Sudah Terlalu Banyak Grup WhatsApp

Akhirnya… saya merasa sudah dalam keadaan terlalu banyak grup WhatsApp. Sebagai aplikasi messenger paling populer di Indonesia (referensi? :D) grup paling banyak ada di WhatsApp. Masih ada beberapa aplikasi messenger yang terinstall dalam ponsel saya. Lainnya adalah Telegram dan slack.

Telegram memberikan layanan yang mirip dengan WhatsApp. Telegram menawarkan fitur keamanan yang canggih, namun belakangan tantangan keamanan Telegram juga dibantah.

Yang kedua adalah slack. Slack menurut saya memberikan lebih banyak kelebihan dibanding WhatsApp dan Telegram. Ada fitur #channel dan mention. Bisa diakses via ponsel dan juga via komputer.

Entah mengapa, apa karena orang Indonesia begitu sosial, maka grup WhatsApp banyak sekali. Nah yang buat malas membaca WhatsApp adalah saat kondisi satu orang memforward pesan lalu terbaca lagi dalam grup lainnya. Misalnya, informasi macet saat akan berlangsung peringatan Konferensi Asia Afrika.

Kondisi lain yang membuat malas adalah pesan yang terlalu panjang. Haduh, membacanya gimana? Scroll ke bawah terus?

Di zaman kecanggihan teknologi informasi ini informasi begitu berlimpah. Kemampuan yang diperlukan adalah kemampuan memilah informasi, mengambil informasi yang penting, membuang informasi sampah.

Ini tantangan berikutnya.

Kalau dulu saya merasa masih ada waktu untuk membaca/mengikuti percakapan di WhatsApp, sekarang tidak lagi. Apa mungkin sekarang saya sudah tidak lagi memiliki waktu untuk commute (3-4 jam setiap hari) dan sekarang lebih banyak waktu bermain bersama Zaidan.

Perubahan dan Mencoba Sesuatu yang Baru

Entah mengapa, seiring bertambahnya umur, rasanya manusia semakin lembam. Semakin sulit untuk berubah dan mencoba sesuatu yang baru.

Apa karena takut gagal?

Sebelum berubah dan mencoba sesuatu yang baru, belum-belum di pikiran bawah sadar sudah terlintas, “Mengapa? Toh paling segitu-segitu saja. Tidak banyak berubah”.

Apa karena kita sudah menemukan zona nyaman?

Misal, saya sudah nyaman menggunakan text editor vim. Saya akan sulit berubah ke text editor lainnya. Atau dari menggunakan grafik KDE, beralih ke Unity.

Itu contoh praktis. Contoh lain bisa diterapkan ke banyak hal: jenis musik, artis favorit, bacaan favorit, dst, dst.

Melakukan Lebih Sedikit

Dengan teknologi yang semakin canggih, kita bisa melakukan banyak hal. Di manapun, kapanpun. Ponsel pintar selalu ada dalam genggaman. Kita jadi bisa melakukan hal lebih banyak.

Benarkah itu lebih baik?

Saya jadi berpikir sebaliknya. Saat melakukan terlalu banyak hal, rasanya malah jadi tidak fokus. Sekarang saya mau coba eksperimen melakukan aktivitas lebih sedikit.

#random

Merindukan Pagi

Beberapa hari ini saya kembali memulai aktivitas siang. Usai bangun sholat Subuh saya kembali tidur. Saya kembali merindukan pagi.

Suasana yang dingin seringkali jadi alasan untuk kembali masuk ke dalam selimut. Atau alasan lain adalah karena semalam tidur larut, jadi perlu tidur lebih lama lagi, alias bangun siang.

Pukul 7 kurang matahari baru terbit. Saya tak bisa membayangkan bagaimana saya hidup jika matahari ada kurang dari 12 jam sehari. Misal di belahan bumi utara.

