Zaidan Tersedak

Pagi ini terjadi keributan singkat di meja makan. Zaidan tersedak saat sarapan.

Saya sedang merebus Indomie, lalu segera saya hampiri Zaidan yang sudah kesulitan bernafas. Istri panik sambil berusaha memukul tengkuk Zaidan dan juga mencoba memeluk dari belakang sambil mengangkat Zaidan.

Mata Zaidan pun berkaca-kaca, menangis. Zaidan tak bisa berkata apa-apa. Saya tetap berusaha tenang, walau saya sebenarnya panik juga. Saya gendong Zaidan. Saya terus pukul tengkuknya. Lalu saya angkat tangan yang masuk ke dalam mulutnya. Saya keluarkan cereal yang masih ada di dalam mulutnya.

Alhamdulillah, saya lihat tenggorokan Zaidan sudah tidak ada apa-apa. Lalu saya tanya Zaidan, apakah sudah tidak apa-apa? Ia masih menangis. Kaget dan panik barangkali, karena ini baru kali pertama ia tersedak.

Setelah kejadian ini, saya dan istri baru berusaha mencari bagaimana kah penanganan tersedak pada anak kecil. Jika tadi Zaidan masih terus tersedak, dalam otak saya sudah memerintahkan untuk menelepon triple zero.

When did you become Muslim?

I’ve never been asked that question before. Even the question is not common in Indonesia, hence most of Muslim in Indonesia are born as Muslim.

I was asked that question during one of my friday prayer in Melbourne. To be precise, it was at Melbourne Madinah mosque.

So I answered, “I was born as a Muslim”.

“What about you?”, I asked him.
“Around 4 years ago”, he replied.

“And how did you know about Islam?”, I was a bit curious.
“From my friend”, he answered.

Something to Discuss

You know what, we must be on the same page, if we want something to discuss. A beginner’s discussion won’t be the same with the expert’s discussion.

Even if we are reading the same book. How we interpret the book will be very vary.

But anyway, I could hear the words on their conversation clearly. At least I’m improving my listening skill.

Memulihkan Mood

Menulis ternyata bagi saya bisa menjadi salah satu cara memulihkan mood. Untuk berpikir jernih, mood harus bagus. Pikiran harus tenang, tidak buru-buru. Dan yang tak kalah penting adalah perut tak boleh kelaparan. Hihihi…

OK deh, kali ini tulisan singkat saja dulu.

Improving Language Skill

Brain has many parts. And one the brain part is responsible for the language skill.

A few weeks ago, we went to Melbourne Museum. One of the gallery was displaying anything related with brain, mind, emotion, and even dream.

It’s more than six weeks I’ve been stayed here in Melbourne, but I feel there’s not much language skill improvement. Might be the same condition like where I stayed at Bandung. Even now I can’t speak Sundaneese well.

Mulai Beraktivitas di Pagi Hari

Akhirnya, beberapa hari ini saya bisa memulai aktivitas dari pagi hari. Saat ini waktu azan Subuh adalah pukul 5 lewat. Matahari terbit baru pukul 7 kurang. Saya bangun pukul 6 pagi. Lalu tidak tidur lagi. Baru 3-4 hari saja sih.

Nah semoga terus bisa konsisten. Ini yang tidak mudah.

Akhir pekan ini kami berencana ke city. Akan ada acara white night. Tampaknya akan seru dan ramai nih.

Sampai jumpa di white night!

Obituari Pak Haji Endang

Local Meetup

Pagi ini, saya memulai aktivitas lebih pagi dari biasanya. Ya, biasanya saya lebih memilih untuk kembali tidur usai sholat Subuh. Di midsummer ini, matahari terbit baru pukul 6.50.

Usai menunaikan sholat Subuh, saya mengintip lampu modem ADSL. Wah, kini lampu WWW sudah kedap-kedip. Lalu saya coba angkat telepon. Sudah ada nada sambung. Pendek cerita, Internet di rumah sudah kembali aktif.

Saya buka whatsapp. Lalu ada kabar duka dari rumah. Salah seorang tetangga rumah, Pak Haji Endang meninggal dunia.

Saya menyalami Pak Haji Endang terakhir kali saat saya menunaikan sholat Jum’at sebelum berangkat ke airport. Itu berarti tanggal 8 Agustus 2014. Pak Haji Endang duduk di kursi, di pojok masjid. Ia sudah tak kuat lagi duduk bersila di Masjid untuk waktu yang lama.

Sebelumnya, Pak Haji Endang bercerita bahwa ia menjalani pengobatan. Terapi di RS Fatmawati. Ada masalah dengan sendi kaki-nya. Yang saya ingat, ia bercerita bahwa saat terapi ia berlatih berjalan di dalam air.

Foto di atas adalah foto saat syukuran rumahnya. Ia pindah ke komplek sebelah. Pak Haji Endang saya kenal sebagai sosok yang ramah dan suka menegur tetangga. Ia menjadi sosok yang dituakan di komplek.

Teriring doa untuk Pak Haji Endang. Semoga amalnya diterima di sisi Yang Maha Kuasa.

Lalu belakangan di grup whatsapp lain, kembali saya baca berita duka. Kali ini dari ibu mertua sepupu saya. Saat mendengar berita kematian, saya selalu teringat, bahwa ini merupakan pertanda untuk kita semua. Bahwa hidup tidak akan abadi…