Aksara Jawa vs Aksara Belanda

Masih seputar film Kartini arahan sutradara Hanung Bramantyo (ejaan?). Ini merupakan kutipan kedua yang saya suka.

Kartini akhirnya dilamar. Mendadak, digambarkan dunia Kartini menjadi gelap. Kartini pun diajak berbicara dari hati-ke-hati oleh Ibu kandungnya.

“Ndhuk, apa yang ada dari aksara Belanda yang kamu pelajari”, tanya Ibu.
“Kebebasan”, jawab Kartini singkat.

“Sementara, apa yang tidak ada dari aksara Belanda dan ada di aksara Jawa?”

Lalu, setting film berubah. Digambarkan aksara jawa: ta na la. Lalu diberi apa, sehingga menjadi tri ni dan l. La dipangku menjadi l. Saya tak pernah belajar aksara Jawa jadi saya tak tahu banyak.

“Yang tidak ada di aksara Belanda itu adalah memangku, Ndhuk”.

Tak Ada Waktu Menonton Video

Karena sulitnya menemukan waktu luang untuk membaca buku, saya memiliki program untuk membaca buku sebelum tidur. Pada praktiknya…. saya lebih sering tertidur sebelum membaca buku.

Ada lagi keinginan saya yang lain yaitu menonton video. Ada 2 video yang ingin saya tonton. Pertama, video keynote dari PyCon US 2016 oleh Lars dan video dari ANU Indonesian Project.

Saat menonton video, saya berusaha membayangkan diri saya hadir dalam acara tersebut. Nah, karena waktu video-nya panjang, saya jadi susah menonton semuanya.

Ada ide?

Buku adalah Jendela

“Fisikmu boleh dipingit, tapi tidak dengan pikiranmu. Ini aku berikan kunci”, ujar kakak Kartini.

Alkisah, akhir pekan kemarin saya menonton film Kartini bersama istri. Ini adalah salah satu kutipan bebas saya dalam film ini.

Saat memasuki usia menstruasi, Kartini memulai hidupnya dalam pingitan. Hingga nanti seseorang akan melamarnya. Kartini tidak boleh keluar rumah.

Namun kakaknya, memberikan kunci. Yang ternyata kunci ini merupakan kunci lemari buku. Buku di zaman dulu tentu merupakan barang mewah. Eh, sekarang pun masih juga ya. Dan kemampuan baca-tulis di tahun sebelum 1900-an tentu merupakan keahlian yang tak umum.

Kartini terlahir dari keluarga pejabat daerah. Kartini mampu membaca aksara Belanda, termasuk bisa berbahasa Belanda. Di masa muda-nya Kartini sudah membaca buku-buku Multatuli, Max Havelar dan Karl Marx. Wow, saya saja belum pernah membaca buku-buku tersebut.

Jika Kartini terpenjara dalam pingitan dan buku menjadi jendela-nya untuk merasakan kebebasan, bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Terjebak di kota yang padat, kemacetan di mana-mana, apa yang bisa menjadi jendela?

Pergi ke Belanda kah? Kartini ingin pergi, melarikan ke Belanda, namun tak kesampaian. Kalau saya ingin lari ke … Country side of Victoria. Hehehe… becanda.

Yang ingin saya tekankan dalam tulisan saya kali ini adalah, kita perlu selalu mencari “jendela” untuk melihat dunia luar dan lari dari pingitan yang mengurung.

Commuting is Hard

This morning I read an article from theage. For those of you who doesn’t know theage, theage is just another media in Melbourne. I used to read this media, as I try to live locally.

The article was written by a Melbourne University staff. She lives in Melbourne suburb and she needs to commute everyday to city. She bring her nine-month-old daughter to childcare.

Even, commuting is hard in Melbourne.

Still in this morning. I decided to walk from school after I dropped my son. The local traffic just worst. I just hope government not forget building a proper infrastructure for pedestrian, although building roads for cars seems more interesting for them.

Gentleman, let’s start your day!

Keasyikan Menulis Blog

Menulis blog itu mengasyikkan. Banyak ragam blog. Di kalangan anak milenial saya pernah tahu wattpad. Eh tapi saya belum pernah membuka dan mencobanya.

Blog saya ada banyak. Dan kemarin saya menjadi melihat Pelican. Pelican adalah blog engine yang ditulis dengan bahasa Python. Wow! Python!

Namun sayang, saya lihat semakin sedikit yang suka menulis blog. Semoga saya salah.

Menyetir ke Bandara

Menyetir di ibukota bukanlah salah satu hal yang saya sukai. Saya tidak suka kemacetan, termasuk mengendari mobil pribadi di dalam kemacetan. Saat dulu masih bekerja di Mampang, saya lebih memilih empit-empitan di dalam Transjakarta daripada menyetir ke kantor.

Akhirnya, tadi pagi bisa juga saya sampai di bandara. Wow! Saya harus memberi penghargaan kepada saya sendiri. Ini sebuah pencapaian besar bagi saya.

Semoga tahun ini kereta ke bandara sudah bisa beroperasi.

Multitasking Is Expensive

Multitasking is expensive. Yet in terms of cost and also time. And not to mention, it’s not easy. But sometimes, you should do (or expected to do) a lot of things in the same time.

Researcher studies show that man brain is not as good as woman brain on doing multitasking activities. I just had a short 5-minute nap to get my brain back to work.