Lisbeth Salander

Tanpa rencana, akhirnya saya selesai menonton Millenium Trilogy. Saya pertama kali tahu soal buku The Girl with The Dragon Tattoo, saat sedang di dalam pesawat. Saya melihat penumpang lain sedang membaca novel ini.

Wah novel apa ini? Kok terlihat begitu populer. Belakangan, dua tahun lalu saya memutuskan untuk membeli novel ini dengan edisi paperback. Motivasi saya untuk menambah kemampuan bahasa Inggris saya yang belakangan tak kunjung meningkat.

Lalu, saat berkunjung ke City Library dan saya melihat DVD ini dalam tumpukan, segera saja saya putuskan untuk meminjam. Eh ternyata seri kedua The Girl Who Played with Fire ada juga. Sekalian saja saya pinjam.

Dalam film ini, saya melihat Lisbeth mengenkripsi emailnya. Wah, saya langsung teringat bahwa email yang kita kirim analogi-nya adalah kartu pos. Kartu pos siapa saja bisa melihat dan membaca. Namun saat kita mengenkripsi email, maka kita mengirim surat dalam amplop tertutup.

Film ini mengambil setting di Swedia. Lisbeth memiliki ingatan fotografik. Dan ia jago komputer. Ia bisa mengambil alih komputer orang lain dan mengakses harddisk.

Batas Libur dan Tidak Libur

Bagi pekerja kantoran, batas libur/tidak libur sangat jelas. Hari ini, di Victoria, merupakan hari libur. Queen’s birthday. Anehnya, hari ulang tahun Ratu sebenarnya jatuh pada tanggal 21 April.

Nah, bagi saya, libur atau tidak libur, batasnya ya terserah saya sendiri. Yang pasti, dengan hari libur, saya bisa lebih terserah saya mau ngapain. Bisa tidak diburu-buru pekerjaan. Lah, tapi sebenarnya, saya bekerja juga terserah saya.

Jadi, sekarang mau libur atau tidak? Mau libur atau kerja kok repot. Why we should take holiday if working is so much fun?.

Hmm… karena kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda.

Akhirnya, setelah sekian lama, kemarin menjadi salah satu hari bersejarah bagi saya. Halah drama amat. Kemarin saya memancing untuk kali pertama dalam hidup saya. Dan juga bagi Zaidan. Wah, Zaidan belum sampai 5 tahun sudah merasakan pengalaman memancing.

Grug goes fishing!

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengajak kami ikut memancing!

Menonton Emak Naik Haji di Perantauan

Semalam saya menonton film Emak Ingin Naik Haji. Setelah film berjalan beberapa menit, saya baru tersadar bahwa saya sudah menonton film ini. Akhirnya, saya melanjutkan nonton film ini sampai selesai. 

Menonton film ini saat di Australia kembali menyadarkan saya akan akar dari mana saya berasal. Kehidupan sosial Indonesia tentu berbeda sekali dengan di Melbourne. 

Rumah di Melbourne begitu teratur. Berbeda dengan rumah Emak dan Pak Haji. Emak tinggal di gubuk di dekat komplek rumah Pak Haji. Lalu ada gang. Di Melbourne rasanya tidak ada gang perumahan. 

Satu kritikan saya akan film ini adalah usaha “instan” yang ditampilkan saat Zain memenangkan undian naik haji. Memang Zain sudah digambarkan bekerja keras untuk membuat lukisannya laku. 

Terakhir, jangan lupa selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. Dan jangan lupa selalu menyisihkan untuk orang lain.

Hujan di Bulan Juni

Pelangi di bulan Juni.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Yak, Juni sudah mau tanggal 4. Ide judul tulisan ini sudah muncul di tanggal 1 Juni padahal. Namun apa daya, saya yang selalu sok sibuk ini, tak sempat menulis. Lihat, sulit kan untuk konsisten menulis?

Rasanya, di otak banyak sekali hal yang mau dilakukan. Tapi nyatanya musim dingin yang ada ini membuat berselimut lebih sering dilakukan.

Selain menulis, saya juga ingin membaca. Ada 2 buku bagus yang sebenarnya sedang saya baca namun tak kunjung saya selesaikan. Pertama adalah buku Roald Dahl. Saya tahu Roald Dahl pertama kali dari buku Matilda. Kali ini yang sedang saya baca adalah cerita masa kecil Roald Dahl.

Buku kedua adalah buku populer anak-anak di Australia. Siapa lagi kalau bukan Andy Griffiths dan Terry Denton.

Selain membaca buku, saya juga ingin menonton. Belakangan saya jadi menonton Millenium Trilogy. Baru dua seri sih, tapi saya sudah pesan untuk seri ketiga. Lalu masih ada film “Emak Ingin Naik Haji”, “Duchess”.

