Tentang di Puncak Gunung

Naik gunung bukanlah tentang bagaimana engkau ingin dilihat dunia di puncak gunung, tapi tentang bagaimana kau melihat dunia dari atas gunung.

Terjemahan bebas dari saya. Saya lupa di mana pertama kali saya baca di mana kutipan ini. Wow, dalam sekali kan.

Jadi, dunia ini bukanlah tentang keninginan kita untuk menjadi pusat perhatian dunia, tapi tentang bagaimana kita mengenali dunia.

Setiap perjalanan yang kita tempuh pun sebaiknya bukan untuk mempertontonkan ke seluruh dunia bahwa kita sudah pernah mencapai tempat-tempat yang belum tentu orang lain pernah mencapainya, tapi lebih tentang bagaimana kita mengenali berbagai sudut dan relung di dunia ini. Tentang bagaimana kita membuat connected. Terhubung. Mengetahui sejarahnya. Mengenali orangnya. Memahami budayanya. Berbicara bahasanya.

Foto di atas adalah foto saat saya naik puncak gunung untuk pertama kalinya (dan belum pernah naik puncak gunung lagi hingga sekarang!). Ah, saya jadi merindukan petualangan ke alam lepas.

Tidak Makan Nasi dan Gula

Pada akhir pekan lalu, saya berbincang-bincang dengan teman baru. Badannya kurus. Tidak terlalu kurus sih. Tinggi, tapi tidak terlalu tinggi juga sih. Kurang lebih lah tingginya dengan saya. Hanya saja, berat badannya yang pasti lebih ringan dari 68 kg.

Entah mulai dari mana kami jadi berbicara mengenai makanan. Yang saya lihat ia tidak makan nasi. Lalu saya pastikan lagi, apakah ia masih makan bihun. Ternyata ia juga tidak makan bihun. Jadi ia tidak makan nasi dan dan tidak makan bihun.

Lantas darimana karbohidrat ia dapatkan? Kalau saya tidak salah tangkap, ia masih makan kentang. Itupun dalam jumlah yang terbatas. Lalu bercerita lah ia soal fat (lemak), insulin (gula), citosis (nah saya perlu googling soal ini), dan gula.

Ia tidak pernah minum teh dan kopi dengan gula. Bahkan dalam makan buah-buah-an ia pun hati-hati karena buah mengandung fructose (salah satu varian gula: coba buka lagi buku kimia). Ia menyalahkan piramida terbalik soal makanan. Di mana dalam piramida itu digambarkan bahwa karbohidrat berada di tingkat paling bawah dan paling harus banyak dikonsumsi.

Sebagai penutup, saya ingin memastikan, apakah ia merasa lebih sehat dengan pola makan seperti itu? Ia pun menjawab iya. Wah, saya sehari kalau tidak makan nasi putih rasanya belum makan. Jadi kembali teringat susahnya mencari tempat makan yang menjual nasi saat di Melbourne.

Menjadi Bagian dari Perubahan

Setelah menuliskan kekesalan saya kemarin, saya menjadi sedikit bersalah. Saya membaca katalog daring dari pameran 17|71: Pameran lukisan istana negara. Harusnya saya termasuk menjadi bagian yang ikut dalam perubahan bukan hanya mengeluh untuk menunggu perubahan terjadi.

Pameran ini akan berakhir pada hari Selasa, 30 Agustus. Saya kepikiran mau mengajak anak dan istri saya. Entah apakah pameran lukisan akan menjadi acara menarik bagi anak berusia 5 tahun. Namun, saya ingin menunjukkan bahwa sebagai bangsa, kita punya sejarah yang panjang dan besar…

Hidup di Indonesia Lebih Sulit?

Hidup di Indonesia itu lebih sulit kah? Peraturan yang tidak jelas adalah salah satu alasan pertama.

Misal di jalan tol. Kecepatan minimum yang disarankan adalah 60 km/jam dengan kecepatan maksimum adalah 80 km/jam. Itu teorinya, pada praktiknya…. Saya pun juga suka jalan dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Tapi ternyata kalau sudah lebih dari 100 km/jam, jadi terasa lebih sulit mengendalikan mobil. Jadi sebenarnya, peraturan kecepatan maksimum itu sudah benar.

Kedua, informasi di website tidak update, dan kalaupun update bisa jadi peraturan itu hanya ada di website, tidak di kehidupan nyata. Misal, untuk membuat SIM. Apa saja yang diperlukan? Harus lulus ujian apa saja? Bagaimana dengan materi ujian? Apa yang harus kita pelajari? Berapa biayanya?

