Mengetahui Apa yang Ditonton Anak

Dengan kondisi saya sekarang ini, memungkinkan saya menghabiskan waktu banyak bersama anak. Sesekali saya menyempatkan menonton apa yang anak saya tonton. Tujuannya agar saya tahu apa yang ia tonton dan membangun kedekatan .

Menyelami dunia anak itu sebenarnya menyenangkan. Bagaimana ia berimajinasi dari apa yang ia tonton. Kalau soal tonton-menonton, saya tidak strict, melarang, namun hanya membatasi saja. Misal dalam sehari maksimal 1 jam. Tapi suka terjadi pengecualian saat saya harus melakukan sesuatu tanpa gangguan: menonton menjadi solusi singkat dan cepat.

Batman sedang suka ditonton belakangan ini oleh Zaidan. Bahkan ia langsung mengenakan baju Batman padahal ini baru dicuci.

Kemarin saya membuatkan cape Batman untuk LEGO. Ini ceritanya, Zaidan punya LEGO Batman tapi dalam bentuk hiasan magnet sehingga tidak bisa dicopot-copot. LEGO lainnya, bukan LEGO Batman. Jadilah saya mencetak cape (sayap) Batman.

DIY: Do It YourselfπŸ˜€

Sepatu Baru

Setelah sekian lama, akhirnya saya membeli sepatu baru. Sepatu kets yang saya gunakan terakhir ini, saya beli saat saya mau pergi ke Palembang untuk acara IDSECCONF. Wah tahun berapa itu? 2011? 2012?

Sudah 3-4 tahun berati.

Nah, dari pengalaman saya selama ini, baru kemarin saat membeli sepatu kaki saya diukur. Pendekatan umum yang biasa saya lakukan selama ini saat membeli sepatu adalah mencari dulu modelnya, lalu pilih ukurannya, dan coba.

Berbeda dengan kemarin. Kaki saya diukur. Keduanya, kanan dan kiri (barangkali ada perbedaan ukuran). Lalu saya diminta berdiri di suatu alat pengukur kaki. Kalibrasi sebentar… lalu saya diminta melangkah beberapa langkah dan direkam kamera.

Terlihat bagaimana saya berjalan. Lengkungan telapak kaki, lengkungan tulang kaki, hingga tekanan saat saya melangkah.

Tak lama, petugas toko keluar membawa tiga boks sepatu dengan ukuran yang kurang lebih sama. Lalu ia menjelaskan bagaimana perbedaan ketiga tipe sepatu lari ini. Mulai dari Asics, Mizuno sampai Saykoji eh Sauconi. Kalau yang Asics yang begini sol-nya, kalau Mizuno merk Jepang firmer, hingga Sauconi.

Duh, saya harus membedakan ketiga rasa sepatu ini. Repot kan. Perbedaannya tipis-tipis begini. Apalagi saya termasuk lama mengambil keputusan saat memilih sesuatu.

Saat saya tanya harganya, ketiganya kurang lebih sama. Jadi tak ada pertimbangan harga, yang ada tinggal preferensi model dan kecocokan.

Wah, kemarin menjadi pengalaman baru dalam membeli sepatu.

Fisik yang Kuat

Spikes during JP πŸ‡―πŸ‡΅ trip. In one of the day, it reached up to 11 km πŸ˜….

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Saat tiba di sini, berbeda dengan rekan-rekan kebanyakan, saya tak terlalu semangat membeli mobil. Alasan saya: hanya ingin mencoba hidup dengan transportasi publik. Tak mudah memang. Kalau mau pergi tak selincah dan tak secepat jika punya mobil. Alasan belakangan: memang tak ada anggaran untuk membeli mobil.πŸ˜€ Alasan belakangan lagi: saya malas merawat mobilπŸ˜€πŸ˜€

Di sisi lain, kami jadi terbiasa jalan. Sering lelah memang. Sudah turun dari kereta, masih harus menunggu bis. Setelah dari bis, masih harus jalan kaki. Kalau naik mobil kan begitu naik mobil, langsung turun di tempat tujuan.

Spikes during JP πŸ‡―πŸ‡΅ trip. In one of the day, it reached up to 11 km πŸ˜….

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Masih di sisi lain, fisik kami biasa tertempa. Lihat saja di log perjalanan selama di Jepang, kami bisa jalan kaki hingga 10 kilometer dalam salah satu hari. OMG. Itu pasti hari saat berputar-putar di Tokyo Disneyland.

Masih di sisi lain, Zaidan sudah bisa naik sepeda roda dua. Setiap sore kami keluar rumah, dan ia berlatih dengan tekun, sementara saya mendampingi saja…

Bike-ride in the city.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Perpustakaan Sebagai Ruang Publik

Pemerintahan Kota Melbourne belum lama ini menambah satu lagi perpustakaan baru. Ya ampun, sebelumnya saja sudah ada lebih dari 3 kali. Yang terbaru adalah Docklands Library. Perpustakaan paling besar di kota Melbourne dan paling modern. Satu lagi yang ditambah adalah Kathlyn Syme library (maafkan jika salah ejaan: malas googling).

Saat ini saya sedang bekerja di North Melbourne Library. Memang tak sebesar Docklands Library tapi tetap nyaman. Ada children’s corner, ada meja, dan ada Internet (walau mereka hanya membuka port 80 sementara saya butuh port selain 80).

