Keseimbangan Kerja dan Hidup

Di zaman Internet yang ada di mana-mana, batas antara kerja dan tidak kerja semakin tipis. Bahkan sebagian orang sudah tidak punya batas antara kantor dan rumah karena ya tidak punya kantor.

Apakah ini bagus atau buruk? Ya, tinggal sudut pandangnya saja. Yang jelas, segala sesuatu yang berlebihan akan menjadi buruk.

Saat ini saya berusaha untuk tetap memiliki aktivitas fisik yang cukup. Mulai dari jalan kaki, lari atau naik sepeda. Renang sudah lama sekali tidak. Dulu-dulu saya suka naik sepeda dulu ke kolam renang terdekat, lalu pulangnya naik sepeda lagi.

Menjadi sehat itu penting untuk bisa kerja secara optimal. Jadi, saya terus berusaha untuk tetap sehat. Termasuk dari makanan.

Oh ya, kesehatan mental juga penting. Tak melulu soal fisik. Untuk hal ini, saya akan menjauh dari orang-orang yang bahasa anak sekarang bilangnya, toxic.

Menunggu Pikiran yang Jernih untuk Bekerja

Menunggu saat yang tepat untuk bekerja ini bisa diibaratkan menunggu godot kali ya. Saya tak tahu persisnya apa ini godot, tapi yang saya tangkap klo ada ungkapan menunggu godot itu artinya menunggu sesuatu yang tak pasti dan tak tahu berapa lama perlu menunggu.

Ingin sekali saya selalu bekerja dalam keadaan ideal. Hari dimulai dari pagi. Sebelum bekerja, sudah lari 30 menit, lalu sudah mandi, dan sudah sarapan. Urusan-urusan lain selain kerjaan sudah beres. Lalu buka laptop, dengarkan lagu favorit, dan jari-jemari bisa menari dengan lincah.

Itu idealnya.

Praktiknya? Hehehe… Bangun masih suka siang. Lari pagi masih bolong-bolong. Hari dimulai terlambat, jadinya belum sarapan dan belum mandi.

Susahnya Memulai di Hari Senin

Selamat datang Senin! Duh, kok rasanya susah sekali memulai hari di hari Senin. Terlebih jika di akhir pekan kemarin, benar-benar keluar dari rutinitas. Keluar dari rumah, menginap 2 malam.

Kembali di rumah, Minggu malam. Senin pagi bangun agak siang. Lalu sekarang lupa deh. Harus apa dulu. Harus mengerjakan apa dulu.

Mau-nya sih sepeda-an dulu sejenak. Memanaskan otak. Hehehe…. Yuk-yuk, kembali singsingkan lengan baju. Apa iya sih bekerja tidak menyenangkan.

Ubek Sebelum Bekerja

Terkadang, saya perlu ubek dulu untuk bisa mulai bekerja. Ubek ini bisa macam-macam. Menulis blog ini adalah salah satunya. Sebenarnya ini bukan kebiasaan baik.

Belum lagi ditambah dengan distraksi. Memeriksa HP, apakah ada notifikasi baru. Jika tidak ada notifikasi nanti buka-buka lagi aplikasi media sosial. Meninggalkan komentar. Lalu jadi ada notifikasi, dst.

Ubek ini sebenarnya bisa diganti dengan aktivitas yang lebih bermanfaat. Misal belanja sayuran segar, memasak, atau berkebun. Membaca hingga belajar menggambar. Bermain musik, atau … bebersih rumah?

https://www.instagram.com/p/BKCax6Yhglu/?taken-by=zakiakhmad

Selamat memulai hari! (Walau sudah siang)

Bekerja dari Pagi

Bekerja dari pagi itu lebih tenang. Distraksi baru yang muncul sekarang adalah memilih lagu dari Apple Music #eeeaaa Masih belum tahu apakah mau melanjutkan melanggan jika 3 bulan edisi percobaan ini usai.

Kalau dari pagi sudah kerja, tahu-tahu pukul 7 pagi sudah selesai. Apa lagi ya yang dikerjakan? 😀 Mau sarapan masih terlalu pagi. Ubek dulu aja deh. Jadi lah menulis tulisan ini.

