Bekerja di Luar Rumah

Saat ini saya sedang bekerja di luar rumah. Saya lebih sering bekerja di rumah. Alasan pertama adalah mager: malas gerak. Haduh, bahaya ini: aktivitas fisik jadi berkurang.

Untuk mengantisipasi hal ini, saya mencoba membiasakan diri jalan pagi setiap hari selama 20-25 menit. Mungkin sudah saatnya saya menambah hingga 40-50 menit.

Saat ini saya sedang bekerja dari kedai kopi merk-asing namun lokasi lokal. Ceritanya gak mau nyebut merek. Selain karena alasan mager, juga karena alasan biaya sih. Mosok cuma minum kopi saja bisa mencapai AUD$5. Suka malas kan. Kalau beli nasi padang sudah bisa 2 porsi tuh.

Tapi memang bekerja dari tempat ini, situasinya kondusif. Ada wifi. Ruangan ber-AC. Meja dan kursi-nya lumayan nyaman. Tak ada orang yang saya kenal, jadi saya bisa fokus. Ada pemandangan: maksudnya ada orang lain jadi saya tidak merasa kesepian banget.

Sesekali bekerja di luar rumah bisa menjadi penyegar di tengah kejemuan rutinitas.

Iklan

Tidur dan Olahraga

Saya tak pernah menganggap kedua hal ini serius: tidur dan olahraga. Namun ternyata kedua aktivitas ini sebenarnya penting. Tidur yang cukup dan olahraga yang rutin adalah hal yang penting.

Nanti baru terasa kalau sudah sakit.

Saat ini saya masih berusaha konsisten jalan pagi setiap hari selama kurang lebih 20-25 menit. Waktu ini terasa lama padahal kalau sebenarnya waktu kita untuk bermedia sosial setiap harinya diakumulasikan, bisa lebih dari 25 menit. Berpikir untuk posting apa, menulis caption apa, hingga scroll-scroll dan meninggalkan komentar.

Lalu, tidur yang cukup. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya masih seringnya terlalu banyak tidur. Harusnya bisa stabil di antara 7-8 jam sehari. Tak perlu alarm, namun coba lebih percaya dengan jam biologis natural.

Kalau tadi siang saya tidur siang 2 jam, berarti malam ini sebenarnya saya bisa tidur lebih larut 2 jam, atau bangun lebih pagi 2 jam.

Lain-lain: aktivitas otak. Nah aktivitas otak juga penting dijaga. Mengisi TTS merupakan salah satu aktivitas yang membuat otak tetap aktif. Menulis juga. Termasuk menulis blog sekali jadi ini.

Mengerjakan Apa Dulu

Di tengah serbuan informasi, menentukan mengerjakan apa dulu menjadi tantangan tersendiri. Misal, saat ini. Saya membuka slack, email. Dari email ada pemberitahuan ada halaman baru di wiki. Lalu saya buka tautan ini. Ternyata membutuhkan waktu lama untuk membuka halaman wiki ini.

Mendadak ada notifikasi whatsapp di HP, lalu saya buka tab whatsapp di komputer. Saya periksa whatsapp yang masuk. Saya lalu jadi lupa, komentar apa yang harus saya tinggalkan di wiki.

Saya buka slack. Ada beberapa notifikasi masuk. Belum saya baca. Saya putuskan menulis blog ini dulu. Lagu di Spotify sedang memainkan The Chainsmokers. Mereka sedang konser malam ini. Saya nge-twit dulu.

Lalu saya terlupa sebenarnya berencana bangun pagi karena semalam kemarin saya sudah pulang malam dari city.

Sakit Tenggorokan dan Pilek

Jum’at sore kemarin, saya sakit tenggorokan dan pilek. Saya terpaksa membatalkan rapat rutin di Jum’at sore. Saya harus bekerja keras fokus menyelesaikan rilis: mengaktifkan kembali fitur pembayaran. Dari pagi saya bekerja keras untuk menyelesaikan ini. Memastikan semua tes: manual dan otomatis berhasil. Termasuk tes dan tes berulang di lingkungan pengembangan.

Lalu, saya menemukan sedikit bug. Ternyata kata “credits” merupakan reserved keyword di Python.

za@kwazii:10:54:26 ~$ python3
Python 3.4.3 (default, Aug 3 2015, 10:57:34)
[GCC 4.8.4] on linux
Type "help", "copyright", "credits" or "license" for more information.
>>> credits
Thanks to CWI, CNRI, BeOpen.com, Zope Corporation and a cast of thousands
for supporting Python development. See http://www.python.org for more information.

Dan baru kemudian rilis di lingkungan produksi dan … tes manual di lingkungan ini. Selesai sudah lewat maghrib sedikit. Dan selesai juga akhirnya…

Baru saya bisa menutup laptop dan istirahat. Dan ternyata saya sudah terlalu lelah. Jadinya hidung pilek dan tenggorokan meradang.

Semalam sebelumnya saya baru tiba di HLP. Saya baru saja dari Jogjakarta, menghadiri pemakaman pakdhe saya. Semoga saya bisa menulis obituari untuk Uwak.

Usai naik DAMRI, saya turun di Depok. Saya jajan nasi goreng dog-dog pinggir jalan. Barangkali bisa jadi minyak di tukang nasi goreng ini yang turut menyumbangkan sakit saya. Atau memang saya juga sudah kecapekan juga.

Sabtu dan Minggu jadinya saya berusaha untuk tidur nyenyak.

Menulis Jurnal

Saat di dalam penerbangan menuju Jogjakarta kemarin, saya mengambil buku kecil saya. Buku ini soal bagaimana merapikan hidup. Merapikan barang-barang hingga waktu. Dan salah satu cara merapikan hidup yang direkomendasikan dalam buku ini adalah menulis jurnal.

Menulis mampu membantu merapikan apa-apa yang ada di dalam pikiran.

Tempo hari bisa jadi perjalanan tersingkat saya ke Jogjakarta. Rasanya saya hampir tak pernah naik pesawat saat pergi ke Jogjakarta. Dan, saya tak pernah menyukai perjalanan yang bagi saya terburu-buru.

Terbang 50 menit, lalu turun di kota lain. Dan di kota ini, bahasa Indonesia bukanlah bahasa utama. Saya seolah berada di dunia lain dan harus beradaptasi hanya dengan 50 menit terbang.

Inginnya saya tak hanya menghabiskan waktu 1-2 hari di kota ini. Saya inginnya menghabiskan waktu 1 bulan dan kemudian menggali kearifan lokal.

Pakdhe saya baru saja meninggal dunia. Saat bapak memutuskan untuk tidak pergi ke Jogjakarta, saya jadi berpikir untuk pergi, seolah “mewakili” pihak keluarga, dan membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Semoga ada kesempatan saat perjalanan mengajak keluarga ke kota ini.