Teman dari Komunitas

Seorang bisa disebut sebagai pakar saat sudah melewati masa 10,000 jam terbang. Jika kita bekerja 8 jam sehari, 5 hari dalam seminggu, <coba dihitung sendiri> … berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai 10,000 jam.

Salah satu cara mempercepat 10,000 jam adalah memilih bergaul di lingkaran yang tepat. Dan aktif komunitas menjadi salah satu pilihan yang tepat.

Sabtu kemarin saya bertemu teman lama. Kami beberapa kali bertemu di Warung Buncit. Kantornya saat itu menjadi tuan rumah kopi darat. Saya tak sempat berbicara banyak, namun ia bercerita kini bekerja di perusahaan rintisan asal Australia.

Hari ini saya menerima surat elektronik, dari teman saya yang kami juga bertemu di komunitas. Teman saya mengundang untuk menghadiri acara promosi sidang Doktornya. Wow! Tentu menjadi kehormatan tersendiri juga diundang di sidang ini.

Teman datang dari arah tak terduga. Ada yang datang dan pergi begitu saja. Namun ada yang datang dan bertemu kembali. Semua memberikan kesan tersendiri.

Bahkan pekerjaan pun bisa datang dari komunitas 🙂 Selamat hari Senin!

Iklan

Berbagi di Zaman Sekarang

Saya tak menyukai menyetir mobil. Jika boleh memilih, saya akan naik transportasi umum. Maka, hal itulah yang kami pilih saat tinggal di <em>down under</em> dulu. Saat teman-teman memilih untuk membeli mobil, kami memutuskan tidak.

Mereka memilih mobil juga karena alasan mobil digunakan untuk bekerja. Jadi ya sebagai modal bekerja. Sulit mengandalkan transportasi publik jika harus pergi ke daerah yang jauh dari kota.

Kembali ke judul. Jadi apa yang suka saya lakukan di mobil saat menyetir? Scroll-scroll jelas berisiko tinggi. Kecuali jika macet parah, tapi tetap saja tak nyaman scroll-scroll saat menyetir.

Zaman dulu, saya suka sekali mendengarkan podcast temanmacet.com Ya, bintang tamunya, rockstar sih: Mas Ariya Hidayat 🙂 Sayang, sudah lama tak ada episode baru dari teman macet.

Lalu sekarang sudah zaman streaming musik. Ada Apple Music, Spotify, Joox, dll yang saya tak tahu. Spotify memiliki saluran podcast juga. Jadi tak cuma artis ternama, kita sendiri pun bisa muncul di Spotify.

Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan podcast dari FeHa aka Ferry Haris (eh gimana ejaannya?). Ya, cek saja twitter Feha di sini https://twitter.com/feha

Saya kenal kali pertama dengan Feha saat zamannya IGOS sedang gencar-gencarnya. IGOS adalah kependekan dari Indonesia Goes Open Source. Setahu saya saat itu Feha sedang bekerja di Kominfo, sementara saya masih di kampus, di PAUME. Beberapa kali berinteraksi bareng. Oh ya, Feha aktif juga di Ubuntu Indonesia bersama Belutz.

Mendengarkan pengalaman orang lain itu selalu menarik. Feha cerita bagaimana kehidupannya di Belanda. Tentang pajak 50% yang begitu besar, dan penjelasannya mengapa ia tak masalah dengan pajak yang begitu besar itu.

Feha juga sempat cerita bagaimana ia harus bersepeda ke kampus saat ia berkuliah di Belanda. Melawan angin, dingin, dan ban kempes. Kalau sudah mendengarkan cerita seperti ini, seharusnya tak ada alasan untuk malas bersepeda di Indonesia 🙂

Sekalian pada kesempatan ini saya ingin berterima kasih ke Feha yang sudah berbagi cerita pengalaman hidupnya.

Podcast sepertinya menjadi hal yang menarik juga selain menulis blog. Saya belum pernah coba sih, apalagi nge-vlog.

Bagaimana dengan kamu? Enak bercerita dengan tulisan atau dengan komunikasi verbal?

Yang jelas membaca blog tak bisa dilakukan saat menyetir mobil 😉

Produktif di Ponsel

Saat ini di ponsel saya, terdapat aplikasi pelacak waktu. Berapa lama waktu yang saya habiskan di ponsel berikut aplikasi apa yang digunakan. Wah, serem juga.

Seremnya jadi ketahuan ini HP digunakan untuk apa. Jika HP sudah bagus-bagus, lalu banyak digunakan untuk bersosial media saja, kok rasanya mubazir.

Jadi sebenarnya, kalau mau lebih produktif itu sebenarnya lebih baik beli laptop yang mahal. Yang enteng, yang ngebut, dan baterainya tahan lama.

Produktif di ponsel jadi sebenarnya oksimoron ya.

Jakarta dan Akar Budaya

Terkadang saya suka merasa iri dengan anak-anak yang besar bukan di Jakarta.

Jakarta adalah Ibukota. Tempat orang-orang dari berbagai macam daerah mengadu nasib. Mencari penghidupan. Merintis kehidupan profesional, meniti karir. Jadi, hanya sedikit mereka yang tinggal di Jakarta merupakan orang asli.

