Belajar Kunci Gitar

Pertama kali saya belajar gitar adalah masa-masa SMP. Saat suka-sukanya nge-band :B Saya sempat les gitar klasik. Hanya sampai level 1B kalau saya tidak salah ingat. Itu pun tak pernah ikut ujian kenaikan.

Saya merasa bosan belajar gitar klasik. Banyak aturan dan cenderung monoton. Harus baca partitur pula. Sementara teman-teman di sekolah sudah bisa mengiringi lagu dan memiliki band.

Dan, saya tak pernah mengasah kemampuan gitar saya lagi…

Hingga Jum’at malam kemarin, saya putuskan untuk coba ikut webinar mengenai chord gitar. Kebetulan yang jadi pembicara adalah bapak-nya teman anak saya di sekolah. Ya, saya jadi tahu orangnya. Saya sempat sekali melihat secara langsung saat ada acara di sekolah. Ia bahkan pentas naik ke atas panggung bermain musik dengan anaknya.

Di tengah beragamnya webinar di zaman pandemi, jadinya saya memilih musik. OK, sebelum-sebelumnya saya pernah menghadiri webinar security, dan yang terakhir PyCon ID 2020. Jadi, ya masih cukup beragam juga lah ya.

Kembali ke musik.

Saya sebenarnya cukup menikmati musik. Kalau jarang latihan bermain musik, ya karena … ya ada aja lah alasannya. Mulai dari tidak ada waktu, hingga tak ada yang mengajarkan, atau tak tahu bagaimana belajarnya saja.

Saya coba memainkan aransemen Sungha Jung. Saya sudah dapat tablature-nya. Dan ternyata skill saya belum sampai. Cuma bisa bagian intro doang. Terlalu cepat :))

Di webinar kemarin, Vega Antares menyampaikan dasar-dasar chord. Not dominan, interval antar not, dst.

Setelah mengikuti webinar ini, saya jadi berpikir untuk kembali mengasah kemampuan gitar saya. Saya mau coba cari aplikasi saja. Berbayar tidak masalah. Ada saran?

Blog yang Tak Menarik Lagi

Bagi milenial, blog mungkin sesuatu yang tak menarik. Saya menunjukkan ke anak saya blog saya, ya respon dia biasa saja. Anak saya lebih tertarik dengan video di youtube. Berapa views, berapa subscribers.

Apalagi sekarang ada fitur stories. Tulisan semakin ditinggalkan. Jadi benar ya, apa yang dulu diramalkan: “Blog hanyalah tren sesaat”.

Barusan saya mengetik kata kunci “kolumnis infolinux”. Dan ternyata blog saya duduk di rangking pertama. Saya ingin mengingat nama-nama penulis kolom majalah infolinux.

Padahal menulis blog itu sebenarnya menyenangkan lho. Kita bisa melihat perjalanan kita sendiri. Perjalanan panjang dalam hidup kita sendiri…

Menulis itu Menyenangkan

Menulis itu menyenangkan. Satu hal yang sekarang dilupakan. Atau sekarang membaca itu suatu kemewahan tersendiri ya?

Di zaman youtube, netflix, rasanya video mampu lebih mempesona. Ah iya? Benarkah?

Toh puisi tak mati.

Salah seorang temanku, Yando, masih setia menulis blognya di https://simbangando.worpress.com

Setiap hari saya masih membaca koran. Sekarang koran dengan format digital. Sebenarnya enak sih, praktis. Tak perlu menunggu loper koran datang. Tak menumpuk sampah koran bekas juga. Namun, biar bagaimana tetap lebih enak membaca koran cetak. Saya tak pernah membaca cerpen di koran digital. Membaca digital memberikan kesan bagi saya untuk membaca dengan cepat saja.

Atau ya, memang koran sudah semakin ditinggalkan?

Install Ubuntu 20.04

Beberapa hari yang lalu, akhirnya saya meng-install Ubuntu 20.04. OK juga perubahannya, apalagi sebelumnya saya sudah cukup lama menggunakan Ubuntu 14.x

Saya mengunduh ISO Ubuntu 20.04 dari kambing UI. Lalu saya jadikan USB flash disk saya sebagai bootable disk. Saya gunakan aplikasi dd. Perintah persisnya lupa saya.

Evaluasi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh)

Di era vlog begini, saya masih menulis blog. Tak apa lah. Scripta manent, verba volent! Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang. Eh, kalau direkam lalu diunggah masih tetap bisa ditonton ya zaman sekarang.

Saya ingin menuliskan apa yang ada di otak saya mengenai PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh. Dengan menuliskan apa yang saya pikirkan, saya merasa beban di otak saya bisa lebih berkurang. Saya bisa memikirkan hal-hal lain.

Baiklah, mari kita mulai.

Kurang lebih sudah enam bulan, PJJ ini berlangsung. Termasuk mulai dari PJJ tanpa persiapan. Saat sekolah memutuskan anak-anak tidak bersekolah selama 2 minggu saja di bulan Maret lalu, hingga sekarang keputusan menjalankan semester baru secara jarak jauh 100%.

