Jadi Rajin Minum

Pendek cerita, saya kembali membeli botol minum. Botol minum yang sebelumnya saya beli, obral-an, hanya $10 plus handuk kecil di dalamnya, karetnya rusak. Sehingga biarpun sudah ditutup rapat, air akan tetap keluar apabila posisi botol miring.

Botol minum lama ini masih saya gunakan untuk saya letakkan di stang sepeda. Jadi nasib botol lama ini sekarang hanya berhenti di stang sepeda.

Botol minum baru saya tak ada sedotan. Dilengkapi dengan pengaman, minum dari botol ini jadi tak mudah tumpah. Saya jadi rajin minum saat membawa botol ini ke mana-mana. Apalagi di kota ini, tersedia banyak keran dengan air siap minum di mana-mana.

Bahkan saat musim panas lalu, saya sempat menyimpan peta lokasi keran air siap minum di Melbourne CBD. Jaga-jaga, takut dehidrasi. Asyik kan.

Dusk.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Saya pertama kali tahu keran air siap minum saat di kampus ITB dulu. Di zaman rektor KK, ia menyiapkan titik-titik keran air siap minum di dalam kampus. Saya ingat, malam-malam dengan teman, saya membawa botol galon untuk diisi dengan keran air siap minum. Wah ngisi-nya bisa sampai 5 menit-an apalagi saat debit air kecil.

Belakangan, Zaidan juga jadi suka minum dari botol baru ini.

Lari dengan Stroller

Sekarang hari Idul Fitri, tapi saya kok menulis bukan bertema Idul Fitri. Kalau begitu, sebelumnya, saya ucapkan, Selamat Idul Fitri. Semoga Allah SWT menerima amalan kita selama bulan Ramadan kemarin dan menjadikan kita muslim yang lebih baik. Ied Mubarak!

Alkisah, Kamis sore lalu, seperti biasa saya naik sepeda menjemput Zaidan. Di trotoar, saya lirik, ada seorang perempuan yang sedang berlari. Ia tidak berlari sendirian. Ia berlari sambil mendorong stroller besar yang lebih lebar dari stroller ukuran untuk satu anak.

Setelah saya salip perempuan ini, saya lihat di dalam stroller ada dua orang anak. Perempuan ini berlari jogging di tengah cuaca yang dingin sambil mendorong kedua anaknya. Karena tidak ada pembantu, jadi mau-tak-mau anaknya ikut “diajak” lari.

Hadeuh, semangat pisan olahraga. Salut lah!

Tentang Australia

Yang saya ingat kali pertama dari Australia adalah soal yang pasti keluar saat ujian NEM SD. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah pertanyaan peta yang menanyakan lokasi salah satu ibukota negara bagian Australia. Atau nama dari negara bagian.

Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Selebihnya, saat bertambahnya usia, yang saya tahu Australia adalah negara yang menjadi benua terbesar. Australia adalah negara “bule”, sebutan paling gampang bagi orang Indonesia untuk menunjukkan bahwa seseorang adalah orang asing, bukan orang Indonesia.

I wish I have the chance to try the 🚊 with sleeping carriage 💤.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Siapa sangka, sekarang saya berada di negara ini. Sudah hampir satu tahun malah.

Termotivasi oleh kisah perjalanan Agustinus Wibowo, sesampainya di sini, saya mencoba menyempatkan membaca buku-buku mengenai Australia. Sejarah awal, sejarah kota-kota: Sydney, Melbourne, dll.

Ternyata, Australia sekarang adalah negara yang relatif muda. European settlement baru dimulai tahun 1834 di Melbourne. Di Sydney bisa jadi lebih awal, tapi itu pun paling 1700-an.

Bandingkan dengan Indonesia, Borobudur dibangun abad 14(?), Sumpah Palapa, lalu era Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dst. Kalau Australia dulu ada yang mengatakan sudah lebih dulu dari peradaban China.

