Baca, Baca dan Baca

Zaidan sudah kembali bersekolah, setelah sebelumnya absen selama 12 hari. Termin kali ini hanya 8 minggu. Berarti total hanya akan ada 40 hari. 40 hari ini pun masih akan dikurangi libur publik dan libur sekolah.

Saat pulang berenang kemarin, Zaidan berteriak ke saya “Dad, I saw two double-u (W)”. Maksudnya ia melihat huruf W. Saat saya menjemput kemarin, memang saya melihat huruf W di papan tulis. Sepertinya, kemarin sedang huruf W.

Lalu sepeda berjalan beberapa meter, “Dad, I saw another double-u. We’re like playing quiz!”, Zaidan kembali berujar.

Di sekolah tak ada tugas bertumpuk. Yang ada, hanya baca-baca-baca. Setiap pagi usai mengantar, saya membacakan buku selama 10-15 menit. Lalu sebelum tidur, kami membaca buku lagi, sambil mengisi buku catatan membaca.

Baca-baca-baca sudah ditanamkan sejak kecil.

Melihat ke Depan

Apa yang Anda lihat 10 tahun ke depan? 20 tahun ke depan? 30 tahun ke depan?

Masa depan adalah hari ini yang yang berlalu dengan kerja keras. Masa depan adalah mimpi yang dibangun dengan keringat, konsisten, dan persisten.

Menuju Bandara dengan Kereta

Beberapa bulan ke belakang ini, saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota. Antara lain: Sydney, Brisbane dan Tokyo. Ketiga bandara di kota ini terhubung dengan moda transportasi kereta, namun saya hanya sekali naik kereta yaitu saat menuju ke bandara di Brisbane untuk kembali ke Melbourne.

Mengapa tidak naik kereta? Karena membawa koper besar dan pergi bersama keluarga.

Kota Sydney tidak sebesar Tokyo, namun jika saya memilih menggunakan kereta dari/ke bandara, maka saya perlu berganti dengan jalur kereta lain atau ganti dengan bis lagi. Berarti saya perlu naik/turun dengan mendorong koper. Dari segi biaya pun kurang lebih jika dibandingkan saya naik taksi. Akhirnya, kami memilih taksi untuk pergi dari/ke bandara Sydney.

Untuk Brisbane, kami mencoba sekali menggunakan layanan kereta yaitu saat akan pulang. Saat tiba di Brisbane, kami menggunakan “taksi mahasiswa”😀

Tokyo, kota yang begitu besar. Wah, saya tak terbayang harus membawa koper dan naik turun membawa koper di stasiun Ikebukuro. Atas rekomendasi teman, kami memilih menggunakan bis. Dengan bis, koper ada di bagasi bis dan kami tak perlu repot berganti platform kereta.

Jadi, perlukah transportasi kereta menuju bandara? Jawaban saya tetap perlu. Apalagi setiap pergi ke bandara Soekarno-Hatta, bagi saya merupakan olahraga jantung: kita takkan pernah tahu bisa tiba kapan di bandara ini.

Back to Down Under

Shipping Patlabor

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Back to down under. Back to cold and dumb toilet😀

OK, I’ve got so many things to do. From house keeping jobs (literally), return books, bring bike to bikery, and so on and so on. What should I do first? Which task I should finish it first?

Thinking which task I should finish first sometimes just make me more dizzy. I better just finish it one by one, instead of listing all the tasks that needs to be done.

My Fastest Shinkansen Experience

So today, I just had my fastest Shinkansen experience. Shinkansen, the bullet train. It was not my first Shinkansen experience though.

Today we went to Osaka from Kyoto. The distance between Kyoto station to Shin-Osaka station is around 55 km. If I ride my car with 60 km/h, I’ll reach Shin-Osaka station in one hour. And, can you guess how long did it take me from Kyoto station to Shin-Osaka station with Shinkansen?

It took only 15 minutes! OMG!

I thought it will take at least 30 minutes. I was about to eat my wasabi peanut which I bought at Kinkakuji temple until the announcer said that the next station is Shin-Osaka station.

Reading Local News

I’ve got new habit: reading local news. I am trying to find out what’s happening in the neighborhood.

When in down under, I frequently open local news and read what’s happening right now. Vandalism on metro trains, car accidents, melbourne cup, and so on. Luckily, in down under the language barrier is not as big as Tokyo, where almost 15 millions of people live. If you add Greater Tokyo, it’s almost reach 30 millions then.

Can you imagine those so many people live in the same place? Yes, densely populated.

Last night, I just found out, Tokyo has underground toll road. I thought those spaghetti subway lines are enough.

One thing sure, these local news, are not as controversy as Indonesian local news :B

Nobita Neighbourhood

Our neighbourhood for the first week in Japan, Toshima-ku 🎌🎎🏩

A photo posted by Risa Firstiyani (@rfirstiyani) on

I still remember, how Nobita and his friends neighbourhood looks like. Narrow street with close-houses nearby. That’s what we saw by the time we took our luggage from the taxi.

Somehow, I felt, I was back when I was 10 year-old. When I woke up every Sunday morning and watch those Japanese cartoon.