Fisik dan Pikiran yang Hadir

Di zaman gadget seperti ini, rasanya semakin sulit menghadirkan jiwa dan raga yang bersatu. Fisik dan pikiran yang hadir.

Bisa jadi fisik kita ada di rumah, namun pikiran kemudian terbang ke urusan kantor. Jadi saat bermain dengan anak, sebenarnya jiwa kita tidak ada di situ. Atau sibuk scroll-scroll HP. Menunggu notifikasi masuk, dst.

Begitupun di dalam kelas. Menjadi guru/dosen/pembicara menjadi semakin berat. Apa iya mau dilarang menggunakan gadget selama di dalam kelas?

Padahal fisik dan pikiran yang hadir itu penting!

Iklan

Bermain Alat Musik

Setelah menonton video ini, saya jadi ingin bisa bermain drum. Tampak keren kan? Zedd ini ternyata musisi multitalenta. Saya suka beberapa lagunya. Bersemangat lah, pendeknya.

Lihat bagaimana gebukan stik Zedd. Mantap dan berteknik lah. Saya kira Zedd tak bisa bermain drum. Duh, jadi ingin punya drum di rumah.

Dulu saya ingin punya piano di rumah. Lalu dulu juga sempat terbersit ingin belajar biola.

Batagor Dua Ratus

Saat saya SD dulu, saya suka jajan batagor. Dengan hanya Rp 200 perak, sang pedagang sudah mempersiapkan plastik besar. Makannya pun kenyang sekali.

Hari ini, usai sholat Jum’at saya kembali jajan batagor. Saya harus merogok uang Rp 5000 rupiah untuk batagor yang kira-kira saat saya SD dulu cukup saya beli dengan Rp 200.

Wow, nilai uang sudah sedemikian begitu bergeser.

Mood di Hari Senin

Akhir pekan kemarin saya memutuskan tidak membawa laptop. Dan ternyata ada insiden di server production. Dengan hanya berbekal HP, sulit memantau dan melakukan bug fixing. Menulis pesan di slack pun sulit karena layar HP yang kecil.

Saya pun memutuskan untuk menunda saja untuk melihat masalah ini semua di hari Senin. Kejadian ini membuat mood di hari Senin menjadi semakin malas.

Hehehe… klo alasan mah ada aja selalu.

Carut-Marut Atas-Bawah

Semalam saya menonton acara Mata Najwa yang menampilkan sosok Gubernur DKI Anies Baswedan. Saya berusaha mendengar apa yang coba Anies sampaikan.

Mendengar itu lebih sulit kan? Karena pada dasarnya kita hanya ingin mengkonfirmasikan ulang kebenaran yang sudah ada otak kita lebih dulu.

Saya melihat kebijakan-kebijakan Anies mencoba berpihak pada mereka yang kurang. Klo di era kapitalisme sekarang, kekuasaan dipegang oleh mereka yang bermodal, maka Anies berpihak pada mereka yang kurang ini.

Misal: carut-marut sebenarnya ada di lapisan atas dan di bawah. Kalangan atas praktik sogok-menyogok ada. Di kalangan bawah, ada pungli.

Walau saya tidak tahu juga ada apa di belakang Anies. Dalam video singkat, Prabowo pun mengungkap kalau mau jadi Gubernur, yang akan ditanya adalah “Ente punya uang berapa?”. Bukan prestasi, bukan lulusan mana, dst.

Saya jadi kembali teringat Mochtar Lubis yang mengatakan sifat buruk orang Indonesia adalah munafik.

Nostalgia Menonton Konser Mr Big

Dalam perjalanan pulang tadi, tanpa sengaja di radio dimainkan lagu “Nothing But Love” oleh Mr Big. Mendadak saya jadi memainkan lagu ini dalam daftar putar lagu aplikasi musik saya (halah tidak mau menyebut merk).

Ternyata, lagu Mr Big masih masuk di telinga saya. Bisa langsung in lah istilahnya.

Mr Big merupakan salah satu band idola saat SMA dulu. Saya sampai bela-bela-in nonton konsernya. Wah, berkesan sekali lah zaman itu.

Mengurangi Sampah

Sampah. Hal ini menjadi masalah besar di perkotaan. Tapi saya pikir tidak dengan di pedesaan.

Saat menghabiskan waktu dua hari di satu desa di daerah Cianjur, saya sampai pada kesimpulan bahwa orang kota memproduksi sampah lebih banyak daripada masyarakat di desa. Khususnya sampah kemasan makanan.

Orang kota minum dari gelas plastik sekali pakai. Orang desa memasak air lalu meletakkannya di dalam teko. Orang kota membeli makanan dengan bungkus stryorofoam. Orang desa bertukar makanan menggunakan piring.

Saya masih jauh dari usaha mengurangi sampah. Hanya kalau sedang rajin saja. Misal beli bubur atau ketoprak untuk dibawa pulang, saya sudah menyiapkan kotak makanan. Ada teman saya di instagram yang begitu rajin mengurangi sampah. Sampai ke hal-hal paling kecil.

Dengan mengurangi sampah, sebenarnya kita bisa mengurangi permasalahan sampah itu sendiri. Buang sampah sembarangan: lha wong gak ada sampahnya. Sampah yang belum dipisah: lha wong sama, gak ada sampah juga.

Oh ya, teman di instagram saya ini sampai menggunakan sapu tangan (napkin)! Klo saya sih masih suka pakai tissue untuk melap usai makan.