Scuba Diving

Salah satu mimpi saya adalah menyelam di laut. Mimpi ini sudah terwujud saat saya mengunjungi Bali beberapa tahun silam.

Entah dari mana, tiba-tiba tercipta obrolan sesama bapak-bapak yang mengantar anak laki-lakinya berenang. Belakangan saya jadi tahu ia suka snorkelling!

Kya!!! Ia menunjukkan pemandangan snorkelling di Melbourne. Haduuuh jadi mupeng saya:)

Mengerjakan Tugas Kuliah

Salah satu yang sulit dari kuliah adalah mengerjakan tugas. Kalau kuliahnya sih enak, tinggal datang, duduk manis, lalu pulang. Eh, sebelum kuliah tidak perlu baca buku? Saat kuliah tidak perlu kritis? Nah lho!

Lalu apa sih yang dicari dari kuliah? Apakah hanya selembar kertas ijazah? Atau pengalamannya?

Di zaman dunia datar seperti sekarang ini, materi kuliah hampir bisa didapatkan dari mana saja. Saya baru saja memberi tanda materi kuliah keamanan dari Universitas Stanford. Saat mulai membaca bahan bacaan dan tugasnya, wah … menantang juga :B

//platform.twitter.com/widgets.js

Semakin Jarang Menulis

Hidup yang tak menarik tak layak dibagi. Haduh, saya sudah semakin jarang menulis. Menulis menjadi kegiatan yang jarang saya lakukan.

Mengapa oh mengapa? Kesibukan di dunia nyata. Lah memang menulis bukan dunia nyata?

Saya masih kurang kerja keras sebenarnya. Masih lebih sering gogoleran tiduran di kasur alih-alih bangun pagi atau tidur lebih larut.

Lain-lain: kesibukan di dunia nyata baik-baik saja. Zaidan sudah mulai kembali sekolah. Sabtu lalu ia kembali ikut latihan skateboard. Hari Senin saya menyempatkan ikut apel di sekolah.

Menonton Zootopia

Alkisah, saya ingin menyaksikan Batman vs Superman, namun apa daya, yang saya tonton adalah Zootopia :B

Here we go: Zootopia.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Akhir pekan lalu, kami pergi menonton di bioskop. Saya dan kiddo menonton Zootopia, sementara mamah menonton Kung Fu Panda 3. Sebelum menonton, saya lihat rating Zootopia di imdb lebih tinggi daripada Kung Fu Panda 3. Film sekuel memang biasanya tidak sebagus film perdana.

Zootopia bagi saya menarik. Kehidupan di country side vs kehidupan di metropolitan. Setelah hampir 2 tahun tinggal di down under, sedikit banyak saya menjadi lebih mengerti perbedaan hidup di kota besar dengan hidup di country side.

Dan ini kan film barat, jadi konteksnya tidak terlalu jauh berbeda.

Tema Zootopia adalah mencoba segalanya. Kelinci pun tak salah jika ingin menjadi polisi, jadi tak melulu harus bercocok tanam wortel, profesi yang telah digeluti seluruh keluarga Jody Hobson.

Lebih Lelah dari Kerja Kantor

Tahu kah Anda pekerjaan yang lebih lelah daripada kerja di kantor (atau kerja apapun asal dilakukan di luar rumah)? Adalah pekerjaan rumah tangga! Lebih khusus adalah menghabiskan waktu bersama anak.

Oleh karena itu, sekali lagi saya ingin mengacungkan jempol untuk ibu-ibu (ataupun bapak-bapak) yang memilih menjadi Ibu rumah tangga penuh waktu daripada bekerja di kantor-an. Kali ini saya tak mau membuka diskusi dulu ibu rumah tangga penuh waktu vs wanita karier.

Alkisah, dua minggu ini merupakan libur term pertama sekolah. Entah mengapa, saya merasa lelah sekali di seminggu terakhir. Terkadang kalau sudah lelah sekali, saya suka emosi juga. Merasa lelah, dan lelah dan lelah.

Jika di libur minggu pertama, kami bermain skateboard, tak banyak kami lakukan di minggu kedua. Hanya di depan rumah, seingat saya. Di minggu pertama Zaidan mencoba pelajaran skateboard pertama di city.

Skate lesson with D.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Masih di minggu pertama, kami menghadiri kinder catch up di Namatjira park. Saya dan Zaidan menjadi boys only. Yang lain yang datang adalah ibu-ibu dan putri-putri.

