Daftar Pekerjaan

Untuk mencegah terlalu lelah, sekarang saya mencoba membuat daftar-pekerjaan aka to-do-list. Dengan daftar ini, saya berharap perasaan terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan bisa berkurang.

Misal kemarin: saya tahu saya perlu “menengok” ke atas loteng untuk memeriksa perangkap tikus. Namun karena saya tahu bahwa ini membutuhkan waktu paling tidak 30 menit dan badan jadi kotor, saya putuskan untuk tidak lakukan dulu. Alias nanti.

Nah, klo pekerjaan sudah selesai, lalu saya coret dari daftar. Wah perasaanya sangat puas sekali. Kalau sudah selesai, sekarang saatnya menikmati waktu luang: membaca, menonton atau olahraga.

Iklan

Lagu yang Tak Ada di Spotify

Ternyata, masih ada lagu-lagu yang tak ada di Spotify. Youtube dengan konten yang bisa diunggah oleh pengguna, masih memberikan keunikan tersendiri.

Spotify memberikan begitu kemudahan bagi pecinta musik. Saya masih suka teringat bagaimana di masa remaja saya dulu, saya suka hunting CD. Sebelumnya, hunting kaset. Lalu sebelumnya hobi mengkompilasi kaset. Masih ingat dong dengan tape double cassette? Hehehe…

Saya baru tahu Gigi ada lagu “Di Meja Ini”. Sayangnya belum ada di Spotify.

Oleh-oleh dan Pengalaman

Entah ini budaya timur atau bukan, namun saya melihat saat kita bepergian, kita cenderung suka membelikan oleh-oleh. Apapun itu bentuknya.

Rasanya saya pernah diskusi dengan istri saya, dan ini karena kita begitu dekat dengan keluarga inti dan keluarga besar.

Oleh-oleh memang bisa menjadi satu bentuk perhatian. Saya setuju dengan itu. Tidak semua orang memiliki kesempatan dan kemampuan bepergian.

Namun, saya juga ingin mengangkat dari sudut pandang lain: bahwa oleh-oleh tak selalu harus berupa barang. Ia bisa menjadi cerita pengalaman.

Saya menjadi teringat saat di bangku kuliah dulu. Saya hanya bersemangat di bagian akhir kuliah karena sang dosen selalu bercerita hal-hal lain di luar kuliah yang memperkaya perspektif saya.

Dengan kata lain, saya selalu terbuka menerima oleh-oleh cerita pengalaman dari siapapun di luar sana.

Painful Multitasking

Bekerja banyak hal itu sebenarnya menyakitkan. Otak kita dipaksa untuk mengerjakan banyak hal di dalam waktu yang relatif bersamaan. Belum lagi distraksi yang muncul dari mana-mana. Notifikasi dari sini, situ, dll.

Termasuk dari tamu yang mengetuk pintu rumah.

Rasanya sekarang perlu mulai belajar ilmu untuk bisa tenang dan fokus di zaman multitasking yang penuh distraksi seperti ini. Melihat objek jauh bisa jadi penenang sejenak…

Lebih Peka Tanpa Data

Saat di Manila kemarin, saya memutuskan untuk tidak membeli nomor lokal. Membeli nomor lokal menjadi salah satu alternatif yang sering saya lakukan untuk tetap terhubung.

Sebenarnya, setelah saya pikir-pikir lagi, perasaan untuk selalu tetap terhubung ini merupakan perasaan ketakutan yang muncul dari dalam sendiri. Atau masalah kebiasaan kita, takut untuk tidak tersambung ke Internet.

Saat tidak memiliki sambungan ke Internet di ponsel, hal ini membuat saya lebih waspada. Bukan berarti saya tidak memiliki sambungan ke Internet: toh di hotel dan di bandara, mereka sering menyediakan akses wifi gratis.

Jadi sebelum saya pergi, saya mencatat rute jalan ke tempat yang ingin saya tuju. Di mana saya harus belok kanan/kiri, nama jalan yang akan saya lewati, dst.

Hal ini membuat saya lebih peka dengan lingkungan sekitar alih-alih sibuk memperhatikan peta pada ponsel.

Tempat yang Segera

The place where you want to quickly go and leave.

Airport, is the place where you want to quickly go-and-leave.

Pagi ini saya bangun pagi. Saya bersegera melanjutkan merapikan koper yang sudah saya mulai semalam. Local mengatakan perlu mengalokasikan waktu 2 jam untuk menuju bandara. Jadilah saya hitung mundur.

Dan, ternyata di pagi hari ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk mencapai bandara. Jadilah saya tiba awal.

namun entah mengapa, perasaan selalu mengatakan bandara adalah tempat yang segera. Kita ingin segera tiba namun kita juga ingin segera meninggalkannya.

Dan satu perjalanan selalu menghadirkan seribu cerita…

Jangan Lupa untuk Bermain

Suatu waktu saat semester baru akan dimulai, teman saya dikomentari dosen wali-nya:

Semester depan kamu mau ambil 23 SKS? Terus kamu mainnya mau kapan?

Hal ini mengingatkan saya dalam hidup ini kita tetap perlu bermain. Bermain dan bersenang-senang. Jangan terlalu serius atau lebih tepatnya jangan selalu serius.

Lalu bagaimana supaya tidak terlalu serius? Tapi kalau terlalu tidak serius nanti katanya juga tidak terlalu baik. Bisa mematikan hati. Jadi kebanyakan becanda.

Hmm… keluar dari rutinitas, bertemu orang baru, membuat lelucon, bermain game, dll, dll.

Pada tulisan ini saya sematkan video Soleh Solihun salah satu komika favorit saya.