Rainy & Blurred

Dari judulnya, tulisan ini rasanya akan kurang menarik. Temanya lingkungan. Anggap saja sebagai tulisan ekstra dari tulisan-tulisan sebelumnya.

Usai Summit, kami memutuskan pergi ke tengah kota Lisbon. Acara Summit sebenarnya bukan diadakan di Lisbon, tapi di pinggiran kotanya. Bus yang kami naiki menurunkan kami di jantung kota Lisbon. Restaudorres, seingat saya nama tempatnya.

Saya, Cecil dan Fazli, kami bertiga menjelajahi kota Lisbon. Karena ada sesuatu yang dicari, persisnya: sikat gigi/odol atau makanan ringan (dan juga air putih?), kami memutuskan pergi ke minimarket.

Saat selesai membayar, saya menaruh odol di dalam tas hijau saya. Di belakang saya, Fazli juga usai belanja. Ia tidak membawa tas. Jadi terpaksa ia meminta tas plastik.

Lalu tiba-tiba petugas kasir meminta sekitar 0.5 (atau 0.2 ya?) Euro untuk tas plastik belanjaan Fazli.

Jadilah total belanjaan Fazli ditambah dengan biaya plastik kresek. “Oh okay, I’ll pay”, begitu ujar Fazli.

Waduh saya kaget juga. Ternyata di Lisbon sudah ketat juga penggunaan plastik kresek. Menurut saya ini adalah hal bagus yang perlu diterapkan juga di Indonesia. Kita harus mulai membiasakan mengurangi penggunaan plastik kresek. Hal ini bisa dimulai dengan membiasakan membawa tas belanja sendiri.

Plastik kresek barulah satu hal kecil dari permasalahan sampah yang ada. Lainnya adalah pemilahan sampah, daur ulang, hingga penimbunan.

image

Kali ini saya ingin menulis hal yang sedikit serius. Soal menulis paper. Halah.

Referensi yang sama. Ini barulah hal pertama sebelum melanjutkan ke hal berikutnya. Referensi dalam artian bacaan yang sama. Up to date dengan apa yang terjadi di luar sana. Terbayang kan jika di luar sana sudah membicarakan HTML5 sementara kita masih membaca HTML1.01

Referensi baru hal pertama. Selanjutnya, dalam menulis paper perlu tahu juga topik yang ingin kita bahas ini sudah ada yang mengerjakan atau belum. Jika sudah, sudah sampai mana?

Menulis paper ternyata tidak mudah. Perlu ada ide dulu. Apa yang ingin dibahas. Apa yang ingin diteliti. Jadi setiap ada CFP (Call For Proposal) siapkan juga ide.

Ide, ide… ada di mana kau?

#random setelah makan siang

Semua orang pada awalnya adalah pemula. Hanya keberanian dan ketekunan yang membedakannya.

Minggu malam kemarin, tanpa terencana saya, istri dan sepupu-sepupunya, pergi mencoba bermain ice skate. Waktu saya kecil, seingat saya, saya belum pernah mencoba bermain sepatu roda ataupun in line skate. Tapi rasa-rasanya dulu pernah bermain ice skate saat di Mal Taman Anggrek masih ada. Itu berarti kira-kira SMA kali ya.

Saat saya menginjakkan kaki kali pertama di area permainan, saya sempat nge-per. Wah tak dikira bakal selicin ini. Jadilah saya berjalan di pinggir, berpegangan terus-menerus. Belum lama saya berjalan, tiba-tiba seluruh pengunjung diminta untuk keluar. Alasannya adalah arena ingin dibersihkan.

Ternyata cukup lama juga arena dibersihkan. Kira-kira hampir 30 menit. Sebelum para pengunjung diperbolehkan masuk, beberapa orang yang sudah jago masuk dulu. Sepertinya mereka penari profesional yang sedang latihan.

Saat melihat orang lain bisa bergerak dengan indah, rasanya kok tidak mudah. Tapi kira-kira inilah yang membedakan antara teori dengan praktik.

Target saya saat itu adalah bisa meluncur. Tidak lebih. Hasilnya? Lumayan, bisa melebihi target. Di 5 menit pertama saya sudah berani tidak lagi jalan di pinggir pegangan. Lalu, saya juga coba rasanya jatuh bagaimana. Biar tahu dulu rasanya gimana, jadi nanti bisa belajar jatuh yang benar. Toh orang yang belajar naik sepeda pun juga jatuh dulu kan.

Ternyata cukup menyenangkan juga main ice skate. Buat persiapan tinggal di daerah winter ;-)

Ice skating

image

3 hari libur ternyata cukup membuat otak saya membeku walaupun saya tetap membaca buku. Kembali ke rutinitas memang membutuhkan energi aktivasi yang tidak sedikit. Butuh katalis, bahasa kimianya. Hehehe… jadi kangen juga belajar kimia. Menyamakan bilangan oksidasi. Di liburan kali ini, saya pergi ke Bandung di hari Minggu dan kembali di hari Senin. Sabtunya, masih ada urusan yang harus diselesaikan.