Di minggu kedua, berarti kami tak banyak keluar rumah jauh-jauh. Hanya di dekat rumah: perpustakaan dan Clayton.

Oh di hari Minggu kami naik sepeda ke kampus mamah. Sayang sudah sore, sehingga tidak bisa lama-lama. Paginya, saya ajak Zaidan menjajaki jalur sepeda sepanjang Huntingdale – Clayton. Total ada 5 km kurang lebih.

Kuat juga dia!

Playing around.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Hari ini, kami pergi ke story time. Kami naik sepeda ke Clayton. Saat saya melihat Zaidan menyimak story time, saya melihat ia sudah banyak berubah. Berbeda dengan saat ia datang untuk story time pertama.

Tetiba saya sedikit terharu saat storyteller menyampaikan “Read a book to your child, and one day you will be surprised when your child reads a book for you.”:-)

Sebenarnya, yang saya butuhkan itu hanya waktu sendiri saja. Waktu sendiri untuk istirahat. Untuk bekerja. Untuk melakukan hal-hal tanpa ada gangguan dari orang lain. Tak banyak.

Whuah, lelah, tapi sebenarnya saya harus bersyukur bisa menghabiskan waktu banyak bersama Zaidan.

Mengetahui Apa yang Ditonton Anak

Dengan kondisi saya sekarang ini, memungkinkan saya menghabiskan waktu banyak bersama anak. Sesekali saya menyempatkan menonton apa yang anak saya tonton. Tujuannya agar saya tahu apa yang ia tonton dan membangun kedekatan .

Menyelami dunia anak itu sebenarnya menyenangkan. Bagaimana ia berimajinasi dari apa yang ia tonton. Kalau soal tonton-menonton, saya tidak strict, melarang, namun hanya membatasi saja. Misal dalam sehari maksimal 1 jam. Tapi suka terjadi pengecualian saat saya harus melakukan sesuatu tanpa gangguan: menonton menjadi solusi singkat dan cepat.

Batman sedang suka ditonton belakangan ini oleh Zaidan. Bahkan ia langsung mengenakan baju Batman padahal ini baru dicuci.

Kemarin saya membuatkan cape Batman untuk LEGO. Ini ceritanya, Zaidan punya LEGO Batman tapi dalam bentuk hiasan magnet sehingga tidak bisa dicopot-copot. LEGO lainnya, bukan LEGO Batman. Jadilah saya mencetak cape (sayap) Batman.

DIY: Do It Yourself😀

Sepatu Baru

Setelah sekian lama, akhirnya saya membeli sepatu baru. Sepatu kets yang saya gunakan terakhir ini, saya beli saat saya mau pergi ke Palembang untuk acara IDSECCONF. Wah tahun berapa itu? 2011? 2012?

Sudah 3-4 tahun berati.

Nah, dari pengalaman saya selama ini, baru kemarin saat membeli sepatu kaki saya diukur. Pendekatan umum yang biasa saya lakukan selama ini saat membeli sepatu adalah mencari dulu modelnya, lalu pilih ukurannya, dan coba.

Berbeda dengan kemarin. Kaki saya diukur. Keduanya, kanan dan kiri (barangkali ada perbedaan ukuran). Lalu saya diminta berdiri di suatu alat pengukur kaki. Kalibrasi sebentar… lalu saya diminta melangkah beberapa langkah dan direkam kamera.

Terlihat bagaimana saya berjalan. Lengkungan telapak kaki, lengkungan tulang kaki, hingga tekanan saat saya melangkah.

Tak lama, petugas toko keluar membawa tiga boks sepatu dengan ukuran yang kurang lebih sama. Lalu ia menjelaskan bagaimana perbedaan ketiga tipe sepatu lari ini. Mulai dari Asics, Mizuno sampai Saykoji eh Sauconi. Kalau yang Asics yang begini sol-nya, kalau Mizuno merk Jepang firmer, hingga Sauconi.

Duh, saya harus membedakan ketiga rasa sepatu ini. Repot kan. Perbedaannya tipis-tipis begini. Apalagi saya termasuk lama mengambil keputusan saat memilih sesuatu.

Saat saya tanya harganya, ketiganya kurang lebih sama. Jadi tak ada pertimbangan harga, yang ada tinggal preferensi model dan kecocokan.

Wah, kemarin menjadi pengalaman baru dalam membeli sepatu.