Percaya Akan Kekuatan Taman

Saya termasuk yang percaya akan kekuatan taman. Maka, sedapat mungkin dari dulu, saya mengajak anak saya pergi ke luar rumah, mengunjungi taman.

Saat di down under dulu, taman tak terlalu jauh dari rumah. Sekitar 200-300 meter. Masih lebih jauh dari mart terdekat dari rumah sekarang.

Sayangnya, cuaca di down under tak seindah di sini. Angin kencang, matahari terik, dan dingin yang menusuk, datang silih berganti. Itu memang menyulitkan, namun tak menyurutkan kami datang mengunjungi taman.

Anak-anak selalu bisa menemukan permainannya sendiri. Ia tak perlu mainan canggih. Yang ia perlukan adalah kehadiran orang tua dan teman-teman bermain. Dan tentu taman terbuka, tempat ia bisa bermain…

Memulai Hari Senin

Rasanya memulai hari Senin adalah hari yang paling sulit. Apalagi kalau akhir pekannya all out. Habis-habisan, maksudnya tidak bekerja sama sekali.

Ini sekarang saya sedang mengingat-ingat apa yang kemarin saya lakukan dan apa yang selanjutnya saya harus lakukan. Memanaskan sel-sel otak dulu…

Pengalaman Kali Pertama ke RPTRA

Alkisah di dekat rumah (orang tua) belum lama ini diresmikan RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak). Namanya kok ribet amat yak? Orang sih suka menyebutnya R-PETRA.

Jarak dari rumah tak terlalu jauh. Paling hanya 200 meter. Lebih dekat zaman ke Taman Fregon dahulu di down under.

Lalu saya dan anak-anak masuk ke dalam RPTRA. Ini kali pertama saya masuk, setelah sebelumnya hanya mengintip dari luar pagar.

Awalnya, saya kehabisan ide di rumah. Anak-anak mau bermain apa lagi. Akhirnya, pikiran spontan saya jatuh ke RPTRA saja.

Dan dengan jarak yang begitu dekat, RPTRA sungguh nyaman untuk dikunjungi. Kami tak perlu naik mobil/motor/sepeda. Tak pusing berpikir jalanan macet, cari parkir, dst.

Inilah konsep tata ruang yang ideal. Saat taman bisa dikunjungi setiap orang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Di dalam RPTRA terdapat perpustakaan. Tolong jangan bayangkan perpustakaan dengan rak buku yang panjang berdiri. Dalam hati saya, biar bagaimana ini merupakan kemajuan besar. Buku-bukunya masih layak baca (bagi saya). Ada buku anak-anak, pun beberapa buku dewasa. Saya baca sekilas trik fotografi digital. Namun sebenarnya saya lebih sibuk menganalisis kondisi RPTRA dan memerhatikan anak-anak bermain.

Masih di dalam perpustakaan ada mainan LEGO. Bukan LEGO KW. Di dus-nya ada tulisan, LEGO ini merupakan donasi dari Kedutaan Denmark (eh benar kan Denmark?). Dusnya donasi dari IKEA. Anak-anak sempat bermain agak lama dengan LEGO. Buku-buku yang ada bagi anak-anak di bawah 6 tahun rasanya belum menarik.

Buku bagi anak-anak di bawah 6 tahun harus yang penuh gambar dan ada seseorang yang menceritakan mengenai buku-buku tersebut. Cara meletakkan di rak pun harus terlihat sampulnya. Itulah sedikit pelajaran yang saya ambil saat menjadi pengunjung ruting perpustakaan desa Clayton.

Duh malam-malam begini, saya masih menulis. Tulisan saya juga semakin tak karuan rasanya. Sebenarnya ini sudah lelah, namun masih ada janji yang sedang ditunaikan. His screen time.

Singkat kata: saya terkesan dengan RPTRA ini dan berharap semoga bisa konsisten.

Tantangan Tidak Jajan

Sekembali ke tanah air, salah satu tantangan baru bagi saya adalah untuk tidak jajan. Ah, tukang jajan-an di sini itu ada di mana-mana dan begitu menggoda. Alfamart dan Indomaret berjamuran di mana-mana. Beli camilan ini-itu begitu mudah dengan harga yang terjangkau. Tukang gorengan menyajikan gorengan siap saji. Mulai dari pisang goreng, bakwan, risol, dst, dst.