Hari ini dimulai siang. Terlalu siang sebenarnya. Saat di kereta, saya putuskan untuk menyelesaikan menonton video AppSecUSA sesi ZAP Proxy. Eh ernyata durasi perjalanan di kereta belum cukup untuk meneyelesaikan menyimak video ini. Jadilah saya selesaikan di kantor.

Saat menonton video, terkadang saya jadi teringat suasana di dalam kelas saat kuliah. Ada saat-saat dosen menyampaikan materi dan mahasiswa terkantuk-kantuk. Hehehe….

Oh ya, soal ide saya bagaimana seni menonton video kuliah/pelajaran/tutorial ini serius lho. Sepertinya butuh teknik tersendiri, sama halnya dengan teknik yang sudah ada lebih dahulu yaitu membaca/menulis.

Apakah ada waktu bekerja dan waktu untuk tidak bekerja dalam hidup Anda?

Bagi kita yang termasuk dalam kelas pekerja (wah menganut paham kapitalis nih :P ), bekerja sederhananya dibuat waktu kerja. Waktu ngantor. Eight to five atau nine to five. Atau sesekali lembur. Semua terhitung. Dari mulai masuk kerja, hingga keluar. Gunakan absensi sidik jari jika perlu.

Pada beberapa lingkungan, sistem ini bisa bekerja. Atau memang lingkungan ini membutuhkan sistem seperti ini untuk bisa bekerja. Tingkat produktivitas diukur dari jam kerja.

Oh ya, ini tidak bermaksud membahas benar/salah lho ya. Hanya berusaha memberi pandangan masing-masing sistem.

Contoh ekstrim dari sistem terukur ini adalah produktivitas pabrik. Semakin lama bekerja maka produktivitas pabrik akan terus bertambah. Dalam artian produk yang dihasilkan semakin banyak. Sederhana saja kan? Tak perlu ambil pusing.

Namun ternyata tidak semua produktivitas lapangan kerja dapat diukur menggunakan cara pabrik ini. Atau barangkali persisnya tidak semua profesi dapat mengikuti pola kerja pabrik. Khususnya lapangan kerja kreatif (pembahasan mengenai apakah tidak ada lapangan kerja yang tidak kreatif tidak akan dibahas di sini). Misalnya profesi: penulis, pelukis, … termasuk juga pemrogram? Ya, bisa termasuk. Pola pengukuran ala pabrik ini memang tetap bisa digunakan namun hanya sebagai pendekatan. Tidak bisa diikuti begitu saja.

Tadi pagi di 1/3 malam akhir, saya mencoba membaca buku. Ternyata enak! Suasananya senyap dan menenangkan. Memang sesekali Zaidan kakinya nendang-nendang.

Jadi, yang ingin saya sampaikan setiap profesi memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menjalankan perannya. Dan mengutip lcamtuff penulis Tangled Web, 7 miliar manusia semakin terhubung dengan beragam perannya.

Bagaimanakah cara belajar sesuatu hal yang teknis? Misalnya: mempelajari bagaimana menggunakan penyunting/pengolah teks VIM. Apakah dengan membaca secara runut, fitur-fitur apa saja yang ada di VIM?

Ok, VIM barangkali terlalu sederhana. Saya coba ambil contoh lain saja. Python. Kebetulan belakangan ini saya jadi kecanduan python. Semoga saya bisa namun tidak sampai berbisa *jangan bingung*.

Tanpa sengaja, saya menemukan buku Dive Into Python dari Android Market. Jadi saat ber-komuter-ria, saya bisa dengan mudah membaca buku Dive Into Python. Lantas, apakah buku ini harus saya baca secara runut dari awal hingga akhir seperti halnya membaca novel?

Bagaimana menurut Anda?

Kalau menurut saya ternyata tidak perlu runut. Justru sebaiknya lompat-lompat, mengikuti apa yang dirasakan diperlukan untuk diketahui.

Ternyata benar juga hipotesis saya dulu. Saya pernah mengatakan dengan banyak membaca kode sumber orang lain secara tidak sadar kita akan jadi belajar lebih baik. Memang tidak mudah, namun coba lakukan perlahan-lahan. Hal mendasar yang diperlukan sebelum menulis program adalah memahami masalah yang ada.

Pemahaman masalah kita dengan orang lain bisa berbeda, maka dari itu program yang ditulis sebagai solusi dari masalah tentu akan berbeda-beda walau berangkat dari masalah yang sama. Silakan pilih, tak ada yang benar/salah.

Masalah menjadi satu hal yang penting dalam belajar pemrograman. Jika kita tidak merasa ada masalah maka kemampuan pemrograman tidak bisa terasah. Tulisan saya sebelumnya sebenarnya ingin menerangkan betapa banyak hal bisa diselesaikan dengan mudah dan praktis dengan sedikit belajar pemrograman.

Contoh detailnya akan saya tulis di tulisan berikutnya.

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 11.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.