Cooking Timer

“Why women can’t read maps and men can’t multitasking”.

I set my timer to 15 minutes. I was boiling the corn when I turned on my laptop. I knew, I won’t realize that I was boiling the corn if I do another activity.

This cooking accident had happened many times. I boiled something until there was no water on it. Even back to when I was at high school. I was having slept over at my uncle’s house then I forgot that I cooked something.

Antara TV dan Bekerja

Hari ini saya bekerja dari pagi. Efek sampingnya, saya terpaksa membiarkan Zaidan menonton TV. Sebenarnya, saya seharusnya kerja di pagi hari atau malam hari, sehingga Zaidan tak perlu “terlantar” menonton TV.

Saya senang Zaidan yang aktif bermain. Bermain apapun. Saya pun membiarkan ruang tengah berantakan. Mainan mau dimainkan seperti apapun lebih sering saya biarkan. Karena saya percaya, bahwa anak-anak harus dilepaskan kreativitasnya.

Saat kemarin menemukan Ezyroller, saya senang sekali. Dan lebih senang lagi karena Zaidan begitu semangat bermain Ezyroller.

Nah, sore ini saya mendapat kejutan kecil. Apa saya harus dikejutkan ya biar tetap semangat? :D

Uang versus Waktu

Saturday afternoon ride 🚲.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Pada suatu saat, saat menemani Zaidan bermain sepeda, di dalam hati terjadi percakapan soliloqui sebagai berikut.

“Sungguh merupakan suatu kemewahan tersendiri bagi saya, bisa menyaksikan sendiri secara langsung, menemani Zaidan bermain sepeda di sore hari. Memang dengan pekerjaan saya sekarang ini, takkan bisa mencukupi kebutuhan keluarga untuk hidup di sini. Saya tak perlu commute, walau di sisi lain bekerja dari rumah ternyata memberikan tantangan tersendiri. Saya perlu menuliskannya di lain waktu soal ini. Tak perlu menembus kemacetan, menunggu Transjakarta, menunggu angkot ngetem, dst. Di sini saya bisa antar/jemput Zaidan dengan sepeda. Termasuk menghadiri parents duty, dan working bee.”

Saya memang tak punya banyak uang, namun saya memiliki waktu yang banyak untuk keluarga. Untuk anak dan istri saya. Apakah waktu dan uang adalah dua mata koin yang berbeda?

Saat mahasiswa, waktu luang begitu banyak namun uang saku tentu pas-pas-an. Masih ingat saya, saat akhir bulan, sudah perlu berhitung. Apakah masih bisa makan daging, atau hanya bisa telur dan sayur saja.

Saat sudah mulai bekerja, mulai punya uang yang lebih dari mahasiswa dulu. Tentu ada yang hilang. Waktu bermain jadi hilang karena harus bekerja. Beruntung saya bisa bekerja dengan waktu kerja yang relatif fleksibel sehingga saya tak perlu menceklok daftar hadir dan takut dipotong gaji jika datang terlambat. Saya hanya perlu tidak datang terlambat jika ada rapat dengan klien.

Dengan waktu luang yang banyak, kondisi di sini mendukung. Kehadiran perpustakaan mainan begitu membantu saya menghadirkan mainan untuk Zaidan tanpa harus membeli. Lihat apa yang kami dapatkan akhir pekan kemarin!

The young man has new toy.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Bukan Ranking

“Zaidan has the greatest leap among his other friends”, D, one of Zaidan’s teacher.

Begitulah ucapan D, menutup pembicaraan singkat kami sore itu. Tinggal di tempat baru, memang selalu mendatangkan perspektif baru.

Jika selama ini, pendidikan di Indonesia, cenderung melihat segala sesuatu dari ranking. Misal percakapan dengan keponakan, “Gimana G, rapornya? Ranking berapa?”.

Jika Zaidan di-ranking, bisa jadi ia ranking terakhir. Namun D melihat Zaidan sebagai seorang anak yang mulai dari garis start yang berbeda dengan anak-anak yang lain.

Di Germaine kindergarten ini menjadi tempat pertama bagi Zaidan lepas dari orang-orang terdekatnya. Di sini juga ia belajar bahasa Inggris. Bertemu dengan teman-teman sebaya yang tidak berbahasa Indonesia.

Saya jadi teringat gambar satir soal pendidikan. Dalam gambar ini ada beberapa hewan: jerapah, macan, gajah lalu mereka diajarkan sesuatu yang harus mereka kuasai padahal mereka sendiri memiliki potensi masing-masing yang berbeda-beda.

Jika harus diukur dalam satu penggaris yang sama yang bernama ranking, sungguh sesuatu yang tak tepat.

Lisbeth Salander

Tanpa rencana, akhirnya saya selesai menonton Millenium Trilogy. Saya pertama kali tahu soal buku The Girl with The Dragon Tattoo, saat sedang di dalam pesawat. Saya melihat penumpang lain sedang membaca novel ini.

Wah novel apa ini? Kok terlihat begitu populer. Belakangan, dua tahun lalu saya memutuskan untuk membeli novel ini dengan edisi paperback. Motivasi saya untuk menambah kemampuan bahasa Inggris saya yang belakangan tak kunjung meningkat.

Lalu, saat berkunjung ke City Library dan saya melihat DVD ini dalam tumpukan, segera saja saya putuskan untuk meminjam. Eh ternyata seri kedua The Girl Who Played with Fire ada juga. Sekalian saja saya pinjam.

Dalam film ini, saya melihat Lisbeth mengenkripsi emailnya. Wah, saya langsung teringat bahwa email yang kita kirim analogi-nya adalah kartu pos. Kartu pos siapa saja bisa melihat dan membaca. Namun saat kita mengenkripsi email, maka kita mengirim surat dalam amplop tertutup.

Film ini mengambil setting di Swedia. Lisbeth memiliki ingatan fotografik. Dan ia jago komputer. Ia bisa mengambil alih komputer orang lain dan mengakses harddisk.

Batas Libur dan Tidak Libur

Bagi pekerja kantoran, batas libur/tidak libur sangat jelas. Hari ini, di Victoria, merupakan hari libur. Queen’s birthday. Anehnya, hari ulang tahun Ratu sebenarnya jatuh pada tanggal 21 April.

Nah, bagi saya, libur atau tidak libur, batasnya ya terserah saya sendiri. Yang pasti, dengan hari libur, saya bisa lebih terserah saya mau ngapain. Bisa tidak diburu-buru pekerjaan. Lah, tapi sebenarnya, saya bekerja juga terserah saya.

Jadi, sekarang mau libur atau tidak? Mau libur atau kerja kok repot. Why we should take holiday if working is so much fun?.

Hmm… karena kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda.

Akhirnya, setelah sekian lama, kemarin menjadi salah satu hari bersejarah bagi saya. Halah drama amat. Kemarin saya memancing untuk kali pertama dalam hidup saya. Dan juga bagi Zaidan. Wah, Zaidan belum sampai 5 tahun sudah merasakan pengalaman memancing.

Grug goes fishing!

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengajak kami ikut memancing!