Kata Ibu Rindu

Saya menemukan lagu ini secara random. OK, sebenarnya gak random seharusnya. Youtube melalui machine learning, mengumpulkan data mengenai saya dan merekomendasikan lagu ini ke saya.

Mendengarkan lagu ini saya jadi terbayang, rindu seorang Ibu kepada anaknya. Rindu yang begitu dalam. Rindu yang hanya bisa dialami dan dipahami oleh seorang Ibu.

Lagu ini bagi saya sungguh puitis. Membuat saya ingin kembali bermain-main dengan bahasa Indonesia. Sebenarnya, kosakata bahasa Indonesia itu masih asyik juga untuk mengungkapkan perasaan dan mencoba sedikit puitis.

Peluk dan kecup lah kening Ibumu selalu saat kau berpamitan.

Iklan

Kemampuan Vlog

Dua hari yang lalu, saya kembali membuat vlog. Video log. Bukan saya sih sebenarnya, tapi anak saya. Hal ini menjadi kali kedua kami membuat vlog untuk tugas sekolah.

Sekarang saya jadi berpikir: apakah kemampuan vlog akan menjadi kemampuan menulis di masa depan? Maksud saya dalam artian sebagai media untuk menyampaikan gagasan.

Kalau dulu, kita begitu terbatas pada media kertas. Sehingga komunikasi dilakukan mayoritas dengan tulisan. Namun dengan perangkat elektronik yang ada di mana-mana, sekarang kita bisa merekam suara, mengambil gambar, termasuk merekam video.

Dan sebenarnya saya semakin meragukan kemampuan <em>attention span</em> generasi sekarang.

Jadi kemampuan vlog sama seperti kemampuan menulis. Ada teori-nya, ada panduan yang bagus bagaimana membuat vlog.

Membuat vlog ini tidak mudah lho. Kami berdua-pun mengonsepkan lebih dahulu. Mulai dari plot, angle kamera, hingga setting.

Saatnya belajar vlog kah sekarang?

Inovasi dan Orang

Pada salah satu malam, saya menonton video di Youtube. Video ini mengulas kebijakan imigrasi di suatu negara. Pendek cerita, ia berhipotesis bahwa kehadiran orang luar penting untuk sebuah inovasi.

Mereka yang merantau memiliki jiwa kewirausahaan yang lebih tinggi dibanding penduduk asli.

Rasanya sih benar juga soal ini. Salah seorang pendiri Google merupakan kelahiran Moscow, Russia. Jadi, apakah sebaiknya kita memang membuka diri terhadap persaingan dengan orang luar?

Angkot Jak-Lingko

Kemarin saya naik angkot OK-OTrip yang belakangan berubah nama menjadi Jak-Lingko. Sebagai pengguna angkot, saya cukup puas dengan skema ini.

Pertama: saya tidak menunggu terlalu lama. Saya menunggu di tempat perhentian yang sudah ditentukan. Jadi, seharusnya angkot ini tidak boleh berhenti di sembarang tempat.

Kedua: saya tak perlu menyiapkan uang receh. Saya tinggal menggunakan kartu pra-bayar. Tap dan beres. Saat saya naik, masih gratis. Jadi tidak ditagih ke kartu. Rp 0.

Ketiga: angkot tidak ngetem. Ini adalah mimpi bagi setiap penumpang angkot. Jangan sampai saya cerita lagi saat saya mengejar kereta api di Bandung dengan angkot ya 😉

Semoga semua angkot bisa terintegrasi dengan Jak-Lingko suatu hari nanti.

Parkir dan Ngangkot

Saya lagi berpikir, apa terjemahan dari Park and Ride ya? Belum nemu yang pas, jadinya “Parkir dan Ngangkot” saja deh.

Saya lebih suka naik kendaraan umum daripada naik kendaraan pribadi karena saya gak perlu nyetir dan repot cari parkir. Hehehe… Jadi klo ada fasilitas parkir dan ngangkot saya akan pilih itu.

Sebenarnya saya juga mencari fasilitas parkir sepeda. Jadi saya bisa naik sepeda ke tempat parkir dan ngangkot terdekat untuk selanjutnya naik angkutan umum. Namun karena umumnya tidak ada fasilitas parkir, pilihan jatuh kepada menggunakan ojek daring.

Diskusi Labedu di Tengah Malam

Malam minggu kemarin, kami berdiskusi cukup berat mengenai Labedu. Gara-gara Labedu. Labedu adalah tokoh utama dalam salah satu buku yang dibaca anak kami. Anak kami dibawakan buku dari sekolah untuk dibaca setiap hari.

Sebenarnya hal ini merupakan isu lama yang sudah pernah kami bahas: mencari buku yang bagus untuk anak-anak sesuai dengan masa tumbuh kembangnya. Jika mau diperluas, sebenarnya masalah ini tidak cuma di buku tapi juga tontonan.

Kosakata di buku ini kami nilai terlalu sulit untuk dipahami bagi anak kelas 2 SD. Istri saya berkomentar, cerita Labedu ini terlalu sulit dicerna. Terlalu rumit dan kompleks. Tak sederhana.

Tampaknya saya masih perlu menelusuri perpustakaan lokal dan toko buku untuk mencari buku anak yang bagus. Eh tapi saya lihat belakangan di lingkaran media sosial saya, sudah mulai muncul inisiatif dari mereka yang mengalami masalah yang sama. Mereka berinisiatif menerbitkan buku sendiri dan dijual sendiri.

Wah zaman memang sudah semakin bergeser.

Sempurna dan Manusia

Pada dasarnya, saya suka jika semua berjalan sebagaimana mestinya. Lalu lintas yang lancar, hidup yang seimbang, makanan yang cukup, olahraga masih sempat, bisa baca cerpen di akhir pekan, dan menulis puisi sesekali. Namun keadaan sempurna itu sulit didapat.

Apakah saat saya menuntut segala sesuatu untuk bisa menjadi sempurna, itu adalah saat saya tidak menjadi manusia? Manusia bukan mesin. Ia tidak 1 dan tidak 0. Ada abu-abu di antara 1 dan 0. Ada spektrum.

Yang tidak bisa saya tolerir adalah ketidakjujuran.