Lalu, saya ingin membereskan ruang tengah dan meja saya. Duh berantakan sekali. Tapi tumben ini saya ingin membereskan karena biasanya saya betah aja dengan ruangan berantakan asal pikiran tidak berantakan.

Lain-lain? Saya ingin belajar bahasa pemrograman Ruby dan juga framework yang paling populer: Ruby On Rails. Lainnya lagi: saya ingin menulis soal kopi darat Python Juni lalu yang membahas soal visualisasi. Bagian favorit saya adalah soal spectrogram, sayangnya saya tak sempat merekam bagian ini. Lainnya lagi-lagi? Cerita soal footy, soal anak-anak dan TV. Hehehe kebanyakan keinginan ini.

Interactive visualization by Ed Schofield.

A video posted by za (@zakiakhmad) on

OK, menulis sudah harus berhenti dulu, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Singsingkan lengan baju. Siapkan jari-jemari menari di keyboard. Eh kerja dengan laptop lalu keyboard menyala dan lampu dimatikan keren gak sih? Bahaya kan untuk kesehatan mata?

Hari-hari Berlalu

seperti biasa, setiap usai sholat Jum’at saya suka melakukan refleksi seminggu ke belakang. Sendirian saja, sambil membayangkan apa saja yang saya lakukan seminggu ke belakang.

Ternyata, hari-hari suka berlalu begitu cepat. Entah ingatan jangka pendek saya yang begitu cepat hilang, atau memang hari-hari berlalu begitu cepat.

Coba saya ingat-ingat apa saja yang saya lakukan seminggu yang lalu.

Pergi ke City Library: pinjam film, pinjam buku, Zaidan baca buku. Ke Carnegie: toko sepeda, office works. Ke dokter mata. Antar-jemput Zaidan di hari Kamis. Belanja di Dandenong: Marmara, makan steak di piring. Datang OWASP Melbourne meetup. Menemani Zaidan main sepeda. Kerja dan nonton film.

Eh banyak juga ya.

Kebab on plate A La Turko: I managed not to had dinner with this.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Belanja dengan Alat Tulis

Pagi ini, usai mengantar Zaidan sekolah saya berhenti sejenak di pusat perbelanjaan Huntingdale. Jangan bayangkan pusat perbelanjaan di sini semacam ITC. Huntingdale shopping center hanyalah seperti satu baris pasar di terminal Sadang Serang, Bandung.

Di depan saya melintas seorang kakek tua berjalan sendiri dengan tongkat dan tas belanja beroda. Ia menggunakan tongkat untuk “meraba” jalan. Perasaan saya mengatakan ia masih bisa melihat karena tongkat yang digunakan berbeda dengan tongkat yang digunakan berjalan oleh para tunanetra.

Ternyata ia memiliki tujuan yang sama dengan sama: toko IGA. Bukan, bukan iga sapi. IGA adalah nama toko. Saya biarkan ia masuk toko lebih dahulu, lalu saya segera ke aisle tempat bread talk berada.

Belakangan dari belakang terdengar suara pelayan IGA menyapa, “How are you?”. Dalam hati saya berujar, kakek tadi disapa oleh pelayan IGA. Saat saya tiba di kasir, saya kaget.

Sang kakek sepertinya sudah menyiapkan kertas, pulpen dan alas. Ia memberikan alat tulis ini kepada pelayan IGA. Lalu, ia menyebutkan apa saja yang ia butuhkan, “I need half kilo of meat, then … “, saya tak hafal. Sang pelayan mencatat apa saja yang disebutkan oleh kakek ini.

Betapa mandiri-nya kakek ini…

Lama Mengambil Keputusan

Saya termasuk orang yang lama mengambil keputusan. Salah satunya adalah keputusan membeli sesuatu.

Duh, kok boros amat. Maunya beli ini itu.

Misal membeli tas ransel. Saya banyak pertimbangan. Mulai dari model, warna termasuk harga.

Lalu sekarang saya ingin punya monitor kedua. Saya masih ragu juga, apakah monitor kedua benar-benar saya butuhkan.

Terakhir yang gak penting adalah, saya ingin mencoba kerja dengan standing desk. Saya sudah cari di ikea, ternyata ada.

Akhirnya, sampai sekarang saya belum beli ketiga barang itu.

Keputusan cepat yang pernah saya buat adalah saat membeli boncengan sepeda untuk Zaidan. Wah, harganya padahal mahal. Tapi saat itu saya cepat saja beli, tanpa berusaha berpikir lama dan banyak pertimbangan.

Sekarang boncengan ini berjasa mengantar Zaidan ke sekolah…