Tentang Barasuara

Sekali-kali ingin menulis soal musik ah.

Barasuara. Siapa yang tahu grup musik ini?

Kalau generasi 90-an tentu lebih akrab dengan Sheila on 7, Dewa 19, Gigi, dan seterusnya. Ternyata di generasi milenial sekarang banyak grup musik baru. Saya berusaha untuk tetap dekat dengan generasi milenial karena saya percaya yang muda adalah mereka yang bisa membuat perubahan dan mereka berkarya.

Entah saya tahu pertama kali dari mana mengenai Barasuara. Dari Spotify sih pastinya, nah tapi entah bagaimana bisa muncul di daftar putar saya.

Apa karena dari soundtrack lagu film “M… dan drama 7 babak” itu ya? Yang di Flores itu lho.

Musik Barasuara sebenarnya rada-rada aneh. Liriknya pun aneh. Gak standar lah. Bukan ala-ala percintaan. Dan setelah saya baca-baca, ternyata Barasuara berkomitmen untuk membuat lagu dengan 100% lirik berbahasa Indonesia.

Keren-keren, di zaman sekarang menggali keindahan Bahasa Indonesia.

Lalu, di Youtube saya menyaksikan rekaman Barasuara saat pentas di Synchronize Fest. Saya kok jadi kepikiran mau nonton konser musik di zaman milenial sekarang yak? :B Spotify on Stage anyone?

Iklan

Musik

Saya suka musik. Musik seolah bisa membantu saya menenangkan pikiran saya saat sedang butuh konsentrasi. Pekerjaan saya sekarang termasuk pekerjaan yang bukan manajemen. Jadi, konsep waktu saya berbeda dengan mereka yang bekerja pada bidang manajemen.

Coba baca tulisan bagus dari Paul Graham ini.

Mendengarkan musik membuat saya kembali mengingat-ngingat saat saya masih suka bermain gitar zaman dulu. Satu aktivitas yang sudah tak pernah saya lakukan lagi. Saya masih ada keinginan belajar main piano dan main biola, sampai sekarang.

Ngomong-ngomong, ada yang pergi nonton konser Halsey?

Bermain Alat Musik

Setelah menonton video ini, saya jadi ingin bisa bermain drum. Tampak keren kan? Zedd ini ternyata musisi multitalenta. Saya suka beberapa lagunya. Bersemangat lah, pendeknya.

Lihat bagaimana gebukan stik Zedd. Mantap dan berteknik lah. Saya kira Zedd tak bisa bermain drum. Duh, jadi ingin punya drum di rumah.

Dulu saya ingin punya piano di rumah. Lalu dulu juga sempat terbersit ingin belajar biola.

Perasaan Sendiri

Terkadang dalam bekerja, saya merasakan kebutuhan untuk merasa sendiri. Sendiri dalam artian tidak diganggu. Untuk membebaskan pikiran membangun khayalan.

Sekarang sedang hujan deras. Sejenak saya alihkan pandangan ke luar jendela memperhatikan derasnya air hujan di luar sana.

Saatnya kembali bekerja sambil mendengarkan musik 🙂

Koleksi Musik

Hari ini saya kembali ke perpustakaan. Haduh, perasaan ke perpustakaan sudah kayak ke mall aja saat di Jakarta. Sering sekali.

OK, agenda utamanya adalah mengajak Grug mengunjungi tempat favorit Zaidan. Kemarin Selasa, Zaidan dapat giliran menerima kunjungan Grug.

Sebelum pulang, tanpa sengaja, saya melewati rak Audio CD. Eh, ada CD Mylo Xyloto dari Coldplay. Saya ambil saja, walaupun saya tahu di rumah tidak ada CD player dan laptop yang saya gunakan tidak memiliki CD/DVD player secara built-in.

Lalu, … saya masukkan CD Mylo Xyloto ini ke DVD drive. Saya gunakan kabel milik lampu sepeda, tidak bisa. Maklum sudah jarang digunakan, saya lupa di mana saya meletakkan kabel DVD drive ini. Akhirnya ketemu.

