Enaknya Tanpa Pembantu

Jika di beberapa tulisan yang lalu, saya cenderung mengeluh hidup tanpa pembantu, kali ini saya mencoba mengangkat sisi lain dari tanpa pembantu. Sisi enaknya.

Pagi ini saya terbangun pukul 4 pagi. Lalu mulai beraktivitas. Sebelum mandi, saya sempatkan mengirim email kerjaan. Saya tetap berangkat pukul 6 pagi, karena pukul 9 pagi sudah ada janji rapat. Errr… belakangan rapat baru mulai pukul 10, masuk ruangan rapat pukul 9.30

Memulai aktivitas di pagi hari itu menyegarkan. Hening, tenang. Banyak hal bisa diselesaikan. Yak, jadi sisi positif tidak ada pembantu adalah bisa (atau terpaksa?) beraktivitas dari pagi hari.

Kedua, kebebasan. Tak ada pembantu, berarti tak ada orang lain di rumah. Kita bebas melakukan apa saja. Mau pakai celana pendek, bebas. Tak perlu sungkan. Mau gegitaran di rumah sambil ongkang-ongkang kaki, bebas. Mau berbicara hal privat dengan istri? Tak perlu malu. Mau bercanda heboh dengan anak? Tak perlu sungkan.

Ketiga, tak perlu repot. Repot dalam artian menyiapkan makan, menyiapkan ruangan (kamar pembantu), dan lain-lain. Tak perlu juga digosipin tetangga karena pembantu kita misalnya genit dengan petugas keamanan. Hihihi…

Keempat, apa lagi ya? Masih tak perlu repot sih. Barusan ada teman yang cerita anaknya sakit karena tertular penyakit dari pembantunya.

Kelima, kalau makan di luar tak perlu nraktir pembantu. Hehehe…

Hayo dong, mulai belajar mencintai rumput sendiri. Jadi peribahasa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau kita ganti dengan menghijaukan rumput sendiri.

Mulai Rapat

Di undangan tertulis rapat mulai pukul 9.30 Lalu kapan rapat akan dimulai? Pukul 10.

Hihi.

“Sudah menunggu berapa lama tadi mas?”
“Ya, 3 menit lah”

Bagi saya, saat menerima undangan rapat pukul 9.30 berarti pukul 9.30 rapat dimulai. Dan berarti jika saya akan menyampaikan materi presentasi, sebelum pukul 9.30 saya sudah harus menyiapkan laptop, menyiapkan proyektor, dst. Bukan baru pukul 9.30 saya baru masuk ruangan.

:)

Sayangnya konsep ini belum umum. Belum lagi jika rapat harus menunggu pimpinan (yang terlambat). Rapat alamat akan semakin ngaret lagi.

Jadilah sebelum menunggu rapat dimulai sempat diwarnai diskusi singkat antara orang Indonesia yang pernah tinggal di Jepang dan di Rusia. Di kedua negara ini, jika datang terlalu awal juga dianggap tak sopan/tak baik. Mengapa? Karena bisa jadi sang tuan rumah belum siap. Toleransi waktu idealnya berkisar antara 5-10 menit.

Waktu yang dipecah-pecah menjadi detik/menit/jam/hari bulan ini kan produk budaya. Jadi ya, wajar saja jika terjadi perbedaan interpretasi. Indonesia kan negara tropis :) eh tapi bagaimana dengan di Singapura?

Sibuk dan Waktu yang Hilang

Saat kuliah dulu, waktu luang tersedia banyak. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain kuliah. Memang, uang seadanya saja. Saat kerja, uang bisa jadi lebih banyak namun tidak dengan waktu luang.

Saya ingin bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak/istri/keluarga/teman. Namun, barangkali itu hanya angan.

Pemimpin yang Menggerakkan

Pemilu legislatif usai digelar. Hitung cepat sudah memprediksi perolehan suara partai. Lantas, apakah perubahan di depan mata?

Seiring berjalannya waktu, saya semakin tersadar bahwa perubahan takkan bisa dilakukan dalam sekejap. Berganti pemimpin hari ini, bukan berarti esok hari tiba-tiba semua akan langsung berubah. Barangkali hanya di dalam film.

Pemimpin di zaman sekarang bagi saya yang penting adalah pemimpin yang mampu menggerakkan. Bukan pemimpin yang bergaya memberikan perintah. Saya melihat Ridwan Kamil termasuk pemimpin yang mampu menggerakkan warga Bandung untuk memperbaiki kota Bandung.

Atau ini barangkali karena faktor perbedaan generasi antara saya dengan Ridwan Kamil yang tak terlalu jauh?

