Angkot Jak-Lingko

Kemarin saya naik angkot OK-OTrip yang belakangan berubah nama menjadi Jak-Lingko. Sebagai pengguna angkot, saya cukup puas dengan skema ini.

Pertama: saya tidak menunggu terlalu lama. Saya menunggu di tempat perhentian yang sudah ditentukan. Jadi, seharusnya angkot ini tidak boleh berhenti di sembarang tempat.

Kedua: saya tak perlu menyiapkan uang receh. Saya tinggal menggunakan kartu pra-bayar. Tap dan beres. Saat saya naik, masih gratis. Jadi tidak ditagih ke kartu. Rp 0.

Ketiga: angkot tidak ngetem. Ini adalah mimpi bagi setiap penumpang angkot. Jangan sampai saya cerita lagi saat saya mengejar kereta api di Bandung dengan angkot ya 😉

Semoga semua angkot bisa terintegrasi dengan Jak-Lingko suatu hari nanti.

Iklan

Membuang Sampah di Dalam Angkot

Sebagai pengguna transportasi publik, sering sekali saya melihat penumpang angkot membuang sampah di dalam angkot. Mulai dari ibu-ibu wanita karier, hingga anak sekolah. Tak berpendidikan? Ah enggak juga. Orang HPnya saja bagus-bagus.

Apa yang salah? Tak ada tempat sampahkah? Kalau menurut saya kalau ada tempat sampah malah repot bagi sang supir.

Apa sih susahnya menyimpan sampah sementara di tas. Saat penumpang ini turun, saya ingin bilang, “Pak/Bu/Dek sampahnya ketinggalan nih :P”.

Angkot dan Jalan Ajaib

Sampai hari ini saya masih bertahan tidak memiliki sepeda motor pribadi dan memilih naik angkot. Nah naik angkot ini ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Saat menghadapi jalan macet, angkot suka keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan ajaib. Jangan bayangkan jalan ajaib ini seperti pintu ke mana saja. Kalau sudah ada pintu ke mana saja, sudah tak perlu lagi transportasi umum dong.

Jalan ajaib ini benar ajaib. Masuk sini tembus sana. Memang suka berhasil, dalam artian keluar jalan ajaib jalan lancar, namun suka juga terjebak macet lagi di jalan ajaib.

Kalau sudah begini, enaknya naik angkot adalah bisa tinggal turun jalan kaki atau cari ojek. Hihihi…