Berkenalan dengan Salah Satu Penulis Buku Anak Australia

Pada suatu waktu, saat mengambil brosur SLV, saya membaca artikel yang bercerita mengenai salah satu penulis buku anak paling populer di Australia. Ia adalah Andy Griffiths. Brosur SLV ini merupakan brosur lama. Belakangan, ternyata ia hadir kembali dalam acara buku anak-anak di SLV tahun ini.

Karena penasaran, seperti apa buku karya Andy Griffiths ini, saya coba cari bukunya di perpustakaan lokal. Saya pinjam beberapa buku. Buku teranyar tidak saya dapatkan. Ternyata buku-buku Andy Griffiths, konyol-konyol.

Secara budaya, bisa jadi belum tentu bisa diterima oleh pembaca buku anak-anak di Indonesia. Masalah perbedaan nilai-nilai.

Ya, beda gaya bercanda lah. Andy menulis dengan gaya rhyme. Misal dari nama-nama. Ted, Ed. They lived in the shed. Frog, dog.

Ilustrator buku-buku Andy Griffiths tak kalah konyol. Ilustratornya adalah Terry Denton.

Satu yang paling konyol adalah ada seorang anak yang menunggu bis. Ia menoleh ke kanan, bis tak ada. Menoleh ke kiri, bis tak kunjung datang. Tiba-tiba, bis datang dari atas, dan menimpa anak ini.

Ilustrasi bis ini, saya ceritakan ulang ke Zaidan. Awalnya Zaidan tak terlalu mengerti. Kok bis bisa datang dari atas. Ya, memang buat lucu-lucu-an saja sih.

Biar bagaimana, saya mengakui kreativitas Andy Griffiths untuk ide cerita dan gaya penulisannya. Tak terlewat ilustrasi kocak Terry Denton.

Attending MelbDjango Meetup

Last night, I attended MelbDjango meetup. Luckily, I had the chance to attend. The first MelbDjango meetup I attended was held at Collingwood. Last night, they changed the venue to South Melbourne.

I came a bit late. Curtis already presenting about what’s new at Django 1.8

Curtis is one of the core Django developer. Wow! He teaches the MelbDjango school.

The second speaker presented “Real Time in Django”. Cool! What I like the most is when he modified via Django admin interface on one browser, and opened another browser. Let these two browsers side-by-side, and showed the real time.

If you are curious, you can find me on that photo. I was also taking shot.

The third speaker was from Kogan, the one who host the meetup. Nam presented about Thor and how to use it for thumbnailing.

BTW, I was surprised when I arrived. I didn’t imagine that there were so many attendees. I also met Eric, whom I met before at MelbDjango hack weekend.

The fourth speaker was talking about security in Django. What, security? This sounds very familiar. This talk merely about high level security. Like checking server certificate.

Actually there’s the fifth speaker but I can’t find his picture at MelbDjango twitter account.

We All Juggling

The duck has new home.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

“We all juggling”

Begitulah salah satu kata-kata yang terucap saat saya menyempatkan diri menghadiri acara rapat komite perpustakaan mainan Oakleigh. Perpustakaan mainan, sama dengan perpustakaan buku konvensional pada umumnya, memberikan pinjaman kepada para anggota-nya. Jika perpustakaan konvensional memberikan pinjaman buku, perpustakaan mainan memberikan pinjaman mainan.

Kalau perpustakaan buku kebanyakan didukung penuh oleh pemerintah kota, perpustakaan mainan dijalankan oleh komunitas, dari komunitas, untuk komunitas sendiri.

Dan seperti komunitas lain pada umumnya, selalu ada dinamika tersendiri saat berurusan dengan sesuatu yang namanya manusia. Dari salah satu anggota yang selau terlambat mengembalikan mainan. Anggota ini sangat agresif. Saat diminta membayar denda, ia malah bisa meninggi. Ternyata saya sudah berjumpa dengan anggota ini saat saya datang kali pertama mendaftar.

Kita semua punya kesibukan sendiri yang perlu diurus. Namun bagi sebagian orang, kesibukan pribadi bukan berarti menghentikan untuk kontribusi kembali ke komunitas. Angkat jempol untuk orang-orang seperti ini…