Catatan Perjalanan ke Surakarta #1

Saat SD dulu, saya ingat, saya suka mengajukan pertanyaan. Dan guru saya menjuluki saya sebagai siswa yang kritis 😛

“Mengapa saat berlebaran kita justru pulang kampung? Bukankah kita selama ini lebih sering berinteraksi bersama teman yang berarti risiko kesalahan lebih tinggi?” Kurang lebih itulah pertanyaan saya.

Menurut kamu kenapa?

Blusukan Naik Sepeda

Taman Kalijodo sedang ramai diperbincangkan. Saya berencana ke sana sih, tapi jaraknya lumayan jauh dari rumah. Jadi, pergi ke taman lokal dulu saja.

Desain kota di Indonesia tampaknya masih menomor-duakan pejalan kaki. Semua orang kalau bepergian seolah disuruh menggunakan kendaraan bermotor. Tak ada pilihan lain.

Jadilah, rasanya bersepeda di pagi hari di akhir pekan, masih menjadi pilihan yang terbaik bagi saya untuk berolahraga saat ini.

Menyaksikan Teater Raksasa di TIM

Libur telah tiba!

Saat di down under dulu, saat libur adalah saat bagi saya merencanakan berbagai kegiatan untuk anak. Mulai dari menghadiri acara lokal untuk anak-anak, hingga pergi ke luar kota.

Saya masih ingat saat Kota Monash mengadakan acara pesta untuk anak-anak sekota. Saat itu saya datang dengan Zaidan, dan ini menjadi momen pertama kami bepergian tanpa stroller/pram. Kami harus naik bis 2 kali lalu dilanjutkan dengan jalan kaki beberapa ratus meter.

Kemarin kami berkesempatan menyaksikan Teater Raksasa di Taman Ismail Marzuki. Sebelum berangkat, saya berpesan ke istri saya untuk menjaga harapan alih-alih nanti kecewa.

Kami tiba di lokasi acara mepet-mepet. Kami tiba pukul 3 sore kurang lalu habis waktu kurang lebih 10 menit untuk siap-siap dan cari parkir. Setibanya di pintu masuk, masih banyak antrean. Entah mengapa panitia tidak segera membuka pintu masuk jika di tiket tertulis acara akan berlangsung pukul 15 – 17.

Lalu, saat Zaidan mulai bosan menunggu, saya menjelaskan kepadanya bahwa konsep waktu di Indonesia berbeda dengan di down under. Menurut saya satu penyebabnya adalah di Indonesia tidak ada transportasi publik yang bisa diandalkan dan tepat waktu.

Pendek cerita, akhirnya kami bisa masuk ke dalam. Acara langsung dimulai sekitar pukul 4 kurang tanpa sambutan. Yippe!

Menurut saya, teater ini bagus. Mulai dari musik, kostum, dan dekorasi panggung. Zaidan sempat agak takut saat teater ini baru mulai. Ia memegang lengan saya dengan erat. Baru belakangan ia bisa menikmati acara ini.

Ia masih kesulitan memahami apa itu tupai dan raksasa, sehingga seringkali saya mengatakan bahwa tupai itu squirrel dan raksasa itu giant.

Semoga kamu menikmati acara teater ini, Nak.

Motivasi saya mengajak Zaidan menyaksikan teater ini adalah saya ingin ia melihat beragam kegiatan yang bisa dilakukan. Biarpun itu di Jakarta, yang seringkali identik dengan pergi ke mall.

Keramahan Pesepeda di Jakarta

Bersepeda di Jakarta merupakan anomali. Kota dengan segala ketergesaan, naik sepeda menjadi sesuatu yang tak umum. Jalanan merupakan ajang balapan maka mengapa naik sepeda?

Saat kemarin saya mau cari sarapan ketoprak, tiba-tiba saya mendengar bunyi bel sepeda datang dari arah belakang saya. Saya tak menoleh karena saya sedang fokus mau belok kanan. Saya mengangkat tangan kanan saya sebagai kode sein bahwa saya akan belok kanan.

Lalu tiba-tiba dari belakang, dua orang pesepeda menyalip saya, sambil menegur. Oh betapa ramahnya pesepeda di Jakarta.

Ini bukan kejadian kali pertama. Jika pesepeda lain datang dari arah berlawanan, maka minimal entah ia akan membunyikan bel atau melempar senyum.

Manusia Pagi

Sebenarnya saya lebih cocok menggambarkan diri saya sebagai manusia pagi. Kalau bangun pagi, nanti pukul 9 pekerjaan sudah hampir semuanya beres. Lalu nanti pukul 11 atau 13 akan mulai mengantuk.

Hari ini saya bangun agak siang. Bawaannya jadi apa-apa malas dan agak pusing. Perut pun lapar. Jadinya sarapan dulu, baru ngapa-ngapain.

Tadinya mau pergi naik sepeda, tapi begitu melihat matahari jadi suka malas. Entah matahari yang terik atau awan yang mendung membuat bersepeda setelah pukul 9 jadi tak terlalu menarik.

Padahal cuaca di sini sangat mendukung untuk sepeda-an dibandingkan di down under dulu.

Meningkatkan Kompetensi

Hal ini termasuk hal yang sulit dilakukan. Seberapa jauh keinginan kita untuk selalu lebih baik dalam berbagai hal. Termasuk mengenai profesi yang kita tekuni.

Ada berbagai macam alasan mengapa sulit meningkatkan kompetensi ini. Pertama waktu. Tak ada waktu mengasah lagi. Waktu sudah habis untuk rutinitas sehari-hari. Mulai dari pekerjaan, hingga waktu untuk menembus kemacetan.

Kedua biaya. Tak ada biaya untuk membeli buku, mengikuti les, dan lain-lain. Padahal kalau mau dilihat lagi, semua orang itu berusaha menyisihkan apa yang ia miliki. Jadi tak semuanya juga punya uang berlimpah.

Ketiga memang datar saja. Tak ingin berkembang. Nah kalau yang ini memang tidak ada motivasi dari diri sendiri. Perlu motivator kalau begitu. Hehehe…

Keempat tidak tahu bagaimana caranya meningkatkan kemampuan. Nah, ini memang tak mudah. Apalagi di zaman banjir informasi. Apalagi kalau yang dibahas di linimasa hanya seputar boikot roti, berita hoax, dst, dst. Wkwkwkwk…

Salah satu cara termudah meningkatkan kompetensi adalah memilih untuk berada dalam lingkaran yang tepat. Lingkaran ini dalam artian teman bergaul, dan juga lingkungan yang kondusif. Jadi yang tercipta adalah kompetisi untuk sama-sama lebih baik.

Pikiran random di pagi hari.