Tentang Queen dan Freedie Mercury

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film Bohemian Rhapsody. Filmnya bagus 🙂

Entah dari mana, saya cukup mengenal lagu-lagu Queen. Lagunya tak asing di telinga saya. Mulai dari Bohemian Rhapsody, We Are The Champions, hingga Love of My Life.

Usai menonton film ini, saya semakin mengapresiasi lagu-lagu Queen. Liriknya ternyata bagus-bagus. Musiknya juga. Maafkan saya yang bukan pengamat musik, jadi tak jago menganalisis musik.

Lagu Love of My Life ternyata didedikasikan untuk kekasih Freddie. Freddie pun bisa main piano. Enak deh lihatnya pas tangan kirinya melintas tangan kanan-nya, pas main Love of My Life.

Freddie merasa dirinya dilahirkan sebagai performer. Ia tahu, ini merupakan panggilan hidupnya. Ia berkomentar ini saat ia terlambat sedikit di salah satu pertemuan dengan rekan band-nya.

Sekarang saya jadi ingin ke London, pergi ke daerah Kensington, melihat rumah Freddie. Ada yang tertarik pergi ke London?

Iklan

Pada Dasarnya Malas

Alkisah saya sedang menginap di tempat yang ada fasilitas gym dan kolam renang. Pertanyaannya, apakah saya lantas berenang dan olahraga lari setiap hari?

Ternyata tidak. Dari lima hari menginap, ternyata hanya sekali saya berenang dan lari. Saya hanya tahu menggunakan treadmill. Lainnya, saya tidak tahu :B Cara olahraga dengan barbel, dll.

Jadi dasarnya manusia itu lebih banyak yang malas ya? Saya jadi ingat meme yang suka dibuat orang-orang.

  • Ingin kurus tapi makan banyak terus
  • Mau ke warung depan tapi naik motor
  • Mau banyak uang tapi bekerja rata-rata, tidak mau berusaha lebih

Silakan tambah sendiri. Hehehe…

Media Baru

Sudah tahun 2019 dan saya masih setia saja dengan wordpress. Baru-baru ini yang lebih populer di lingkaran saya rasanya adalah medium.com Kalau di kalangan anak-anak muda, yang saya tahu ada wattpad.

Kemarin saya harus pergi ke kota untuk mencari sesuatu. Jadilah saya <em>commute</em> dari pinggiran kota Jakarta ke tengah kota. Tentu saya menggunakan transportasi publik. Saya tak perlu menyetir sendiri dan saya bisa melakukan hal lain.

Karena macet begitu parah di daerah Pondok Indah, dan mata saya mulai lelah melihat layar ponsel, saya putuskan untuk membuka podcast. Awalnya saya mencari podcast Django lalu Python lalu belakangan baru saya coba podcast lokal.

Podcast lokal suaranya malah lebih baik daripada podcast Python/Django. Rasanya karena ini podcast solo, bukan podcast wawancara. Mungkin wawancara dilakukan via jaringan, tidak di tempat yang sama jadi kualitas suara pewawancara dan yang diwawancarai tidak sama.

Anak muda sekarang menurut saya begitu kreatif dan mengikuti perkembangan zaman dengan baik. Mereka tidak hanya menikmati konten tapi mereka juga membuat konten.

Podcast yang kemarin saya dengarkan bercerita tentang bagaimana hidup minimal. Tipsnya lucu-lucu juga. Pertama: hapus aplikasi di HP yang selama 2 minggu tidak digunakan. Sederhana kan? Namun ngena juga.

Kedua: matikan notifikasi aplikasi yang tidak penting. Benar juga. Karena dalam sehari bisa banyak sekali kita meriksa HP kalau tidak ada kesibukan di rumah.

Ketiga dan seterusnya saya lupa: kurangi makan gula salah satunya. Nah, akhir pekan kemarin saya sempat coba makan nasi merah. Haduh, rasanya hambar pisan. Berarti nasi putih itu gulanya banyak sekali ya, sampai rasanya enak banget.

Dengan hidup minimal, kita jadi bisa fokus pada hal-hal yang penting. Ini jadi filosofi yang menarik.

M20 yang Semakin Ditinggalkan Penumpang

Kemarin saya menggunakan jasa Mikrolet M20 untuk pergi ke daerah Blok M. Pulang dan pergi.

Saya kecewa sekali saat pulang. M20 ngetem begitu lama. Sudah 5-6 Transjakarta berhenti di halte Deptan namun M20 tetap tak kunjung penuh. Masih terbayang 4 tahun lalu, saya harus sedikit berlarian usai turun di halte Deptan untuk mendapatkan tempat di M20.

Jika begini terus, angkot akan mengikuti nasib taksi konvensional yang tergerus zaman. Angkot harus bergabung dengan Jak-Lingko jika mau bertahan. Ada jeda yang jelas, ada pemberhentian yang jelas, ada gaji yang jelas bagi supir. Dan tentu yang paling penting ada standar minimum pelayanan bagi penumpang.

