Going to City

Today, I am going to the city.

I decided to take the train instead of Transjakarta bus. There’s a heavy construction at Mampang, which I believed it will add 30-60 mins of commuting time.

The train service now is really nice. They switched to e-ticketing system. They clean up the station. And when I hopped off at Sudirman Station, so many people queuing here. And when I mean a lot, it’s A LOT. One thing that makes me proud is that all of the people are queuing on their lane.

A friend of mine said, he used to go to the crowd, see and meet people to get the energy. Well, let’s see what will I have for today.

Let’s start the day!

Another one more thing: when I was standing on the train, I remembered the journey when I commute from Clayton area to the City. I like commuting with train. The different thing is the view. And of course the stations.

Let me test my memory, do I still remember every station between Clyaton to City? Clayton – Huntingdale – Oakleigh – Hughesdale – … , … – Richmond – Flinders. OMG, now I forget.

Iklan

Kembali ke Satriani

Tadi pagi, di saat me time saya, saya membuka Spotify. Saya klik playlist gitar. Lagu-lagu yang terdengar adalah lagu gitar klasik. Lalu pikiran pop up saya menyuruh saya mengetik Satriani. Dan kembali lah saya mendengarkan lagu-lagu Joe Satriani.

Ada satu lagu baru Joe Satriani yang ternyata enak juga di kuping: If I Could Fly.

Lari menuju 5K

Sekarang saya mencoba kebiasaan baru. Berjalan pagi. Tidak jauh dan tidak lama memang, namun saya putuskan untuk menambah jarak jalan pagi saya.

Permasalahan utama untuk berjalan kaki di Jakarta dan sekitarnya adalah tidak adanya trotoar. Berjalan di jalan raya bercampur dengan kendaraan bermotor, ini sangat tidak nyaman bagi pejalan kaki. Dulu-dulu saya memutuskan untuk bersepeda. Sayangnya, bersepeda ini sangat sedikit membakar kalori. Keringetannya tak banyak. Jadi belakangan saya putuskan untuk jalan kaki saja. Walau saya masih bersepeda untuk jarak kurang dari 10 km.

Hari Minggu lalu, saya bersepeda lalu lanjut lari. Saya masih belum mencapai lari dengan jarak 5 km. Saya masih stabil di angka 3 km. Masih ada 2 km lagi. Baru 60% nih berarti dari target.

Semoga saya bisa konsisten dan menembus 5 km.

Menjual Kacang vs Menjual Barang Mahal

Apple baru saja merilis seri baru iPhone 8, iPhone 8 Plus dan iPhone X. Dan dunia tentu saja viral membicarakan ini.

Bagaimana caranya membuat orang mau mengeluarkan uang begitu banyak untuk membeli ponsel? Orang pemasaran ini memang paling tahu caranya memasarkan barang.

Yang ingin saya diskusikan dalam tulisan ini adalah membutuhkan kemampuan tersendiri untuk membuat orang mau mengeluarkan uang. Saat kita jualan gorengan/kacang tentu berbeda saat kita jualan rumah/tanah.

Menemukan pembeli gorengan/kacang tentu takkan sesulit menemukan pembeli/pengontrak rumah/tanah. Orang tak perlu pikir panjang saat membeli gorengan. Nah kalau beli/ngontrak rumah, orang pasti pikir panjang. Di mana lokasinya, bagaimana kondisi rumahnya, berapa harganya, bagaimana mekanisme pembiayaannya, dst.

Di sisi penjual, menemukan calon potensi pembeli juga berbeda. Klo tukang gorengan/kacang, tinggal cari posisi jualan yang ada keramaian dan bisa parkir motor/mobil. Nah klo jual/ngontrak rumah bagaimana? Kita perlu tahu segmen pasar mana yang dibidik. Daya beli calon pembeli/pengontrak, dst.

Nah, menjual consumer product seperti ponsel beda lagi ini ilmunya. Seperti Apple yang seolah mampu menyihir penggunanya.

Menuju 10 Ribu Langkah Setiap Hari

Sepuluh ribu ini seolah menjadi angka ajaib. Ada yang bilang, agar tetap sehat, salah satunya adalah dengan melangkah minimal sepuluh ribu setiap harinya. Saya masih jauh dari angka ini. Tadi pagi jadinya saya mencoba jalan pagi dengan rute baru yang lebih jauh.

Tidak cuma sepuluh ribu langkah, ada lagi sepuluh ribu jam. Sepuluh ribu jam untuk menjadikan diri kita sebagai pakar dalam satu bidang.

Sepuluh ribu, sepuluh ribu, dan sepuluh ribu. Sepuluh ribu tulisan? Jika dalam satu hari satu tulisan, berarti baru akan jadi pakar dalam waktu 3 tahun lebih. Itu pun dengan catatan setiap hari menulis. Lha klo menulisnya belentang-belentong begini, kapan mau jadi pakar.

Klo programmer, sepuluh ribu commit kali ya 😀

Memainkan Spotify di Perangkat Lain

Saya mengunduh aplikasi Spotify untuk Ubuntu. Jadi, saya bisa memilih lagu via laptop. Lalu, yang ajaib dari Spofity adalah saya bisa mengontrol Spotify yang ada di iPad ataupun di iPhone saya, melalui aplikasi Spotifiy di laptop saya.

Ini tentu sangat memudahkan saya. Misal, karena speaker pada laptop saya tak terlalu keras, jadi saya bisa membuat suara musik datang dari Spotify di iPad dengan saya memilih lagu via laptop.

Asyik kan.

Mendengarkan Spotify di Pesawat

Alkisah, saya akan terbang menggunakan pesawat low-cost airfare. Saya berasumsi tidak akan ada in-flight entertainment. Jadi saya putuskan untuk mengunduh lagu-lagu favorit saya via akun Spotify saya. Sebelum berangkat, saya unduh satu-persatu.

Saat pesawat sudah di atas awan, saya nyalakan ponsel. Dan… ternyata saya tetap tak bisa mendengarkan lagu via akun Spotify saya karena Spotify mengharuskan ponsel tersambung ke Internet (walaupun lagu sudah diunduh).

Ealah, gagal lah. Buat apa saya mengunduh lagu-lagu ini kalau begitu.