Jauh dari HP Saat Lebaran

Saat lebaran, saya merasa jauh dari HP. Saya jarang scroll-scroll. Foto keluarga saya ambil hanya beberapa kali. Karena istri saya lebih banyak mengambil foto, saya jadi merasa tak perlu lagi mengambil foto.

Jauh dari HP, eh tapi ternyata malah lebih dekat ke kasur. Bangunnya lebih sering siang. Gimana ini?

Jauh dari HP dan jauh juga dari laptop. Jari-jemari rasanya menjadi lebih kaku mengetik di papan kunci. Saya memang mengambil libur. Moodnya susah untuk bekerja.

Saya hanya sesekali membantu apabila ada notifikasi dan merupakan pekerjaan kecil yang cukup saya pikirkan 3-5 menit saja. Bukan merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan berpikir lebih lama.

Senang rasanya lebaran dekat dengan keluarga. Namun bukan berarti saya tak senang lebaran 2 tahun lalu saat jauh dari keluarga besar.

Selamat merayakan hari kemenangan!

Urusan Bank yang Cepat

Entah mengapa klo berurusan sama bank di Indonesia ini perasaan lebih lama dan ribet. Apa ini terkait juga dengan budaya ya?

Saat ini saya sedang menunggu antrean pelanggan. Saya dapat nomor 52. Nomor 45 baru dipanggil setelah saya menunggu 15 menit.

Entah apa karena jumlah nasabahnya banyak apa sistemnya tidak bisa dibuat lebih cepat.

Saat berurusan dengan bank saat di down under, semua berlangsung cepat dan ringkas. Saya tak sempat mengeluarkan ponsel saat dilayani. Nah ini ada pelanggan yang masih ceklak-ceklik HP terus saat di meja pelanggan.

Membaca Lelaki Harimau Eka Kurniawan

Belakangan, saya temukan nama Eka Kurniawan cukup populer di kalangan penulis. Akhirnya, dua atau tiga bulan yang lalu saya putuskan untuk membeli salah satu buku Eka Kurniawan: Lelaki Harimau.

Dan baru beberapa hari yang lalu buku ini saya baca. Buku ini sudah sempat jalan-jalan ke mana-mana. Niatnya sih mau saya baca saat sedang di jalan, di pesawat, di perpustakaan, dst. Tapi ternyata jadinya saya baca buku ini di kamar.

Pada awal saya sempat kesulitan mengikuti gaya penulisan Eka. Tampak rumit dan pilihan katanya tak umum. Sangat berbeda dengan gaya tulisan Andrea Hirata yang cenderung ke Melayu dan puitis.

Hingga akhirnya, saya menyelesaikan satu bab, dan saya mulai bisa mengikuti dan menyukai gaya penulisan Eka Kurniawan.

Kekuatan Doa Orang Tua

Satu senjata yang paling ampuh kiranya adalah doa orang tua. Doa yang dipanjatkan terus menerus, secara konsisten, karena kasih orang tua memang tak pernah ada batasnya.

Anak takkan selamanya bisa selalu berada dalam pengawasan sang orang tua. Ada saatnya nanti orang tua akan melepas anaknya.

Dan doa orang tua bisa menjadi pelindung bagi anak

Beratnya Menumbuhkan Budaya Membaca

Membaca itu budaya. Kebiasaan yang dibangun dalam waktu yang tak singkat. Jadi, tak pernah ada jalan pintas untuk menumbuhkan budaya membaca.

Kalau sekarang saya masih suka mengeluhkan minimnya fasilitas perpustakaan publik, toh saat di down under dulu saya tak membaca 12 buku dalam satu tahun. Mengapa? Alasan yang paling mudah adalah karena tak ada waktu.

Masalahnya bukan tak ada waktu, tapi tak mau mengalokasikan waktu untuk membaca. Sebagai selingan, silakan membaca diskusi ini di quora, bahwa tak mudah mengubah kebiasaan.

Memahami Emosi Manusia

Saat kopdar komunitas Python Indonesia kemarin, salah satu materi adalah mengenai menggunakan deep learning untuk mengenali emosi manusia.

Dalam pengantarnya, sang pemateri mengatakan: di satu sisi kita ingin mesin mengenali emosi manusia, tapi di sisi lain kita sebagai manusia sendiri, justru lebih sering acuh.

Kita lebih sering menatap layar HP daripada menatap ekspresi lawan bicara. Nah, jadi paradoks kan.

Kemajuan Transjakarta

Hari Sabtu lalu, saya pergi ke city menggunakan transportasi publik. Awalnya berniat naik mikrolet dari dekat rumah, tapi karena berangkatnya sudah kesiangan, saya menggunakan ojek aplikasi sebagai angkutan feeder ke halte Transjakarta Ragunan.

Andai setiap hari di Jakarta seperti setiap hari akhir pekan. Halte kosong, bis lenggang, dan jalanan lancar.

Bis Transjakarta sekarang bagus sekali! Bahkan saya berani membandingkan bis Transjakarta dengan bis di Victoria dan di Singapura sekalipun! Sekarang duduknya menghadap ke depan, tak lagi ke samping. Posisi ini ternyata lebih nyaman.

Suspensi empuk, dan kursi yang lebih empuk. Tak ada lagi bunyi berderit-derit, atau air AC yang menetes.

Itu dari sisi bis, kedua dari sistem informasi posisi bis.

Saya berangkat dari Halte Depkes ingin ke daerah Bundaran Indonesia. Dulu, saya perlu menebak-nebak, kapankah bis arah Monas akan datang. Sekarang, dengan sistem informasi real time saya bisa tahu kapan bis arah Monas akan datang.

Saya tak perlu cemas seperti 3 tahun yang lalu, menunggu bis seperti menunggu komet Halley.