Berbeda dengan Bali. Di desa-desa, anak-anak belajar kesenian. Menari, melukis, menggambar, membaca buku dengan aksara lokal. Banyak sanggar seni yang penuh dengan anak-anak di setiap sore.

Di Jogja, anak-anak bercakap-cakap dengan bahasa Jawa. Mereka mengerti filosofi hidup jawa karena diturunkan dari orang tuanya. Wang-sinawang misalnya. Saya tahu dari sepupu saya. Wang-sinawang artinya, orang lain belum tentu mengerti pandangan kita. Duh seperti itu lah kurang lebih. Kok susah juga menjelaskannya.

Anak-anak Bandung, bercakap-cakap dengan Basa Sunda. Pun mereka belajar aksara sunda. Bermain lingkung. Saya memang pernah di Bandung, namun saya tak punya akar budaya Sunda sehingga biar bagaimana budaya Sunda terasa asing bagi saya.

Bagaimana supaya pikiran dan wawasan terbuka namun kita tak lupa akar budaya kita? Menurut saya hal ini jadi lebih sulit bagi mereka yang tinggal di Jakarta.

Bagaimana menurut kamu?

Tersihir Surga Tim Bergling

Entah mengapa, saya seperti tersihir lagu Heaven – Avicii. Apakah karena suara vokalis Coldplay? Atau memang saya suka saja lagunya? Semalam saya lihat cover piano lagu ini, wah ajaib! Tangannya jadi melintir ke mana-mana. Ibarat programmer, kode yang dihasilkan Avicii ini merupakan master piece. Rapi, readable, dan tentu comply ke PEP8. Halah opo iki.

Kembali ke Heaven – Avicii. Lirik lagu ini, seolah ingin menyatakan bahwa Tim percaya akan surga. Saya pikir saya telah mati, dan saya pergi ke surga. Kita akan jadi burung, dan terbang. Kita akan membuat dunia lebih baik.

Padahal kalau ditelisik lebih jauh, orang Barat lebih banyak yang tidak beragama. Hal ini diiyakan oleh sepupu saya yang pernah mengenyam pendidikan di Stockholm, tempat asal Tim berasal. Tim meninggal di usia yang muda karena bunuh diri.

Sabtu dan Minggu kemarin kami keluar bersepeda keluar rumah. Lalu saya ucapkan ke istri saya, bahwa orang Indonesia itu biar kerasnya hidup di sini, tetap saja bahagia. Di negara maju, infrastruktur lebih terjamin. Tak akan kita jumpai pejalan kaki berjalan di jalan raya. Sementara di Jakarta, masih banyak jalan tanpa trotoar.

Ya, tapi bagaimana juga orang Indonesia tetap bahagia. Sangat sedikit yang saya tahu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Jadi Tim, apakah kau percaya ada surga? Bagaimana di atas sana? Terima kasih untuk komposisi lagu yang begitu indah. Semoga satu hari saya bisa mampir Stockholm lalu lanjut melihat Aurora Borealis dengan istri di pelukan 🙂

We’re going be birds and we’ll fly. We’re gonna set the world alight.

Tentang Avicii

Rasanya sudah lama saya mengenal Avicii. Beberapa tahun yang lalu saya suka mendengarkan lagunya. Belakangan, saya mendengarkan dua lagu barunya: Heaven dan SOS.

Di lagu Heaven, suara vokalisnya begitu tak asing. Suara vokalis Coldplay. Saat melihat video klip Heaven, saya bingung. Mengapa diberikan judul A Tribute to Avicii, atau surat-surat pendek kenangan dari fans Avicii.

Belakangan saya baru tahu bahwa Avicii telah tiada. Ia memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Dan belakangan juga saya baru tahu bahwa Avicii berasal dari Stockholm, Swedia. Jadilah saya bercakap-cakap singkat dengan sepupu saya yang berkesempatan mengenyam pendidikan di sana.

Dan sepupu saya ternyata tahu Avicii. Stockholm pun kehilangan saat ia meninggal, begitu cerita sepupu saya.

Hidup di Indonesia tak semudah hidup di Australia. Di Australia, infrastruktur lebih mapan. Jalanan mulus, listrik tak mati, gas tersedia hingga ke rumah. Namun entah mengapa, bagi saya sangat jarang orang Indonesia yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Semoga, suatu hari bisa nanti menyaksikan Aurora Borealis dengan istri di pelukan 🙂

Menangkap dan Mengingat Momen

Teknologi telepon pintar begitu invasif. Orang modern semua memilikinya, bahkan beberapa memiliki lebih dari satu. Kini, setiap orang bisa mengabadikan apa yang dilihat dan didengarnya. Kapan saja.

Namun, benarkah kita menangkap momen dan mengingatnya? Atau kita lebih sibuk jepret-jepret tanpa perlu khawatir film akan habis. Masih ingat dengan isi film 32 atau 36?

Dengan telepon pintar, kita memang begitu mudah mengambil gambar, namun semoga kita tak lupa bahwa momen tak bisa terulang.