Manusia Pagi

Sebenarnya saya lebih cocok menggambarkan diri saya sebagai manusia pagi. Kalau bangun pagi, nanti pukul 9 pekerjaan sudah hampir semuanya beres. Lalu nanti pukul 11 atau 13 akan mulai mengantuk.

Hari ini saya bangun agak siang. Bawaannya jadi apa-apa malas dan agak pusing. Perut pun lapar. Jadinya sarapan dulu, baru ngapa-ngapain.

Tadinya mau pergi naik sepeda, tapi begitu melihat matahari jadi suka malas. Entah matahari yang terik atau awan yang mendung membuat bersepeda setelah pukul 9 jadi tak terlalu menarik.

Padahal cuaca di sini sangat mendukung untuk sepeda-an dibandingkan di down under dulu.

Meningkatkan Kompetensi

Hal ini termasuk hal yang sulit dilakukan. Seberapa jauh keinginan kita untuk selalu lebih baik dalam berbagai hal. Termasuk mengenai profesi yang kita tekuni.

Ada berbagai macam alasan mengapa sulit meningkatkan kompetensi ini. Pertama waktu. Tak ada waktu mengasah lagi. Waktu sudah habis untuk rutinitas sehari-hari. Mulai dari pekerjaan, hingga waktu untuk menembus kemacetan.

Kedua biaya. Tak ada biaya untuk membeli buku, mengikuti les, dan lain-lain. Padahal kalau mau dilihat lagi, semua orang itu berusaha menyisihkan apa yang ia miliki. Jadi tak semuanya juga punya uang berlimpah.

Ketiga memang datar saja. Tak ingin berkembang. Nah kalau yang ini memang tidak ada motivasi dari diri sendiri. Perlu motivator kalau begitu. Hehehe…

Keempat tidak tahu bagaimana caranya meningkatkan kemampuan. Nah, ini memang tak mudah. Apalagi di zaman banjir informasi. Apalagi kalau yang dibahas di linimasa hanya seputar boikot roti, berita hoax, dst, dst. Wkwkwkwk…

Salah satu cara termudah meningkatkan kompetensi adalah memilih untuk berada dalam lingkaran yang tepat. Lingkaran ini dalam artian teman bergaul, dan juga lingkungan yang kondusif. Jadi yang tercipta adalah kompetisi untuk sama-sama lebih baik.

Pikiran random di pagi hari.

Susahnya Naik Mobil di Jalan Sempit

Barangkali judul di atas bisa menjelaskan mengapa selain memiliki mobil, Jakartans memiliki lebih dari satu sepeda motor. Mengendarai mobil di jalan sempit itu sulit.

Kemarin saya terpaksa mundur, memberikan jalan mobil dari arah berlawanan. Padahal di mulut jalan ini sudah dipasang rambu lalu lintas bahwa jalan sempit dan berlaku satu arah untuk mobil. Tadi pagi, saya terpaksa melanggar rambu lalu lintas ini karena sedang ada pekerjaan pemasangan gorong-gorong.

Sebenarnya saya lebih suka naik sepeda, tapi boncengan sepeda saya rasanya sudah terlalu kecil bagi Zaidan. Sementara saya belum melatih Zaidan untuk bersepeda ke sekolah. Saya masih merasa ia terlalu kecil untuk bersepeda di jalan raya berbagi jalan bersama mobil dan motor.

Saya mencoba mencari bendera oranye sebagai safety flag di sini, tapi tak ketemu. Yah, niatnya bendera oranye ini bisa membantu memberi tahu orang lain bahwa anak ini masih “belajar” bersepeda di jalan raya.

Akhirnya Disesuaikan…

Akhirnya, setelah hampir marah-marah terus (lha kok saya jadi marah-marah?) via email karena merasa tidak diberi tahu dengan jelas saat mengajukan migrasi paket, tagihan saya disesuaikan.

Ini benar-benar menguras kesabaran. Entah sudah berapa puluh kali email saya kirimkan dan mengungkapkan betapa kecewa-nya saya.

Bulan ini tagihan saya disesuaikan. Pendek kata Indosat mengoreksi kesalahan tagihannya.

Ya, masak saat saya mengajukan migrasi 3 hari sebelum siklus tagihan, saya ditagihkan abonemen satu bulan penuh. Yang jadi masalah lagi adalah saya tak diberitahu ketentuan ini saat mengajukan migrasi.

Meninggalkan Indonesia

Taman di belakang rumah.

Pagi ini, saya mengklik tautan Quora, mengenai “Mengapa pergi meninggalkan Indonesia?”. Saya membaca jawaban kedua: yang mengkisahkan bagaimana ia yang datang dari latar belakang etnis Cina, dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Orang tuanya pun harus banting tulang agar ia bisa bersekolah di sekolah swasta.

Ia sempat di Singapura, lalu mendapatkan status penduduk tetap di Melbourne, Australia, hingga akhirnya menjadi warga negara Australia. Ia mengkritik bagaimana kondisi sosial di tempat ia hidup. Tak cuma saat di Indonesia, tapi juga di Singapura, Melbourne, bahkan London.

Terkadang saya lebih menghargai orang yang memilih pergi meninggalkan Indonesia daripada kembali ke Indonesia tapi tak membawa perubahan dan menjadi orang kebanyakan: yang sedikit-sedikit marah.

Apakah saya akan meninggalkan Indonesia?

Leukimia

Afternoon bike ride 🚲 with kids 😅

Pagi ini, saya menghadiri prosesi pemakaman di rumah duka. Saya tidak sampai pergi ke tempat pemakaman, hanya sampai mengantar di rumah duka. Anak tetangga yang berusia 10 tahun meninggal dunia.

Belakangan saya tahu, Olla, biasa kami memanggil, mengidap leukimia. Yang saya tahu leukimia adalah kanker sel darah putih.

Setelah kembali ke Indonesia, saya memang merasa ada yang janggal. Olla tak pernah saya temui. Hanya adiknya, yang suka bermain bersama Zaidan.

Di khutbah yang disampaikan usai sholat jenazah, sang penceramah mengibaratkan ada buah-buah-an yang memang berumur tak pnjang. Semoga anak yang meninggal muda mampu menjadi ladang amal bagi kedua orang tuanya.

Dan hari ini menjadi salah satu pengingat bagi saya, bahwa setiap yang bernyawa akan meninggal dan kembali kepada-Nya.