ingatan, karena kepalanya terbentu saat karavan berhenti di City. Bitzer tidak bisa masuk rumah sakit karena anjing dilarang masuk rumah sakit.

Saat tersadar, penggembala menjadi selebritis karena ia menciptakan trend potong rambut baru di City. Ia terlupa bahwa ia sebenarnya penggembala.

Shaun dan teman-teman belakangan menjadi kangen dengan penggembala. Shaun pun memutuskan pergi ke City, sendiri. Belakangan teman-teman Shaun menyusul. Dan ternyata di City, ada seorang petugas yang bertugas menangkap hewan-hewan liar yang berkeliaran di City. Shaun dan teman-teman pun bermain kejar-kejar-an dengan petugas ini.

Dari durasi 10 menit, hingga hampir dua jam, Shaun The Sheep The Movie memiliki cerita yang menarik. Tidak mudah kan, menciptakan cerita panjang dari yang biasanya pendek. Dan masih sama dengan versi TV, dalam film ini tidak banyak dialog. Semua diceritakan dengan gambar dan suara.

Zaidan senang diajak kali pertama nonton di bioskop. Walaupun sesekali ia berteriak takut dan minta pulang. Hihihi.

Jarak Bahasa

Ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan
Kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir ciummu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia

Ku harap kau tahu
bahwa ku, terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu

Tapi bolehkah ku selalu, di dekatmu

Ternyata biar bagaimana, bahasa Ibu tetap merupakan bahasa yang paling dekat untuk bisa mengekspresikan apa yang ada di dalam perasaan. Setelah hampir satu tahun meninggalkan Indonesia, masih sulit bagi saya mengekspresikan perasaan dalam bahasa Inggris. Bisa jadi memang interaksi saya dengan orang non-Indonesia masih jarang dan minim. Untuk bercakap-cakap saja saya masih suka bingung. Walau sekarang saya merasa kemampuan mendengarkan saya sudah ada peningkatan.

Raisa ternyata ada lagu baru. Wah saya suka sekali dengan liriknya.

Sudah Terlalu Banyak Grup WhatsApp

Akhirnya… saya merasa sudah dalam keadaan terlalu banyak grup WhatsApp. Sebagai aplikasi messenger paling populer di Indonesia (referensi? :D) grup paling banyak ada di WhatsApp. Masih ada beberapa aplikasi messenger yang terinstall dalam ponsel saya. Lainnya adalah Telegram dan slack.

Telegram memberikan layanan yang mirip dengan WhatsApp. Telegram menawarkan fitur keamanan yang canggih, namun belakangan tantangan keamanan Telegram juga dibantah.

Yang kedua adalah slack. Slack menurut saya memberikan lebih banyak kelebihan dibanding WhatsApp dan Telegram. Ada fitur #channel dan mention. Bisa diakses via ponsel dan juga via komputer.

Entah mengapa, apa karena orang Indonesia begitu sosial, maka grup WhatsApp banyak sekali. Nah yang buat malas membaca WhatsApp adalah saat kondisi satu orang memforward pesan lalu terbaca lagi dalam grup lainnya. Misalnya, informasi macet saat akan berlangsung peringatan Konferensi Asia Afrika.

Kondisi lain yang membuat malas adalah pesan yang terlalu panjang. Haduh, membacanya gimana? Scroll ke bawah terus?

Di zaman kecanggihan teknologi informasi ini informasi begitu berlimpah. Kemampuan yang diperlukan adalah kemampuan memilah informasi, mengambil informasi yang penting, membuang informasi sampah.

Ini tantangan berikutnya.

Kalau dulu saya merasa masih ada waktu untuk membaca/mengikuti percakapan di WhatsApp, sekarang tidak lagi. Apa mungkin sekarang saya sudah tidak lagi memiliki waktu untuk commute (3-4 jam setiap hari) dan sekarang lebih banyak waktu bermain bersama Zaidan.

Perubahan dan Mencoba Sesuatu yang Baru

Entah mengapa, seiring bertambahnya umur, rasanya manusia semakin lembam. Semakin sulit untuk berubah dan mencoba sesuatu yang baru.

Apa karena takut gagal?

Sebelum berubah dan mencoba sesuatu yang baru, belum-belum di pikiran bawah sadar sudah terlintas, “Mengapa? Toh paling segitu-segitu saja. Tidak banyak berubah”.

Apa karena kita sudah menemukan zona nyaman?

Misal, saya sudah nyaman menggunakan text editor vim. Saya akan sulit berubah ke text editor lainnya. Atau dari menggunakan grafik KDE, beralih ke Unity.

Itu contoh praktis. Contoh lain bisa diterapkan ke banyak hal: jenis musik, artis favorit, bacaan favorit, dst, dst.