Sakit Batuk Pilek

Beberapa minggu yang lalu saya tiba-tiba sakit batuk pilek. Beberapa hari sebelumnya Zaidan yang sakit. Haduh, sakit. Padahal beberapa hari esoknya saya akan bepergian.

Masih sama seperti dulu, saat sakit, saya berusaha untuk tidak minum obat. Jadilah saya beli madu, minum teh, buah, makanan yang banyak, lalu istirahat yang banyak.

Dengan tidak minum obat, saya tahu, saya akan butuh waktu pemulihan yang lebih lama dibanding saat saya minum obat. Teman saya lalu mengulang hal ini. Ia mengatakan bahkan waktu pemulihan bisa mencapai 2 minggu.

Dan akhirnya, saya pun bepergian dalam kondisi yang belum fit 100%. Ditambah lagi dengan tragedi paspor yang kembali berulang. Saya jadi tambah capek pikiran. Untungnya berkat pelayanan konsulat jenderal yang prima, saya jadi bisa berangkat esok hari-nya.

Perjalanan yang tertunda. Terima kasih konjen untuk pelayanan yang prima!

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Pendek cerita, sekarang saya sudah kembali ke down under. Masih sedikit batuk/pilek, tapi semoga sudah semakin baikan.

Sekarang saya menimbang-nimbang untuk ikut kursus renang. Gimana menurut kamu?

Perbedaan Generasi

Dalam perjalanan kemarin, saya sempatkan membaca buku yang sudah lama saya beli, “Are you smart enough to work at Google?”.

Pencakar pantai.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Microsoft berdiri satu dekade sebelum Google. Kondisi bidang ilmu rekayasa perangkat lunak (software engineering) tentu banyak berbeda dalam rentang tahun ini. Sang penulis mengambil contoh, bagaimana Microsoft Word menggunakan pendekatan tabel untuk mendeteksi kesalahan struktur penulisan sementara Google menggunakan pendekatan statistik.

Pendekatan paling sederhana memang menggunakan tabel. Ini pun yang masih ada dalam pikiran saya. Wadhuh, berarti saya memang belum update. Hehehe… Sementara dengan pendekatan statistik , Google mengambil sebanyak mungkin sampel tulisan lalu menyimpulkan bagaimana kah struktur tulisan yang betul.

Sekarang saya lihat Google pun sudah mulai tertinggal dengan munculnya aplikasi-aplikasi inovatif baru. Sebut saja github, slack, facebook, twitter, instagram. Walau Google masih menjadi raja di dunia pencarian tapi rasanya tidak ada aplikasi baru yang dibuat oleh Google?

Bacaan Online yang Menarik

Konten apakah yang menarik dari dunia online?

Nah, ini ternyata menjadi tantangan tersendiri. Konten yang menarik itu tentu relatif sekali. Konten yang menarik untuk anak-anak belum tentu menarik untuk orang dewasa. Pun sebaliknya. Belum lagi kalau berbicara soal bentuk konten menarik apa yang pas. Apakah tulisan/animasi/video dst.

Konten yang menarik biar bagaimana tetap dibutuhkan kalau kita ingin membuat Internet sebagai dunia yang berguna. Bukan dunia untuk membuang-buang waktu saja.

Dan… tulisan-tulisan pendek saya di blog ini pun sebagai bentuk usaha kecil saya menyumbangkan konten yang menarik. Paling tidak menarik untuk saya sendiri.

Teknologi Digital Membunuh Kreativitas?

Dengan kehadiran smartphone yang begitu umum, kreativitas justru mati?

Lihat saja, betapa kita begitu kecanduan membuka media sosial. Otak dijejali dengan informasi. Terus-menerus. Berapa banyak waktu yang kita habiskan menatap layar smartphone?

Dengan kehadiran smartphone, kita tak lagi menulis di atas kertas. Tak lagi merasakan tekstur kertas, pensil/pulpen yang berwarna-warni, tak lagi menggerakkan tangan.

Kita pun tak lagi menggambar. Kita lebih suka memfoto menggunakan smartphone lalu mengupload-nya. Kapan terakhir kita menggambar? Kapan terakhir kita mewarnai?

Semua ini terpicu, saat kemarin saya menemani Zaidan. Karena saya tak ingin Zaidan terus-terusan menonton TV/iPad dan teknologi lainnya, saya memutar otak.

Beberapa minggu lalu, saya meminjam buku soal pensil dari perpustakaan.. Aktivitas kreatif apa saja yang bisa dilakukan dengan pensil. Aktivitas ini memang sederhana, misal: pergi ke luar rumah dengan membawa kertas dan pensil, lalu menggambar apa yang ditemui di taman. Atau menggambar diri sendiri dengan kertas besar yang seukuran badan kita.

Aktivitas-aktivitas sederhana inilah yang saya lihat ditanamkan di TK Zaidan. Tak ada mainan canggih. Tak harus barang baru. Semua dari ide sederhana saja.

Saya bukan yang apatis terhadap perkembangan teknologi, hanya saja saya merasa perlu lebih kreatif.

Toh, kreatif dengan teknologi tetap bisa dilakukan seharusnya.

PyCon AU 2015 electronics workshop: blinking LEDs.

A video posted by za (@zakiakhmad) on

Tentang Iman

Iman yang saya maksud di sini bukanlah Iman Sulaiman. Bukan Iman nama orang. Dan kebetulan Iman Sulaiman adalah nama salah seorang teman saya saat kuliah.

Iman yang saya maksud di sini adalah Faith. Kepercayaan. Iman.