Saya melihat perpustakaan bukan berhenti di tempat meminjam buku saja, namun perpustakaan di sini sudah menjelma menjadi ruang publik yang nyaman. Misal saya bisa bekerja. Mahasiswa bisa mengerjakan tugas. Anak-anak bisa bermain: ada console game juga lho. Kalau di Docklands malah ada studio musik, ada meja pingpong.

Eh proses buildout sudah selesai, saatnya kembali ke terminal.

10.000 Jam

“Dad, making mistake is part of learning”, seru Zaidan pada suatu waktu.

Saya masih ingat betul, saat awal-awal saya gajian. Saat itu kami pergi ke K-Mart. Saya membelikan Zaidan sebuah otoped merah berikut helm Spiderman merah. Tak ada yang istimewa dengan otoped ini. Bahkan harga helm Spiderman merah ini lebih mahal $2 dari otoped. Jadi, barang bagus bukanlah suatu prasyarat utama untuk memulai belajar sesuatu.

Dan dimulai lah sore-sore berlatih naik otoped. Begitu sulitnya memberikan teori/instruksi ke anak kecil 4 tahun. Angkat kaki, ayuh kaki, dan seterusnya dan seterusnya.

Hingga suatu waktu akhirnya Zaidan bisa menguasai otoped. Akhirnya ia bisa meluncur lalu mengayuh lagi, meluncur lagi, dan mengayuh lagi.

Sebagai orang tua, seringkali kita menaruh harapan begitu tinggi ke anak, tanpa memperhitungkan bahwa segala sesuatu sebenarnya tidak bisa dengan mudah diraih berikut dalam waktu singkat.

Lihat saja saya sekarang. Kemampuan gitar saya tak kunjung bertambah karena memang saya tak pernah berlatih bermain musik, mengkomposisi musik, picking gitar, speed, berlatih tangan, dst.

… dan akhirnya hari Minggu kemarin menjadi hari pertama saat kami naik sepeda ke Ikea.

When Ikea store just within bike-ride distance 🚲

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Harmony Day

Harmony Day wrapped up this week!

Hari ini merupakan hari terakhir Zaidan sekolah untuk term 1 (caturwulan 1). Salah satu “nikmat” yang tak tergantikan selama di down under ini adalah kesempatan saya untuk meluangkan banyak waktu untuk Zaidan. Pergi ke sekolah hanya 10 menit jalan kaki, dan 5 menit naik sepeda.

Di hari Senin, saya turut hadir ke sekolah menyaksikan Cross Country: lomba lari mengitari halaman sekolah. Dengan sekolah yang besar dan murid yang sedikit, untuk lari tak perlu pergi ke stadium atletik. Saya masih ingat saat SMP, saya harus pergi ke stadium Velodrome untuk sekadar lari 400-800 meter.

Zaidan memang tak naik ke podium, namun saya sungguh bangga dengannya. Tak jauh dari garis start, tak lama setelah anak-anak mulai berlari, saya melihat satu sepatu tertinggal. Saat saya mendekat, “Oh no, this is my son’s shoe”. Dan akhirnya Zaidan pun meraih garis finish, dengan hanya satu sepatu. Ia langsung menghampiri Billy, “I lose one of my shoes”. “OK, go get it”, jawab Billy.

Belakangan, lalu ada lomba lari untuk orang tua. Karena saya ingin naik podium, jadi saya paksakan lari sekencang-kencangnya. Akibatnya, badan langsung pegal-pegal.

When you get a chance to stand in the podium, it's a bonus 😁

A photo posted by Risa Firstiyani (@rfirstiyani) on

Di hari Selasa, ada multicultural lunch. Setiap orang tua dari anak-anak membawa makanan khas daerahnya. Hmm… yummy!

Multicultural lunch day πŸ£πŸ­πŸ’πŸ±πŸ°πŸ‘πŸ›πŸ™πŸΉ

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Di hari Rabu, saya membantu teman-teman mendemonstrasikan angklung.

Dan di Harmony Day, kami menyaksikan beragam pertunjukan: mulai dari Hungaria, Jepang, Nepal, Korea, Padang, dan juga Australia. Setiap anak diberikan kebebasan untuk mengenakan pakaian spesial. Kebanyakan mengenakan pakaian khas dari asalnya masing-masing.

🎌🎌🎌

A photo posted by Risa Firstiyani (@rfirstiyani) on

Saat acara ditutup dengan lagu Toy Story, You’ve Got A Friend in Me, saya merasa begitu berwarnanya dunia ini. Betapa begitu indahnya dunia anak-anak. Bagaimana tanggung jawab kita untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak. Bagaimana kita menjadi contoh pada anak. Bagaimana peran orang tua untuk mendukung peran guru dalam pendidikan…

Wah kok jadi banyak? Nanti bisa jadi refleksi tersendiri nih.

Belajar Kritis Sejak Dini

Salah satu tugas utama Zaidan selama sekolah adalah mengisi log book. Log book mengenai buku yang dibaca. Judul buku apa yang dibaca, kapan dibaca, bagaimana perasaan setelah membaca buku ini (divisualisasikan dengan menggambar muka) dan apa komentar mengenai buku ini.

Bahkan dari umur 5 tahun sudah dibiasakan untuk mengungkapkan gagasan mengenai sesuatu. Berpikir kritis mengenai segala sesuatu.