Semuanya tidak akan kita butuhkan, karena begitu kita sampai di kantor polisi, akan ada “sambutan-sambutan” menawarkan bantuan🙂

Saya berencana mengirim satu buku yang saya beli di Australia. Awalnya saya kira buku ini akan sampai sebelum kami berangkat. Ternyata meleset. Teman saya cerita, kalau buku masuk ke Indonesia bisa kena cukai yang nanti kita gak tahu perlu menebus berapa. Kalau kita tidak punya jaringan/kenalan di dunia ekspedisi, rasanya akan sulit untuk mengirim barang ke Indonesia.

Bisa bayangkan kan betapa terkejutnya saya, saat saya menerima paket berisi laptop baru di Australia.

Pergi dengan Pesawat

Entah mengapa, pergi dengan pesawat bagi saya adalah perasaan yang terburu-buru. Hari ini saya bangun pukul 01:30 pagi. Lha, katanya yang mau sukses itu orang yang bangun sebelum Subuh. Masalahnya saya orang yang mau sukses atau orang Antapani?😀 Kembali ke laptop.

Saya harus mengejar pesawat penerbangan pertama. Saya ada satu bagasi. Sebenarnya koper saya ini berukuran kabin, namun beratnya 10,8 kg. Jadi melampaui batas 7 kg. Di boarding pass tertulis, bagi mereka yang membawa bagasi, waktu paling lambat untuk check-in adalah pukul 05:25.

Setelah menempuh jarak 50 km, saya tiba di airport pukul 4:00. Yaiks, ayam jantan pun belum berkokok kali.

Dua kali saya dibantu orang kali ini. Pertama saya menjatuhkan boarding pass yang sudah saya print. Lalu petugas bandara berujar, “Hey Sir! You drop something”. Kedua kali, “Hei, is this belongs to you?”.

Butuh Mengosongkan Pikiran

Layaknya penulis buku Storey House, saya memerlukan waktu sendiri untuk mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan hal-hal yang perlu saya lakukan. Andy Griffith bilang, yang ia perlukan adalah satu blok waktu kosong tanpa interupsi.

Pada praktiknya, hal ini tidak mudah, kecuali kita pergi ke daerah tanpa orang yang kita kenal sendiri. Ngomong-ngomong, selamat hari Senin! Selamat memulai hari!

Look what I found on the book shelf 👀

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Ternyata menulis tulisan seperti ini sedikit-banyak membantu saya dalam mengosongkan pikiran.

Perjalanan ke Bandung

Kemarin, kami baru saja mengakhiri perjalanan ke Bandung.

First road trip to Bandung

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Setelah 2 tahun meninggalkan Bandung, begitu banyak hal yang ingin kami lakukan. Sayangnya, jadwal kami pun segera penuh terisi. Banyak yang bisa kami lakukan namun tentu tak semua rencana bisa diwujudkan.

Tiba Kamis malam, Jum’at pagi kami segera ke Bojong Koneng Atas, untuk menyambung silaturahmi. Lalu Jum’atan masih di Bojong Koneng Atas. Selanjutnya saya naik ojek ke daerah Setiabudi. Berbeda dengan istri saya yang sudah install Go-Jek, saya belum. Jadinya, ada tawar-menawar saat saya turun dari ojek.

Dari Setiabudi, saya beli somay di Rumah Mode. Hadeuh, rasanya standar pisan. Cuma menang tempat makan di Rumah Mode aja ini mah. Mahal pisan lagi. Lalu kami ke daerah Geger Kalong.

Pulang ke Kopo. Sabtu pagi lanjut lagi ke Sawo Endah, Pasir Pogor. Hari Sabtu ini macet. Bisa jadi karena ada wisuda Universitas Telkom. Hari Minggu siang kami ke Marga Cinta, lanjut ke Cisaranten Kulon.

Hari Senin… ke mana ya? Kok lupa? Oh iya, hari Senin kami ke Saung Angklung Udjo. Setelah hampir 10 tahun di Bandung, ini jadi kali pertama saya ke Saung Angklung Udjo.

I spent almost 10 years in Bandung but yesterday was my first visit to Saung Angklung Udjo.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Mantap lah pertunjukkan di Saung Angklung Udjo! Di sana saya beli congklak supaya nanti bisa main bersama keponakan-keponakan.

Selasa pagi sudah keluar rumah untuk mengejar diskon mencetak foto di Jonas Jl. Banda. Ternyata mencetak foto di Jonas masih jauh lebih baik dibanding di Osi. Sarapan Bubur Mang Oyo di Sulanjana, lanjut ke De Ranch Lembang, lalu Miss Bee, berhenti sebentar di Ganesha untuk lumpia basah, dan kembali ke Jonas untuk mengambil foto.

Rabu siang kembali ke Jakarta, usai menonton detik-detik Proklamasi.