Bridge for pedestrian and cyclist 🚶🚲.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Saat berada di Indonesia, dengan kondisi mayoritas penduduknya beragama (dengan mayoritas pemeluk agama Islam), Iman seringkali bukan sesuatu hal yang sering ditanyakan. Iman saya lihat sebagai sesuatu yang given. Diberi, tanpa tanda tanya.

Mengapa kamu beragama? Mengapa kamu beragama Islam? Mengapa kamu melaksanakan sholat? Puasa? Dan saya pun mendapatkan pertanyaan yang jarang ditanyakan jika saya di Indonesia. When did you become a Muslim?.

Iman bagi saya adalah sesuatu yang sangat privat. Sesuatu yang berada jauh sekali di dalam hati. Dan kondisi Iman seseorang (termasuk saya) itu sangat fluktuatif. Kalau tak salah memang disebutkan bahwa Iman seseorang itu naik-turun.

Iman adalah sesuatu yang perlu dicari sendiri. Jika meminjam bahasa Paulo Coelho dalam buku Alchemis, ibarat mencari Legenda Pribadi. Orang lain hanya sebatas bisa membantu.

Nah, dengan kondisi Australia yang begitu beragam, menjelaskan konsep Iman ini tak semudah menjelaskan kepada orang-orang beragama di Indonesia. Bagaimana menjelaskan konsep Iman kepada orang yang tak beragama? Saat sains bisa menjawab hampir semua pertanyaan.

Nah, ini bagi saya ini termasuk bagian pencarian Iman…

A Very Good Friday Prayer Speech

As usual, on Friday, I have tight schedule on afternoon. First, I need to drop Zaidan to his kinder. Then I should catch the bus, to go to Monash Clayton for Friday prayer.

Bright sunny day ⛅️. Perfect weather for holiday.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Today, I went early from our house. We arrived 10 minutes early. As soon as the kinder door opened, I dropped Zaidan. I signed the attendees book, and told him that I’ll pick up later on the afternoon.

I ran to catch the express 601 bus. The bus driver already shut the door, but luckily he opened the door since he saw me running catching the bus. Once I arrived at bus interchange, I walked quickly to sports hall, where the Friday prayer usually held.

So, I listened to the Friday prayer speech. This speaker, speaks very clear. His english is good, and somehow I felt that he speaks from the heart.

The theme of his Friday prayer speech was about family. About finding and giving halal to our child. He told about Amr bin Abdul Aziz. Amr bin Abdul Aziz asking salary in advanced because he wanted to buy clothes for his children. But the employer responded, how you can be sure the next month you’ll be alive? Then Amr bin Abdul Aziz, told to his family, that in the next month they should leave as it is.

He told about the importance to take care your child and give them halal. Then Allah SWT will do the rest.

On the second part of khutbah, he told to the singles. If you want to find a wife, find the one that pious and afraid to Allah SWT. Find someone that will be the mother of your child. That will be more than enough.

Then after the friday prayer ended, I saw him standing on the front. So I just said to him, “It was a very good speech”. He worked 7 years in Monash University, and now back to Riyadh University. He has a PhD in Chemistry from US university. His name was started with “S”, since I am really bad on remembering names.

Perjalanan

Akhirnya, kembali selesai salah satu perjalanan. Kali ini kami pergi 1600 km lebih ke utara. Siapa sangka, dengan jarak segitu, udara jauh lebih hangat dan tak seberangin di Melbourne.

Dan secara tak sengaja, saya menulis ini dalam salah satu foto di Instagram saya.

Kehidupan seorang manusia di bumi layaknya jejak sepatu di pasir pantai.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Kehidupan seorang manusia di bumi layaknya jejak sepatu di pasir pantai.

Lalu, apakah hakikat dari perjalanan? Apakah sebatas untuk menunjukkan ke orang-orang lain bahwa kita bisa pergi ke tempat baru yang orang lain tak bisa kunjungi? Pamer? Seringkali kita lupa, bahwa akan selalu ada langit di atas langit. Akan sangat sia-sia jika suatu perjalanan hanya berhenti di titik itu.

Saya coba ingat-ingat, cerita seru apa saja yang saya alami dari perjalanan kali ini. Oh ya, saya pernah baca entah di mana, bahwa perjalanan dengan anak-anak, termasuk perjalanan yang akan memberikan kesan mendalam.

Dan, ternyata salah satu cerita itu datang dari pengalaman Zaidan membeli mainan balon.

Saat melewati kawasan pejalan kaki di King George Square, Brisbane, Zaidan sudah lama melihat ada seorang asongan yang menjual balon dengan beragam bentuk. Ia merupakan pandai balon. Ia bisa membuat balon menjadi berbagai macam bentuk.

Akhirnya, saya putuskan untuk membelikan Zaidan mainan balon, asalkan ia bilang sendiri ke penjualnya, menanyakan harga, dan memberikan uang-nya sekalian. Zaidan pun berani. Kami pun mendekat ke sang pandai balon ini.

Semua informasi ternyata sudah tertulis jelas. Balon dengan titik biru, dipasang harga $8-10. Balon dengan titik kuning $6-8. Balon dengan titik merah $4-6. Silakan masukkan uang ke dalam kaleng, dan ambil kembalian juga dari kaleng itu. Just please help yourself with the change, begitu ujarnya saat salah seorang pembeli memasukkan uang ke dalam kaleng.

Lalu ada satu tulisan yang menggugah.

If you think life is unfair, just put whatever money you want

Dan satu sore di Brisbane pun berakhir dengan balon Spiderman di tangan Zaidan…