Bukan Selalu Soal Uang

Apakah kamu siap jadi istri, koh-koh tukang sembako?
Apakah kamu siap klo diminta bantuin jaga toko?
Apakah kamu siap klo harus resign, dan bantuin aku jaga toko pakai daster?

Iya, aku siap

Hari Selasa kemarin, kami nonton film Cek Toko Sebelah. Sebenarnya saya gak terlalu memantau film lokal, tapi karena resensi Kompas Minggu mengatakan film ini cukup menarik, akhirnya saya putuskan untuk mencoba menonton dan mengapresiasi-nya.

Dialog di atas adalah salah satu dialog yang saya ingat. Pacar Erwin (eh siapa namanya? Saya lupa) akhirnya menjawab ia siap menerima Erwin, jika Erwin harus menjaga toko. Awalnya pacar Erwin tak mau Erwin memilih menjaga toko alih-alih promosi ke Singapura.

Ya pacarnya Erwin, tipe wanita karier kantoran banget lah ya.

Pacar Erwin bisa menerima pilihan Erwin setelah konsultasi dengan Ayu, istri kakak Erwin. Ayu menjelaskan bahwa pacar Erwin harus bisa menerima keputusan Erwin untuk menjaga toko. Keputusan untuk membahagiakan Koh Afuk, bapak Erwin. Ayu mengingatkan pacar Erwin bahwa Erwin kehilangan kesempatan membahagiakan ibu-nya hingga ia meninggal.

Saya melihat, di sini lah perbedaan nilai-nilai seorang manusia. Manusia Indonesia itu cenderung lebih kompleks dibanding barat. Tak semua bisa diukur! Entah itu jabatan, uang, dst.

Yang menjadi kebahagiaan orang Indonesia itu relatif kompleks, dan orang Indonesia cenderung lebih bahagia biar bagaimanapun kondisinya.

Ya walau di akhir cerita, Erwin jadinya ke Singapura sih. Kehidupan di Singapura rasanya sih cocok untuk profil pasangan seperti Erwin setelah saya baca di Quora bahwa untuk hidup mapan di Singapura perlu pasangan suami-istri bekerja.

Dua jempol untuk film Cek Toko sebelah, dan tentu alunan musik yang menemani film dari GAC dan The Overtunes!

Susahnya Memulai di Hari Senin

Selamat datang Senin! Duh, kok rasanya susah sekali memulai hari di hari Senin. Terlebih jika di akhir pekan kemarin, benar-benar keluar dari rutinitas. Keluar dari rumah, menginap 2 malam.

Kembali di rumah, Minggu malam. Senin pagi bangun agak siang. Lalu sekarang lupa deh. Harus apa dulu. Harus mengerjakan apa dulu.

Mau-nya sih sepeda-an dulu sejenak. Memanaskan otak. Hehehe…. Yuk-yuk, kembali singsingkan lengan baju. Apa iya sih bekerja tidak menyenangkan.

30 Menit yang Terasa Jauh

Saat tinggal di pinggiran kota Melbourne dulu, 30 menit terasa lama. Membutuhkan waktu lebih dari 30 menit bagi kami untuk pergi ke kota. Namun untuk pergi ke IKEA, cukup 10 menit dengan bersepeda.

Saat kembali ke Jakarta, 30 menit berarti baru sampai Ragunan atau TB. Simatupang. Ini pun klo jalanan lancar. Jika di jam sibuk seperti saat pagi hari di hari kerja, bisa 60 menit hingga 90 menit untuk sampai Ragunan atau TB. Simatupang.

Konsep waktu 30 menit pun menjadi bergeser. Kalau dulu 30 menit terasa jauh, sekarang 30 menit baru dianggap awal dari perjalanan.

Duh, jadi kapan tinggal di Taman Suropati, nih 😀

Bersepeda ke Citos

Afternoon bike ride 🚲 with kids 😅

Hari Sabtu kemarin, saya bersepeda ke Citos. Malamnya, saya menyiapkan tas perlengkapan berenang. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, saya sudah siap melaju dengan sepeda. Yippe! Saya memang pesepeda pagi-hari akhir-pekan.

Jalanan di hari Sabtu pagi relatif lebih kosong dibanding di hari kerja. Inilah salah satu menyiasati bersepeda di Jakarta.

Bersepeda memang menyenangkan, namun ternyata saya merasa bersepeda belum cukup. Akhirnya saya kembali ke olahraga favorit saya: berenang.

Berenang pagi hari di Citos pun menyenangkan. Kolam renang masih relatif sepi, tak ada yang berenang melintang sehingga saya bisa berenang memanjang dengan tenang. Profil perenang di pagi hari ini lebih serius dibanding perenang yang datang siang. Mereka berenang dengan kaki katak dan tangan kodok.

Catatan Perjalanan Yogyakarta #3

Bertemu Keluarga Besar

Time indeed flies

Tanpa rencana jauh-jauh hari, pada hari pertama tahun 2017, kami berkumpul keluarga besar. Sungguh menyenangkan bertemu dengan sepupu-sepupu, om/tante, bude/pakde, keponakan setelah lama sekali tak bertemu. Saat masih ada si mbah dulu, kami setiap tahun selalu pulang. Namun setelah si mbah tak ada, rutinitas itu tak lagi ada.

Rasanya sudah lewat dari 50%, anggota keluarga yang berkumpul. Ini tentu pencapaian besar, mengingat keluarga besar kami cukup besar dan tersebar di mana-mana.

Kami berkumpul di Kali Boyong, arah utara Yogyakarta. Anak-anak kecil disediakan wahana permainan sehingga mereka tak bosan dan yang ada justru lupa waktu: sibuk bermain. Saya pun melepas rindu dengan sepupu-sepupu yang merupakan teman main saat kami kecil dulu. Kami bertukar kabar.

Catatan Perjalanan Yogyakarta #2

Kemajuan di Malioboro.

Satu jawaban di Quora yang menarik bagi saya adalah tentang hidup di negara berkembang. Saat hidup di negara berkembang, kemajuan begitu terasa. Tidak seperti negara maju yang sudah cenderung stabil dan stagnan.

Dan itulah yang saya rasakan saat menginjakkan kaki kembali di Malioboro setelah lebih dari 7 tahun meninggalkannya.

Trotoar di sebelah kiri sudah ditambah. Tak ada lagi parkiran kendaraan bermotor di sisi kiri jalan (atau jika menggunakan mata angin maka di sebelah timur). Lalu, saya lihat ada satu kran air siap minum. Warga bisa langsung melepas dahaga jika kehausan.

Saat malam tahun baru, saya dan keponakan mencoba mencari tahu suasana tahun baru di Malioboro. Wah, hal ini makin meyakinkan saya bahwa sudah terlalu banyak penduduk di Pulau Jawa. Bahkan untuk jalan kaki saja macet. Ini sudah tak ada kendaraan bermotor lho.

Catatan Perjalanan Surakarta #4

Sekarang saya lebih memahami memang Pulau Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Kota Surakarta memang tak sebesar Kota Jakarta namun bukan berarti tidak padat. Memang masih lebih lengang sih dibanding Jakarta.

Semalam saya memesan mie godok. Saya perlu menunggu kurang lebih 15 menit hingga pesanan saya siap. Sebelum saya sudah banyak yang menunggu.

Selain di Pulau Jawa jumlah penduduk yang begitu banyak, saya melihat satu perbedaan lagi dibanding down under adalah saya dapat dengan mudah membeli makanan. Begitu beragam makanan tersedia di sini. Mulai dari soto, bakmi, sate, gudeg, macam-macam nasi, dst. Belum lagi starling: starbucks keliling.