Internet Era

Tanpa TV πŸ“Ί

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

As you probably have known, we ditched the TV in our living room. We rarely watch TV. We almost live two years without TV in Melbourne. The main reason at that time was our TV broken and we were too lazy to buy a new TV.

It’s weekend now, and it’s my son’s screen time. He doesn’t interested anymore with TV, he prefers iPad. He can pick whatever he wants to watch.

We just moved back to our home and we don’t have a cable Internet connection yet. So, yesterday I paired my phone to iPad. And… suddenly my Internet quota were running out. Even, I can’t make SSH connection to my servers and that means I can’t get things done.

Hahaha…

Yesterday we went to Ragunan Zoo. It’s quite fun, to have a large green area without cars here in Jakarta.

Let's go find Zebra, dad! It's like us. Double Z! Photo credit: Little Z.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Menjadi Tua

Kalau masuk busway, dapat poin #slaahfkous

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Hari ini, eh ternyata sudah jadi kemarin, saya menyempatkan bertemu dengan kakak-kakak bapak saya. Sudah lama sekali saya tak berjumpa dengan mereka: bude-bude saya. Begitu kami memanggilnya. Bude untuk kakak perempuan dari bapak, sementara cukup mbak jika lebih mudah dari bapak.

Senang rasanya mereka masih sehat. Masih bisa pergi dari Jogja ke Jakarta untuk menyambung silaturahmi. Kali ini bukan untuk momen pernikahan, momen yang paling umum untuk berjumpa dengan keluarga usai mbah meninggal.

Mereka kini sudah semakin sepuh. Proses penuaan takkan bisa dilawan. Kulit keriput, mata rabun dekat, dst. Satu hal sama yang saya lihat dari mereka dan orang tua saya, adalah kebahagiaan saat menghabiskan waktu bersama cucu.

Lalu muncul pertanyaan dalam hati saya: akankah saya tetap sehat di hari esok saya? Teriring doa untuk seluruh keluarga saya…

Memikirkan Orang Lain

Street art.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

“This tram driver doesn’t considerate!”, begitu pekik salah seorang Melbournians di depan pemberhentian tram di depan Stasiun Flinders, Jalan Flinders.

Mengapa? Karena sebenarnya lampu masih menujukkan merah, sementara pengemudi tram memilih untuk meneruskan laju tram alih-alih berhenti di pemberhentian untuk menaikkan/menurunkan penumpang.

Considerate.

Satu kata yang ternyata sulit dipraktikkan. Siang ini saya menjemput Zaidan. Saya terbiasa memarkirkan mobil, baru saya naik/turun antar/jemput Zaidan. Kali ini istri saya ikut, jadi sebenarnya bisa saja saya tak turun dari mobil. Tapi kali ini saya yang turun.

Usai Zaidan naik ke dalam mobil, saya memundurkan mobil, untuk keluar dari parkiran. Mobil di sebelah kiri saya ternyata ikut mundur. Oh ya sudah, saya tunggu saja di belakang. Ternyata… sang supir belum menaikkan penumpang. Jadi ia berhenti di tengah jalan, sambil menunggu penjemput dan sang anak untuk naik mobil. Jadi, saya dipaksa menunggu di belakang, hingga sang penjemput dan anak untuk naik mobil.

Hal ini kan hal sederhana, tapi mengapa kok sulit ya? Ah, barangkali saya yang terlalu naif. Sama sederhananya dengan membuang sampah pada tempatnya.

Semoga kita mulai mengurangi campur tangan urusan orang lain dan lebih mulai menghormati hak-hak orang lain (considerate).

Terlalu Banyak File Foto

Seperti yang sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, ternyata ruang kosong di ponsel saya sudah mau habis. Seharusnya saya menyalin berkas foto di ponsel ini ke laptop. Eh, tapi ternyata harddisk di laptop juga sudah mau penuh.

Duh, terus bagaimana?

Sebenarnya di laptop ini penuh gegara foto-foto. Nah, foto-foto ini pun sebenarnya banyak yang terduplikat. Mengapa? Karena saya main salin saja semua folder, lalu buat folder baru saat memindahkan foto dari HP.

Sebenarnya kalau saya hapus saja semua file foto ini, hidup saya tak akan bermasalah. Tapi mengapa saya takut menghapusnya? Yah, inilah penyakit manusia modern. Takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tak benar-benar dibutuhkan lagi.

Saat saya membuka-buka kembali koleksi foto yang saya upload di instagram, saya suka kagum sendiri. Ternyata pengalaman saya banyak juga ya.

Street art.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Akhirnya Melanggan Spotify Premium

Akhirnya saya melanggan Spotify premium!

Awalnya saya melanggan Apple Music saat masih di down under. Satu bulan sebelum kembali ke Indonesia, saya berhenti melanggan Apple Music. Mengapa? Ya, sebulan sebelum pulang saya ingin men-settle semua tagihan-tagihan keuangan saya.

