Laptop dan Heater

Alkisah, sekarang sudah mulai masuk musim dingin. Saya pun bekerja biasanya di malam hari. Eh bekerja? Rasanya lebih sering tidur kok. Dan malam hari itu artinya lebih dingin dari siang hari, saat matahari menyinari belahan bumi lainnya.

Karena dingin, saya menyalakan pemanas ruangan aka heater. Tanpa pemanas ruangan saya akan berada di selimut. Ngerinkel lalu tertidur.

Nah paradoksnya, saat bekerja dengan heater, laptop jadi ikut panas. Pernah suatu waktu laptop jadi nge-hang. Sepertinya karena kepanasan. Saya sempat dengar suara kipas yang kencang sebelum laptop jadi nge-hang.

Open Data

Open Data. Makhluk apa lagi ini? Makhluk open source saja tak betul dimengerti, kini sudah muncul lagi makhluk baru.

Bagi para data cruncher open data merupakan makanan empuk. Makanan yang bisa mengasah otak.

Belakangan saya baru tahu, ternyata pemerintah DKI Jakarta memiliki portal data: http://data.jakarta.go.id. Kalau ini data di Victoria https://data.vic.gov.au. Wow! Lalu kalau data sudah terbuka, lantas apa?

Nah sama dengan open source, kalau kode sudah terbuka lantas mau apa? Ini sebenarnya bergantung ke segmen orangnya. Bagi para pengembang/programmer, kode terbuka tentu menyenangkan karena ia bisa membaca, mempelajari, memodifikasi.

Bagi data cruncher open data sets bisa diolah sedemikian rupa sehingga bisa berguna. Mulai dari analisis, hingga membuat prediksi. Tak ketinggalan membuat visualisasi yang menarik.

Nanti ada topik lain lagi: big data visualization.

Kemampuan Bercerita

Pernahkah Anda mencoba menulis fiksi? Rasanya jarang. Rasanya kebanyakan kita menulis hanya karena tugas mengarang. Hihihi…

Menurut saya salah satu kekurangan kemampuan bercerita karena kita jarang membaca fiksi. Apa? Membaca fiksi? Serasa punya waktu luang banyak aja.

Saya perhatikan di sini, salah satu koleksi yang populer adalah novel-novel fiksi. Saya ingin juga sih baca novel fiksi, tapi ya itu tadi, kalau ada waktu kosong jadinya sekarang malah nonton film aja.

Sekarang saya coba baca fiksi untuk remaja, karya Roald Dahl.

Perang dan Perubahan

Perang, merupakan dua mata koin. Di satu sisi ia membunuh kemanusiaan, namun di sisi lain ia “membangun” peradaban.

Enigma, mesin yang diciptakan untuk memecahkan sandi merupakan salah satu efek samping dari perang. Lalu lahirlah film yang menceritakan Eningma…

Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan seorang bapak untuk pergi perang. Belakangan ternyata setelah 17 tahun, sang Bapak pulang. Selamat setelah disandera sekian lama. Lalu lahirlah film Homeland dan Prisoners of War…

Lah ini ceritanya, cerita menonton film.

Membaca Boy: Tales of Childhood Roald Dahl

Just finished reading this book, as recommended by @windadeftiani

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Akhirnya, saya menamatkan membaca buku Boy: Tales of Childhood karya Roald Dahl. Nama Roald Dahl termasuk melekat kuat dalam ingatan saya karena saya sangat ingat sekali salah satu bukunya yaitu Matilda. Matilda digambarkan sebagai anak perempuan kecil yang begitu gemar ke perpustakaan. Setiap hari ia pergi ke perpustakaan membaca. Karena begitu sering ke perpustakaan, ia sampai kehabisan membaca buku anak-anak dan mulai membaca buku untuk orang dewasa. Keluarga Matilda digambarkan sebagai keluarga yang cuek, tidak perhatian kepada Matilda.

Buku Boy: Tales of Childhood bercerita mengenai masa kecil Roald Dahl. Dengan setting 1900-an di belahan bumi utara. Keluarga Dahl berasal dari Oslo, Norwegia. Ayahnya merantau ke Inggris.

Belakangan, ayahnya meninggal saat Dahl masih kecil. Ibu Dahl merupakan istri kedua dari ayahnya. Istri pertama bapak Roald Dahl juga meninggal, hal ini meninggalkan anak tiri untuk ikut dibesarkan oleh ibu Roald Dahl.

Digambarkan perjalanan dari Inggris ke Norwegia untuk liburan musim panas. Bagaimana repotnya Ibu Dahl harus membawa 7 anak. Ibu Dahl dibantu oleh seorang nanny. Naik kereta, naik 3 taksi, lalu naik kapal.

Tulisan Dahl begitu enak dibaca. Dari membaca buku ini saya baru tahu bahwa nama Oslo aslinya adalah …. . Lalu saya juga baru tahu bahwa ada peninggalan peradaban yang masuk ke salah satu keajaiban dunia yaitu bangunan dengan lengkungan terbesar yang tak disokong: Ctesiphon.

Wah, melihat Ctesiphon, saya jadi kembali tersadar peradaban manusia sudah berjalan begitu jauh….

Laptop dengan Layar Tambahan

Burn the midnight oil.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Sudah lama saya mempertimbangkan untuk memiliki layar kedua sebagai layar tambahan laptop. Mengapa? Karena dengan layar tambahan saya memiliki dua layar berarti saya tak perlu repot bolak-balik ganti tab. Lalu dengan layar tambahan, berarti layar ini akan lebih besar dari ukuran layar laptop dan berarti semakin banyak yang bisa saya lihat.

… Namun ide tak ini jua saya eksekusi. Alasannya adalah, apakah saya benar-benar membutuhkannya? Apakah saya memang memiliki waktu luang/waktu bekerja yang banyak untuk memanfaatkan layar kedua ini?

Sekarang saya sedang bekerja tapi tidak di meja kerja. Saya bekerja di balik quilt, dengan heater listrik menyala, dengan electric blanket menyala. Laptop saya letakkan di pangkuan dengan meja pangku. Enaknya bekerja di suasana yang hangat…

Dingin dan Selimut

Yak, ini menjadi bulan Ramadan pertama saya di negeri perantauan. Puasa di sini memang lebih singkat. Fajr pukul 6.00 dan matahari terbenam pukul 17.10 Ternyata setiap tempat memberikan tantangan tersendiri.

Tantangan puasa di sini adalah keluar dari selimut dan tidak tidur. Bagaimana tidak mau keluar dari selimut jika udara begitu dingin (bagi saya). Memang sih belum sampai minus.

Kalau suhu sudah di bawah 10 derajat Celcius, wah mau ngapa-ngapain juga repot. Kalau masih di atas 10 derajat Celcius, masih tahan-tahan sedikit. Kalau ada sinar matahari, terkadang memberikan kehangatan yang cukup.