Etos Kerja

Saya ingin membuka tulisan ini dengan salah satu lirik lagu KLa Project. Saya lupa persisnya, jadi saya tulis saja kira-kira-nya.

Car inception 🚙

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Sungguh beruntung orang yang mencintai apa yang ia kerjakan.

Alkisah malam ini, saya disibukkan dengan negosiasi waktu penjemputan dengan supir sewa-an. Padahal sudah jauh-jauh hari saya sepakat dengan pemilik usaha sewa mobil untuk menjemput pukul 6:30. Belakangan saya ditelepon oleh pemilik sewa mobil bahwa sang penjemput baru bisa sampai pukul 7:30

Belakangan lagi, sang supir mengontak saya, bertanya, mau dijemput pukul 8-an atau 9? APAAAAAA???????

Belum tahu kalau saya orangnya sangat kaku soal waktu. Saya bisa marah besar kalau ada orang janjian dengan saya dan ia datang terlambat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Lantas datanglah satu alasan diikuti dengan alasan berikutnya.

Masih di hari yang sama, usai mengantar Zaidan sekolah, telepon saya bergetar. Ada telepon masuk dari istri saya. Ia mengabari bahwa orang kargo sudah datang. Dalam hati saya, “Wow, tepat pukul 9 sudah datang!”.

Saat saya tiba di garasi, orang kargo ini sudah mulai bekerja dengan cekatan. Ia hanya sendiri. Ada tas kerja hitam di antara kardus-kardus besar yang siap menempuh perjalanan ribuan kilometer. Ia sudah sibuk menempelkan label nama di setiap kardus, timbangan elektronik sudah keluar, termasuk trolley untuk mengangkat kardus. Dengan cekatan, ia memasukkan setiap kardus ke dalam mobil, berusaha seoptimal mungkin tak ada ruang kosong di dalam mobil sehingga semua barang bisa terangkut.

Nah, ini baru etos kerja yang saya suka!

Ngomong-ngomong soal etos kerja, saya sendiri apakah memiliki etos kerja yang mantap? Wah, masih ada satu pekerjaan yang belum saya selesaikan. Satu lainnya baru saja saya selesaikan.

Kalau orang-orang Barat, saya lihat etos kerja bukan gigih, kerja keras, tapi lebih ke kombinasi menikmati apa yang dilakukan dan berpikir mencari sesuatu yang baru. Eh tapi apa kerja keras juga ya? Misal berlatih setiap hari. Jadi kembali tak ada yang instan kan?

Waktu Artis

Dari suatu artikel yang saya baca, terdapat dua jenis waktu: waktu yang bersifat manajerial dan waktu yang bersifat seniman. Pekerjaan dengan waktu manajerial dapat dipecah menjadi 15, 30 dan 60 menit. Namun tidak dengan pekerjaan dengan waktu seniman. Seorang seniman membutuhkan satu waktu kosong panjang tanpa interupsi untuk menghasilkan karya seni-nya.

Saya masih ingat bagaimana penulis buku Storey House, mengungkapkan bahwa yang ia butuhkan betul adalah satu waktu kosong panjang tanpa interupsi untuk menulis.

Pekerjaan kantoran umumnya lebih teratur. Masuk pukul 9 pulang pukul 5 sore. Seniman, bisa kerja bisa enggak. Namun saat seniman bekerja… wah bisa berapa hari tak tidur.

Jadi, saat saya sedang kutak-katik di depan komputer, yang bisa dilakukan adalah biarkan saja saya sendiri tanpa interupsi. Biarpun di depan komputer saya sedang menulis blog, membaca berita, mendengarkan Youtube, itu adalah bagian dari pemanasan untuk memulai proses seni saya.

#eeaa

Bahagia

Gara-gara lagu ini, jadi ingin menulis soal bahagia. Tujuh hari menuju hari besar: hari wisuda istri saya. Setelah hampir selama 2 tahun berjibaku kuliah: kuliah, baca, analisis, mengerjakan tugas, ujian, tugas kelompok, sudah hampir saatnya merayakan itu semua!