Bandingkan dengan Prabowo atau Jokowi.

Mengapa Terlambat

Pagi ini saya ada agenda rapat di pagi hari. Pukul 9.30. Seperti biasa saya berangkat pagi, dengan harapan bisa tiba di lokasi minimal 30 menit sebelumnya. Ternyata bisa sampai 60 menit sebelumnya :)

Mendadak pukul 8 pagi ada SMS masuk. Sang pengirim meminta rapat ditunda pukul 14. Ia mengatakan ada agenda lain di pagi hari ini. Yaay! You should have told me earlier. Begitu ungkap saya via telepon.

Pendek cerita, rapat tak jadi ditunda pukul 14. Tetap akan dimulai 9.30 Walau lalu ia mengabari akan terlambat. Rapat pun seperti biasa, berjalan singkat dan padat. Cukup 20 menit saja.

Ada apa dengan terlambat? Dan mengapa orang Jepang memiliki pandangan yang berbeda dengan terlambat?

Apabila kita (orang Indonesia) terlambat, maka yang muncul di pikiran lawan bicara adalah, “Hadeuh, ini orang ngeselin banget. Kok terlambat sih. Bangun kesiangan deh pasti. Tahu gini gue berangkat siang deh”.

Lain dengan orang Jepang. “Wah kenapa terlambat? Jangan-jangan dia mengalami kecelakaan di jalan raya atau ada masalah dengan kendaraaan pribadi, atau kereta sedang bermasalah”.

Jadi pola pikir orang Jepang saat lawan bicaranya terlambat adalah was-was sementara orang Indonesia mencari kesalahan. Saya jadi teringat buku (saya lupa penulisnya) yang mengungkapkan 10 sifat buruk orang Indonesia. Salah satunya adalah tidak suka melihat orang lain senang/sukses/berhasil.

Pemilu Legislatif 9 April 2014

Akhirnya hari pemilu legislatif tiba juga. Dari pengamatan sederhana saya, semakin banyak orang yang apatis dengan politik. Teman-teman kantor, teman kuliah, tetangga, dan saudara. Apatis, tepat tidak ya istilahnya? Yang jelas mereka tidak bersemangat memberikan hak suara-nya besok.

Saya sendiri belum menentukan pilihan hingga detik ini. Saya belum tahu siapa yang akan saya coblos besok. Baik itu DPR, DPRD, dan DPD. Apakah saya termasuk yang apatis juga?

Pemilu merupakan hajat besar negara. Begitu banyak waktu/tenaga/pikiran/uang yang dikeluarkan untuk acara ini. Hasilnya? Silakan ukur sendiri. Pemilu merupakan acara yang diperlukan untuk melegitimasi kekuasaan politik. Yang jelas, negara telah mengeluarkan banyak uang untuk Pemilu ini. Dan uang negara tentu adalah uang warga negara (yang bisa jadi berasal dari pajak yang kita bayarkan).

Saat kuliah dulu, saya sadar bahwa perubahan terjadi di ranah politik, bukan di ranah teknis. Lantas mengapa saya dulu kuliah di kampus ‘teknologi’? :-)

Kata-kata yang saya tulis di atas, mungkin terkesan kasar bagi budaya timur. Konteksnya tepat tidak ya jika saya tuliskan di sini? Pendek kata: tak usah banyak bicara dan habiskan uangmu sesuai dengan pilihan (hidup) mu.

Selamat memilih! Termasuk memilih untuk tak memilih.

LEGO

Saya suka LEGO tapi saat saya kecil dulu, seingat saya, saya tak punya LEGO. Mahal harganya :( Yang saya ingat, saya punya LEGO kecil, sebuah mobil balap dengan warna kuning-hitam. Diberikan saat saya SD, oleh teman saya.

Di Indonesia belum ada LEGO Land layaknya di Malaysia tapi sekarang LEGO sudah membuka toko-nya sendiri di Jakarta. Persisnya di Cilandak Town Square (Citos). Wah tulisan ini kok berbau iklan ya jadinya?

Pendek cerita, saya ingin mengatakan bahwa LEGO (dan mainan balok-balok lainnya) memberikan stimulus positif ke anak-anak untuk berbuat kreatif. Ia bisa berbuat apa saja. Menyusun memanfaatkan kepingan-kepingan yang ada.

Nanti saat Zaidan sudah agak besar, saya ingin beli LEGO yang bukan lagi Duplo. Duplo adalah LEGO yang didesain besar-besar sehingga lebih mudah dimainkan. Sekalian saya nanti bisa ikut main LEGO juga. #eeaa