Berbelanja dengan Perut Kenyang

Kemarin sore saya menemani istri berbelanja. Sebelum berbelanja, saya perlu ke bank dan ke toko sepeda untuk mengambil sepeda, lalu dilanjut makan siang dulu.

Saat makan siang, saya banyak makan sayur. Mulai dari lalap, kangkung dan sayur asem. Dan… perut saya kenyang.

Akibatnya, saat belanja saya jadi tak terlalu mau mengambil apa-apa. Jadi berbelanja bisa lebih cepat dan lebih hemat.

Hehehe…

Bangun di Sabtu Pagi

Hari ini seharusnya saya bangun pagi. Saya menghadiri acara geekcamp di Jakarta. Bukannya bangun pagi, saya malah gogoleran. Jadinya, begitu bangun saya sedikit panik. Apakah saya akan terlambat?

Ternyata bangun pagi di hari Sabtu itu tak mudah. Apa saya aja yang kurang niat? Saya sebenarnya malas pergi ke kota dengan kendaraan pribadi. Saya lebih suka naik kendaraan umum. Saya malas menyetirnya, mencari parkir, dll. Apalagi kali ini saya pergi sendiri, tidak bersama keluarga.

Tapi apa jadinya klo saya bangun siang? Akhirnya saya putuskan pergi dengan kendaraan sendiri. Saya buka Google maps, dan … saya akan terlambat kira-kira 15 menit dari jadwal. Belum lagi waktu mencari tempat parkir, lokasi dan registrasi.

Teng! Saya terlambat.

Awalnya saya berpikir untuk parkir di Ragunan saja, namun mengingat jalan di Mampang sedang menggila (sedang dibangun terowongan), rencana ini saya batalkan. Lalu apakah naik kereta? Saya batalkan juga, karena jaraknya terlalu jauh dan memutar. Plus saya bangun siang jadi pasti akan lebih lama lagi.

Saya cukup senang hadir di acara geekcamp. Senang karena saya bertemu beberapa teman lama saya. Teman baru hanya satu/dua/tiga.

Kesulitan Menjemur

Masih soal pembantu: asisten rumah tangga. Salah satu kesulitan yang saya alami adalah waktu menjemur. Jika ada pembantu, maka kita bisa menitipkan jemuran untuk minta diangkat bila hari hujan. Nah bagaimana bila tidak ada pembantu?

Siapa yang akan diminta tolong untuk mengangkat jemuran? Masak iya kucing? 😀

Akhir pekan besok saya berencana pergi. Jadi praktis, saat saya pergi takkan ada yang mengangkat jemuran bila hari hujan.

Atau bisa juga saya lihat prakiraan cuaca sebelum saya pergi meninggalkan rumah: apakah hujan atau tidak? Kalau tidak hujan, saya bisa menjemur. Kalau hujan, ya cucian dibilas lagi.

Atau… jemuran tinggal dipindah ke tempat yang beratap sehingga tak kena air hujan. Wkwkwkwk… selesai masalah.

Masih Ada yang Lebih Miskin

Sore kemarin, saya mengganti shifter sepeda. Tidak, tidak. Sepeda yang saya gunakan bukanlah keluaran anyar. Ini sepeda bapak saya yang usianya sudah lebih dari 10 tahun rasanya. Saya ingat sepeda ini ada di Pondok Bambu.

Shifter baru-nya pun harganya masih kurang dari AUD$20. Masih lebih mahal saat saya memutuskan membeli lampu sepeda depan dan belakang saat di down under dulu. Harga keduanya AUD$30. Saat itu saya memutuskan membeli lampu sepeda ini karena saya takut ditilang tidak menggunakan lampu saat bersepeda di malam hari. AUD$30 termasuk jumlah uang yang banyak, dan saat itu saya belum bekerja.

Singkat cerita, saya mengobrol sedikit-banyak dengan sang montir sepeda. Ia bercerita bahwa kemarin ia sibuk memantau sistem saringan masuk SMP negeri di Kota Depok. Anaknya harus tersingkir dan ia pun bersiap-siap untuk memasukkan anaknya ke SMP swasta.

Menurut saya sistem saringan masuk sekolah negeri sudah cukup adil. Khususnya untuk poin penghitungan bobot lokasi rumah vs lokasi sekolah. Tujuannya adalah agar anak cukup bersekolah di sekolah lokal, alih-alih pergi jauh-jauh. Ini adil untuk sekolah negeri, namun untuk sekolah swasta, ya terserah orang tuanya mau menyekolahkan anaknya di mana.

Sang montir bercerita, 65% kursi menggunakan seleksi ini. Sisanya ada sistem saringa bagi orang miskin, dll. Ia mengatakan,

“mau mengurus kartu miskin, kok rasanya masih ada yang lebih miskin dari dirinya. Kalau lebih kaya, tentunya banyak.”

Dalam hati saya berujar, “Wah, orang seperti ini saja masih merasa ada yang lebih kekurangan”. Klo melihat kelas menengah yang lebih sering mengeluh, saya jadi terenyuh.

Bengkel sepeda yang saya kunjungi adalah bengkel sepeda lokal. Bukan bengkel sepeda semacam Bike Colony. Ia mengontrak sebidang tanah kecil di pinggir jalan, yang bahkan tak ada tempat parkir untuk motor.

Hidup Tanpa Pembantu

Saya tak tahu ini tulisan ke berapa saya bertemakan pembantu: asisten rumah tangga.

Sejak saya memulai kehidupan berumah tangga, praktis kami tak pernah memiliki membantu. Ada banyak alasan: privasi, mencari orang, tak ada kamar pembantu, dst.

Pagi ini niatnya saya mau menyapu dan mengepel kamar. Eh, tapi lihat kasur, jadinya gogoleran sebentar sambil lihat-lihat HP. Nah, ini enaknya hidup tanpa pembantu. Bisa santai dulu, lalu nanti mau bebersihnya jadi bisa kapan-kapan :B

Hidup tanpa pembantu yang paling enak tentu adalah privasi di rumah. Rumah jadi hanya milik keluarga. Tak ada orang asing di dalam rumah.

Semua kami lakukan sendiri. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika, dan bebersih rumah lainnya. Termasuk mengantar dan menjemput anak.

Satu bantuan yang suka saya gunakan adalah rapi-rapi taman. Memotong pagar hidup teh-teh-an dan mencabuti rumput liar. Biasanya saya minta bantuan tenaga satpam rumah untuk ini.

Jauh dari HP Saat Lebaran

Saat lebaran, saya merasa jauh dari HP. Saya jarang scroll-scroll. Foto keluarga saya ambil hanya beberapa kali. Karena istri saya lebih banyak mengambil foto, saya jadi merasa tak perlu lagi mengambil foto.

Jauh dari HP, eh tapi ternyata malah lebih dekat ke kasur. Bangunnya lebih sering siang. Gimana ini?

Jauh dari HP dan jauh juga dari laptop. Jari-jemari rasanya menjadi lebih kaku mengetik di papan kunci. Saya memang mengambil libur. Moodnya susah untuk bekerja.

Saya hanya sesekali membantu apabila ada notifikasi dan merupakan pekerjaan kecil yang cukup saya pikirkan 3-5 menit saja. Bukan merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan berpikir lebih lama.

Senang rasanya lebaran dekat dengan keluarga. Namun bukan berarti saya tak senang lebaran 2 tahun lalu saat jauh dari keluarga besar.

Selamat merayakan hari kemenangan!