Dengan ini saya mengusulkan M20 supaya bergabung ke Jak-Lingko.

Pentingnya Aktivitas Fisik

Pagi ini saya berasa agak lemas saat mau mulai kerja. Saya tidak memulai hari dengan aktivitas yang cukup. Ya, dengan seribu alasan. Terus malah tidak jadi produktif kan hari ini? Mood juga tidak stabil.

Saya menemukan tautan ini https://www.nhlbi.nih.gov/health/educational/wecan/index.htm saat kemarin sedang mencari kalkulator BMI. Berat badan saya masih dalam kisaran berat badan ideal, walau <piiiiip> disensor.

Jadi, aktivitas fisik itu penting. Bagi yang masih naik kendaraan pribadi, saatnya berpikir untuk mulai naik kendaraan umum: naik ojek sebagai pengumpan, lalu naik Transjakarta, atau naik KRL. Badan secara tidak sadar akan bergerak. Minimal jalan kaki.

Mencari Paspor

Kemarin saya sempat panik! Awalnya kemarin pagi saya mau membeli tiket pesawat. Saat mau beli, saya baru berpikir, “Eh apa tidak lebih baik saya mencari paspor saya dulu ya? Baru terus beli tiket.” Jadilah saya urungkan beli tiket.

Nah, lantas dengan percaya diri-nya saya yakin akan menemukan paspor saya di tempat itu. Boks yang berisi barang-barang dari laci lemari. Saat saya bongkar boks itu, yang saya temukan hanyalah paspor istri dan anak saya.

Saya berusaha tetap tidak panik walau mulai panik. Saya coba ingat-ingat di mana lagi kemungkinan saya menyimpan paspor saya. Pertama, saya buka buku diari LEGO kado dari istri saya. Ternyata tidak ada. Haduuuh… Saya suka membawa buku ini jika pergi jauh sebagai tempat untuk menulis catatan-catatan penting.

Lalu kotak map transparan kecil. Lhoh kok tidak berisi paspor? Map transparan kecil ini ternyata malah saya gunakan untuk menyimpan ponsel. Saya tambah panik dan panik.

Sudah terbayang jika saya harus mengurus paspor baru ke imigrasi. Waktu dan persiapan dokumen yang perlu saya luangkan.

Hingga akhirnya, pelan-pelan saya cari lagi. Saya telusuri tas-tas kecil. Dan alhamdulillah, ada di tas kecil lari saya.

Saya memang tak terlalu teratur orangnya. Saya tak pernah menghapus foto-foto di ponsel saya, saya tak pernah merapikan folder/file di komputer saya, saya tak memiliki tampilan aplikasi yang teratur di ponsel saya. Pun termasuk blog ini, saya tak punya kategori yang jelas terstruktur.

Kadang saya merasa lebih enak jika semuanya mengalir begitu saja.

Tapi kadang-kadang rasanya kita perlu sesuatu yang terstruktur juga. Misal saat menyetir, kita perlu mengikuti peraturan. Dan saya mau mengutip kata Mas Ariya Hidayat dalam salah satu presentasi “Menjadi Paripurna” adalah membiasakan informasi terstruktur. Bukan berantakan di slack, di whatsapp, dll.

Apakah saatnya belajar untuk lebih terstruktur?

Ke Daerah Bintaro

Hari Minggu kemarin kami sekeluarga main ke daerah Bintaro. Saya yang malas nyetir di Jakarta (ihik) pun membuka peta. Eh, kalau pergi dengan keluarga saya tak boleh malas nyetir. Kalau pergi sendiri, saya boleh malas nyetir.

Dan saya ikutilah saran peta untuk pergi ke Plaza Bintaro. Saya tidak memiliki alat-pemegang-HP-untuk-di-mobil, jadinya HP saya letakkan saja di dashboard. Dan ternyata saya pilih jalan. Jalan ini menuju Tol Pondok Indah. Sontak saya panik.

Dan saya melakukan hal berbahaya, yaitu mundur ke belakang supaya tidak masuk tol. Tolong hal ini jangan dicontoh ya.

Setelah itu, kembali mengikuti saran peta dan sampai juga ke Bintaro Plaza. Parkir di Plaza cukup penuh, jadi kami keluar lagi untuk menuju gedung parkir.

Banyak hal yang kami temukan di Gramedia. Saya sendiri dapat permainan papan (board game) othello dan halma. Nah, nanti kapan-kapan main deh…

Oh ya pulangnya sempat mampir ke Rodalink Bintaro. Kami mencari sepeda 20″ tapi tidak ada stoknya. Lalu sekilas saya sempat lihat toko sepeda Specialized. Woo roadbike nih. Oh ya lagi, saya sempat lihat Polygon Path9, sepeda buat perjalanan jauh. Ala-ala nginep hipster gitu. Wah jadi kepengen.

Nanti pasang pannier di kedua sisi di belakang lalu naik sepeda menjelajah dunia.