Suasana yang Tenang

Saya membutuhkan ketenangan dalam bekerja untuk dapat berpikir dengan jernih. Salah satunya yang saya perlukan adalah suasana lingkungan yang tenang.

Banyak yang bilang, pemrogram suka bekerja di malam hari. Ya, salah satunya karena ketenangan ini. Tidak banyak interupsi dari luar.

Saya masih sulit bekerja di malam hari karena ya… ada saja sih alasannya. Sebenarnya saya bisa mencoba bangun lebih pagi dan mencoba mulai bekerja sedikit.

Iklan

Malam

Hari sudah malam. Dan saya masih membuka laptop di tempat tidur. Bukannya tidur malah buka laptop. Dan pikiran pun malah terbang ke mana-mana.

Oh iya! Saya ada tugas ronda hari ini.

Hari ini merupakan hari libur nasional. Namun saya masih bekerja di pagi hari karena ada tenggat waktu yang harus segera dipenuhi. Ya, jadinya kerja sedikit-sedikit.

Lalu, siangnya kami pergi ke bioskop. Ceritanya ingin menonton Coco. Eh, ndhilalah bioskop kok ramai sekali. Dan kali ini kami tidak membeli tiket melalui jalur daring lebih dulu, tapi capcus. Akibatnya, kami tak dapat tiket.

Ingin menonton yang pukul 7 malam, baru teringat sekarang tanggal 1 dan berarti waktunya gajian satpam dan petugas sampah di rumah. Ya, jadinya pulang saja.

Pukul 8 malam, keluar rumah. Ngobrol-ngobrol, mendengar, berdiskusi, dengan para satpam dan petugas kebersihan. Jadi tahu banyak cerita dari mereka.

Malam-malam mencari lagu “Andaikan Aku Punya Sayap”, eh ternyata ada di Spotify!

Sekian catatan random hari ini.

Religiusitas, Iman, Amal dan Pengalaman

Haduh, judulnya di awal tampak rumit. Malam-malam begini mengapa saya malah menulis yang rumit-rumit. Malam-malam ternyata lebih sepi. Lebih enak. Yang terdengar hanya musik yang mengalun pelan dan bunyi tuts keyboard.

Lama kelamaan, saya kok jadi berpikir untuk mencari keyboard mekanik ya? Terbayang jari yang lebih enak mengetik. Tapi bakal lebih ribet juga sih, toh tak seringkas laptop yang tinggal lipat lalu bisa dibawa ke mana-mana.

Kembali ke judul.

Bagaimana kah tingkat religiusitas seseorang diukur? Apakah dari ibadah wajibnya?

Saya masih teringat ucapan mbah saya. Bahwa amalan seseorang yang pertama kali di-hisab adalah amalan sholat lima waktunya. Jika ada yang bolong-bolong, maka kemudian akan dilihat amalan sholat sunnah. Amalan sholat sunnah ini bisa membantu apabila ada sholat lima waktu yang bolong-bolong.

Namun, bagaimana definisi dari mendirikan sholat lima waktu itu sendiri? Apakah sebatas gerakan? Atau juga hingga di dalam niat sanubari mereka yang melaksanakannya?

Jika raga kita sudah siap untuk sholat lima waktu, namun pikiran masih ke mana-mana bagaimana? Namun apakah ada waktu yang cukup untuk menunggu hingga secara pikiran kita siap untuk sholat lima waktu?

Tapi apakah kita melaksanakan sholat lima waktu ini hanya sebatas membunuh kewajiban? Sebatas ritual belaka?

Bagaimana dengan iman? Bagaimana dengan amal?

Jika sholat lima waktu kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, mengapa di jalanan masih sering kita lihat begitu banyak orang tak sabar. Main serobot sana-sini, main klakson sana-sini. Bahkan tak sabar saat ada di belakang angkot yang berjalan pelan karena sopir angkot hanyalah korban dari ketidakberpihakan kebijakan pada transportasi publik.

Kemudian pengalaman. Saya menemukan bahwa pengalaman yang didapat dari bepergian, bertemu banyak orang, di satu sisi bisa menambah tingkat religiusitas saya. Bahwa di dunia ini begitu banyak macam orang-orang. Termasuk dengan keyakinan dan kebiasaannya masing-masing.

Jadi, jika merasa semua orang harus menyerupai dengan kita, rasanya itu hanya utopia.

Manusia Pagi

Sebenarnya saya lebih cocok menggambarkan diri saya sebagai manusia pagi. Kalau bangun pagi, nanti pukul 9 pekerjaan sudah hampir semuanya beres. Lalu nanti pukul 11 atau 13 akan mulai mengantuk.