Dengan berada di ruang yang sama bersama anak saya untuk bekerja, saya jadi bisa lebih mengerti keadaan yang dialami anak saya saat menjalani PJJ. Semoga yang saya tuliskan di sini bisa bermanfaat.

Pertama: penggunaan komputer bagi anak-anak untuk PJJ.

Penggunaan komputer bagi anak sebenarnya kurang natural. Ya, semakin besar anak, sebenarnya PJJ tidak akan terlalu menjadi masalah. Misal, bagi mahasiswa: penggunaan komputer untuk belajar tidak besar masalahnya jika dibandingkan dengan anak-anak yang berusia TK. Untuk apa anak TK duduk manis satu hingga dua jam di depan komputer menyimak guru?

Anak saya berusia 9 tahun. Jadi secara usia, ia sudah ok lah untuk menggunakan komputer, walau sebaiknya tetap tidak terlalu lama. Penggunaan komputer ini tidak natural bagi anak-anak. Saat harus mengerjakan tugas, ia harus belajar mengetik: memasukkan huruf-huruf ke dalam pengolah kata (word processor): entah dalam Google docs, spreadsheet, dan perkakas-perkakas lainnya.

Dalam satu tugas matematika, ini jadi lebih repot lagi. Menulis notasi matematika sangat tidak natural dengan pengolah kata. Lantas, apa mau diajarkan menuliskan notasi LaTex? Wow! Bisa lebih parah. Yang ada, jadinya saya meminta anak saya menuliskan jawabannya ke kertas saja. Lalu saya foto. Atau kalau saya ada waktu, saya yang menuliskan jawaban anak saya ke pengolah kata.

Kedua: materi dalam bentuk video memang lebih menarik tapi lebih sulit untuk dicatat.

Materi video memang lebih menarik: ada gambar, ada suara, ada animasi. Namun praktiknya, lebih sulit mencatat materi yang disampaikan. Sebagai ilustrasi: saat disampaikan materi video SDA (Sumber Daya Alam). Sumber daya alam bisa diklasifikasi menjadi tiga. Pertama: apakah terbarukan/tidak terbarukan. Kedua: apakah berasal dari … duh kok saya jadi lupa.

Pendek kata: definisi disampaikan di menit ke-2. Lalu penjelasan setiap definisi dijelaskan di menit berikutnya. Saya harus mencari video di menit ke-2 jika ingin kembali. Jika informasi ini disampaikan dalam bentuk tulisan, saya bisa lebih mudah menuju ke halaman sebelumnya.

Ketiga: terlalu banyak penggunaan perkakas (tools).

Ya, perkakas memang bisa membantu. Namun saat terlalu banyak, ini jadi membingungkan. Belum selesai belajar satu perkakas, sudah harus belajar yang lain. Yang Microsoft Sway, yang Flipgrid, dll.

Bahkan kadang anak-anak lebih semangat mempercantik tampilan tugas daripada memahami esensi tugas. Misal mengganti warna, menambah foto, dll.

Atau kecepatan saya saja yang makin berkurang untuk belajar perkakas baru?

Keempat: apakah PJJ berarti memindahkan waktu kelas 100% ke depan komputer?

Anak berusia 9 tahun memiliki rentang konsentrasi maksimum 40 menit (citation required: ya coba cari sendiri ya, referensinya). Pendek kata, anak-anak memiliki rentang konsentrasi yang lebih singkat dibanding orang dewasa.

Bahkan orang dewasa yang bekerja di depan komputer pun selalu penuh distraksi. Cek notifikasi WA, instagram, lalu mendengarkan lagu. Belum lagi godaan belanja daring. Jadi, benar kah kita benar-benar bekerja saat di depan komputer?

Anak saya memang menyimak pelajaran saat disampaikan gurunya. Bisa jadi hanya di awal/akhir atau tengah saja. Seringkali saya mendengarkan keyboardnya berisik: saat ia bersemangat chat dengan teman-temannya. Atau ia lebih semangat membuka gohub untuk mengetahui berita terbaru soal Pokemon. Atau membuka youtube, untuk mencari video favoritnya.

Ia memang duduk manis di depan komputer, tapi belum tentu 100% belajar. Sama juga dengan orang dewasa ya.

Kita tahu PJJ bukan kondisi ideal. Ini adalah kondisi darurat yang harus kita hadapi sehubungan dengan pandemi ini. Evaluasi ini adalah catatan pribadi saya. Bukan berarti saya menuntut banyak, harus memperbaiki ini dan itu. Karena saya tahu, guru-guru pun selalu berusaha yang terbaik untuk anak didiknya.

Harapan saya, catatan pribadi saya ini bisa saya gunakan untuk memperbaiki keadaan yang ada. Misal saat mendampingi belajar: kekurangan yang bisa saya isi.

OK, sekian dulu. Bagaimana pengalaman PJJ kamu?

Orang Tua yang Tak Siap

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dimulai. Seingat saya mulai dari pertengahan Maret hingga sekarang. Apakah saya siap?