Setibanya di Indonesia, saya sempat survei sedikit mengenai kualitas jaringan selular di tempat saya tinggal. Jika kualitas operator terdahulu saya jelek, maka saya sekalian saja ganti nomor dan ganti operator. Eh ternyata, nomor HP saya yang dulu, masih bisa dapatkan, walau untuk itu saya harus menjadi pelanggan pascabayar Matrix Indosat Ooredoo.

Indosat menjalin kerjasama dengan Spotify. Pembayaran Spotify bisa dilakukan dengan memotong pulsa. Wow! Ini praktis sekali. Bandingkan dengan Apple Music. Saya mencoba memasukkan nomor kartu debit saya, tapi ditolak. Padahal dulu di Australia, saya melakukan semua transaksi keuangan dengan kartu debit. Dan saya masih belum berencana memiliki kartu kredit.

Karena promo Spotify Rp 5000 selama 3 bulan akan segera berakhir, saya putuskan, yuk coba layanan premium! Walau sebenarnya saya gak butuh-butuh amat premium sih. Ini saya bisa streaming dan memilih lagu sesuka saya walau bukan premium via laptop.

I wonder how will I reach 10.000 steps a day now? 🚢🏻

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Ya paling yang terbayang butuh adalah misal saat olahraga, saya mau mendengarkan musik via ponsel tanpa ingin streaming: jadi saya bisa download. Nah ternyata ada masalah lain. Ponsel saya sudah tidak memiliki ruang kosong yang cukup.

Hahaha…

Keras

Kehidupan di kota itu keras. Di jalanan, semua seolah ingin cepat sampai. Sabar menjadi begitu sulit ditemui. Di kantor, omongan orang di mana-mana. Entah politik kantor itu sama licinnya dengan politik kehidupan nyata. Di rumah…

Di rumah lain cerita. Namun, “kerasnya” kehidupan di rumah tentu berbeda dengan kerasnya kehidupan di luar. Rasanya, saya sudah seringkali menulis bahwa perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu penuh waktu di rumah, itu sebenarnya lebih sulit daripada ibu yang bekerja di luar rumah.

Maka jangan heran saat kemarin saya begitu kaget saat menemui teman lama saya dan ia memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di rumah! Urusan rumah takkan pernah selesai. Berbeda dengan urusan kantor. Saat kita pulang, meninggalkan kantor, tentu urusan kantor selesai.

Red: the little boy shoe rack.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Hari ini saya kehilangan sedikit kesabaran saya sehingga saya terpaksa mengucapkan kalimat dengan nada tinggi. Hmmph… barangkali ini dipicu juga oleh pekerjaan yang tak kunjung selesai. Sementara hari ini begitu banyak distraksi dari pagi hari.

Saya jadi ingat,

Sebaik-baiknya adalah sabar dan memaafkan

Cerita Idul Adha 1436 H

Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Tanpa saya sadari, inilah waktu yang paling nyaman bagi saya untuk bekerja. Internet lancar, suasana tenang, spotify tidak byar-pet, SSH tidak lagging.

Sudah lebih dari tiga tahun saya bercerita mengenai Idul Adha ini. Kali ini, saya ingin bercerita pengalaman Idul Adha kami setahun yang lalu.

… an opportunity to spend a lot time with him.

A photo posted by za (@zakiakhmad) on

Maafkan foto yang tidak nyambung. Saya tak menemukan foto Idul Adha setahun yang lalu.

Pagi-pagi kami berangkat dari rumah menuju City. Membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit bagi kami untuk mencapai City. Dari informasi yang kami dapatkan, sholat Idul Adha di Flagstaff Garden akan dimulai pukul 7. Jadi, kami sudah mencari jadwal transportasi publik agar tiba sebelum pukul 7 pagi. Musim dingin baru saja berlalu, jadi dingin masih meng-gigit di pagi hari.

Kami tiba awal. Belum banyak jamaah yang duduk di lapangan. Ternyata dingin masih menusuk. Kami pun kembali turun ke stasiun Flagstaff. Menunggu sholat Ied dimulai. Sholat Ied akhirnya dimulai pukul 7:30 Tak tahan menahan pipis, usai sholat segera saya pipis di stasiun Flagstaff.

Usai ibadah sholat Ied, Zaidan mendapat beberapa makanan manis. Sweets: entah permen, cokelat, dll. Kami pun ditegur oleh beberapa keluarga, “Eid Mubarak!”. Kami berbagi keceriaan. Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat Islam.

Saat kami makan pancake, seorang perempuan berkerudung, kembali menegur kami, “Eid Mubarak!”. Awalnya ia memberikan Zaidan $5. Belakangan saat ia mau pulang, ia memberikan Zaidan $10. “This one for the pancake”.

Betapa indahnya, hari itu di Melbourne. Biarpun kami jauh dari keluarga, kami merasakan kebahagiaan suasana Idul Adha. Dan lalu kami pun pulang kembali sambil berjalan ke Flinders Street Station…