Permasalahan di Dunia

Dunia tidak akan pernah kehabisan masalah. Mulai masalah dengan sesama manusia maupun masalah dengan benda mati. Masalah akan selalu datang. Bahkan klo kita berencana berlibur pun (yang judulnya melepaskan dari masalah sehari-hari) bisa jadi ada masalah juga.

Jadi yang penting adalah bagaimana kita menghadapi masalah ini. Mau dibawa stres atau dibawa santai. Mau dihadapi atau mau lari.

Kalau sudah lelah sekali, jujur saya suka lari dari masalah. Biasanya pelarian saya adalah dengan tidur dan berharap bangun-bangun masalah sudah selesai. Hehehe… enggak terjadi kan. OK, harusnya tidur lebih awal dan bangun lebih awal, lalu pecahkan masalah satu persatu.

Iklan

Life is Like Marathon

Life is like a marathon. It’s not sprint. It’s something that you should do consistently and persistently. Especially once you decided to have a family (partner) and also kids.

The grass is always greener on the other side. We see how other people’s life actually better than us, but actually that’s not always the case. We don’t see what’s behind those visible things.

Like Ariya Hidayat once said, try to see those invisible things.

Pengeluaran Digital

Saat ini zaman digital, jadi mulai banyak pengeluaran yang sifatnya digital. Saya coba mau berhitung-hitung.

Pertama dan utama: pengeluaran untuk koneksi Internet. Bagi banyak orang, Internet sekarang sudah seperti darah yang harus mengalir. Apabila tidak ada Internet, hidup susah berjalan. Eh, tapi waktu dulu kok hidup masih bisa berjalan.

Saya butuh koneksi Internet untuk bekerja. Di rumah saya belum pasang koneksi Internet fixed line. Sekarang tetangga sedang mulai memasang kabel fiber optik yang baru saja masuk. Saya sendiri masih setia dengan Internet via ponsel: 4G, LTE, atau 3G.

Sejauh ini, ya masih bisa diandalkan juga sih. Video call masih bisa, suara lancar. Belakangan saya menambah satu nomor dari operator lain sebagai cadangan. Apabila dari operator A macet, saya pindah ke operator B.

Oh ya hebatnya koneksi Internet dari HP adalah tak terpengaruh dengan kondisi listrik di rumah. Seperti saat sekarang, listrik sedang mati. Saya masih tetap bisa bekerja walau Internet mati.

Kedua setelah koneksi Internet, saatnya melanggan layanan berbayar. Sejauh ini saya melanggan Spotify (untuk mendengarkan lagu) dan juga Netflix (untuk menonton TV). Saat masih di down under dulu, saya melanggan Apple Music sebesar AUD $12 (apa ya?) per bulan. Pulang ke Indonesia, Spotify menggaet Indosat untuk merambah pasar Indonesia. Skema potong pulsa ini yang membuat saya melanggan Spotify.

Klo untuk Netflix, gara-garanya adalah serial … duh kok jadi lupa namanya. Dan belakangan jadi diteruskan, walau waktu untuk menonton sekarang yang susah dicari.

Untuk koran, saya membaca versi digital. Klo ini saya tidak membayar karena memanfaatkan paket digital gratis yang didapatkan dari melanggan koran versi cetak. Orang tua saya kan masih melanggan koran versi cetak.

Tidak Sepeda-an Sebulan

Saat Strava mengirimkan email aktivitas saya selama bulan Maret, ternyata saya tidak mengendarai sepeda selama satu bulan. Hanya aktivitas lari yang tercatat.

Bagaimana ini? Katanya pesepeda? Rasanya saya perlu meluangkan waktu khusus untuk bersepeda. Sekarang saya lebih sering lari: minimal setiap hari Rabu pagi. Atau sekadar jalan pagi.

Bersepeda jadi lebih jarang.

Mencari Kedai Kopi Lokal

Mencari kedai kopi lokal di pinggiran Jakarta tak semudah mencari di tengah kota Jakarta. Oleh karena itulah saya masih ingin tinggal di Jl. Suropati, Jakarta 😀

Kedai kopi yang nyaman untuk bekerja. Tidak dilihat aneh oleh orang sekitar. Tempat yang nyaman. Harga yang terjangkau.

Dan sekarang terpaksa saya masih mentok di kedai-kopi-yang-ada-di-mana-mana.

Embrace Distraction

Others see working-from-home as heaven. You don’t have to commute, you don’t have to face traffic jam. Especially in Jakarta, where no reliable public transportation available yet. Yes, that might be true but as usual the grass is always greener on the other side.

One thing for sure, if you decided to work-from-home is you should be ready to embrace distraction.

Last Thursday, while trying to find out what’s wrong with the release script, someone knocking the door. It was from one of the fibre optic company which is planning to extend their network. Since I am one of the chair in the community, the security was bringing this guy to me. Then, another guy came. This one from the electrical company. One of the meter was broken, so I asked them to check it.

So embrace traffic now is being replaced with embrace distraction.

But wait, won’t you also have distraction even if you’re working in the office?

Aktivitas Setiap Hari

Pagi ini saya mulai dengan lari pagi. Kali ini 3.2 km. Wah, lumayan juga. Ini peningkatan dari sebelumnya yang hanya 2 km, walau secara waktu saya berlari lebih lambat.

Lalu, tanpa sengaja hari ini saya membaca blog Nathan Hoad. Ia bercerita bagaimana ia melukis setiap hari: selama 365 hari dalam setahun.

Konsisten. Konsisten. Konsisten.

Ini yang sulit. Apa iya berani lari pagi setiap hari?

Usai lari pagi badan lebih segar sih sebenarnya. Walau usai sarapan sempat terasa mengantuk, namun saya tidak tidur. Baru tidur sebentar saat pukul 12. Baru setelah itu mandi, dan benar terasa segar.