Malas Menulis

Belakangan ini ternyata saya semakin malas menulis. Tuh kan, siapa bilang konsisten itu mudah? Kali ini rasanya memang ide-ide untuk menulis semakin berkurang. Kalau waktu sih seharusnya lebih lowong karena kiddo sekolah dari pagi sampai sore.

Nah, aktivitas apa yang diperlukan untuk mengasah ide menulis?

Musim Dingin = Mager

Musim dingin secara resmi akan dimulai 5 hari lagi. Dingin sudah mulai terasa. Akankah musim dingin berarti semakin mager alias males gerak?

Waduh, bagaimana ini? Padahal sebaiknya itu kita jalan kaki setiap hari minimal 10 ribu langkah (kurang lebih 5 km). Semakin mager semakin tidak sehat? Nanti jadi semakin banyak ngemil: semakin buncitšŸ˜›

Lalu semakin banyak tidur: matahari baru terbit pukul 7.30 dan sudah terbenam pukul 17:15 yang berarti malam lebih panjang jadi tidur semakin lama.

Kyaa…..

Mempertimbangkan Membeli Perangkat Buku Elektronik

Duh, judulnya bahasa Indonesia sekali. Siang tadi, saya mempertimbangkan untuk membeli e-book reader. Dari hasil googling cepat, pilihan berkisar ke Kobo atau Kindle. Lalu saya kembali bertanya ke diri saya sendiri.

Akankah saya lebih rajin membaca buku dengan memiliki e-book reader? Eh atau e-book device lebih tepat. Hmm… dengan kondisi perpustakaan melimpah ruah di mana-mana saja, saya masih kesulitan untuk membaca. Padahal harusnya sudah tidak ada lagi alasan tidak mampu beli buku karena buku sudah melimpah ruah di perpustakaan di semua sudut kota.

Hingga sekarang saya memiliki tiga kartu keanggotaan perpustakaan, namun masih belum juga saya menyempatkan membaca novel fiksi.

Jadi, akhirnya saya putuskan untuk menunda dulu. Yang lebih sulit itu sekarang komitmen waktu untuk baca buku, dan waktu untuk baca buku.

Sebelum mencari e-book device ini, saya berbelanja buku anak-anak untuk Zaidan. Buku-buku favorit yang suka dipinjam di perpustakaan selama ia di sini.

The Grug Boy

So, my litte boy just received student of the week award. How can I not be proud dad! He got the award from his story during “My Story” program. Actually the theme of the story is “Where we are in place and time”. So most of the kids will share about their origin.

But not with my litte Z. He told me he wanted to share about Ninja Turtles. And lately he added Grug after randomly saw some Grug photos with him in the living room.

Now I remembered, I am planning to buy him a set of Grug books. Congrats my little boy, keep up the good work!

10 Ribu Langkah

Masih ingat dengan angka 10 ribu?

Satu yang saya ingat adalah: 10 ribu jam. Tak ada jalan singkat untuk menjadi pakar. Yang ada adalah 10 ribu jam. Dengan menggeluti satu bidang selama 10 ribu jam, baru kita jadi pakar dalam satu bidang. Nah cara mencapai 10 ribu jam ini bisa bermacam-macam. Takkan saya bahas dulu di sini.

10 ribu lainnya adalah saat saya membaca buku soal Remote Working: No Office Required. Saya juga baru tahu buku ini belakangan-belakangan ini. Buku ini ditulis oleh perusahaan kecil 37signals. Belakangan (lagi) saya baru tahu bahwa salah satu personil dari perusahaan ini lah yang menelurkan Ruby on Rails (RoR), salah satu web framework bahasa Ruby yang paling populer saat ini.

10 ribu dalam buku ini adalah 10 ribu langkah. Dengan tidak commute ke kantor, apakah berarti langkah seorang remote worker akan berkurang? Padahal bergerak itu perlu. Kita tak bisa hidup sehat dengan duduk di depan komputer, ketak-ketik, terus menerus selama 8 jam.

Dia Yang Mahamemiliki

Pagi ini, usai mengantar Zaidan sekolah, saya pergi ke sisi timur kota Melbourne, Rowville. Saya menghadiri acara pemakaman (belakangan ternyata ditunda jadi besok) seorang bayi yang belum sempat hidup di dunia. Ia meninggal sebelum tiba saat baginya terlahir di dunia.

He, The Almighty, owns everything. My deepest condolences…

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Matanya terpejam erat. Saya melihat bibirnya tersenyum damai. Di dalam selimut putih itu, saya membayangkan tangannya bersedekap erat.

Mager

Mager adalah kependekan dari males gerak. Duh, saya masih aja tahu bahasa prokem anak-anak zaman sekarang.

Musim dingin segera datang. Nah, akankah datang saat-saatnya mager? Hawa dingin, angin kencang, langit berawan. Kalau sudah begini, baru tahu nikmatnya matahari bersinar di Indonesia (minus polusi udara tentunya).

Mau ke meja kerja aja susahnya minta ampun sekarang. Sudah terbayang dinginnya di ruang tengah. Sekarang jadi paling selimutan aja di kamar, sambil menyalakan pemanas ruangan, selimut penghangat.