Antara TV dan Kreativitas

Sebagai orang tua, saya berusaha mengendalikan waktu anak menonton TV. Dengan TV, anak bisa diam. Tidak ribut. Pun rumah tak berantakan. 

Sesekali saya pun memilih untuk menyalakan TV karena ada sesuatu hal yang perlu saya selesaikan. 

Sebaliknya, saat memilih untuk tak menyalakan TV, anak akan ribut. Minta diajak main. Rumah berantakan. Dan sulit bagi orang tua untuk menyelesaikan sesuatu hal. 

Hari ini saya putuskan sedikit beberes rumah. Mulai dari mengganti lampu kamar mandi, membersihkan kloset, membersihkan wastafel, dan menghisap debu kamar depan. 

Zaidan pun turut serta. Ia membantu saya mengambil lampu yang perlu diganti. Lalu ia membantu melap wastafel. Asalkan tak berbahaya, selalu saya diamkan. Walau saya tahu pekerjaan rumah akan lebih lama selesai. Tapi toh bukan di situ juga poin utamanya. Zaidan belajar bersih-bersih dan membantu orang tua. Sekaligus ia beraktivitas aktif.

Saat sedang mem-vacuum karpet kamar depan misalnya, berulang kali ia mencabut/mencolok kabel. Saya ingatkan untuk jangan bermain kabel listrik.

Tiba-tiba Naik Bis

Pada suatu sore, di hari Zaidan sekolah, saya bersiap keluar rumah untuk menjemput Zaidan. Saya tak melihat jadwal bis, karena memang saya berencana menjemput Zaidan dengan sepeda. Rutinitas baru yang sekarang saya lakukan.

Saat saya buka pintu, haduh. Hujan deras. Eh, hujan deras definisi sini, kalau di Indonesia sebenarnya hanya gerimis. Segera saja saya lari, mengambil jaket windproof dan waterproof saya. Saya sempat mencari payung tapi tak ketemu. Lalu saya juga mengambil raincoat Zaidan.

Segera saya berlari ke halte bis terdekat. Sampai di halte saya segera melihat jadwal bis. Fyuh, untung ada bis yang berangkat sebelum waktu Zaidan pulang. Nah, masalah berikutnya, apakah bis ini akan tiba tepat waktu? Atau tiba-tiba bis dengan waktu berikutnya yang akan datang?

Untungnya bis ini muncul tepat waktu.

Membeli Aplikasi

Akhirnya, setelah sekian lama menggunakan produk Apple, baru beberapa hari belakangan ini saya membeli aplikasi. Aplikasi berbayar. Piye iki, sudah menggunakan produk Apple tapi kok membeli aplikasi masih mikir.

Pemicunya adalah ongkos transportasi publik di sini yang sehari daily cap-nya sebesar AUD 7.8 Kalau beli aplikasi harganya berkisar AUD 3-8. Ah, beli aplikasi hanya sebesar ongkos transportasi sehari.

Kalau di Indonesia, masih mikir seribu kali buat beli aplikasi :D

Aplikasi pertama yang saya beli adalah aplikasi pelacak sepeda alias bike tracking app. Karena suka sepeda-an, saya ingin coba melacak bagaimana aktivitas sepeda-an saya. Aplikasi ini memberikan data: rute, jarak, ketinggian, kecepatan maksimum/minium/rata-rata, durasi, dst.

Dan hari Minggu kemarin, saya coba menggunakan aplikasi ini untuk mencatat sepeda-an saya ke City. Wooow, saya menempuh jarak 23 km dalam waktu 1 jam 15 menit. Saya masih sering disalip pesepeda lain. “Passing”. Hihihi…

New friends on the ride 🚲.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Menyiram dengan Air Panas

How to kill weeds?

Adalah pertanyaan pemula dalam berkebun. Dan itu juga pertanyaan pertama saya. Ternyata salah satu jawabannya adalah dengan menyiram air panas.

Berhasil?

Hmm… beberapa ilalang di halaman belakang sekarang ada yang mengering karena saya siram air panas. Nah tapi di tanah yang saya sudah berikan mulch masih suka tumbuh rumput liar. Mulch merupakan salah satu cara menangani weeds.

Sebenarnya ingin menanam tanaman kecil-kecil atau mengganti rumput. Hmm… tapi nanti deh. Pelan-pelan…

Bintang

Midnight stargazing.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Orang dewasa tak lagi bisa melihat indahnya bintang bersinar di malam hari. Mereka tak mengerti. Mereka lebih tertarik melihat angka-angka. Angka apapun. Angka dalam rekening tabungan, angka harga barang-barang, bahkan angka nilai kuliah.

Mereka sudah lupa rasa senang semasa mereka kecil dari hal-hal yang sederhana.

Drama Internet

Sejak awal tahun ini, koneksi Internet di rumah sering tidak stabil. Di bulan Februari semakin parah, lebih sering tidak nyambung. Lalu kami putuskan untuk menelepon provider Internet. Sejak saat itu kami diberikan nomor tiket.

Awalnya mereka berjanji masalah akan selesai dalam waktu kurang dari 7 hari. Dan tak perlu ada kunjungan ke rumah. Tujuh hari berlalu, koneksi Internet masih putus-sambung. Lalu mereka mengabari bahwa akan ada kunjungan ke rumah.

Teknisi pertama datang. Masih mudah. Menurut saya ia tidak cermat, terburu-buru. Ia bilang, pihak penyedia kabel jaringan masih memiliki open loop. Padahal dari laporan sebelumnya, kami dikabari bahwa penyedia kabel jaringan sudah memperbaiki jaringan.

Teknisi kedua datang. Lebih senior. Waktu yang dihabiskan untuk memeriksa lebih lama. Ada kemajuan. Ia berhipotesis instalasi kabel di dalam rumah tidak baik karena ada di bawah karpet dan tidak menggunakan kabel dengan pelindung. Ia bilang, kami perlu mengontak pemilik rumah karena masalah instalasi kabel ini. Teknisi kedua bilang, ia akan memberikan laporan ke kantor lalu kantor akan memberikan surat ke kami untuk kami teruskan ke pemilik rumah. Isi surat ini adalah seputar masalah instalasi kabel di dalam rumah.

Surat listrik tak kunjung datang. Jadi ini keputusannya gimana?

Pihak provider Internet mengabari bahwa akan mengirim teknisi penyedia kabel untuk masuk ke dalam rumah. Awalnya mereka akan berkunjung ke rumah Senin sore kemarin. Kami bilang bahwa Senin sore kami tidak akan di rumah karena ini merupakan hari libur dan kami akan keluar.

Hingga kemarin sore, saya kembali ditelepon oleh pihak provider Internet. Akhirnya disepakati bahwa kunjungan teknisi penyedia kabel akan dilakukan Kamis pagi. Dan drama Internet berakhir di kamar tidur depan. Ternyata di balik tempat tidur masih ada satu socket telepon yang menyambung ke kabel di ruang tengah. Sambungan socket di tempat tidur depan ini kendor.

Fyuuuh…. Setelah jalan panjang. Menyampaikan keluhan di twitter/email/telepon.