Satu Judul

Ingin menulis dengan satu judul tapi kok rasanya susah. Barangkali karena di dalam otak ini banyak yang ingin ditumpahkan. Jadi blog ini lebih merupakan media curhat? Hehehehe… Ya gpp lah.

Saat mahasiswa dulu, yang menjadi batasan lebih sering faktor finansial. Saat sudah bekerja, batasan finansial tak sebesar mahasiswa dulu namun muncul batasan lain. Yaitu waktu.

Jadi menukar uang dengan waktu?

Yang penting seimbang aja sih. Hari Sabtu dan Minggu kemarin lumayan cukup bisa keluar dari rutinitas. Bisa baca koran Sabtu & Minggu. Bisa baca buku walau hanya potongan-potongan.

Iklan

Tentang Barasuara

Sekali-kali ingin menulis soal musik ah.

Barasuara. Siapa yang tahu grup musik ini?

Kalau generasi 90-an tentu lebih akrab dengan Sheila on 7, Dewa 19, Gigi, dan seterusnya. Ternyata di generasi milenial sekarang banyak grup musik baru. Saya berusaha untuk tetap dekat dengan generasi milenial karena saya percaya yang muda adalah mereka yang bisa membuat perubahan dan mereka berkarya.

Entah saya tahu pertama kali dari mana mengenai Barasuara. Dari Spotify sih pastinya, nah tapi entah bagaimana bisa muncul di daftar putar saya.

Apa karena dari soundtrack lagu film “M… dan drama 7 babak” itu ya? Yang di Flores itu lho.

Musik Barasuara sebenarnya rada-rada aneh. Liriknya pun aneh. Gak standar lah. Bukan ala-ala percintaan. Dan setelah saya baca-baca, ternyata Barasuara berkomitmen untuk membuat lagu dengan 100% lirik berbahasa Indonesia.

Keren-keren, di zaman sekarang menggali keindahan Bahasa Indonesia.

Lalu, di Youtube saya menyaksikan rekaman Barasuara saat pentas di Synchronize Fest. Saya kok jadi kepikiran mau nonton konser musik di zaman milenial sekarang yak? :B Spotify on Stage anyone?

Apakah Manusia Modern Lebih Produktif?

Kemarin, tanpa sengaja saya bertemu adik kelas saya di dalam Transjakarta. Ia menegur saya lebih dahulu. “Hai Zak! Dari mana?”, begitu sapanya.

Segera saja saya keluarkan earphone saya dari lubang telinga saya. Awalnya saya sudah siap menikmati musik dalam perjalanan pulang.

Lalu kami bertukar kabar…

“Zak, sori ya. Gue sambil koordinasi kerjaan ini”, jelasnya. Tampaknya Winnu mengerti bahwa saya tidak ingin mengobrol disambi pekerjaan lain.

Manusia modern datang dengan distraksi di mana-mana. Musuh utama distraksi adalah ponsel. Barang yang manusia modern tak bisa jauh darinya.

Sungguh sulit melakukan satu hal 100%. Misal mengobrol dengan teman lama. Sesekali masih suka terlihat, ada yang mengintip notifikasi di telepon.

Apakah manusia modern jadi lebih produktif dengan kebiasaan ini?

Menebar Edisi Positif

Tulisan-tulisan saya belakangan ini kok auranya kurang positif ya? Harusnya, tulisan yang bagus itu adalah tulisan-tulisan yang mampu menginspirasi orang lain.

Ada orang-orang yang selalu bisa optimis. Jangan pikir mereka tidak ada masalah. Itu salah. Mereka hanya menyimpan masalah itu dan tidak mengeluarkannya ke publik karena mereka takut itu justru akan membuat orang lain putus asa.

Orang-orang yang bisa selalu bisa optimis ini adalah orang yang hebat. Masalah itu akan selalu ada, namun mereka tetap bisa melihat sisi positif dari segala hal.

Saya? Masih jauh dari itu. Saya masih sering tertutupi oleh masalah-masalah pribadi yang saya alami.

Less is More

Maybe it’s time for me to do less. Wait, am I doing a lot of things now? Well, I don’t know that. But sometimes, I do feel like I need to do a lot things in a day. Either I like it, or I must do it.

It’s like going to school. Sometimes you like going to school, meet and chat with your friends, but sometimes we just go to school because we must go to school.

Keterbatasan

Semua orang memiliki keterbatasan. Entah itu berupa waktu, uang, kesempatan, dan sebagainya. Keterbatasan setiap orang berbeda-beda. Dan usaha untuk mengatasi keterbatasan itu juga berbeda-beda.

Ini saya mau nulis apa sih?

Maksud saya, manusia itu tempatnya mengeluh. Mengeluh kurang ini kurang itu. Padahal kalau mau dilihat, kelebihan yang dimiliki sudah banyak. Mengapa selalu melihat yang negatif terus?

Suasana yang Tenang

Saya membutuhkan ketenangan dalam bekerja untuk dapat berpikir dengan jernih. Salah satunya yang saya perlukan adalah suasana lingkungan yang tenang.

Banyak yang bilang, pemrogram suka bekerja di malam hari. Ya, salah satunya karena ketenangan ini. Tidak banyak interupsi dari luar.

Saya masih sulit bekerja di malam hari karena ya… ada saja sih alasannya. Sebenarnya saya bisa mencoba bangun lebih pagi dan mencoba mulai bekerja sedikit.