Ke Rusia

Rusia akan menjadi tuan rumah sepak bola dunia (World Cup) pada tahun 2018. Sementara Tokyo akan menjadi tuan rumah olimpiade tahun 2020.

Saya jadi mempertimbangkan untuk pergi ke Rusia. Wah, random banget saya ya ini. Saya ingin melihat Istana Kremlin. Saya ingin pergi dengan kereta cepat dari Moscow ke St. Petersburg. Saya ingin melihat bagaimana para artis (seniman) di kota St. Petersburg.

kremlin

Semoga suatu hari ada kesempatan ke sana. Barangkali sekalian nonton world cup. Lalu ke Tokyo dan melihat Usain Bolt beraksi.

Menonton Logan

Alkisah, saya sedang berjalan secara acak di tempat baru. Lalu kaki saya melangkah ke bioskop. Wah, kesempatan menonton bioskop di tempat baru nih! Setibanya di bioskop, ternyata waktu film yang paling dekat adalah Logan.

Sebenarnya, saya mau saja langsung membeli tiket, namun saya sempatkan untuk melihat skor di imdb dan rotten tomatoes. Tak saya sangka, kedua situs ini memberikan nilai bagus.

Jadilah saya beli tiket untuk menonton film ini.

Tak saya sangka, film ini mengisahkan kekerasan di mana-mana. Aaaah…. Kalau ada istri saya, sudah pasti akan saya pegang dan genggam tangannya. Saya jadi menutup mata saya dengan jari saya saat adegan kekerasan dimulai. Saya tak tahu kalau penonton di sebelah saya tertawa melihat saya menutup mata sekali-kali.

Tak salah film ini diberi rekomendasi umur 18 tahun ke atas.

Secara jalan cerita, film ini mampu menyajikan plot yang menarik. Wolverine yang sudah mulai tua sehingga mulai kehilangan kemampuan menyembuhkan diri. Charles Xavier yang dikisahkan sakit Alzheimer.

Adegan yang paling saya suka adalah saat Laura keluar dari rumah. Mendadak terdengar suara tembakan lalu teriakan. Lalu dengan tenang Laura berjalan dari rumah, dengan membawa benda, yang ternyata adalah sebuah .

Keajaiban Bahasa

Salah satu keajaiban yang dilahirkan oleh manusia adalah bahasa. Wah, semakin banyak tahu bahasa, jadi semakin kagum deh.

Jika dulu, saya hanya mengenal beberapa bahasa daerah; misal Jawa, Sunda, kini saya jadi tahu bahasa Rusia, Cina, Korea, Jepang. Mulai dari aksara yang berbeda hingga pengucapan yang ajaib.

Hari ini saya jadi tahu dua lelucon soal bahasa Rusia. Pertama pengucapan yang begitu rumit: zashchishchayushchiysya yang artinya: membela diri.

Lalu kedua soal tulisan sambung yang ajaib.

Dan saya baru tersadar sekarang. Peradaban Arab memberi sumbangsih yang begitu besar yaitu membuat angka dari 1 hingga 10. Dan ini digunakan hampir di seluruh dunia.

Mencuci Mobil

Pagi ini saya mencuci mobil. OK, lebih tepatnya, saya membawa mobil untuk dicuci di tempat pencucian mobil. Ternyata mencuci mobil itu bukan hal sederhana dan bisa cepat begitu saja. Tanpa mengantre, mobil baru beres kurang lebih satu jam.

Saat hidup di down under dulu, saya tak pernah mengurusi mobil. Kami hidup selama 2 tahun tanpa mobil. Saya ingat, cuci mobil otomatis itu sekitar $30 dan jika cuci dengan tangan manusia bisa mencapai $80. Wow.

Sementara cuci tangan di sini hanya Rp 30 ribu atau hanya $3. Satu kali tarif zona 2 myki.

Sebenarnya saya masih suka mencuci mobil sendiri sekali-kali. Namun karena saya tidak memiliki penyedot debu (vacuum cleaner), jadi saya putuskan untuk membawa ke tempat cuci. Saya pernah berpikiran untuk memiliki sendiri penyedot debu sehingga saya bisa cuci mobil sendiri, namun saya urungkan niat ini. Saya malas menyimpan mesin penyedot debu sendiri di rumah. Hehehe.

