Menuju 10 Ribu Langkah Setiap Hari

Sepuluh ribu ini seolah menjadi angka ajaib. Ada yang bilang, agar tetap sehat, salah satunya adalah dengan melangkah minimal sepuluh ribu setiap harinya. Saya masih jauh dari angka ini. Tadi pagi jadinya saya mencoba jalan pagi dengan rute baru yang lebih jauh.

Tidak cuma sepuluh ribu langkah, ada lagi sepuluh ribu jam. Sepuluh ribu jam untuk menjadikan diri kita sebagai pakar dalam satu bidang.

Sepuluh ribu, sepuluh ribu, dan sepuluh ribu. Sepuluh ribu tulisan? Jika dalam satu hari satu tulisan, berarti baru akan jadi pakar dalam waktu 3 tahun lebih. Itu pun dengan catatan setiap hari menulis. Lha klo menulisnya belentang-belentong begini, kapan mau jadi pakar.

Klo programmer, sepuluh ribu commit kali ya 😀

Iklan

Memainkan Spotify di Perangkat Lain

Saya mengunduh aplikasi Spotify untuk Ubuntu. Jadi, saya bisa memilih lagu via laptop. Lalu, yang ajaib dari Spofity adalah saya bisa mengontrol Spotify yang ada di iPad ataupun di iPhone saya, melalui aplikasi Spotifiy di laptop saya.

Ini tentu sangat memudahkan saya. Misal, karena speaker pada laptop saya tak terlalu keras, jadi saya bisa membuat suara musik datang dari Spotify di iPad dengan saya memilih lagu via laptop.

Asyik kan.

Mendengarkan Spotify di Pesawat

Alkisah, saya akan terbang menggunakan pesawat low-cost airfare. Saya berasumsi tidak akan ada in-flight entertainment. Jadi saya putuskan untuk mengunduh lagu-lagu favorit saya via akun Spotify saya. Sebelum berangkat, saya unduh satu-persatu.

Saat pesawat sudah di atas awan, saya nyalakan ponsel. Dan… ternyata saya tetap tak bisa mendengarkan lagu via akun Spotify saya karena Spotify mengharuskan ponsel tersambung ke Internet (walaupun lagu sudah diunduh).

Ealah, gagal lah. Buat apa saya mengunduh lagu-lagu ini kalau begitu.

Pertama Kali ke Pantai

Setelah 30 tahun dalam hidupnya, Ivan akhirnya melihat pantai.

Awalnya, saya begitu berdecak heran dengan pernyataan di atas. Namun setelah saya duduk dan berpikir, tidak ada yang aneh dengan pernyataan di atas.

Dunia bukan cuma selebar daun kelor. Bukan cuma seputar kota tempat Anda tinggal, ataupun kota tetangga, ataupun kota-kota lain di pulau Anda tinggal. Dunia itu luas.

Bagaimana jika saya balik:

Setelah 50 tahun dalam hidupnya, Budi akhirnya melihat salju.

Adakah yang aneh? Tidak aneh kan. Dalam kesempatan kali ini, saya ingin mengucapkan selamat untuk Ivan (bukan nama sebenarnya) teman saya yang pergi ke pantai untuk melihat kali pertama dalam 30 tahun hidupnya.

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali merasakan salju di tempat salju turun secara alami. Di pemukiman bukan daerah wisata 🙂

Distraksi dan Distraksi

Kalau dulu saya pernah membaca, janganlah memeriksa email setiap saat, rasanya hal ini semakin sulit dilakukan. Yak, betul email bisa jadi sudah semakin ditinggalkan, tapi kemudian lahir bentuk baru email.

Aplikasi messaging semacam whatsapp, telegram. Plus slack, firechat, dst. Nah, karakteristik aplikasi ini adalah pesan-pesan pendek yang mau-tak-mau harus dibaca dalam waktu singkat dan menuntut respon yang cepat.

Kalau email masih bisa dibalas besok hari, berbeda dengan pesan-pesan dalam aplikasi ini. Belum lagi, jika jumlah orang dalam grup ini begitu banyak. Maka tak heran, jika setiap ada grup baru di whatsapp/telegram, saya langsung mute selama satu tahun.

Sekarang perlu pintar-pintar menghadapi distraksi seperti ini. Kalau tidak pintar, bisa jadi yang ada kita malah semakin tumpul.

Ke Cianjur Selatan

Alkisah akhir pekan kemarin, kami pergi ke suatu desa di pelosok Cianjur Selatan. Waduh, ternyata Indonesia itu luas dan besar sekali. Hal ini takkan bisa dijumpai di negeri Singapura yang kecil.

Membutuhkan waktu lebih dari 5 jam untuk mencapai lokasi. Lalu lintas yang padat, jalan yang kecil, dan ketidakteraturan jalan raya menjadi pemandangan di 4 jam pertama perjalanan.

Setelah mencapai pelosok, jalan tak lagi mulus, tak ada lagi jalan yang diaspal. Yang ada hanya bebatuan. Masih untung ada bebatuan, saya tak bisa bayangkan kalau tak ada bebatuan dan sedang musim hujan.

Ini masih Jawa Barat lho, masih satu pulau dengan Ibukota Jakarta. Dan membangun infrastruktur ternyata tidak pernah mudah.

Lalu saya terbayang-bayang, bagaimanakah idealnya hubungan antara desa dengan kota? Apakah orang kota selalu merasa lebih superior dengan orang desa? Apakah desa harus menjadi subordinat dari kota? Ah, saya ngelantur terlalu jauh rasanya.

Akhir kata, akhir pekan kemarin sangat menyenangkan. Senang rasanya bisa menghabiskan waktu di desa: bermain ke kali, jalan kaki dengan pohon-pohon tinggi dan rimbun, dan …. melihat air terjun Curug Ngebul!