Baca, Australia sekarang: Australia setelah pendudukan Eropa. Australia dulu: Australia sebelum pendudukan Eropa.

Lalu saya juga melihat bagaimana kisah perang mengubah wajah suatu negara. Biarpun Perang Dunia I dan II bukanlah perang milik Australia, tapi sebagai negara yang “lahir” dari Inggris, PD I/II turut banyak menentukan wajah negara ini.

Setelah di sini hampir satu tahun, saya baru tahu bahwa Australia sekarang merupakan negara yang multikultural. Begitu banyak keragaman budaya di sini, walau tentu yang paling dominan adalah Inggris.

Usai PD II, banyak orang Italia dan Yunani yang bermigrasi ke sini. Lalu di era 70-an, giliran orang Vietnam. Hal ini dilatarbelakangi perang Vietnam. Dan di tahun 90-an, giliran negara Eropa timur. Di tahun 2000-an, giliran orang-orang Afghanistan.

Belajar Naik Sepeda

Saya sudah lupa bagaimana persisnya saya belajar naik sepeda. Yang saya ingat betul adalah saya pernah masuk, nyemplung selokan saat naik sepeda. Saya tahu saya harusnya berhenti, tapi apa daya sepeda terus meluncur dengan kencang dan saya tak menarik tuas rem.

Nah, saya sekarang tidak tahu bagaimana saya memulai mengajari Zaidan naik sepeda. Minggu lalu, saya mencoba melepas roda tambahan (di sini namanya: training wheels). Saya biarkan Zaidan naik sepeda tanpa roda tambahan. Wah, sulit sekali tampaknya ia mengendalikan sepeda.

Karena terbiasa dengan sokongan roda tambahan, Zaidan belum terbiasa menahan beban sepeda dan menjaga keseimbangan. Bisa dilihat saat ia berbelok, dengan kecepatan tinggi, lalu jatuh. Saya sengaja membiarkan Zaidan jatuh, agar ia tahu, seharusnya saat belok tidak boleh dengan kecepatan tinggi.

Hingga sore ini, saat bermain-main, bercakap-cakap dengan “OK Google”, secara blink saya terpikir untuk bertanya “How to ride a bike?”. Salah satu hasil teratas adalah video ini.

Sore tadi pun jadinya saya lepas kembali roda tambahan berikut pedal. Saya minta Zaidan untuk berjalan dengan sepeda. Awalnya ia tidak mau. Malas. Hingga akhirnya lama kelamaan ia terbiasa.

Dan sebelum selesai main sepeda, belakangan ia sudah bisa mengangkat kedua kakinya. Wuhu!

Open Data Crunching 101

Kemarin malam, saya belajar bagaimana “memakan” open data. Crunching itu diterjemahkan mengunyah kali ya? :D

Saya belum ada apa-apa-nya kok. Masih belajar. Baru level 101. Berikut ini snippet gist saya dalam menyiapkan environment. Dan ini hasil crunching open data transjakarta saya.

Duh sebenarnya saya sedang frustrasi menulis ini. Pekerjaan yang harus saya selesaikan ternyata mengembalikan nilai False, sehingga saya belum bisa melanjutkan belajar soal data analysis.

Semoga bermanfaat!

Coba embed snippet di sini deh.

Laptop dan Heater

Alkisah, sekarang sudah mulai masuk musim dingin. Saya pun bekerja biasanya di malam hari. Eh bekerja? Rasanya lebih sering tidur kok. Dan malam hari itu artinya lebih dingin dari siang hari, saat matahari menyinari belahan bumi lainnya.

Karena dingin, saya menyalakan pemanas ruangan aka heater. Tanpa pemanas ruangan saya akan berada di selimut. Ngerinkel lalu tertidur.

Nah paradoksnya, saat bekerja dengan heater, laptop jadi ikut panas. Pernah suatu waktu laptop jadi nge-hang. Sepertinya karena kepanasan. Saya sempat dengar suara kipas yang kencang sebelum laptop jadi nge-hang.