Hari ini saya bangun agak siang. Bawaannya jadi apa-apa malas dan agak pusing. Perut pun lapar. Jadinya sarapan dulu, baru ngapa-ngapain.

Tadinya mau pergi naik sepeda, tapi begitu melihat matahari jadi suka malas. Entah matahari yang terik atau awan yang mendung membuat bersepeda setelah pukul 9 jadi tak terlalu menarik.

Padahal cuaca di sini sangat mendukung untuk sepeda-an dibandingkan di down under dulu.

Menunggu Malam

Selamat datang musim panas!

Sebagai seseorang yang besar di lintang khatulistiwa, saya tak pernah merasakan siang yang lebih panjang dari malam atau malam yang lebih panjang dari siang. Jika pun ada pergeseran waktu matahari terbit dan matahari tenggelam, hanya berkisar 30-45 menit. Jadi tak terlalu terasa.

Dengan menetap di down under, saya jadi merasakan perbedaan ini. Di musim panas ini memang enak untuk keluar rumah. Catatan: asalkan temperatur tidak sampai di atas 30 derajat Celsius. Jika sudah lebih dari 30 derajat Celsius lebih baik berada di dalam ruangan yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Nah, masalahnya (kok masalah terus sih? Saat musim dingin nanti jadi masalah lagi). OK, nah untungnya, saat musim panas, matahari bergeser miring (waktu Ashar) adalah pukul 17.20-an. Kiddo sudah minta main di luar sejak pukul 15 coba. Matahari kan masih panas saat itu.

Jadilah di musim panas ini saya bersama kiddo keluar rumah sekitar pukul 18.00 dan kembali ke rumah sebelum pukul 20.00 Nanti makan malam pukul 21.00 karena matahari terbenam baru pukul 20.40

Kalau di musim dingin, menunggu hangat. Di musim panas, saya menunggu malam (mengantuk lebih awal karena biasa bangun pagi).

Waktu Terbaik Untuk Coding

Hmmpph… ternyata coding tak semudah yang dibayangkan.

Sama seperti dengan menulis yaitu membutuhkan one long interrupted time, coding membutuhkan ketenangan perasaan. Sulit kalau ada perasaan terburu-buru.

Ada banyak tulisan yang mengatakan, bahwa programmer bekerja terbaik saat malam hari. Mengapa? Karena saat malam hari kebanyakan orang lain tertidur dan berarti kemungkinan interupsi oleh orang lain semakin kecil. Berikut saya kutip satu tautan di quora, mengapa programmer bekerja di malam hari.

Ada begitu banyak pikiran yang ingin dilimpahkan ke dalam code. Sedikit gangguan saja, bisa langsung membuyarkan konsentrasi, ingin ditaruh mana kepingan-kepingan logika tersebut.

Nah, masalahnya malam hari saya masih selalu tertidur. Zzz….. Zzzz… Zzzz…

Tidur Lebih Malam atau Bangun Lebih Pagi?

Sekarang ini saya mencoba mengubah paradigma. Dari yang sifatnya yang mercusuar menjadi hal sederhana namun konsisten.

Mercusuar saya artikan sebagai sesuatu yang besar, wah dan hebat. Sementara kebalikannya adalah sesuatu hal yang sederhana, tidak besar, namun dilakukan secara konsisten dalam waktu yang lama.

Salah satu hal yang coba saya lakukan dengan konsisten adalah menyetrika baju. Daripada menunggu satu atau dua hari kosong, saya eksperimen dengan setiap hari selama 30 menit menyetrika.

Biasanya pagi hari, sebelum mandi saya luangkan waktu untuk menyetrika. Tapi ternyata menyetrika begitu menyenangkan hingga waktu 30 menit terasa kurang. Tapi lagi jika saya menyetrika terlalu lama berarti saya akan berangkat kesiangan. Padahal aktivitas saya di pagi hari kan tidak cuma menyetrika.

Lalu saya coba sebelum tidur saya menyetrika dulu selama 30 menit. Ini dengan harapan saya mendapatkan waktu menyetrika yang lebih banyak. 30 menit sebelum tidur, dan 30 menit usai tidur.

Nyatanya, saat saya menyetrika di malam hari, saya bangun lebih siang di pagi harinya. Yah, jadinya hanya menggeser waktu tidur. Hihihi… Eksperimen masih gagal.

Ada tips untuk mengurangi waktu tidur?