Mengingat Perjalanan via Foto

Foto di ponsel saya sudah terlalu banyak. Saya berencana mengosongkan semuanya dan memindahkannya ke komputer.

Ternyata foto-foto yang saya ambil itu berguna bagi saya sendiri untuk mengingat-ingat perjalanan. Namun maaf, akun instagram saya sekarang saya buat privat.

Saya bisa mengkurasi foto-foto yang saya ambil di instagram, sambil berusaha memaknai dari setiap foto yang saya upload.

Berguna Juga Siaran Langsung

Seperti yang sudah khalayak ramai ketahui, Facebook dan Instagram mengeluarkan layanan baru yaitu streaming live via ponsel kita. Awalnya saya berpikir buat apa? Apakah akan menambah sampah informasi yang sudah ada lagi?

Ternyata, layanan ini berguna juga. Alkisah hari Selasa kemarin diadakan diskusi seputar media sosial. Diskusi diadakan di Habibie Center di daerah Kemang. Sekitar 12 km lah, jadi sebenarnya masih dalam jangkauan jelajah sepeda saya. Sayangnya, barangkali tak ada kamar mandi kali ya di sana.

Pendek cerita, saya tak jadi ke sana. Eh, ternyata acara ini disiarkan secara langsung via Facebook live. Wah, saya jadi bisa nonton secara langsung dari rumah, tanpa harus ke sana, tanpa harus bermacet-macet ria, kehujanan, dst.

Enaknya nonton secara langsung adalah kita mendapat emosi seolah hadir di sana (walaupun tetap akan berbeda juga sih).

Berikut beberapa catatan saya soal acara ini. Pada dasarnya manusia itu bergaul dengan orang-orang yang sepahaman dengannya. Jadi, biarpun sudah ada media sosial, kedua kubu tetap berada dalam lingkarannya masing-masing. Bahasa ilmiahnya: chamber.

Lalu, kedua apa yang dibaca oleh orang biasanya hanya untuk mengkonfirmasi kebenaran yang sudah diyakini. Jadi, jarang orang mau berpikir terbuka, membaca hal-hal yang tak ia yakini kebenarannya.

Ketiga, apa lagi ya? Saya ketiduran. Hihihi.

Semakin Meninggalkan TV

Semalam saya menyaksikan acara Mata Najwa. Kali ini menampilkan pasangan nomor urut 3: Anies – Sandi. Saya menyaksikan bukan dari TV, melainkan via streaming di laptop.

Oh, apakah TV sudah semakin saya tinggalkan?

Sebelumnya saya menyaksikan episode Mata Najwa edisi Ahok – Djarot via rekaman di Youtube. Saya tak sempat menonton secara langsung. Rasanya saya tak hafal acara Mata Najwa.

Kini, saya benar-benar bergantung pada Internet. Untungnya sinyal di rumah bagus, mengingat belum ada jaringan kabel yang masuk sampai sini.

Orang Baik Itu Masih Ada

Di tengah jalanan Jakarta yang selalu terburu-buru, di mana setiap pengguna selalu gatal untuk membunyikan klakson, yakinlah bahwa masih ada orang baik di luar sana.

Kemarin, saat mengambil uang di ATM, ternyata kartu ATM saya tertinggal. Saya baru tersadar esoknya. Jika biasanya saya tak mendapatkan struk bukti, kemarin saya dapat karena saya pilih menu transaksi lainnya.

Segera saja saya bergegas ke lokasi ATM. Saat saya bertanya ke penjaga toko, ia menunjukkan satu kartu ATM yang tertinggal. Karena ATM ini tanpa nama, segera saja saya lihat tampak belakang. 

Dan benar, ini kartu ATM saya.

Bukan Selalu Soal Uang

Apakah kamu siap jadi istri, koh-koh tukang sembako?
Apakah kamu siap klo diminta bantuin jaga toko?
Apakah kamu siap klo harus resign, dan bantuin aku jaga toko pakai daster?

Iya, aku siap

Hari Selasa kemarin, kami nonton film Cek Toko Sebelah. Sebenarnya saya gak terlalu memantau film lokal, tapi karena resensi Kompas Minggu mengatakan film ini cukup menarik, akhirnya saya putuskan untuk mencoba menonton dan mengapresiasi-nya.

Dialog di atas adalah salah satu dialog yang saya ingat. Pacar Erwin (eh siapa namanya? Saya lupa) akhirnya menjawab ia siap menerima Erwin, jika Erwin harus menjaga toko. Awalnya pacar Erwin tak mau Erwin memilih menjaga toko alih-alih promosi ke Singapura.

Ya pacarnya Erwin, tipe wanita karier kantoran banget lah ya.

Pacar Erwin bisa menerima pilihan Erwin setelah konsultasi dengan Ayu, istri kakak Erwin. Ayu menjelaskan bahwa pacar Erwin harus bisa menerima keputusan Erwin untuk menjaga toko. Keputusan untuk membahagiakan Koh Afuk, bapak Erwin. Ayu mengingatkan pacar Erwin bahwa Erwin kehilangan kesempatan membahagiakan ibu-nya hingga ia meninggal.

Saya melihat, di sini lah perbedaan nilai-nilai seorang manusia. Manusia Indonesia itu cenderung lebih kompleks dibanding barat. Tak semua bisa diukur! Entah itu jabatan, uang, dst.

Yang menjadi kebahagiaan orang Indonesia itu relatif kompleks, dan orang Indonesia cenderung lebih bahagia biar bagaimanapun kondisinya.

Ya walau di akhir cerita, Erwin jadinya ke Singapura sih. Kehidupan di Singapura rasanya sih cocok untuk profil pasangan seperti Erwin setelah saya baca di Quora bahwa untuk hidup mapan di Singapura perlu pasangan suami-istri bekerja.

Dua jempol untuk film Cek Toko sebelah, dan tentu alunan musik yang menemani film dari GAC dan The Overtunes!

Susahnya Memulai di Hari Senin

Selamat datang Senin! Duh, kok rasanya susah sekali memulai hari di hari Senin. Terlebih jika di akhir pekan kemarin, benar-benar keluar dari rutinitas. Keluar dari rumah, menginap 2 malam.

Kembali di rumah, Minggu malam. Senin pagi bangun agak siang. Lalu sekarang lupa deh. Harus apa dulu. Harus mengerjakan apa dulu.

Mau-nya sih sepeda-an dulu sejenak. Memanaskan otak. Hehehe…. Yuk-yuk, kembali singsingkan lengan baju. Apa iya sih bekerja tidak menyenangkan.

30 Menit yang Terasa Jauh

Saat tinggal di pinggiran kota Melbourne dulu, 30 menit terasa lama. Membutuhkan waktu lebih dari 30 menit bagi kami untuk pergi ke kota. Namun untuk pergi ke IKEA, cukup 10 menit dengan bersepeda.

Saat kembali ke Jakarta, 30 menit berarti baru sampai Ragunan atau TB. Simatupang. Ini pun klo jalanan lancar. Jika di jam sibuk seperti saat pagi hari di hari kerja, bisa 60 menit hingga 90 menit untuk sampai Ragunan atau TB. Simatupang.

Konsep waktu 30 menit pun menjadi bergeser. Kalau dulu 30 menit terasa jauh, sekarang 30 menit baru dianggap awal dari perjalanan.

Duh, jadi kapan tinggal di Taman Suropati, nih 😀