Untuk melengkapi perspektif, saya memutuskan mencari buku mengenai homeschooling. Perlu dicatat bahwa saya bukan praktisi homeschooling. Saya memilih menyekolahkan anak saya ke sekolah formal. Saya mendelegasikan kewajiban pendidikan ke sekolah.

Sekarang PJJ. Anak-anak belajar dari rumah. Ini tentu tak mudah: baik bagi anak dan bagi orang tua. PJJ kembali menyadarkan saya bahwa kewajiban pendidikan utama tetap pada orang tua.

Luangkan waktu lebih banyak bersama anak. Belai kepalanya. Diskusikan hal-hal apa saja dengannya. Ciptakan percakapan.

Blog dan Tren Sesaat

Sekarang sudah tahun 2020, apakah masih ada yang menulis blog? Masih ingat kan dengan perkataan seorang pakar bahwa blog itu hanya tren sesaat?

OK, memang masih ada yang menulis blog, tapi saya lihat jumlahnya berkurang. Eh berdasarkan data apa ini saya? OK, hanya perasaan saya saja. Saya tak punya data akurat. Saya juga sudah tidak pernah membaca blog teman-teman saya, kalau tidak mau dikatakan sudah jarang sekali. Dulu saya membaca blog orang-orang via google reader: semacam aplikasi RSS aggregator, jadi saya tak perlu membuka blog orang satu per satu untuk saya baca.

Sekarang rasanya orang-orang sudah bergeser ke vlog dan podcast. Saya perhatikan jumlahnya begitu banyak. Sebelum zaman podcast populer, saya mendengarkan temanmacet.com Setiap ada rilis baru, saya unduh dan masukkan ke flashdrive. Untuk kemudian saya dengarkan di mobil saat berkendara.

Sekarang, tinggal buka spotify, lalu streaming. Selesai. Sudah bisa mendengarkan podcast.

Saya lihat membuat konten menarik ini juga tak mudah. Perlu kemampuan penyuntingan kalau mau rapi. Sama seperti blog juga sih: menulis juga perlu penyuntingan. Kalau rekaman, perlu ruangan yang kedap, perlu mic yang bagus, belum lagi pencahayaan, dst. Walau ini seharusnya bukan penghalang untuk memulai membuat podcast/vlog.

Walau bagaimana, rasanya saya tetap suka menulis. Menulis membuka ruang untuk mengeluarkan apa yang saya pikirkan dan rasakan.

Ya Ampun Sudah Lama Tidak Menulis

Ya ampun, di zaman konten begini, saya sudah lama sekali tidak menulis. Di zaman konten, rasanya tulisan semakin ditinggalkan. Orang semakin rajin posting konten video.

Daradam.

Menulis itu sebenarnya tetap penting. Untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran.

Sekarang ini saya sedang mau belajar soal konsep homeschooling. Saya sudah menerima beberapa referensi buku soal homeschooling.

Lebih enak baca buku atau cari video di youtube soal homeschooling ya?

Tentang Kematian

Hari Minggu kemarin saya membaca cerpen Desi Anwar. Kali ini bertajuk soal kematian.

Masih di hari Minggu, saya membaca KOMPAS Minggu. Saya begitu terenyuh dengan mereka yang memberi penghormatan terakhir bagi para korban COVID19. Mereka yang memakamkan jenazah korban COVID19.

Manusia takkan bisa hidup selamanya, namun kita berusaha untuk hidup selamanya. Dari zaman dulu, Firaun mencoba membuat jasadnya abadi. Para penguasa ingin dikenang dengan membangun patung megah. Namun, semua itu takkan mengurangi waktu kita di dunia ini.

Membaca cerpen Desi Anwar, yang mengisahkan kisah yang begitu mendalam antara seorang Ibu dengan putrinya. Sang Ibu yang keras, sang anak yang perasa.

Di saat Ibunya akan meninggal, May menyaksikan air mata Ibunya yang jatuh dari sudut mata Ibunya, seolah ingin memeluk May begitu eratnya.

Jika kematian datang (dan pasti akan datang), apa yang akan kamu katakan padanya?

Reset iPhone

Hari ini saya terpaksa mereset iPhone saya karena saya lupa blas passcode-nya. HP ini sudah lama saya tak saya gunakan karena sudah ada yang baru. Kurang lebih sudah satu tahun saya tak menyalakan HP ini. Akibatnya saya lupa passcode-nya.

Kejadian ini membuat saya berpikir, dunia digital itu sebenarnya juga renta. Ia begitu rapuh. Karena saya salah memasukkan passcode sebanyak 10 kali, saya terpaksa kehilangan foto-foto dan kenangan.

Apakah saya benar-benar kehilangan? Sebenarnya, kalau mau jujur sekali, sih enggak juga. Saya tak benar-benar membutuhkan foto-foto yang ada di HP itu. Ibaratnya, ya tidak akan mati kalau tidak ada foto itu. Masih bisa perpanjang SIM, kalau tidak ada foto itu. Masih bisa kerja. Masih bisa makan.

Saya merasa perlu mengkalibrasi ulang hubungan saya dengan berkas digital.