30 Menit yang Terasa Jauh

Saat tinggal di pinggiran kota Melbourne dulu, 30 menit terasa lama. Membutuhkan waktu lebih dari 30 menit bagi kami untuk pergi ke kota. Namun untuk pergi ke IKEA, cukup 10 menit dengan bersepeda.

Saat kembali ke Jakarta, 30 menit berarti baru sampai Ragunan atau TB. Simatupang. Ini pun klo jalanan lancar. Jika di jam sibuk seperti saat pagi hari di hari kerja, bisa 60 menit hingga 90 menit untuk sampai Ragunan atau TB. Simatupang.

Konsep waktu 30 menit pun menjadi bergeser. Kalau dulu 30 menit terasa jauh, sekarang 30 menit baru dianggap awal dari perjalanan.

Duh, jadi kapan tinggal di Taman Suropati, nih 😀

Bersepeda ke Citos

Afternoon bike ride 🚲 with kids 😅

Hari Sabtu kemarin, saya bersepeda ke Citos. Malamnya, saya menyiapkan tas perlengkapan berenang. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, saya sudah siap melaju dengan sepeda. Yippe! Saya memang pesepeda pagi-hari akhir-pekan.

Jalanan di hari Sabtu pagi relatif lebih kosong dibanding di hari kerja. Inilah salah satu menyiasati bersepeda di Jakarta.

Bersepeda memang menyenangkan, namun ternyata saya merasa bersepeda belum cukup. Akhirnya saya kembali ke olahraga favorit saya: berenang.

Berenang pagi hari di Citos pun menyenangkan. Kolam renang masih relatif sepi, tak ada yang berenang melintang sehingga saya bisa berenang memanjang dengan tenang. Profil perenang di pagi hari ini lebih serius dibanding perenang yang datang siang. Mereka berenang dengan kaki katak dan tangan kodok.

Catatan Perjalanan Yogyakarta #3

Bertemu Keluarga Besar

Time indeed flies

Tanpa rencana jauh-jauh hari, pada hari pertama tahun 2017, kami berkumpul keluarga besar. Sungguh menyenangkan bertemu dengan sepupu-sepupu, om/tante, bude/pakde, keponakan setelah lama sekali tak bertemu. Saat masih ada si mbah dulu, kami setiap tahun selalu pulang. Namun setelah si mbah tak ada, rutinitas itu tak lagi ada.

Rasanya sudah lewat dari 50%, anggota keluarga yang berkumpul. Ini tentu pencapaian besar, mengingat keluarga besar kami cukup besar dan tersebar di mana-mana.

Kami berkumpul di Kali Boyong, arah utara Yogyakarta. Anak-anak kecil disediakan wahana permainan sehingga mereka tak bosan dan yang ada justru lupa waktu: sibuk bermain. Saya pun melepas rindu dengan sepupu-sepupu yang merupakan teman main saat kami kecil dulu. Kami bertukar kabar.

Catatan Perjalanan Yogyakarta #2

Kemajuan di Malioboro.

Satu jawaban di Quora yang menarik bagi saya adalah tentang hidup di negara berkembang. Saat hidup di negara berkembang, kemajuan begitu terasa. Tidak seperti negara maju yang sudah cenderung stabil dan stagnan.

Dan itulah yang saya rasakan saat menginjakkan kaki kembali di Malioboro setelah lebih dari 7 tahun meninggalkannya.

Trotoar di sebelah kiri sudah ditambah. Tak ada lagi parkiran kendaraan bermotor di sisi kiri jalan (atau jika menggunakan mata angin maka di sebelah timur). Lalu, saya lihat ada satu kran air siap minum. Warga bisa langsung melepas dahaga jika kehausan.

Saat malam tahun baru, saya dan keponakan mencoba mencari tahu suasana tahun baru di Malioboro. Wah, hal ini makin meyakinkan saya bahwa sudah terlalu banyak penduduk di Pulau Jawa. Bahkan untuk jalan kaki saja macet. Ini sudah tak ada kendaraan bermotor lho.

Catatan Perjalanan Surakarta #4

Sekarang saya lebih memahami memang Pulau Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Kota Surakarta memang tak sebesar Kota Jakarta namun bukan berarti tidak padat. Memang masih lebih lengang sih dibanding Jakarta.

Semalam saya memesan mie godok. Saya perlu menunggu kurang lebih 15 menit hingga pesanan saya siap. Sebelum saya sudah banyak yang menunggu.

Selain di Pulau Jawa jumlah penduduk yang begitu banyak, saya melihat satu perbedaan lagi dibanding down under adalah saya dapat dengan mudah membeli makanan. Begitu beragam makanan tersedia di sini. Mulai dari soto, bakmi, sate, gudeg, macam-macam nasi, dst. Belum lagi starling: starbucks keliling.

Catatan Perjalanan Yogyakarta #1

Setelah pilihan dan kemenangan
Kami akan mundur menarik dukungan
Membentuk barisan parlemen jalanan
Mengawasi amanah kekuasaan

Untuk membantu saya mengingatkan bagaimana kondisi kota Yogyakarta, saya mencari “Jogja Hip Hop Foundation” pada kotak pencari Spotify saya. Saya pertama kali mengetahui soal Jogja Hip Hop Foundation ini justru saat di down under.

Karena penasaran dengan personil Jogja Hip Hop Foundation, akhirnya saya menemukan profil Kill The DJ, yang saya anggap sebagai otak dari grup musik ini. Saya lalu membaca-baca blog Kill The DJ.

Saya berkesimpulan ia adalah seniman yang cerdas. Simak saja cuplikan lirik di atas. Ia memiliki konsep berkesenian yang kuat. Kota Yogya memang menghadirkan atmosfer yang berbeda.

Selamat datang di Yogyakarta kota Istimewa!

Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan

Catatan Perjalanan Surakarta #3

Saat saya kecil dulu, saya bisa uring-uringan jika gambar TV di Surakarta jelek. Atau malah saat TV-nya sendiri tak apik. Masih ingat kan TV model lama yang perlu ditarik dulu bingkai di kanan-kiri-nya untuk memperlihatkan layar? Eh atau sudah tak ingat?

Lalu, saat-saat layanan TV swasta hanya tersedia di Jakarta. Baru belakangan layanan TV swasta bisa diakses di kota-kota lain.

Saat ini bagi saya yang membuat uring-uringan bukan lagi TV melainkan koneksi Internet. Hal ini bisa jadi berlaku untuk generasi sesudah saya. TV sudah semakin ditinggalkan.

Kalau saya yang utama, koneksi Internet yang bisa diandalkan tentu untuk bekerja. Saat hari pertama tiba di Surakarta kemarin saya malah memiliki agenda untuk rapat via video/suara.

Internet di rumah di Surakarta justru lebih baik dan stabil dibanding Internet di rumah di selatan Jakarta. Apa saatnya mempertimbangkan meninggalkan Jakarta dan hidup di kota yang waktunya berjalan lebih lambat? lol.