Sayuran dengan Ulat

Tadi siang saya makan brokoli. Saya beli di tukang sayur dekat sekolah.

Saya tidak mengolah brokoli ini macam-macam. Hanya saya rebus saja. Sebelum saya rebus, saya potong dulu. Eh pas saya rebus, ada ulat menggantung di bunga brokoli. Waduh.

Eh tapi klo yang saya tahu, klo ada ulat di sayuran itu berarti justru sayuran yang bagus. Berarti tidak menggunakan pestisida.

Jadinya sebelum saya makan, saya potong lagi kecil-kecil sambil memeriksa apakah masih ada ulat menggantung.

Pentingnya Aktivitas Fisik

Pagi ini usai mengantar anak saya sekolah, saya mencoba rute baru berjalan kaki. Beraktivitas fisik di mana pejalan kaki tak dipikirkan menjadi tantangan tersendiri. Lebih enak blusukan ke kampung tentu daripada jalan kaki di jalan raya tanpa trotoar.

Katanya, yang bagus itu adalah berjalan kaki minimal 10 ribu langkah setiap hari. Di catatan ponsel saya, rata-rata saya dalam setahun baru 5000 langkah per hari. Masih banyak langkah yang harus dilakukan.

Yuk-yuk, pilih jalan kaki, alih-alih naik sepeda motor ke tempat yang dekat.

Meninggal

Akhir pekan kemarin saya ke Soreang, ibu kota Kabupaten Bandung Barat. Salah seorang sepupu istri saya meninggal dunia. Usianya baru 22 tahun.

Setiap ada anak muda yang meninggal dunia, saya selalu berpikir: “The goods die young”. Sementara mereka yang diberikan usia panjang, itu ibarat diberikan waktu yang lebih lama di dunia untuk bertobat dan berbuat kebaikan lainnya.

Menghadiri pemakaman merupakan salah satu pengingat, bahwa suatu hari nanti kita semua akan kembeli kepada-Nya…

Mengemil Buah

Pagi tadi saya mampir ke supermarket lokal. Saya suka buah-buah-an yang ada di supermarket ini. Harganya relatif lebih terjangkau dengan kualitas yang tak kalah dengan supermarket besar.

Sebenarnya saya ingin pergi ke pasar basah, sayang lokasinya agak jauh dari tempat saya tinggal. Waktu saya kecil dulu, ada pasar inpres tak jauh dari rumah. Pasar inpres ini besar, dan saya suka menemani Ibu saya berbelanja di pasar ini.

Mulai dari membeli daging, ayam, sayuran. Saya suka membeli candil, makanan tradisional yang lalu ditaburi dengan kelapa.

Oh ya, sekarang saya sedang mencoba membangun kebiasaan mengemil buah. Entah ini bisa berhasil atau tidak. Jadi kalau lapar, alih-alih makan cemilan kue kering, saya akan coba makan buah.

Tadi saya beli: semangka, melon, alpukat, pisang, dan mangga.

Mendengarkan Audiobook

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta kemarin, saya mencoba mendengarkan audiobook. Saya mendengarkan sampel buku The Kite Runner. Yang menarik adalah penulisnya sendiri yang menjadi pembaca.

Ternyata seru juga mendengarkan buku dibacakan oleh orang lain. Satu kelebihan dari membaca buku adalah kemampuan imajinasi kita yang bisa kita bayangkan sendiri. Dan kelebihan dari dibacakan adalah kita jadi tahu bagaimana suatu kata diucapkan.

Sayang, tidak banyak buku bahasa Indonesia yang dibacakan. Apakah ada yang tertarik membacakan buku?

Singapura yang Dingin

Ini jadi kunjungan kali ketiga saya ke negeri Singa ini. Pertama di tahun 1997, saat saya masih kelas 1 SMA. Kami sekeluarga pergi ke tanah suci berangkat dari negeri Singa. Saat itu tak banyak yang saya tahu soal dunia di luar Indonesia.

Yang saya ingat masih ada fiskal. Dan biaya fiskal lebih besar jika naik pesawat, oleh karena itu kami sekeluarga masuk ke negeri Singa via Batam dengan menaiki kapal feri.

Kali kedua, di tahun 2011. Saat Zaidan berusia 1 tahun.

Entah mengapa di notifikasi Quora, membawa saya ke pertanyaan ini. Hmm… algoritma yang baik dari Quora. Pertanyaan soal putri Lee Kuan Yew, (mantan) Perdana Menteri Singapura.

Entah, apa ini soal perbedaan budaya saja. Di Indonesia, kita terbiasa dengan sopan/santun (tapi lalu menikam di belakang?), sementara sang dokter dengan straight memberikan jawaban.

Lalu, saya menyempatkan naik bis. Jika di Victoria dulu, sang penumpang sesekali masih suka mengucapkan terima kasih sebelum turun dari bis. Namun, saya belum menjumpai penumpang bis di Singapura yang mengucapkan terima kasih.

Singapura memiliki infrastruktur yang jauh lebih baik dari Jakarta. MRT ada di mana-mana. Bis yang teratur. Jalan dengan trotoar besar. Semua teratur. Termasuk mobil-mobil.

Kemarin saya bekerja dari NLB, pusat perpustakaan publik Singapura. Saya masih merasa suasana perpustakaan ini pun juga dingin. Bahkan di pojok anak-anak. Semua interior, buku, padahal semuanya baik. Hiasan seni untuk tidak berisik ada di beberapa tempat. Suasana yang berbeda saat saya masuk ke perpustakaan Clayton dulu.

Entah mengapa saya masih merasa Singapura itu dingin. Walau begitu saya masih ingin berkunjung ke negeri ini dan menghabiskan waktu lebih lama dari kunjungan 2 hari 3 malam. Dan mengajak Zaidan naik bis double decker (tingkat) yang belum kesampaian sekarang :B

Mewariskan Dunia ke Generasi Berikutnya

Hal ini tampak sederhana, namun seringkali kita lupa. Kalau kita mencoba menelusuri sejarah ke belakang, ternyata generasi-generasi sebelum kita sesungguhnya telah memiliki nilai-nilai. Berkesinambungan, berkelanjutan, dst.

Kemasan makanan zaman dulu dibalut dengan daun. Tak ada sampah. Namun di zaman modern sekarang, begitu mudahnya kita membeli botol air plastik untuk meminum sebotol air. Produk makanan begitu banyak dan mereka dikemas dengan kemasan sekali pakai.

Memang sulit untuk mengurangi sampah, namun bukan tidak bisa. Mulai dari yang paling sederhana: biasa membawa botol minum dan membawa tas plastik belanja.