Cuaca hari ini berawan dan sedikit berangin. Mau keluar beli buah naik sepeda jadi mikir dulu…

Antara Langsung Kerja atau Beberes Dulu

Alkisah, saya berencana menulis. Lalu, saya carilah buku tulis saya. Tak ketemu. Haduh, bagaimana ini? Nanti ide keburu lari. Untung meja yang saya gunakan bisa buat ditulisi. Eh, tapi harus menggunakan pensil. Di mana pensil saya? Yay, jadi kapan menulisnya.

Saya pernah dengar perkataan, “Jika saya memiliki waktu 3 jam untuk menebang pohon, maka 2 jam akan saya gunakan untuk mengasah gergaji saya”.

Nah, apa saya harus mulai beberes meja dulu sebelum mulai bekerja? :B

Fokus dan Lakukan Apa Dulu

Di zaman banjir informasi ini, kemampuan fokus merupakan sesuatu yang perlu terus diasah. Misal, mau mulai bekerja.

Mulai dari buka laptop. Buka browser. Apa dulu yang dibuka? Slack? Facebook? Twitter? Email? Youtube? Nanti scroll, mau dengar lagu apa. Buka wordpress, nulis blog dulu.

Buka terminal. Login ke server apa dulu. Kerjakan tiket yang mana dulu?

Belum lagi nanti buka HP. Cek whatsapp. Cek lagi telegram. Cek lagi messenger app lainnya lagi.

Lah, bisa-bisa baru mulai kerja setelah 30 menit menyalakan komputer. Eh, nanti baterai laptop sudah mau mati. Cari charger. Meja berantakan. Beres-beres meja dulu. Mau nulis, cari pulpen, cari buku, cari post-it.

Sudah itu semua, lantas sekarang saatnya berpikir. Apa yang harus dikerjakan dulu? Eyaaaa…..

Singsingkan Lengan Baju

Sore ini saya kembali bertemu teman-teman asal Indonesia. Ealah, kok teman-teman saya ini ternyata banyak yang kondisinya seperti saya: mendampingi istri kuliah lagi.

“Gimana kabarnya mas?” tanya saya. Hihi basa-basi standar.

“Sekarang waktu Subuh siang (red: pukul 5.30-an), berarti sekarang selesai kerja baru Subuh ya?” tanya saya.
“Iya, berangkat pukul 4. Selesai pukul 6 kurang”, jawab teman saya.

Teman saya memiliki mobil. Ia bekerja sebagai loper koran di pagi hari. Ia pernah menjadi teman kerja saya saat saya bekerja menjadi petugas jasa kebersihan.

“Lalu nanti pukul 7 berangkat lagi”, tambahnya.

“Ini baru pulang?”
“Enggak, sudah 1/2 jam yang lalu. Mandi dulu lalu istirahat.”

Saat mendengar cerita kerja teman-teman saya di sini, saya suka merasa, apakah saya kurang bekerja keras? Mereka bangun pagi. Bahkan pagi-pagi sekali. Melawan dingin, melawan kantuk. Menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari. Sementara itu di bagian bumi lain, saya masih asyik di dalam selimut dan lebih sering bangun siang.

Apakah saya harus menyingsingkan lengan baju saat jari-jari ini menari di atas papan kunci?

Sibuk dan Waktu yang Hilang

Saat kuliah dulu, waktu luang tersedia banyak. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain kuliah. Memang, uang seadanya saja. Saat kerja, uang bisa jadi lebih banyak namun tidak dengan waktu luang.

Saya ingin bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak/istri/keluarga/teman. Namun, barangkali itu hanya angan.

Bekerja di Jakarta

Perjuangan bekerja di Jakarta dimulai dari menuju kantor.

Di kota yang belum memiliki transportasi publik massal, kendaraan pribadi jadi pilihan utama. Bagi yang ingin lebih nyaman, memilih menggunakan mobil. Bagi yang ingin lebuh cepat, memilih menggunakan sepeda motor.

Bagi yang santai seperti saya, memilih menggunakan transportasi publik 😉