Jika dulu beli satu buah bakwan saja bisa $3, maka sekarang beli Rp 10.000 sudah bisa dapat 10. Ketoprak juga hanya Rp 10.000 bukan $10.

Nah, sekarang saya menantang diri saya, untuk menahan diri dari jajan. Saat sepeda-an dua minggu lalu, saya membekali dengan membawa 2 botol air minum dan kue yang didapatkan semalam sebelumnya saat ada acara di tetangga.

Saat teman sepeda-an berhenti untuk jajan, saya keluarkan saja bekal saya. Bukan berarti saya anti jajan, hanya berusaha untuk tidak terlalu dibiasakan jajan.

Kaos Kaki Tertinggal

Berpikir paralel bagi laki-laki adalah momok. Kalau perempuan, yang saya tahu sulit membaca peta.

Alkisah pagi ini saya kembali memulai hari lebih pagi. Dalam pikiran saya sudah ada hal-hal yang harus saya lakukan secara berurutan. Baca: berurutan, bukan bersamaan. Mulai dari mencuci piring kotor, menyiapkan bekal makanan, menyiapkan sarapan, kapan bisa memasak, hingga berangkat sekolah.

Nah apesnya, kok bisa ternyata saya lupa menyiapkan kaos kaki. Zaidan memang biasa mengenakan kaos kaki di dalam mobil saat di dalam perjalanan menuju sekolah. Nah, tadi pagi saya lupa. Mau menulis di buku komunikasi ternyata di mobil tak ada pulpen. Mau mutar-balik, kok malas.

Akhirnya, sesampainya di rumah, saya mengeluarkan sepeda saya dan membawakan sepatu beserta kaos kaki ke sekolah.

Buffering Spotify

Teknologi buffering Spotify OK juga nih. Dengan kondisi Internet yang byar-pet, mendengarkan lagu via Spotify, jarang nge-lag. Berbeda dengan saat ingin menonton video. Bahkan web pun bisa sangat lama dibuka.

Biarpun judulnya 4G, tapi praktiknya tetap saja Internet suka byar-pet. Belum lagi kalau gerimis/hujan datang. Bisa misbar: gerimis bubar.

Bravo untuk tim engineering Spotify!

Bersepeda di Ragunan

Jungle ride 🌲🌳🌴

Terkadang saya merasa eneq melihat isi Internet yang tak mencerahkan. Apalagi yang bermain mengakali algoritma SEO. Isi Internet main comot dari sana-sini demi mendatangkan traffic ke situs yang penuh iklan.

Dan menulis blog ini merupakan salah satu usaha menyumbang isi Internet yang paling tidak bisa bermanfaat, minimal untuk diri saya sendiri.

OK, kembali ke judul.

Akhir pekan kemarin, saya mengajak anak dan istri saya bersepeda di Ragunan. Satu minggu sebelumnya, saya sudah bersepeda bersama bike-buddies saya Jerry. Anak saya sampai bilang bahwa saya menjadi Tom, karena Tom dan Jerry😀

Tak ada proses ribet untuk bersepeda di Ragunan. Yang diperlukan hanyalah kartu JakCard sebagai alat pembayaran. Bahkan rasanya, sepeda yang dibawa pun tak dikenakan biaya masuk.

Anak saya ternyata lumayan kuat juga sepeda-an. Kemarin berdasarkan data GPS, kami bersepeda kurang lebih 7.5 km jauhnya. Kalau saya dan istri kan niatnya sepeda-an, kalau si kecil lebih tertarik berhenti-berhenti melihat binatang yang ada. Jadi sedikit-sedikit berhenti dan lihat sana-sini.

Enaknya sepeda di Ragunan adalah tidak ada kendaraan bermotor berseliweran di jalan. Ibaratnya, HBKB (Hari Bebas Kendaraan Bermotor) setiap hari. Plus bonus dikelilingi pohon tinggi di mana-mana.

Hingga…. pukul 10 ternyata pengunjung Ragunan begitu banyak! Mobil-mobil pun masuk ke dalam. Nah, ini yang kami sayangkan.

Di luar itu, saya merekomendasikan Ragunan sebagai tempat yang mengasyikkan untuk naik sepeda di Jakarta!