Tidak Bisa Mengupas Nanas

Salah satu hal yang tidak bisa saya lakukan adalah mengupas nanas. Dahulu sekali saya pernah membeli nanas. Lalu saya coba kupas. Saya tak pernah belajar secara formal bagaimana cara mengupas nanas. Jadi saya belajar dari mengira-ngira saja, bagaimana dulu melihat Ibu saya mengupas nanas.

Yang saya ingat itu nanas dikupas miring-miring. Tidak semudah mengupas mangga yang tinggal dikupas saja kulitnya. Nanas itu ada bintik-bintik hitam. Lalu dikupas miring-miring supaya bintik-bintik hitam ini ikut terangkat.

Belum lama ini saya lihat di pinggir jalan sedang ada tren menjual nanas madu. Akhirnya kemarin saya coba saja. Saya beli yang sudah dikupas seharga Rp 5000 per buah. Rasanya OK juga. Tidak kecut.

Nah, perlukah saya kembali mencoba belajar mengupas nanas?

Masih Berbunyi Nyaring!

Masih ingat dengan tulisan saya sebelumnya? Akhirnya saya menemukan jack audio 35 mm! Sebenarnya radio ini memberikan audio 35 mm pendek, namun entah ke mana saat saya mencarinya malah tak ketemu.

Akhir pekan kemarin, saya beberes kamar dan saya menemukan jack audio gitar listrik. Yup, jack audio gitar listrik kan besar, nah ini ada converter ke 35 mm di kedua ujungnya sehingga saya bisa memasukkan output speaker laptop ke radio ini.

Sekarang tinggal menyusun playlist di Spotifiy! Suara mini compo ini masih OK. Enak juga kalau misalnya bosan menggunakan headphone/earphone.

Permasalahan Kabel Lightning

Kabel lightning ini ternyata kualitas-nya rata-rata aja. Saya sudah memasangkan perlindungan ke kabel lightning saya. Perlindungan ini seperti lilin mainan yang kemudian lama-kelamaan menjadi keras. Saya mendapatkan gel ini saat menghadiri PyCon AU 2015 setahun lalu.

Sekarang saya masih menggunakan tethering untuk tersambung ke dunia luar. Dan lebih sering saya menggunakan kabel alih-alih wifi. Pertama karena lebih praktis dan kedua HP tidak menjadi panas.

Sekarang ada codetan sedikit sehingga klo saya ubah-ubah, koneksi Internet bisa terputus. Haduh, ini kabel kok gak keren amat😛

Untuk Apa Membaca?

Siang tadi saya beberes rak buku saya yang sudah saya tinggalkan selama kurang lebih 2 tahun. Sebenarnya bukan rak buku juga sih, lebih tepatnya buku-buku yang saya ikat. Rak buku saya sudah penuh, jadi buku-buku ini terpaksa diikat supaya tetap rapi.

Klo dipikir-pikir, apa sih gunanya membaca buku? Mengapa kita perlu mengeluarkan uang untuk membeli buku? Meluangkan waktu membaca-nya? Apakah ada gunanya? Apakah akan membuat kita tambah kaya? Tambah pintar? Tambah sopan? Tambah berbudaya?

Buku klo ditilik sejarahnya merupakan salah satu temuan penting bagi manusia modern. Dengan buku, pengetahuan dapat disebar dan diajarkan ke lebih banyak orang dibandingkan dengan harus bertatap muka langsung.

Saya baru saja menamatkan buku fiksi: Gendhuk karya … duh lupa penulisnya. Nama belakagnya Mardjuki, diambil dari nama suaminya. Nanti akan saya tuliskan dalam kesempatan terpisah soal resensi buku ini.

Membaca fiksi itu yang seru adalah saat membayangkan. Saat sel-sel otak liar berimajinasi, membayangkan dari apa yang ada di teks. Walau sedikit-banyak saya kurang tahu tentang bagaimana sih kehidupan desa.

Pengalaman Menonton Operet The Snail and The Whale

Beberapa bulan yang lalu, kami berkesempatan menonton operet The Snail and The Whale. Ini merupakan operet pertama yang kami tonton bersama. Jika biasanya kami hanya menikmati matahari di pelataran Melbourne Arts Centre, maka kali ini kami masuk ke dalamnya.

Sungguh, operet ini bagus sekali. Penampilan pemainnya sungguh hidup dan menjiwai. Bagaimana ekspresi dari pemain biola sekaligus pembawa acara. Gadis kecil yang berperan sebagai The Snail, dan tentu sang bapak.

Secara tokoh, hanya ada tiga pemain utama. Namun mereka bermain sungguh penuh warna. Bahkan saya masih ingat cuplikan teks buku yang mereka musikalisasi: “Shivering ice and enormous waves”.

Operet ini diangkat dari buku klasik The Snail and The Whale. Sebelum menonton, saya sempatkan meminjam buku ini di perpustakaan lokal. Saat akan kembali ke Indonesia, saya putuskan untuk membeli buku ini. Sebagai bagian dari usaha mengenang perjalanan.

Lebih Baik dan Lebih Baik Lagi

Rasanya semua orang tahu, practice makes perfect Namun rasanya, tak semua orang konsisten berlatih. Lha kok jadi rasanya semua begini. Sama seperti semua orang ingin menjadi juara, namun hanya satu-dua yang benar-benar bangun pagi dan menyingsingkan lengan baju berlatih keras.

Merayakan Kegagalan

89-storey tree house.

Salah satu kata-kata yang saya ingat saat menghadiri wisuda istri saya adalah: “You should celebrate your failure”. Lalu di buku Adhitya Mulya, saya juga membaca bahwa tidak melulu keberhasilan yang perlu dirayakan, namun juga kegagalan. Karena yang lebih penting sebenarnya adalah seberapa banyak usaha kita untuk mencoba sesuatu.

Haduh, pagi-pagi begini nulis yang berat. Baiklah, kapan-kapan saya akan mencoba menuliskan kegagalan-kegagalan saya. Terlihat mudah? Hmm…