Usaha Mengurangi Sampah

Saya masih bukan apa-apa dalam usaha mengurangi sampah. Saya lihat di generasi sekarang, makin banyak orang yang peduli akan isu sampah.

Saya masih pakai tissue. Saya masih pakai sedotan plastik. Saya belum membuat kompos.

Ada seseorang yang saya ikuti di Instagram yang begitu rajin mengurangi sampah. Ia menggunakan lap. Ia punya sedotan permanen. Ia membawa gelas/tumbler ke mana-mana. Termasuk saat membeli minuman Cha Time. Ia membawa wadah makanan.

Saya baru sebatas membawa plastik sendiri saat belanja. Saya mengurangi membeli minum dalam botol dengan membawa botol minum sendiri. Efek bagusnya, sekarang saya jadi jarang jajan minuman macam teh botol atau pulpy orange, dst.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu mulai berpikir untuk mengurangi sampah di setiap aktivitas?

Iklan

Hari Pertama Sekolah

Hari ini kami mengantar anak kami yang pertama untuk hari pertamanya (kembali) bersekolah. Ada kebahagiaan tersendiri saat ia begitu bersemangat pergi sekolah.

Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya tetap memiliki hati tersendiri karena biar bagaimana di sini lah tempat saya dibesarkan. Tumbuh dan berkembang.

Saya tak tahu akan jadi apa anak saya kelak suatu hari nanti. Masa depan apa yang akan ia hadapi. Profesi apa yang akan kelak ia geluti.

Doaku selalu menemani setiap langkahmu, anakku.

Kembali Membaca Komik RA Kosasih

Semalam, sambil menunggu pertandingan semifinal bola, saya melanjutkan membaca komik karya RA Kosasih. Kali ini saya membaca Bharatayudha.

Waktu kecil dulu, salah seorang om saya pernah membelikan buku komik ini untuk kami berempat. Saya sudah lupa ceritanya.

Namun saat semalam saya membaca bagaimana Resi Bisma mati, saya jadi dejavu. Saya jadi kembali teringat, bagaimana Resi Bisma terluka dengan puluhan tusukan panah.

Membaca komik ini masih mengasyikkan ternyata. Saya meminjam buku ini dari perpustakaan lokal anak-anak sekitar.

Membaca di Kereta

Akhir pekan kemarin, saya pergi berdua dengan anak saya ke Tegal. Saya membawa buku novel pendek karya Eka Kurniawan yang tak kunjung juga saya tamatkan. Saya sampai sudah lupa ceritanya bagaimana.

Ternyata goncangan kereta cukup kencang, sehingga saya mengurungkan niat untuk mengeluarkan buku dan membaca. Atau sebenarnya saya saja yang memang malas untuk membaca ya?

Saya pikir membaca membutuhkan ketenangan. Tidak bisa begitu saja ujug-ujug membaca. Apa ini menandakan pikiran orang Indonesia umumnya dalam kondisi tidak tenang ya? Terlalu banyak grasak-grusuk?

Atau dengan membaca kita bisa menemukan ketenangan. Sama dengan menulis, terkadang seperti perjalanan menemukan diri sendiri.

Bertemu dengan Generasi Milenial

Sabtu kemarin, saya kumpul makan-makan bersama generasi milenial. Rasanya saya yang paling tua kemarin 🙂

Sabtu kemarin, pagi-pagi saya sudah tiba di city. Saya mengantar Bapak yang akan pergi ke bandara hingga ke Blok M. Dari Blok M, Bapak lanjut naik bis Damri. Karena sudah telanjur di kota, jadilah saya putuskan untuk gabung makan siang bersama anak-anak generasi milenial ini.

Saya sudah sering bertemu dengan anak-anak milenial ini. Kebetulan kami dipersatukan oleh kesamaan minat pada satu bahasa pemrograma yaitu Python.

Motivasi saya hadir adalah saya ingin tahu bagaimana potret generasi muda sekarang. Apa yang diobrolkan mereka, apa yang menarik bagi mereka.

Saya lihat generasi milenial ini adalah generasi yang mandiri. Mereka fokus membangun kompetensi diri mereka di era digital. Banyak diantara mereka bekerja di startup unicorn. Satu-dua-tiga ada yang kerja remote.

Satu hal yang saya tidak nyambung adalah saat mengobrolkan game. Saya sudah lama tidak bermain game. Mulai dari PS4 hingga game yang mobile. Soal game yang saya ingat hanya Mario Bros di Nintendo classic.

Cukup senang bisa bertemu teman-teman yang lebih muda.

Hidup di Kota

Kota itu menarik. Ibarat gula bagi semut.

Saya sendiri tak pernah tinggal di pusat kota. Saya tinggal di pinggir kota. Dan sangat jarang bagi saya untuk naik kendaraan pribadi jika pergi ke kota. Waktu kecil, saya pergi ke kota dengan orang tua.

Beranjak remaja, kami memiliki mobil VW kodok yang digunakan sebagai mobil anak-anak. Namun seingat saya, saya termasuk jarang pergi ke kota dengan mobil VW kodok ini. Yang rutin adalah saat kursus bahasa Inggris LIA dulu di bilangan Pramuka.

Sekarang pun saya menjadi kikuk saat pergi ke kota dengan kendaraan pribadi. Mulai dari mencari jalan, aturan jalan (ganjil/genap) termasuk mencari tempat parkir.

Sebenarnya saya lebih suka naik kendaraan umum jika pergi-pergi. Pertama: badan bergerak. Hal ini membuat fisik saya menjadi lebih bugar. Kedua: saya tak perlu pusing parkir di mana.

Mencari Ruang Kerja Bersama

Tadi pagi sebelum berangkat kerja, saya mampir ke ruang kerja bersama (coworking space) yang ada di dekat rumah. Saya tidak menemukan tempat ini dari Google, saya hanya melihat dari spanduk yang terpasang di depan kompleks ruko ini.

Saya menebak-nebak, mana ini jalan masuknya? Saya coba ke sayap sebelah kanan. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Saya coba telepon nomor kontak yang tertera di spanduk. Tak ada jawaban. Lalu saya pindah ke sayap sebelah kiri. Nah, ini baru ada tanda-tanda kehidupan.

Saya sudah menset harapan saya untuk tidak terlalu berharap. Lha, kalau tidak ada di Google berarti pemilik ruang kerja bersama ini tidak bersama generasi milenial tho ya. Jadi lah saya lihat masuk ke dalam ruangan.

Tidak ada yang menarik. Ruangan dipartisi menggunakan triplek. Lantai hitam-putih seperti papan catur. Lha ini mau main catur atau mau ketak-ketik komputer? Yang ada nanti malah mikir catur bukan mikir kode saat pandangan melihat ke sekitar.

Jadilah sekarang saya bekerja dari perpustakaan lokal anak-anak yang terdekat dari rumah. Ternyata lebih nyaman di sini. Suasananya lebih seperti rumah. Ada jendela, ada rak buku, ada meja, ada sofa. Kalau bosan, bisa gogoleran sebentar sambil membaca buku.

Oh, ternyata ada shower di kamar mandinya! Jadi kapan-kapan saya bisa naik sepeda dan mandi dong kalau ke sini.