Tugas Menulis Esai

Kemarin, istri saya baru saja menyelesaikan tugas esai. Saya jadi ingin menulis soal esai kali ini. Saat ini saya sedang di dalam kereta menuju kota.

Saat sekolah, saya ingat-ingat, lebih banyak tugas atau ujian diberikan dalam bentuk pilihan ganda atau isi titik-titik berikut. Mengarang? Menulis esai? Rasanya hanya ada di dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Mengapa tak banyak tugas menulis? Pertama, memeriksa tugas menulis akan lebih sulit dan lebih lama dibandingka pilihan ganda atau titik-titik. Kedua, … Eh itu sudah dua. Lebih sulit karena parameter penilaian akan lebih kompleks.

Menulis saja sudah sulit, apalagi menulis yang memenuhi kaidah ilmiah akademik.

Handwriting

It was another day we went to Clayton library. Zaidan was getting more familiar with this place. Now he can run from one aisle to another by himself.

I found a graphic novel shelf. And I found one interesting book. And… I didn’t borrow it.

The book is about writing. And also handwriting. I randomly opened one page. This page is about doodle.

This page showed how we no longer draw after we graduated from school. But some people still draw at the corner of their page. Something simple. Like ornaments or even flowers.

Nowadays, with tablets and smartphones are everywhere, it’s about time to rethink about handwriting.

Comfort Zone

There’s no growth in comfort zone.

And with these language and culture barriers. Not to mention the weather.

And the only way to finish is to start it…

Mainan Anak-anak

Salah satu acara anak-anak yang paling saya suka adalah Mister Maker. Mister Maker mampu membuat mainan-mainan sederhana dari barang-barang yang bisa ditemukan di rumah. Setelah saya baca-baca, ternyata mainan yang bagus buat anak tidak harus mahal melainkan mainan yang mampu memicu kreativitas anak.

Saya pun mencoba membuat mainan sambil mengisi waktu bersama Zaidan. Langkah pertama adalah mengumpulkan bahan baku. Kardus bekas tempat telur, kertas bekas, kertas warna-warni, gambar-gambar, botol bekas jus, botol bekas adonan pancake, stiker, topeng, dst, dst. Memang seni-nya adalah membuat sesuatu memanfaatkan segala keterbatasan sumber daya yang ada.

Eh tapi kok jarak antara kreativitas dengan berantakan jadi tipis ya? ;-) Hehehe… gpp lah rumah berantakan sejenak, yang penting pikiran tidak boleh berantakan dan tetap kreatif.

Korupsi di Asia Tenggara

Sore ini, tanpa sengaja saya bertemu seorang perempuan asal Thailand. Kami bercakap-cakap sejenak di toko buku kampus Monash, Clayton.

Ia lebih dulu membuka percakapan, “Dari Indonesia? Kuliah di sini?”. Lalu saya jelaskan posisi saya.

Perempuan ini kuliah di Monash, 20 tahun lalu. Suaminya meneliti budaya Jawa. Belakangan ia membuka pembicaraan ke arah politik. Presiden baru Indonesia.

Lantas di akhir ia berucap, “It’s hard to fight corruption in southeast Asia. It’s also difficult in Thailand. Thaksin Sinawatra.”.

Mengapa ya? Ada yang bisa memberi saya pencerahan?

Kembali Bersepeda

Entah sudah lama berapa saya tidak bersepeda. Yang saya ingat, saya rutin bersepeda waktu SMP. Saat itu sekolah saya tidak jauh dari rumah. Dan perjalanan menuju ke sekolah, bisa tidak lewat jalan besar. Setelah itu saya tidak lagi rutin bersepeda.

Kini, saya kembali bersepeda. Infrastruktur jalan dan kondisi lingkungan, membuat bersepeda begitu kondusif.

Satu hal yang perlu diingat, sepeda didesain hanya untuk memindahkan satu orang. Jadi jika membawa barang belanja, diletakkan di dalam plastik kresek, lalu ditaruh di stang sepeda, hal ini akan mengganggu manuver sepeda.