Tentu saja saya ikut bahagia (dan bangga!)!!!

Kalau mau melihat ke belakang lagi: ikhtiar sebelum untuk bisa mendapatkan beasiswa ini. Mulai dari kursus bahasa Inggris, mengisi form, wawancara, dst.

Finally you made it mate!

Meninggalkan Melbourne

Tak terasa, hanya tinggal menghitung hari kami akan meninggalkan Melbourne. Tinggal di suburb berjarak 25 km ke pusat kota, menghadirkan pengalaman yang sungguh berkesan bagi kami, sebuah keluarga. Tentu akan beda pengalaman dengan mereka yang hidup lajang dan tinggal di pusat kota.

Kemarin saya bekerja dari City Library. Tanpa rencana saya duduk di dekat rak buku-buku Indonesia. Sejenak saya menghampiri buku-buku di rak tersebut. Saya berusaha mencari buku yang cocok untuk Zaidan. Dan saya temukan buku kamus bergambar Indonesia – Inggris.

Teman-teman saya di Melbourne (yang bukan orang Indonesia) memberikan komentar bahwa saya dan sekeluarga akan senang saat kembali nanti. Bertemu kembali dengan teman dan keluarga. Ya, saya memang senang, tapi sebenarnya saya juga ingin mengatakan bahwa saya pun tak sedih-sedih amat selama di Melbourne.

OK, sekian dulu tulisan kali ini. Semoga tahun 2026 ada kesempatan mengunjungi Melbourne kembali saat terowongan baru Metro sudah jadi😀

Mendengarkan Sounds from The Corner: Sheila on 7 dan Dewa 19

Wah, musik 90-an memang biar bagaimana terasa lebih dekat di kuping. Sekarang ini saya sedang mendengarkan musik Sounds from The Corner episode Sheila on 7 dan Dewa 19.

Musim dingin sudah semakin mengigit. Tibalah saat-saat jari-jemari menjadi kaku. 3 minggu lagi di down under.

Pagi ini matahari bersinar terang. Sayangnya saya tidak merekam bagaimana kencangnya angin bertiup.

The sun shines on the first day back to school 🌝

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Ramadan Berakhir

Tak terasa, Ramadan akan segera berakhir. Ini akan jadi Ramadan terakhir? di Melbourne. Tentu ada suka/duka menjalani Ramadan di mana Islam tidak menjadi mayoritas. Sekarang saya baru merasakan bagaimana menjadi minoritas.

Satu hal yang enak adalah di sini saya tidak terlalu berhiruk-pikuk menjadi lebih konsumtif menjelang lebaran tiba. Tak ada THR, tak ada libur lebaran, bahkan di hari Idul Fitri. Tak ada juga mudik, karena tak lama lagi saya akan kembali. Saya membaca berita mudik dari teman-teman saya saja.

Karena minoritas, suasana Ramadan sedikit banyak jadi berkurang. Sekali/dua kali/tiga kali kami menyempatkan mendatangi kantung komunitas muslim Indonesia di sekitar daerah kami tinggal. Zaidan kami ikutkan semacam madrasah untuk anak-anak. Lalu, saya juga usahakan mencari buku-buku seputar Ramadan dari perpustakaan.

Saat Ramadan berakhir ini, satu pinta yang ada adalah disampaikan pada Ramadan berikutnya…

Cerah di Musim Dingin

Sunny winter

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Hari cerah di musim dingin adalah anugerah tersendiri. Tidak ada angin berhembus kencang, sinar matahari yang hangat membuat boot dan coat bisa ditinggal di rumah.

Usai periksa mata, saya putuskan untuk jalan kaki satu blok mengitari rumah. Sambil membayangkan berjalan di trotoar di sekitar rumah ini merupakan kemewahan tersendiri yang akan sulit saya lakukan di Indonesia nanti…