Mencetak Foto

Hari ini, eh sudah kemarin berarti karena sudah lewat tengah malam, saya mencetak foto. Wah, sudah lama sekali saya tidak mencetak foto.

Ternyata… foto dari ponsel pintar saat dicetak hasilnya tak sebagus saat dilihat di layar. Saya mencetak ukuran 4R. Err… tidak ada mbak-mbak/mas-mas yang membantu saya melayani saat mencetak foto. Saya hanya berkomunikasi dengan mesin melalui layar sentuh.

Kamera ponsel pintar ini memiliki resolusi 8 MP. Foto yang paling bagus adalah foto yang diambil saat matahari terang. Apalagi foto selfie, wah kualitasnya akan kembali turun karena kamera depan ponsel pintar tentu akan memiliki resolusi lebih rendah.

Dulu-dulu, saya sempat lihat kamera digital pocket dengan model kamera jadul. Model retro. Saya lupa lagi tipe dan merk-nya.

Kemampuan Mengobrol

Where is he? Another afternoon time.

Kemampuan bahasa Inggris saya tidak banyak bertambah. Penyebab utama adalah tidak banyak interaksi dengan orang non-Indonesia. Pendek cerita, main sama orang Indonesia terus.

Hihihi…

Sebenarnya tak ada yang salah juga dengan main sama orang Indonesia terus sih.

Nah, kemampuan mengobrol ini hanya bisa diasah jika kita sering mengobrol dengan mereka yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Ada istilah-istilah lisan yang tak bisa ditemukan biarpun kita sering membaca.

Kemampuan mengobrol berarti juga mengasah kemampuan mendengarkan. Bagaimana aksen mereka saat mengucapkan suatu kata. Nah, ini masih PR besar juga bagi saya. Masih sering, kata-kata yang mereka ucapkan berlalu begitu saja tanpa ada yang bisa saya mengerti.

Menjadi Orang Tua

Menjadi orang tua ternyata tak pernah sesederhana itu.

Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Termasuk dalam hal sekolah. Kemarin menjadi hari pertama Zaidan merasakan pengamalan sekolah. Harapan saya saat ini hanya satu, Zaidan bisa senang di sekolah.

Setiap anak adalah unik, sehingga kita takkan pernah bisa menyamakan satu anak dengan anak lainnya.

Saya masih ingat betul, bagaimana ketakutan saya di TK. Saya selalu ingin Ibu ada dalam pandangan saya. Saya akan menangis apabila Ibu tak ada dalam pandangan. Lalu pulang TK, saya selalu minta dibelikan gambaran. Saat itu harganya Rp 100. Padahal di TK ini, ada kakak saya. Belum lagi di gedung SD, di sebelah TK, ada lagi 2 kakak saya.

Oh iya, sekarang akhir pekan, saatnya …. (silakan isi sendiri).

Senang

Zaman dulu rasanya saya pernah men-tweet, saat otak dalam keadaan senang maka pikiran akan gemilang. Kalau tak salah dalam lagu Kla Project, pernah dikisahkan, sungguh beruntung orang yang bekerja karena dia suka. Saya lupa persis liriknya seperti apa.

Hari ini, Zaidan memulai sekolah hari pertama di Kindergarten. Harapan saya hanya satu untuk kali ini: ia bisa senang.

Look, who's very excited for the first day at kinder?

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Konsisten dan Ideal

9 hari terlewati tanpa tulisan. Yay, siapa yang berani bilang menulis blog konsisten itu mudah?

Beberapa hari belakangan ini memang kesibukan sedang meningkat. Kami menempuh perjalanan pergi ke kota lain dan menginap. Alhamdulillah perjalanan berjalan lancar.

Tidak cuma menulis blog yang terbengkalai tapi juga pekerjaan. Begitu banyak tugas yang terlewati. Jika saya bisa lebih disiplin, sebenarnya saya masih punya waktu luang. Termasuk untuk bekerja.

Apa sih yang sulit membuat konsisten? Apakah karena saya menunggu waktu yang benar-benar nyaman, tepat, dan luang untuk melakukan segala sesuatu: misal, menulis dan bekerja. Kalau mau menunggu waktu yang seperti itu rasanya akan sulit. Bisa-bisa malah tak akan pernah.

Semoga setiap hari bisa selalu ada hal yang lebih baik.

Jalur Sepeda ke Pusat Kota

First 25 km ride to city.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Bersepeda sejauh 25 km ke pusat kota? Tak pernah ada di bayangan saya sebelumnya. Bahkan tak terpikirkan oleh saya, akan ada jalur sepeda senyaman ini untuk bersepeda.

Keraguan saya terjawab pada Minggu pagi lalu. Ternyata ada.

Mereka benar-benar bersungguh-sungguh membuat khusus jalur sepeda (dan pejalan kaki/lari). Kalau sudah ada jalur begini, berarti tak ada alasan datang terlambat karena macet ya? Hehehe…

Jalur sepeda dibuat dengan sungguh-sungguh. Melintasi sungai, melintasi jalan tol, ada jembatan, ada terowongan. Wah, benar-benar seru deh.

Semoga di kesempatan berikut, bisa membonceng Zaidan melintasi jalur sepeda ini.

Pengantar di Buku Berenang

Saat akhir pekan kemarin, saya dan Zaidan kembali ke perpustakaan. Padahal, awalnya saya mengajak Zaidan ke IKEA di dekat rumah. IKEA hanya berjarak 10 menit dengan sepeda. Saya ingin mengajak Zaidan bermain di area bermain IKEA. Eh tapi ternyata Zaidan tidak mau. Ia lebih memilih pergi ke perpustakaan.

Rak buku di perpustakaan ini selalu berganti. Buku yang dipajang di rak selalu berganti sesuai dengan tema. Dan tema akhir pekan kemarin adalah soal berenang.

Dalam belajar berenang, saya tak pernah membaca buku teori dengan baik. Saya hanya ikut les di waktu kecil, dilatih oleh pelatih, berenang seminggu dua kali. Ikut lomba jarang sekali.

Buku renang ini ditulis oleh seorang perenang profesional, malah seorang Olympians. Atau malah seorang Gold Medalist(?). Ia menuliskan, dalam berolahraga kita perlu menentukan tujuan jangka panjang. Apa yang ingin kita raih dengan olahraga ini.

Olahraga baru akan berefek baik saat ia dilakukan dengan rutin dan dalam jangka waktu panjang. Ia sempat membandingkan olahraga renang dengan jalan/lari/sepeda. Dan ia menjelaskan apa saja kelebihan olahraga berenang.

Satu hal yang menarik dalam pengantar ini adalah bagaimana olahraga itu perlu dinikmati dan disukai. Akan sulit bagi kita melakukan sesuatu yang tak kita sukai dan nikmati. Sukai, nikmati, konsisten, dan determinasi.

Ngomong-ngomong, Minggu kemarin, saya baru saja naik sepeda 25 km saya pertama kali menuju kota Melbourne. Dan sore-nya ditutup dengan menyaksikan AFC Asian Cup Saudi Arabia vs Uzbekistan.

During half time. Saudi Arabia vs Uzbekistan, AFC Asian Cup 2015.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on