Saya coba rip, bisa. Saya menggunakan sound-juicer untuk me-rip, lalu saya gunakan rhythmbox untuk player.

Eh, kualitas musik-nya ternyata jauh lebih enak dari yang ada di youtube. Maklum selama ini saya mendengarkan musik via youtube.

Kalau dirunut dari jauh-jauh hari, koleksi MP3 saya sudah banyak, namun entah tersebar di mana sekarang. Dan kualitasnya pun juga beragam. Zaman di kampus dulu, biasanya saya hanya streaming memanfaatkan mp3search.

Sekarang jadi kepikiran untuk meminjam lagi CD Audio dari perpustakaan, me-rip, dan menambah koleksi musik. Hehehe….

Musik dan Olahraga

Banyak di antara kita yang bermimpi menjadi atlet hebat atau pemusik hebat. Tapi dari banyak orang ini, hanya satu atau dua orang yang bangun pagi setiap hari.

Setelah membaca/menulis, hal yang saya sukai berikutnya adalah musik dan olahraga. Untuk musik, kasta saya baru penikmat. Memang waktu kecil dulu saya sempat mengikuti les gitar klasik. Lalu sebentar les dengan teman gitar rock. Lebih sebentar dari gitar klasik.

Sesampainya di rumah, saya jarang latihan. Paling hanya 30 menit dalam seminggu. Membaca partitur pun saya tak lancar-lancar amat. Saya harus tahu dulu bunyinya akan seperti apa, baru saya bisa lancar membaca partitur.

Untuk gitar rock, saya kurang keras berlatih. Fingering. Kecepatan tangan. Sinkronisasi tangan kanan dan kiri.

Lalu olahraga. Saya suka berenang. Namun untuk kompetisi, saya kurang memacu diri. Medali yang saya raih waktu kecil adalah juara III gaya punggung tingkat Jakarta Timur. Saat kuliah, saya menjadi juara satu-satunya gaya kupu-kupu 100 meter. Sekarang saya pun jarang berlatih renang.

Dibalik kehebatan Usain Bolt, Ian Phelps, Tompi, Jubing, tentu ada kerja keras yang tak kita lihat. Mereka-lah yang termasuk: satu dua orang yang bangun pagi setiap hari.

Akhirnya Beli Lagu di iTunes

Akhirnya, setelah sekian lama mempergunakan produk Apple, saya melakukan transaksi juga. Saya membeli lagu di iTunes.

Membeli lagu kini semudah menjentikkan jari. Tak perlu lagi pergi ke toko CD. Eh, masih ada gak sih toko CD? Tak perlu lagi bertanya, di mana album A artis B ada di rak mana. Tinggal masukkan kata kunci dalam kotak pencarian. Tak perlu lagi mengeluarkan ongkos transportasi.

Lagu yang dibeli pun tak harus satu album. Kita bisa pilih satu lagu saja. Dengan biaya satuan. Sekarang iTunes pun memasang biaya dengan mata uang IDR. Hal ini secara psikologis akan mendekatkan pembeli karena tak perlu melakukan konversi ke IDR dulu. Ah Rp 5000 – Rp 7000 doang kok, sama dengan ongkos pulang-pergi Transjakarta.

Wow! Selamat datang di era iTunes.

Bahkan jika punya beberapa device Apple, lagu yang kita beli dari satu device, bisa ada juga di device lain, asalkan menggunakan Apple ID yang sama. Untuk hal ini belum saya coba sih. Maklum belum punya iPhone Google Nexus.

Sebenarnya, yang saya butuhkan adalah gadget yang bisa saya lipat-lipat ukurannya. Saat saya di Transjakarta, maka saya butuh gadget yang bisa saya genggam di tangan dan masuk kantong. Tapi saat saya ada di taman. Saya butuh gadget dengan ukuran layar yang nyaman untuk saya membaca buku dengan format epub.

Nah, itu ide saya. Sepuluh tahun lagi kali ya baru bisa terwujud.