Susahnya Mencari Parkir

Setelah 2 tahun hidup tanpa mobil, sekarang saya kembali merasakan susahnya mencari parkir mobil. Hah.

Awalnya saya berencana parkir mobil di sekitaran Ganesha, lalu saya akan mengajak anak saya berjalan kaki melewati Plesiran lalu melihat Teras Cihampelas. Saya ingin anak saya melihat pemandangan yang tak bisa dilihat kalau tidak berjalan kaki dengan melintasi Jl. Plesiran ini.

Karena saya tak suka dengan mobil yang parkir di pinggir bahu jalan, saya mengusulkan istri saya untuk coba parkir di RS. Borromeus. Sebelumnya kami sudah mencoba ke basement Masjid Salman, dan penuh. Ternyata gedung parkir atau apapun namanya di RS. Borromeus ini bagaikan maze sempit. Rasanya tidak didesain dengan apik. Mobil pun banyak sekali.

Akhirnya kami harus parkir di tempat makan 180. Ini pun menggunakan jasa valet. Kalau tidak, bisa-bisa disela-sela makan saya harus keluar/masuk untuk menggeser mobil. Satu-dua mobil yang parkir di tempat makan ini pun sebenarnya menggunakan trotoar untuk parkir. Saya tidak suka ini, karena trotoar adalah hak asasi pejalan kaki.

Lantas bagaimana mengurai benang kusut ini?

Jumlah penduduk terlalu banyak. Jumlah kendaraan bermotor terlalu banyak sementara angkot tak bisa diandalkan.

Bagaimana caranya membuat orang bisa parkir mobil di pinggiran kota lalu ke pusat kota orang bisa berjalan kaki?

Komitmen Waktu

Seorang teman saya memberikan tautan di ask hackernews. Tentang, bagaimana meningkatkan kemampuan diri, dalam hal ini programmer/developer yang memiliki anak.

Saya kutip salah satu jawaban yang menurut saya menarik:

Just to note, I’m 23 and have no kids.

I’ve heard comments like this in every possible form before—“Once you get out of college and get a job, you won’t have time to…”, “Once you’re at a startup, you won’t have time to…”, “Once you start volunteering after work, you won’t have time for…”.

It’s nonsense, you make time for what you think is important. I wake up at 5:30 am to train Brazilian Jiu-Jitsu, I read when I’m commuting, I work hard at my startup, I teach a few nights a week. I plan things out ahead of time and stick to my plans. I don’t have kids, but when I do I’ll adjust my schedule to make sure I can keep doing what I think is important (kids Jiu-Jitsu starts at 5 years old).

I never found the argument that you won’t have time to be very compelling. People who complain about not having time seem to usually be the person who is caught up on every tv show and wake up at 9 to get to work at 9:30.

I think the easiest way to build these habits is to make a plan and stick to it. You want to go to the gym? Get up before work and go. Period. If you aren’t getting up 40 minutes early to exercise, you’re not busy, you’re lazy. Being a good parent definitely takes up a chunk of time, but you can always find time.

Jadi, sebenarnya punya anak atau tidak, itu bukan masalah besar. Yang penting adalah komitmen terhadap jadwal yang sudah disusun. Nah, ini lebih berat.

Misal, saya memiliki jadwal jogging setiap hari Rabu pagi. Pada praktiknya, baru sekali terlaksana. Kalau sepeda-an sih relatif masih konsisten. Selain saat pergi ke rumah orang tua, saya naik sepeda untuk pergi yang dekat-dekat dari rumah. Misal beli pisang.

Berkeringat Saat Naik Sepeda

Bagi pesepeda, salah satu hal yang sulit adalah menemukan kamar mandi. Asap kendaraan bermotor, terjangan sepeda motor, cipratan air, barangkali semuanya masih bisa diatasi. Tapi yang sulit adalah keringat.

Apalagi jika usai bersepeda, dituntut tampil bersih, wangi (atau minimal tak bau keringat lah), naik sepeda jadi susah.

Saya sendiri kalau naik sepeda, bisa mandi 2 kali sehari. Saat tiba di tempat tujuan, dan saat pulang sampai rumah. Walau dengan bersepeda, saya akui, badan jadi lebih segar, dan tidur bisa lebih nyenyak.

Saat di down under dulu, tak terlalu berkeringat bahkan di musim panas sekalipun karena cuaca yang kering. Tak selembab di Jakarta.