Friday Prayer Discourse

One in every week, a moslem is obliged to have friday prayer. And one of the friday prayer rukun is the discourse (khutbah). It is a one-way communication. There are no questions and answers session. And when I’m in Indonesia, it’s very common to have many people fall asleep during the discourse. That’s why, the discourse is easily forgotten.

It also happening to me. I easily forget, what the discourse is all about.

Today’s friday prayer discourse is about taqwa. Taqwa is translated into english as fear of Allah, pious. Do good deeeds everyday, as we don’t know when is our departure day. There are no small sins as the mountains are built from pebbles.

I think one of the way to remember is to write it.

Today, I decided to seat near the speaker. There isn’t any significant improvement of my listening skill hence I rarely have conversation with non-Indonesian people.

Belajar Bahasa

Mom, look! The picture is gone!

Begitulah seru Zaidan saat melihat gambar di tas ranselnya tak lagi ada. Saat mendengar Zaidan berkata seperti ini, saya dan istri tersontak kaget. Dari mana ia belajar kata-kata itu? Bagaimana ia belajar bahasa?

Ternyata anak-anak memiliki cara belajar sendiri. Cara yang takkan dipahami orang dewasa.

Sementara orang dewasa rasanya semakin sulit saja untuk belajar. Termasuk bahasa. Apa karena kurang interaksi dengan orang non-Indonesia? Termasuk membaca?

Menjadi Bagian dari Perubahan

Banyak orang yang ingin terjadi perubahan, namun hanya sedikit yang mau menjadi bagian dari perubahan. Mengapa? Apa karena kita takut salah? Takut diberi hukuman? Tak diberikan hadiah? Apa karena kita tak pernah diajarkan bagaimana mengambil keputusan? Mengambil inisiatif? Mengambil risiko?

Mengapa?

I’m starting with the man in the mirror. I’m asking him to change his ways. Man in The Mirror – Michael Jackson. Photo credit: rfirstiyani

Compressed Air Can

Have you ever hear about this: compressed air can? It’s my first. I heard it after a friend of mine suggested me to use this – compressed air can – to remove dust from my laptop fan.

Since I am a new Melburnians, I don’t know where to find this thing in Melbourne. Or even I didn’t know where the local computer repair shop until my wife’s friend recommended one place in Caulfield. Yesterday I went to Dick Smith Electronics at Chadstone shopping centre. I found one link in a forum which mentioned that we could find compressed air can in Dick Smith Electronics. After I re-read the forum, it was posted in 2009. And when I asked the Dick Smith Electronics, he said they no longer sold this thing.

Luckily, I found this officeworks online shopping. Without thinking much further, I made an online purchase and have it delivered.

At first, I use my mouth (then spray some air) and also cotton bud to remove dust from my laptop fan. It didn’t work. The fan keeps making noises. Especially when the fan in high RPM.

I’ve used this laptop for three years. I like this laptop. There were many journeys. From IDSECCONF in Makasar, South Sulawesi, Indonesia; PyCon APAC in Taipei, Taiwan; kopdar Python ID in Jakarta, Indonesia; and so on.

Right now, I am thinking to replace this laptop. MBP 15″ seems cool. Or maybe just stick to my favorite thinkpad series? X1 Carbon? What do you suggest? Or just have camping in Middle Earth? ;-)

Cinderella

Siapa yang masih ingat dengan cerita Cinderella? Sang putri yang harus pulang sebelum larut malam karena ia akan kembali berubah menjadi putri biasa.

Begitulah yang terjadi pada saya. Tapi saya bukan putri, saya hanyalah pengguna transportasi publik.

Sebenarnya, ada banyak alternatif transportasi publik di malam hari. Bahkan di sini, mereka memiliki armada yang diberi nama Night Rider. Bis yang beroperasi usai kereta terakhir, siap mengantar mereka yang dari tengah kota ke daerah suburb.

Kereta memang beroperasi hingga pukul 1.30 atau 12.30 (tergantung akhir pekan atau bukan). Dan kemarin kami pulang dari kota pukul 9 malam. Namun untuk menuju rumah kami, masih perlu disambung dengan bis. Dan bis yang berhenti di dekat rumah memiliki jadwal terakhir 9.30 malam. Lalu kami melewatkan satu kereta pukul 9.00 dan menunggu kereta berikutnya pukul 9.40 malam. Jadilah kami melewatkan bis terakhir.

Jadi kesimpulannya, Cinderella harus pulang sebelum pukul 9.30 malam. Hehehe…

Perasaan Senang

Selasa sore kemarin, kami menghadiri acara rapat tahunan di Dover Pre-School. Zaidan belum bersekolah dan Dover Pre-School menjadi salah satu pilihan sekolah untuknya. Pada hari Senin istri saya menelepon dan pihak sekolah mengabari silakan datang Selasa sore jika ingin melihat sekolah, kebetulan pada Selasa sore ada rapat tahunan.

Tak sengaja saya bertemu dengan suami dari Yeni, teman saya saat kuliah dulu. Daus bercerita bagaimana kondisi anak-anaknya bersekolah di sini. Anaknya yang besar, begitu bersemangat sekolah. Ia ingin selalu tiba awal di sekolah. Tidak ingin mepet dengan jadwal masuk. Padahal lokasi sekolah dengan rumahnya hanya 3 menit jalan kaki. Jadi bel sekolah masuk pun sebenarnya terdengar hingga ke rumah. Anaknya yang kedua, menangis jika tidak masuk sekolah.

Mengapa sekolah menjadi begitu menyenangkan di sini?

Yang saya tahu, jika otak senang dengan apa yang dilakukan, tantangan tidak akan terasa menjadi tekanan. Otak bisa mencapai puncak-nya saat ia berada dalam kondisi senang.

Lantas bagaimana dengan mereka yang bersekolah (kuliah) dan bekerja di sini? Apa kesenangan hanya milik anak-anak?

Tangan yang Menari dan VIM

VIM adalah text editor yang melegenda. Sulit menjelaskan kehebatan VIM kepada mereka yang tak pernah menggunakannya. Dengan VIM, jari bisa menari begitu indah. Dan untuk menari menggunakan VIM diperlukan latihan yang tak sebentar.

Find and replace all seluruh baris bisa digantikan dengan shortcut. Baris pun bisa dipilih dengan cara diblok tanpa harus menggunakan mouse.

Bagi sebagian orang, menggunakan VIM itu seperti kuno. Untuk apa menghafalkan shortcut? Eh di awal memang perlu dihafal tapi lama kelamaan nanti akan terbiasa sendiri.

Jadi semuanya memang perlu latihan…